Tag-Archive for » berani «

February 04th, 2009 | Author:

SYARAH KITAB USHUL AL-IMAN KARANGAN IMAM MUMAHAMAD BIN ABDUL WAHHAB.

Disyarah oleh, Abuz Zubair Hawaary.

BAB : MAKRIFATULLAH AZZA WA JALLA WAL IMAN BIHI

(Lanjutan Tulisan Sebelumnya; Syarah Hadits Pertama).

HUKUM IBADAH APABILA DICAMPURI RIYA’ :

Pertama : apabila yang menjadi motivasi beribadah dari awalnya adalah riya, seperti seorang yang sholat untuk memperlihatkan kepada manusia dan tidak meniatkan untuk Allah, ini adalah syirik dan ibadahnya batil (tidak sah).

Kedua : riya’ mencampuri ibadah, misalnya di tengah-tengah ibadah, yaitu pendorong awalnya adalah ikhlas untuk Allah kemudian mucul riya ditengah-tengah ibadah. Jika ibadah tersebut (bagian) akhirnya tidak dibangun diatas awalnya, maka awalnya shohih dan akhirnya batil.

Contohnya : seorang yang telah menyiapkan seribu rupiah untuk bersedekah, lalu ia bersedekah lima ratus ikhlas karena Allah, dan pada lima ratus yang tersisa ia bersedekah karena riya’, maka yang pertama hukumnya shohih dan yang kedua batil.  baca lebih lanjut…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
January 31st, 2009 | Author:

HAKIKAT KEBERANIAN

قال شيخ الإسلام ابن تيمية (والشجاعة ليست هي قوة البدن فقد يكون الرجل قوي البدن ضعيف القلب وانما هي قوة القلب وثباته فأن القتال مداره على قوة البدن وصنعته للقتال وعلى قوة القلب وخبرته به والمحمود منهما ما كان بعلم ومعرفة دون التهور الذي لا يفكر صاحبه ولا يميز بين المحمود والمذموم ولهذا كان القوي الشديد هو الذي يملك نفسه عند الغضب حتى يفعل ما يصلح دون ما لا يصلح فأما المغلوب حين غضبه فليس هو بشجاع ولا شديد )

“Syeikhul  Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Keberanian itu bukanlah kekuatan badan. Bisa jadi seseorang itu kuat badannya lemah hatinya. Keberanian sejati adalah kekuatan hati dan keteguhannya. Sesungguhnya perang itu mengacu kepada kekuatan fisik dan keahliannya untuk berperang  serta kekuatan hati dan pengalamannya. Yang  terpuji dari keduanya adalah apa yang bersumber dari ilmu dan ma’rifah. Bukannya nekad yang pelakunya tidak berpikir, dan tidak membedakan antara yang terpuji dan antara yang tercela. Oleh karena itu seorang yang kuat dan perkasa adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah, sehingga ia melakukan apa yang mendatangkan maslahat bukannya yang tidak baik. Adapun orang yang kalah (oleh hawa nafsunya) ketika marah, bukanlah seorang yang kuat dan perkasa”. (Al-Istiqomah 2/271)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)