Tag-Archive for » ilmu «

April 08th, 2010 | Author:

MENUNTUT ILMU DENGAN BENAR

Imam Asy-Syatibi rahimahullah di Mukadimah ke dua belas dari kitab Al Muwafaqot menyebutkan cara terbaik untuk meraih ilmu syar’I  adalah mengambilnya langsung dari dari ahlinya yang menguasai ilmu tersebut.

Ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu itu dulunya tersimpan di dada-dada para pengembannya, kemudian berpindah ke kitab-kitab lalu kuncinya ada pada para ahlinya”.

Asy-Syatibi berkata, “Ungkapan ini menunjukkan untuk mendapatkan ilmu harus mengambilnya dari ulama-ulama yang menguasainya, mereka adalah kunci-kuncinya tanpa diragukan lagi”.

Kemudian beliau melanjutkan,  “Apabila telah tetap bahwasanya harus mengambil ilmu dari ahlinya yang menguasainya. Maka untuk menempuhnya ada dua cara :

Pertama : Musyafahah (mengambil langsung dari lisannya, dan ini adalah jalan yang paling bermanfaat).”

Yaitu penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya dengan benar, ikhlas dan fokus kepada ilmu. alangkah besarnya berkah dan rahmah duduk di majelis ilmu seperti ini.

Seringkali seorang penuntut ilmu membaca sebuah kitab, ia menghapalnya, dan mengulang-ulangnya tapi ia tidak mengerti. Apabila disampaikan oleh guru ia tiba-tiba bisa paham dengan mudah, dan ia mendapatkan ilmu itu di hadapan gurunya.

Asy-Syathiby berkata, “Dan pemahaman ini kadang didapat dengan hal yang biasa, seperti penjelasan bagian yang meragukan yang tak terpikirkan oleh seorang penuntut ilmu, dan bisa juga di dapat dengan hal yang tidak biasanya, yaitu Allah menganugerahkan kepada penuntut ilmu pemahaman ketika ia bersimpuh di hadapan gurunya dengan tawadhu dan merasa membutuhkan apa yang diajarkan kepadanya. Ini adalah di antara faedah-faedah duduk di majelis para ulama,  yaitu; ketika dibukakan pemahaman untuk penuntut ilmu di hadapan mereka apa yang tidak dibukakan untuknya ketika dia duduk belajar kepada yang lain”.

Jalan yang ke dua : untuk meraih ilmu, (masih bersama perkataan Abu Ishaq Asy-Syatiby rahimahullah), yaitu menelaah kitab-kitab yang dikarang para ulama. Cara ini juga bermanfaat dengan dua syarat :

Pertama : mampu memahami maksud-maksud ilmu yang sedang dipelajari, mengetahui istilah-istilah ahlinya, yang akan membantunya memahami kitab-kitab yang dipelajari. Dan modal inipun sejatinya di dapat dengan jalan yang pertama yaitu belajar langsung dari ulama atau ahlinya.

Kedua : hendaklah ia memilih kitab-kitab ulama terdahulu, karena mereka lebih mendalam ilmunya dari pada ulama muta-akhirin.

dan ini bukan berarti membaca dan mempelajari buku tidak berfaedah ..tentu sangat besar faedahnya ..namun belajar dari buku saja tidaklah cukup. bahkan tidak sedikit orang yang salah paham hanya karena mengandalkan berguru kepada buku. tetap saja seorang penuntut ilmu membutuhkan guru tempat bertanya tentang isi buku yang dia baca.

Maka barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu syar’i hendaklah mendatangilah ahlinya, yaitu ulama. Duduk dihadapan mereka dengan meluruskan niat dan mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Serta bertakwa kepada Allah zhohir dan batin, ketika sendiri maupun bersama orang lain, dalam perkataan dan perbuatan. Dan hendaklah senantiasa beruhasa menjaga keta’aan serta bersungguh-sungguh dalam menjauhi maksiat dan yang haram. Karena maksiat adalah kegelapan yang akan memadamkan cahaya ilmu.

Seperti perkataan Imam Malik kepada muridnya Imam Asy-Syafi’i, “Aku melihat bahwasanya Allah telah memberikan cahaya di hatimu. Jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat”.

Asy-Syafi’i berkata,

Aku mengadukan kepada waki’ buruknya hapalanku

Ia bimbing aku tinggalkan maksiat

Dan ia wasiatkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya

Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat.

Selamat menuntut ilmu saudaraku! Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalanmu ke surge …amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.4/10 (12 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 6 votes)
April 08th, 2010 | Author:

ILMU YANG BERMANFA’AT

Ilmu yang bermanfaat secara mutlak di dunia dan akhirat  adalah ilmu syar’i. ilmu yang ahlinya dipuji oleh Allah dan Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, ilmu ini adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syatiby di dalam kitab Al Muwafaqot, “Ilmu yang mu’tabar menurut syara’ adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya berlari mengikuti hawa nafsunya bagaimanapun ia, bahkan ia mengikat pengikutnya dengan muqtadhonya, yang membawa pemiliknya mematuhi aturan-aturannya suka atau tidak suka”.

Di dalam mukadimah ke tujuh dari kitabnya tersebut ia menegaskan, “Sesungguhnya setiap ilmu yang tidak membuat pemiliknya beramal maka di dalam syara’ tidak ada dalil dalam syara’ yang menganggapnya baik”.

Oleh karena itu ulama sejati adalah yang mengamalkan ilmunya dan tampak pada dirinya sifat takut kepada Allah Ta’ala.

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء}

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir : 28)

Ilmu tidak akan bermanfaat tanpa disertai pengamalan. Allah Ta’ala berfirman menegur orang-orang yang tidak mengerjakan apa yang ia katakan atau ajarkan,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.(Ash Shof : 2-3)

Allah Ta’ala juga mengingkari perbuatan orang-orang Ahli Kitab yang tidak mengamalkan kebaikan yang mereka perintahkan kepada manusia,

{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (Al Baqoroh : 44)

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu ia berkata,

يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى فى النار فتنتدلق اقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار فى الرحى، فيجتمع إليه أهل النار، فيقولون: يافلان، مالك؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول بلى، كنت أمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وأتيه”

“Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Di hari kiamat didatangkan seseorang lalu dicampakkan ke dalam neraka maka terburailah usus-ususnya, dia berputar-putar dengan ususnya seperti seekor keledai berputar-putar pada ikatannya. Maka penghuni neraka mengerumuninya, mereka berkata, ‘Hai fulan,  ada apa denganmu? Bukankah dulu engkau mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran?’ ia menjawab, ‘Benar, aku mengajak kepada kebaikan tetapi aku tidak mengerjakan dan aku melarang dari kemungkaran tetapi aku melakukannya”. (HR. Bukhari : 6/238 dan Muslim : 2989)

Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berdo’a kepada Allah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat,

“اللهم أنى أعوذ بك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع ، ومن دعاء لا يسمع”

‘Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (HR. Muslim : 1295, At-Tirmidzi dan An Nasai (8/263) dari hadits Zaid bin Arqom)

Sahabat Abu Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang aku takuti di hari kiamat adalah ketika dikatakan kepadaku, ‘Apakah engkau mengetahui atau tidak? Aku menjawab, ‘Aku mengetahui’. Maka tidak ada satupun ayat dari Kitabullah yang memerintahkan atau melarang melainkan mendatangiku menanyakan perintah dan larangannya. Ayat yang memerintahkan bertanya apakah engkau kerjakan? Dan ayat yang melarang bertanya apakah engkau tinggalkan? Maka Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (diriwayatkan oleh Al Baihaqy, Ad Darimy dan Ibnu Abdil Barr dari beberapa jalan dari Abu Darda’).

Ya Allah .. berapa banyak orang yang mengingatkan manusia kepada Allah sementara dia sendiri lupa kepadaNya. Berapa banyak orang yang menakut-nakuti manusia dengan Allah ternyata dia lancing dan berani menentang Allah. Berapa banyak orang yang mengajak manusia mendekatkan diri kepada Allah, dia malah jauh dari Allah. Berapa banyak orang yang menyeru mengajak manusia kepada Allah sedangkan dia sendiri malah lari dari Allah dan berapa banyak orang yang membaca Kitabullah lalu dia melepaskan dirinya dari ayat-ayat Allah …

Sungguh, jika ilmu tidak memotivasi pemiliknya untuk menjalankan ibadah kepada Allah Jalla wa ‘Ala maka tidak ada nilainya. Jika ilmu tidak membuat pemiliknya dekat kepada Allah tidak ada gunanya. Dan jika ilmu tidak mewariskan kepada pemiiknya al khosy-yah (takut) kepada Allah tidak ada kebaikan padanya.

Jadi ilmu yang mu’tabar secara syar’I itu adalah  ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal dengan segala perkara yang dapat mendekatkan dia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, berhenti dibatasan yang ditetapkan Allah.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta menjauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat .. amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.1/10 (7 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 6 votes)
February 03rd, 2010 | Author:

ADAB MENGHADIRI MAJELIS ILMU

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Apabila engkau menghadiri majlis ilmu, maka janganlah kehadiranmu melainkan untuk menambah ilmu dan pahala, bukannya hadir dengan kesombongan, mencari kesalahan untuk engkau sebarkan atau sesuatu yang ganjil untuk engkau beberkan. Karena ini adalah perbuatan orang-orang yang rendah dan tidak akan beruntung dalam ilmu selama-selamanya”.

(Al-Akhlak was Sair fi Mudaawaatin Nafus halaman 92)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 5.1/10 (7 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: Akhlak  | Tags: , ,  | 4 Comments