SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!!
Saudaraku, mungkin engkau balik bertanya kepadaku, kenapa hal itu engkau tanyakan?! Tidakkah engkau melihatku memelihara jenggot dan memendekkan ujung celanaku di atas mata kaki? Tidakkah engkau tahu bahwa aku rajin mengaji, duduk di majelis ilmu mendengarkan Kitabullah dan Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama yang disyarahkan oleh ustadz-ustadz salafy?
Sabar saudaraku, tenanglah aku tidak meragukan semua yang engkau katakan. Engkau tidak pernah absen menghadiri majelis ilmu, penampilanmu juga menunjukkan bahwa engkau berusaha untuk meneladani generasi salafus sholeh.
Tapi, tahukah engkau saudaraku .. (Ahlus Sunnah sejati adalah orang yang menjalankan islam dengan sempurna baik akidah maupun akhlak. Tidak tepat, jika ada yang mengira bahwasa seorang sunny atau salafy adalah orang meyakini I’tiqod Ahlus Sunnah tanpa memperhatikan aspek perilaku dan adab-adab islamiyah, serta tidak menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin.)[1].
Maafkan aku jika kata-kataku ini menyakitkan hatimu, tetapi hatiku tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya, karena aku mencintaimu karena Allah, aku inginkan yang terbaik untukmu semoga Allah Ta’ala memperlihatkan kepada kita kebenaran itu sebagai suatu kebenaran dan membimbing kita untuk mengikutinya. Dan semoga Ia memperlihatkan kepada kita kebatilan itu sebagai suatu kebatilan serta menganugerahkan kepada kita taufik untuk menjauhinya.
Berapa banyak orang yang dibutakan dari kebenaran, dan tidak sedikit pula yang melihat kebenaran tetapi enggan mengikutinya. Berapa banyak pula orang yang mengira kebatilan adalah kebenaran dan tidak sedikit pula orang yang mengetahui kebatilan tapi masih saja mengikutinya.
Ya Allah .. berilah kami petunjuk dan luruskanlah kami …
Saudaraku,
Sikapmu yang kurang menghargai orang yang lebih tua darimu dan angkuh terhadap orang yang lebih muda darimu, dari mana engkau pelajari?!
Lupakah engkau hadits yang pernah kita pelajari bersama,
ليس منا من لم يرحم صغيرنا و يوقر كبيرنا
Artinya, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mengasihi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar”. (HR. At-Tirmidzi dari sahabat Anas rodhiyallahu ‘anhu dan dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Al Jami’ no. 5445)
aku teringat hari itu, walaupun setiap mengingatnya hati ini merasa sedih dan resah. Ketika engkau dan beberapa orang lainnya menghadiri undangan. Turut hadir ketika itu orang-orang awwam yang di antaranya usia lebih tua dari kita. Ketika engkau masuk ke majelis lalu mengucapkan salam dan menjabat tangan semua yang duduk kecuali bapak itu, engkau menyalami orang yang duduk di samping dan belakang bapak itu, lalu engkau duduk se-enaknya di depan bapak itu tanpa sedikit senyuman apalagi menjabat tangannya!!
Owh ..jelas benar guratan sedih dan perasaan aneh yang menyemburat dari wajah bapak tersebut. Sampai aku pun malu duduk di situ, kalau bisa ingin rasanya aku untuk tidak hadir di situ dan saat itu..
Saudaraku, katakanlah kepadaku agar aku tidak berburuksangka kepadamu,
- Apa yang memberatkan bibirmu untuk memberikannya sedikit senyuman walaupun hambar?! Padahal engkau tahu Nabi kita shollollahu ‘alaihi wa sallama bersabda,
تبسمك في وجه أخيك لك صدقة
“Senyumanmu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu”. (HR. At-Tirmidzi, Bukhari di Adabul Mufrod dan Ibnu Hibban, Ash-Shohihah oleh Al-Albany no. 572)
- Apa yang membuat lidahmu kelu untuk menyapa walau hanya dengan tiga aksara “Pak”.
- Apa yang membuat tanganmu lumpuh untuk menjabat tangannya?! Seperti engkau menjabat tangan yang lainnya?! Tidakkah engkau pernah membaca atau mendengar bahwa salafunas sholeh menjabat tangan anak-anak ketika bertemu, lantas bagaimana kalau dia lebih tua darimu?
عن سلمة بن وردان قال: رأيت أنس بن مالك يصافح الناس، فسألني: من أنت؟ فقلت: مولى لبني ليث، فمسح على رأسي ثلاثاً، وقال: “بارك الله فيك”
Dari Salamah bin Wardaan ia menuturkan, “Aku melihat Anas bin Malik menjabat tangan manusia, maka ia bertanya kepadaku, ‘Engkau siapa?’. Aku menjawab, ‘Maulaa Bani Laits’. Lalu ia mengusap kepalaku tiga kali seraya berkata, ‘Semoga Allah memberkahimu”. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, “Shohihul Isnad”)
Dari Al-Barro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Termasuk kesempurnaan tahiyyah (salam) engkau menjabat tangan saudaramu”. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, “Isnadnya shohih mauquf”).
Jawablah saudaraku! Bukankah dia juga seorang muslim? Apakah karena dia tidak berjenggot seperti dirimu dan celananya masih menutupi mata kaki??
Tidak saudaraku .. tidak! sejak kapan salam dan jabat tangan hanya khusus untuk orang-orang yang penampilan sama sepertimu atau orang-orang yang menghadiri majelis ilmu saja?!
Sikapmu inilah yang barangkali dapat menghambat dakwah salafiyah di terima oleh kaum muslimin. Membuat mereka merasa dijauhi dan dipandang sebelah mata.
Saudaraku .. ketika engkau mengaku seorang salafy tetapi dengan sikap dan akhlakmu yang jauh dari akhlak salafus sholeh engkau telah ikut menghalangi dan menghambat dakwah yang hak ini.
Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata di akhir kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah setelah menyebutkan pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Kemudian mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) disamping pokok-pokok ini, mereka mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sesuai dengan apa yang diwajibkan syari’at. Mereka memandang tetap menegakan haji, jihad, sholat jum’at dan hari raya bersama para pemimpin yang baik maupun yang keji. Mereka menjaga (sholat) jama’ah, dan melaksanakan nasehat untuk umat. dan mereka meyakini makna perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama,
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا وشبك بين أصابعه
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang kokok saling menguatkan satu dengan lainnya”. Lalu beliau menjalin di antara jari-jemarinya.(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa rodhiyallahu ‘anhu)
Dan sabdanya,
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur”. (HR. Bukhari dan Muslim dari An Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu)
Mereka mengajak bersabar menghadapi ujian, bersyukur ketika lapang, dan ridho dengan pahitnya qodho’. Mereka mengajak kepada akhlak-akhlak yang mulia dan perbuatan-perbuatan baik, dan meyakini makna perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama,
أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا
“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlak-akhlaknya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)
Mereka mendorong untuk menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungannya denganmu, memberi orang yang tidak mau memberimu, mema’afkan orang yang menzalimimu, memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtua, dan begitu juga mereka memerintahkan untuk menyambung silaturrahim, bertetangga dengan baik, melarang sifat angkuh, sombong, zalim dan merasa lebih tinggi dari makhluk dengan hak atau tidak dengan hak. Mereka memerintahkan kepada budi pekerti yang tinggi dan melarang dari akhlak yang tercela.
Dan seluruh apa yang mereka katakan dan kerjakan dari ini dan yang lainnya, sesungguhnya mereka dalam hal itu mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. Jalan mereka adalah Dinul Islam yang Allah mengutus Muhamad shollallahu ‘alaihi wa sallama dengannya”. (Al Akidah Al Wasithiyyah, hal. 129-131).
Saudaraku, aku yakin engkau adalah seorang yang berjiwa besar dan bisa berlapang dada menerima nasehat, karena itu marilah kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita dalam meneladani akhlak salaf sehingga sempurna pula ittiba’ kita kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.
Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk meniti jalan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama dan mengikuti jejak-jejak salafush sholeh baik dalam akidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, dan hubungan antara sesama, amin.
[1] An Nashiihah fiima Yajibu Muro’atuhu ‘indal Ikhtilaaf, oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily (13).



syukron atas nasihatnya USTADZ YG DIRAHMATI ALLAH,INSYA ALAH menjadikan RENUNGAN sekaligus perbaikan diri saya dlm menjalan kan kehidupan sehari2…dan dlm bermasyarakat,,,
syukron, semoga bermanfaat bagi diriku khususnya dan dan masyarakat pada umamnya
Jazakallahu khairan ustadz…
ana minta ijin untuk copy & menyebarkan artikelnya…
Syukran ustad.. ana gak tahu risalah ini ditujukan kesiapa.. jazakallah khair ustad..
mungkin inilah yang sering kita lupakan,
semoga Allah memberikan hidayah kepada kita untuk bisa meneladani akhlak rasulullah,
syukran ustadz udah diingatkan,
semoga tetap semangat dalam dakwah, barakallahu fik
Jazakallah ustadz, semoga ustadz dirahmati Allah. Ini mengingatkan ana kepada kisah ana, hampir sama ini terjadi sama ana. Ana memang baru di majelis salafy, tapi sikap para akhwat salafy sangat berbeda sama ana mungkin penampilanya berbeda ana juga tidak disalami ketika akhwat disamping ana disalami giliran ana di diami saja…sedih ketika itu. Dan ketika teman ana bawa anak ke majelis, saat itu anaknya berjalan2 sekitar akhwat salaf teman ana membiarkan krn masih dikatagorikan tidak mengganggu tapi apa yg dibilang akhwat salafy kpd teman ana ” bu, anaknya tolong di ‘pelihara’, katanya”. Teman ana sontak sedih mendengar kata ‘pelihara’ padahal dia baru sekali ikut majelis salafy. Wallahu’alam dia mau lagi ikut majelis ato tidak. raut sedih itu ana lihat diwajahnya. Ustadz moga ini bisa bermanfaat bagi kita semua yg masih ada sikap merasa diri lebih baik dari pada orng lain. Semoga kita semua diampuni Allah.
Assalamu’alaikum,
sangat bermanfaat khususnya buat ana ustadz,
iji copy ustadz..
Wassalamualaikum
Kepada : Ustadz Abu Zubair Al Hawaary
Assalamu’alaykum warrahmatullah wabarokatuh,,
Ustadz saya ingin meminta nasihat,
saya seorang pemuda usia 17 tahun yang bersekolah disebuah sekolah kejuruan tingkat atas (SMK).. saya baru mengenal dakwah salafy ini dari paman saya, sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal Allah dan RasulNya. Alhamdulilla sekarang saya mendapatkan semangat dalam beribadah dan do’a saya sekarang banyak yang dikabulkan oleh Allahu azza wa jalla..
saya semangat sekali untuk menyebarkan sunnah kepada khalayak ramai ustadz.. hampir hampir jika ada jama’ah yang jauh dari sunnah alias bid’ah maka hati saya ini panas dan rasanya ingin sekali mendakwahi..
saya meminta nasihat ustadz tentang perangai saya ini, saya takut kebablasan ustadz, saya masih seorang pandir dan bodoh..saya takut dakwah saya nanti justru jadi bumerang untuk saya..
yang kedua ustadz..
masalah sunnah, saya juga begitu semangat untuk menegakkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama, namun terkadang saya merasa risih ustadz, karena lingkungan saya jauh dari sunnah, saya acap kali kebablasan dalam hal sunnah yang menjadikan bumerang bagi saya sendiri, saya pernah berjalan untuk mendekat kesutrah dimesjid dekat rumah saya, saya tidak pernah berdo’a atau berdzikir bersama sama sehabis sholat, saya tidak pernah wirid yasin tiap malam jum’at, itu benar kan ustadz? namun ternyata malah menjadi mudharat bagi saya, cap sesat menempel pada saya..saya juga satu satunya siswa yang memotong celana disekolah, karena takut isbal, dan pada akhirnya guru guru beserta kawan satu sekolahan mengecap saya sesat, menelan bulat-bulat hadits.
saya ingin minta nasihat ustadz, haruskah saya tinggalkan sunnah demi masyarakat?
apakah harus saya korbankan cinta saya kepada Allah dan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallama karena masyarakat awam?
dan lebih parah lagi, apakah saya harus isbal ketika saya tahu dosa besar isbal hanya karena memikirkan masyarakat?
atas jawabanya saya ucapkan syukran ustadz..
jazakallahu khairan.
Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Izin untuk mengcopy ya ustadz.
munkin inilah yg serin kita lupakan,
terutama saya sendiri yg kurang memperhatikan masalah akhlaq, yg akibatnya akan berpengaruh menjadi penghambat dakwah akibat akhlaq kita yg tdk salafy,
padahal akhlaq turut berpengaruh dalam diterimanya dakwah oleh ummat,
semoga kita dimudahkan untuk meneladani akhlaq Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam,
syukran ustadz udah mengingatkan kami, jazakallahu khairan, wa barakallahu fik
Alhamdulillah.. jazakallahu khair ya ustadz..
barokallahu fiikum..
Assalamu’alaikum Ustadz.
Ana izin untuk mengcopy artikelnya buat ana muat di blog saya..Syukron Ustadz.
Asswrwb….
Ustad saya hendak tanya ,benarkah Ahkwat Salafi itu sombong???
saya punya pengalaman,ketika sy datang ke Ta’lim ,di komunitas SALAFI…
mereka kenapa terkesan maaf “sombong”… apakah memang sperti itu?
harusnya jika bertemu dengan saudara sesama Muslim harusnya kan menyapa dan memberi salam???
Mohon jawabnya .. Sukron
Kepada : Ustadz Abu Zubair Al Hawaary LC, yang semoga senantiasa dirahmati Alloh Subhanawata’ala
Assalamu’alaykum warrahmatullah wabarokatuh,
Untuk membentuk akhlak yang mulia sebagaimana yang ustadz telah uraikan diatas, mungkin perlu dibina dari generasi anak – anak kita, lihat lah sekarang kami orang tua rasanya tidaklah sanggup untuk membendung maksiat-maksiat yang melesat bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya yang menghujam kesemua sisi kehidupan anak-anak remaja (khususnya), akhlak mereka jauh dari akhlak islami, apatah lagi dari segi ibadah,…jauh sekali dari Al-Qur’an dan Sunnah, sepertinya majlis taklim bukanlah hanya kebutuhan para orang tua saja, tapi justru tidak kalah urgent nya bagi anak-anak remaja kita yang butuh tuntunan, yang belum bisa memfilter segala keburukan – keburukan yang menyinggahi kehidupannya, yang masih labil ….dan acap kali terjerembab dalam pengaruh maksiat…., karena kami pun sebagai orang tua juga memiliki keterbatasan ilmu agama
Ustadz….kalaulah boleh kami mohon kelapangan waktu ustadz di sela – sela kesibukan dakwah ustadz bagi para orang tua…kiranya ada taklim khusus remaja yang mungkin diadakan dua kali dalam sebulan… karena mungkin akan beda sentuhannya bila kajian tersebut diadakan khusus bagi mereka, dengan tema-tema yang sesuai dengan alam kehidupan mereka saat ini….
Demikian harapan dari kami para orang tua….mudah-mudahan hal ini bisa menjadi salah satu pemikiran bagi ustadz untuk menyelamatkan generasi ini.
Jazakallahu khair ya Ustadz atas nasihatnya. Pertama ana mohon izin untuk share artikel ini. Kedua, ana berdo’a semoga Ustadz dan para Asatidzah lainnya diberikan ilmu dan kesabaran untuk tetap tegar memberikan nasihat, khususnya kepada para pemuda Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar dapat menjaga agama dan akhlaq nya, sehingga da’wah ini dapat diterima seluas2 nya oleh kaum Muslimin.
Ps: Salam ustadz sudah ana sampaikan ke Ustadz Abu Haidar, dan beliau menitip salam lagi untuk Ustadz.
Barakallaahu fiik.
Salamulloh ‘alaika…
ustadz saya izin copas artikel ini untuk ditaruh di blog saya supaya nasehat ini lebih menyebar, sekaligus menjadi renungan bagi saya.
Allohu yubaarik fiek…
Buat hamba Allah yang masih sekolah di SMK, semoga Allah memberikan kekuatan kepada antum untuk berdiri diatas sunnah.
untuk menjawab kegelisahan antum seputar mendakwahkan sunnah dilingkungan yang jauh dari sunnah antum bisa baca buku yang sangat bagus dari Al Ustadz Abdullah Zaen, MA. Beliau adalah lulusan Universitas Islam Madinah S2 Jurusan akidah. adapun judul buku tersebut:
“14 contoh praktek Hikmah dalam Berdakwah” terbitan pustaka muslim.
anutm bisa beli dari sini:
http://toko-muslim.com/paket-buku-dan-cd-mp3-14-contoh-praktek-hikmah-dalam-berdakwah/
wa’alaikumus salam warahmatullahi wa barakaatuh
insya Allah kita akan adakan majelis taklim untuk remaja sekali sepekan..dulu sudah pernah ada dan bentuk lain. ketika itu kegiatannya ana beri nama Pesantren Terbuka (PESTA). namun karena satu dan lain hal .. terhenti. dan kita akan mulai kajian mingguan untuk remaja pada tanggal 20 Februari ini, ba’da Ashar di mesjid Fathimah jalan paus. semoga kajian ini bisa berlanjut dan bermanfaat untuk generasi muda kaum muslimin. amin.
Assalamu’alaykum ustadz..
tentang apa itu taklimnya ustadz..?
Ustadz, ana mohon izin untuk mong-copy artikel2 antum dan untuk ana posting kembali di blog ana, jazakallahu khairan
wa ‘alaikumus salam warahmah
insya Allah siroh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama dan siroh sahabat.
assalamu alaikum…..
semoga allah tetap menjaga anda, keluarga, sahabat, saudara, dan seluruh kaum muslimin didunia dan akhirat…….
ust seseungguhnya saya merindukanmu….
saya harap engkau mau mengunjungi kota saya
…………..kota medan agar tersebar dakwah salaf disana……..
jazakumullahu khoiron….
Jazakallahu khairan ustadz…
oya ustad,,,ana minta ijin untuk copy & menyebarkan artikelnya…
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Semoga Allah senantiasa menunjuki kita jalan yang lurus dan diridhoi-Nya. Afwan Ustadz, ana seorang yang masih awam dan sedikit ilmu. Ana mau tanya, kenapa nama (Telaga Hati Online) dari Website Ustadz pada huruf “T”nya itu berbentuk menyerupai Salib? Apa tidak bisa dengan model huruf lain??? Tolong koreksinya kalau ana keliru dalam menanggapinya. Syukran Jazakallah khairan
Assalamu’alaykum ustadz..
mohon ijin copy artikel buat blog ana,
jazakallahu khair
[...] : http://abuzubair.net/sudah-salafykah-akhlakmu/ Mohon bershalawat di setiap penyebutan nama nabi Muhammad Archives Select [...]
Jazaakallahu khoirol jazaa
wa’alaikumus salam warahmatullahi wa barakaatuh .. na’am beberapa waktu yang lalu sudah dirobah, tapi ada gangguan di situs telaga hati dan direset ulang kembali seperti awal. insya Allah sarannya diperhatikan wa jazaakumullahu khoiron.
wa ‘alaikumus salam warahmatullahi wa barakaatuh
amin .. dan semoga antum dan keluarga juga dijaga Allah. semoga Allah Ta’ala menjadikan kita saling mencintai karena-Nya dan mendapatkan naunganNya kelak di hari kiamat ..amin.
assalamu’alaykum
ustadz, ana ijin copy paste artikelnya,utk diupload di blog ana.
Jazakillah khoir
artikel yg menyentuh..
ustadz ana izin copas..
jazakallahu khair
Jazakumulloh,begitu mulia nasehat ust,smoga Alloh memberikan imbalan yang agung buat ust,,amin
[...] Tapi, tahukah engkau saudaraku .. (Ahlus Sunnah sejati adalah orang yang menjalankan islam dengan sempurna baik akidah maupun akhlak. Tidak tepat, jika ada yang mengira bahwasa seorang sunny atau salafy adalah orang meyakini I’tiqod Ahlus Sunnah tanpa memperhatikan aspek perilaku dan adab-adab islamiyah, serta tidak menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin.)[1]. [...]
ustadz ana izin share..
jazakallahu khair
Assalamu’alaykum ustadz…izinkan ana copas artikel nya ustadz….jazakallahu khairan
renungkan!!!share ustadz
Assalaamu’alaykum,
ust, afwan, ana izin copy n share. syukron wa jazakumullohu khoyr.
Alhamdulillah, langsung mendengar kisah ini dari ustadz semalam dalam tausyiah yg begitu mnendalam, jazakulloh khoir ya ustadz, semoga Alloh menjagamu dan memberkahi ilmunya.
barakallahu fik,
Bismillah,. Assalaamu’alaikum warah matullah
Afwan ustadz, ana izin copy artikel ini
Jazakallahu khair,. Barakallahu fik