May 24th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

Saudaraku ..

Tulisan ini kutujukan kepadamu, ya .. kepadamu yang mengharapkan Ridho Allah dan kenikmatan yang kekal di sisiNya, serta takut kepada siksa dan azab yang Allah Ta’ala siapkan untuk orang-orang yang bermaksiat dan kafir.

Kepadamu saudaraku, yang pernah merasakan manisnya keimanan dan nikmatnya berjalan di atas jalan yang lurus serta indahnya mendekatkan diri kepada Allah.

baca lebih lanjut…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.3/10 (19 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +17 (from 19 votes)
May 18th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

MENGAKU TAHU KEJADIAN DI MASA DEPAN

Seseorang bercerita, ada orang yang mengaku bahwasa jin muslim mendatanginya di dalam tidurnya, dan jin itu membawanya thowaf di Makkah Al Mukarromah, memberinya minum dari air Zamzam dan membawanya menziarahi kuburan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama. Ia mengatakan bahwa semua itu terjadi dalam satu malam. Orang ini menceritakan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan dan sebagiannya ada terbukti. Sehingga tidak sedikit manusia yang terfitnah oleh oleh seperti ini, sehingga mempercayai apa yang dikatakannya.

baca lebih lanjut…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.4/10 (13 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +7 (from 7 votes)
Category: Akidah/Manhaj  | Tags: , , , , ,  | 2 Comments
May 17th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

KEIKHLASAN SEORANG ULAMA

Ar-Robi’ bin Sulaiman  berkata, “Aku mendengar Asy Syafi’I berkata, “Aku ingin bahwasanya manusia mempelajari ilmu ini dan tidak dinisbatkan kepadaku sedikitpun darinya”.

Ar Robi’ juga menuturkan, “Aku masuk menemui Asy-Syafi’I ketika ia sakit, lantas ia menanyakan keadaan sahabat-sahabat kami, lalu ia berkata, ‘Hai anakku, sungguh aku sangat ingin, bahwasanya manusia semuanya mempelajari  – maksudnya kitab-kitabnya – dan tidak dinisbatkan kepadaku sedikitpun darinya”.

Dari Harmalah ia berkata, “Aku mendengar Asy Syafi’I berkata, “Aku ingin bahwasanya setiap ilmu yang kuajarkan kepada kepada manusia aku diberi pahala atasnya dan mereka tidak memujiku”. (Hilyatul Awliya’ oleh Abu Nu’aim : 9/118)

Semoga Allah merahmatimu wahai Imam Asy Syafi’I …

Perjuangannya untuk membela dan menyebarkan sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama sehingga ia digelari Naashirus Sunnah (pembela sunnah).

Perjuangannya membukukan sendi-sendi ilmu ushul fiqh untuk pertama kali dalam sejarah .. sehingga terbukalah kunci-kunci ilmu fiqh bagi orang-orang sesudahnya.

Namun ia tidak ingin orang memujinya, tidak ingin manusia menyebut-nyebut jasanya sedikitpun ..

Demikianlah ketulusan para ulama, jauh dari keinginan tenar dan tersohor, jauh dari ‘ujub dan sum’ah.

Adapun penuntut ilmu hari ini ..

Tidak sedikit yang bangga hanya karena menulis satu, dua atau beberapa artikel yang itupun isinya mencomot (copi paste) dari sana dan sini.

Bangga karena gelar kesarjanaan yang telah diraih …

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan kepada kita keikhlasan dalam beramal, dan menjauhkan kita dari penyakit riya’, ‘ujub dan hubbusy syuhroh (cinta ketenaran) , amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +5 (from 5 votes)
May 17th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

KESABARAN SEORANG ULAMA

Al Mubaarok bin Al Mubaarok Adh Dhoriir seorang ulama ahli nahwu yang digelari Al Wajiih. Beliau dikenal seorang yang elok akhlak dan perilakunya, lapang dada, penyabar dan tidak pemarah. Sehingga ada sebagian orang-orang jahil yang berniat mengujinya dengan memancing kemarahannya.

Maka datanglah orang ini menemui Al Wajiih, kemudian bertanya kepadanya tentang satu masalah dalam ilmu nahwu. Syaikh Al Wajiih menjawab dengan sebaik-baik jawaban dan menunjukan kepadanya jalan yang benar.

Lantas orang itu berkata kepadanya, “Engkau salah’.

Syaikh kembali mengulangi jawabannya dengan bahasa yang lebih halus dan mudah dicerna dari jawaban pertama, serta ia jelaskan hakekatnya.

Orang itu kembali berkata, “Engkau salah hai syaikh, aneh orang-orang yang menganggapmu menguasai ilmu nahwu dan engkau adalah rujukan dalam berbagai ilmu, padahal hanya sebatas ini saja ilmumu!”.

Syaikh berkata dengan lembut kepada orang itu, “Ananda, mungkin engkau belum paham jawabannya, jika engkau mau aku ulangi lagi jawabannya dengan yang lebih jelas lagi dari pada sebelumnya”.

Orang itu menjawab, “Engkau bohong! Aku paham apa yang engkau katakan akan tetapi karena kebodohanmu engkau mengira aku tidak paham”.

Maka syaikh Al Wajiih berkata  seraya tertawa, “Aku mengerti maksudmu, dan aku sudah tahu tujuanmu. Menurutku engkau telah kalah. Engkau bukanlah orang yang bisa membuatku marah selama-lamanya.

Ananda, konon ada seekor burung duduk di atas punggung gajah, ketika dia hendak terbang ia berkata kepada gajah, “Berpeganglah kepadaku, aku akan terbang!”.  Gajah berkata kepadanya, “Demi Allah hai burung, aku tidak merasakanmu ketika bertengger di punggungku, bagamaimana aku berpegang kepadamu saat engkau terbang!”.

Demi Allah hai anakku! Engkau tidak pandai bertanya tidak pula paham jawaban, bagaimana aku akan marah kepadamu?!”.

(Mu’jamul Udaba’ : 5/44).

Menjadi guru, juga seorang da’I memang harus banyak belajar bersabar, lapang dada dan berakhlak mulia .. semoga Allah Ta’ala memudahkan hal itu untuk kita, aamiin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.3/10 (7 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
May 17th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

Suatu ketika saya ikut sholat jenazah di salah satu mesjid. Selesai salam, terdengarlah suara imam yang memimpin do’a bersambut dengan sahutan aamiin jama’ah yang dibelakangnya. Anehnya, tak satupun do’a yang dibaca oleh imam setelah sholat jenazah tersebut yang berisikan do’a untuk si mayyit, padahal biasanya banyak orang melakukan itu untuk mendo’akan si mayyit. Adapun makmum, entah paham atau tidak do’a yang dibacakan oleh imam, terus saja mengucapkan aamiin dipenghujung setiap do’a yang dibacanya.

Saya jadi teringat kejadian yang saya alami pada tahun 95-an. Ketika itu saya dan seorang teman singgah untuk sholat maghrib di salah satu mesjid di Cianjur.

Ketika bacaan Al Fatihah imam sampai (Waladh Dhoolliin) kami berdua mengucapkan aamiin. Aneh!! Hanya kami berdua yang mengucapkan amin! Ternyata setelah itu itu imam melanjutkan membaca (Robbighfirlii wa liwaalidayya- artinya; Robbi ampunilah aku dan kedua orangtuaku) setelah itu baru mereka serempak mengucapkan aamiin.

Ada beberapa catatan yang ingin saya tuangkan disini :

-          Dalam sholat jenazah sejatinya imam dan makmum telah membaca do’a untuk si mayyit, dan itulah inti dari sholat jenazah. Oleh karena itu berdo’a bersama setelah sholat jenazah adalah amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal tersebut ditolak”. (HR. Bukhari dan Muslim)

-          Begitu juga tambahan ucapan (Robbighfirlii wa liwaalidayya)  oleh imam setelah membaca Al Fatihah dan di aminkan oleh makmum juga adalah bid’ah yang sangat buruk. Menambah-nambah dalam sholat dengan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Selain itu, perbuatan tersebut juga menyelisihi hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama,

وإذا قال : ولا الضالين فقولوا : آمين

“Dan apabila imam mengucapkan (Waladh Dhoolliin) maka ucapkanlah (aamiin)”. (HR. Ahmad, Muslim, Al Baihaqy  lihat Ash-Shohihah : 3476).

-          Dalam banyak kejadian do’a bersama yang dipimpin, makmum asal amin saja, tanpa tahu apa yang dido’akan imam. Entah apa yang dibaca pemimpin do’a dan entah siapa yang dido’akan yang penting di setiap ujung do’a; aamiin.

Saya jadi teringat kisah seorang sahabat kecil di masa Umar bin Al Khottob yaitu Mu’adz Al Qori’ semoga Allah Ta’ala meridhoi keduanya, dia adalah salah seorang imam yang ditunjuk Umar untuk mengimami sholat tarawih.

Suatu ketika Mu’adz Al Qori’ membaca do’a dalam Qunutnya, “Allahumma Qohhithil Mathor..” (artinya : Ya Allah jangan turunkan hujan). makmum yang dibelakang pun mengucapkan, “Aamiin!”.

Usai sholat, ia (Mu’adz ) berkata kepada makmum, “Tadi saya mengucapkan Allahumma Qohhitil Mathor, lantas kalian mengucapkan aamiin! Tidakkah kalian mendengarkan apa yang aku ucapkan??  Kemudian kalian malah mengucapkan (aamiin)!. (Ikhtishor Al Muqriizy likitaab Al Witri oleh Muhammad bin Nashr, halaman : 326).

Hmm .. kalau itu terjadi di masa mereka, apalagi di masa yang jauh dari ulama dan ilmu seperti sekarang ini. Wallahul Musta’aan …

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
May 10th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

SEBAIK-BAIK KALIAN ADALAH ORANG YANG MEMPELAJARI AL-QUR’AN DAN MENGAJARKANNYA

Al-Muhaddits Al-’Allaamah Asy-Syekh Muhamad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah menjelaskan di dalam salah satu kasetnya, mengomentari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Abdurrahman As-Sulamy dari Utsman bin Affan marfu’an (yang artinya), “Sebaik-baik kalian adalah orang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.

Beliau berkata, “Di dalam hadits ini ada isyarat yang memerintahkan mempelajari Al-Qur’an. Bahwasanya sebaik-baik pengajar adalah yang mengajarkan Al-Qur’an. Andai saja para penuntut ilmu mengetahui itu, sesungguhnya di dalamnya ada manfaat yang besar.

Di antara fenomena yang tersebar luas di zaman kita bahwasanya engkau mendapatkan banyak da’i-da’I atau para pemula dalam menuntut ilmu, tampil untuk berdakwah, berfatwa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia sementara dia tidak benar dalam membaca Al-Fatihah dengan makhraj-makhraj yang benar untuk setiap huruf. Sehingga engkau melihatnya mengucapkan sin seperti shod dan tho’ seperti ta’, dzal seperti zaai dan tsa’ sebagai siin. Jatuh dalam Lahan Al-Jalii apalagi Lahan al-Khofii.

Seharusnya -  adalah suatu keniscayaan – ia memperbaiki bacaan Al-Qur’an dan hapalannya. Agar ia membawakan ayat-ayat dengan baik dan berdalil dengannya dalam nasehat-nasehat, pelajaran-pelajaran dan dakwahnya.

Engkau dapatkan ia sibuk dengan menshohih dan mendho’ifkan, membantah ulama dan mentarjih diantara mereka. Dan engkau sering mendengar darinya kalimat-kalimat  yang lebih tinggi dari levelnya sendiri. Kadang ia berkata, “Menurut pandangan saya ..saya katakan ..pendapatku dalam masalah ini begini dan pendapat yang rojih menurutku begini”.

Lebih mencengangkan lagi, orang-orang seperti mereka engkau dapatkan tidak berbicara dalam masalah-masalah yang telah disepakati. Akan  tetapi selalu  – kecuali yang dirahmati Allah – berbicara dalam masalah-masalah khilaf, sehingga ia turut pula memberikan pendapat padanya. Jika ia kesulitan ia merajihkan di antara pendapat-pendapat. Aku berlindung kepada Allah dari riya’, dan cinta ketenaran.

Pertama aku nasehati diriku sendiri dan kedua untuk mereka; bahwasanya sebaik-baik perkara yang harus dimulai oleh seorang penuntut ilmu adalah menghapal Al-Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman,

فذكر بالقرآن من يخاف وعيد

“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an orang-orang yang takut akan ancaman”.

(diterjemahkan dari : http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=5348)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
May 10th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

MUTIARA ILMU DAN FAEDAH DARI KITAB-KITAB SYAIKH AL MUHADDITS AL ALBANY RAHIMAHULLAHU TA’ALA

Disarikan oleh, Syaikh Badr bin Muhamad Ali Badar Al ‘Anzy

diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian oleh, Abuz Zubair Hawaary

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله .
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون)
(يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراً ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا)
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً)
أما بعد

Berikut ini adalah faedah-faedah yang saya ringkas dari sebagian kitab Imam Al Albany rahimahullah, saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikannya bermanfaat.
PERTAMA : DARI KITAB ADAB AZ ZIFAAF FIS SUNNAH AL MUTHOHHAROH

baca lebih lanjut…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: FIKIH  | Leave a Comment
May 10th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

سئل فضيلة الشيخ ابن عثيمين في كتاب المناهي اللفظية: كثيرا ما نرى على الجدران كتابة لفظ الجلالة (الله) , وبجانبها لفظ محمد صلى الله عليه وسلم أو نجد ذلك على الرقاع, أو على الكتب،أو على بعض المصاحف فهل موضعها هذا صحيح ؟.
فأجاب قائلا : موقعها ليس بصحيح لأن هذا يجعل النبي صلى الله عليه وسلم ، نداً لله مساوياً له ، ولو أن أحدا رأي هذه الكتابة وهو لا يدري المسمى بهما لأيقن يقيناً أنهما متساويان متماثلان ، فيجب إزالة اسم رسول الله صلى الله عليه وسلم ويبقى النظر في كتابة : (الله) وحدها فإنها كلمة يقولها الصوفية ، و يجعلونها بدلا عن الذكر ، يقولون (الله الله الله) ، وعلى هذا  فلا يكتب (الله) ، ولا (محمد) على الجدران ، ولا على الرقاع ولا في غيره

Yang Mulia Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya di dalam kitab Al Manaahi Al Lafzhiyyah (sebagai berikut), “Sering kita melihat di atas dinding terdapat tulisan lafaz Al Jalaalah (Allah), dan di sampingnya ada lafaz Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama, atau kita mendapati itu di kain, atau di buku-buku, atau pada sebagian mushaf, apakah penempatannya benar?

Beliau menjawab, “Penempatannya tidak benar, karena ini menjadikan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama tandingan bagi Allah dan menyamaiNya. Dan kalaulah orang yang tidak paham maksud dua tulisan tersebut melihatnya niscaya dia meyakini bahwa keduanya adalah sama dan semisal.
Maka wajib menghapus nama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, dan cukup melihat kepada tulisan lafaz Al Jalaalah (Allah) saja. Dan lafazh (Allah)  juga adalah kalimat yang sering diucapkan oleh kalangan sufiyah,  sebagai ganti zikir, mereka mengucapkan (Allah .. Allah .. Allah). Berdasarkan ini Maka tidak perlu ditulis (Allah) dan (Muhammad) di atas dinding, kain dan lainnya. (http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=22707)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
April 21st, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

BAB : KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANGTUA

FIRMAN ALLAH TA’ALA,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya”.

Imam Bukhari memulai kitabnya ini dengan adab dan kewajiban berbakti kepada kedua kedua orangtua, karena adab dan kewajiban berbakti kepada orangtua adalah yang terdepan setelah adab kepada Allah Ta’ala dan kepada  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama[1]. Oleh karena itu penekanan masalah ini banyak kita dapatkan di dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. Bahkan di dalam Al Qur’an perintah berbakti kepada orangtua adalah setelah perintah mentauhidkanNya sebagaimana firman Allah Ta’ala yang dibawakan oleh Imam Bukhari sebagai judul bab pertama kitabnya ini.

Allah Ta’ala berfirman,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا وإن جاهداك لتشرك بي ماليس لك به علم فلا تطعهما إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hambaNya berbuat baik kepada kedua orangtua setelah mendorong mereka untuk berpegang teguh dengan men-tauhid-kanNya. Sesungguhnya kedua orangtua adalah sebab adanya manusia dan kebaikan keduanya kepadanya tidak terhitung; ayah dengan nafkah yang diberikannya dan ibu dengan kasih sayang yang dilimpahkannya”.[3]

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا  وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Robbmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”[4].

Lihatlah di ayat yang mulia ini, betapa Allah Ta’ala menegaskan kewajiban menjaga akhlak terhadap kedua orangtua yang merupakan diantara bentuk bakti kepada keduanya. apalagi kalau orangtua telah menginjak usia senja, kedua orangtua atau salah satunya membutuhkan perhatian, kasih dan sayang sebagaimana dahulu anak membutuhkan hal tersebut  dari orangtuanya ketika dia kecil.

Kadang terjadi perselisihan antara orang tua dan anak. Atau perdebatan atau anak menyanggah dan membantah perkataan orangtua. Di sini sang anak wajib menjaga adab dan tatakrama kepada orangtua. Jangan berkata kasar, mengucapkan ah saja dilarang oleh Allah apalagi yang lebih dari itu. Ini menunjukkan besar dan tingginya kedudukan serta hak orangtua  atas anaknya.

Namun begitu, juga perlu diingat bahwa sekalipun Allah Ta’ala memerintahkan anak berbuat baik kepada kedua orangtua karena budi baik dan kasih sayang mereka selama ini. Jika orangtua mengajak atau memerintahkan maksiat atau sesuatu yang bertentangan dengan agama Allah, maka anak tidak wajib mena’ati perintah atau ajakannya itu. oleh karena itu Allah tegaskan di dalam firmanNya di surat Al Ankabut di atas, (yang artinya) “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Maknanya; jika keduanya memaksamu untuk mengikuti agama keduanya apabila keduanya musyrik maka janganlah kamu mena’ati keduanya dalam hal itu. sesungguhnya dihari kiamat kepadaKulah kamu dikembalikan, maka Aku membalas kebaikanmu kepada keduanya dan kesabaranmu di atas agamamu dan Aku akan mengumpulkanmu bersama orang-orang yang sholeh bukan bersama kedua orangtuamu sekalipun engkau adalah orang yang paling dekat dengan keduanya di dunia, sesungguhnya seseorang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintainya, maksudnya cinta yang sejalan dengan agama”.[5]

Mari kita mulai mengkaji hadits pertama dalam bab ini.

  1. HADITS PERTAMA : AMAL YANG PALING DICINTAI ALLAH ‘AZZA WA JALLA

عَنْ أَبِي عَمْرو الشَّيْباَنِي يَقُوْلُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلىَ داَرِ عَبْدِ الله قاَلَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَي قَالَ ثُمَّ بِرُّ اْلوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيْ قَالَ ثُمَّ اْلجِهَاد فِي سَبِيْلِ الله قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اْستَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

Dari Abu Amru Asy-Syaibaany ia menuturkan, “Pemilik rumah ini menyampaikan kepada kami – ia menunjuk kea rah rumah Abdullah, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama, amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla? Beliau menjawab, ‘Sholat pada waktunya’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Ia berkata, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orangtua’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Beliau menjawab, ‘Kemudian Jihad di jalan Allah. Dan kalau aku meminta tambahan lagi niscaya beliau menambahkannya”.[6]

Syarah hadits :

Hadits yang mulia ini menunjukkan apa yang telah dijelaskan di atas yaitu fadhilah dan kewajiban bakti kepada orangtua. Dimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama menjadikannya  sebagai amalan yang  paling afdhol setelah  sholat.

Kalau sholat adalah ibadah agung yang berkaitan dengan hubungan hamba dengan Sang Penciptanya, maka bakti kepada kedua orangtua adalah ibadah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan orang yang paling berjasa kepadanya yaitu kedua orangtua. Sholat adalah hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh hamba. Dan bakti kepada orangtua adalah hak kedua orangtua yang wajib ditunaikan oleh anak. Seperti di dalam dua ayat di atas, Allah Ta’ala menyebutkan perintah bakti kepada kedua orangtua setelah perintah mentauhidkanNya.

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Berbakti kepada keduanya adalah (dengan) berbuat baik kepada keduanya, mengerjakan yang bagus dan menyenangkan keduanya. termasuk di dalamnya berbuat baik kepada teman keduanya”.[7]

Syaikh  Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “(Berbakti kepada keduanya) adalah berbuat baik kepada keduanya dengan perkataan, perbuatan dan harta sesuai dengan kemampuan”.[8]

Banyak sekali hadits-hadits yang berisikan perintah berbakti kepada ke dua orangtua atau salah satunya. Insya Allah hadits tersebut akan kita kaji satu persatu, di bab-bab selanjutnya.

Kesimpulan hadits :

a)      Hadits ini adalah dalil bahwasanya sholat adalah ibadah badaniyah yang paling afdhol setelah syahadatain.[9]

b)      Hadits ini juga mendorong  untuk mengerjakan sholat pada waktunya. Imam An Nawawi menyebutkan, “Mungkin disimpulkan darinya; disukainya mengerjakan di awal waktu, karena itu lebih berhati-hati dalam menjaganya dan menyegerakannya”[10]. bahkan bagi yang kaum pria yang diwajibkan menghadiri sholat berjama’ah di masjid memang harus mengerjakannya diawal waktu. Karena sholat berjama’ah di masjid dilakukan di awal waktu.

c)       Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua”.[11]

d)      Hadits ini menyebutkan beberapa amalan yang dicintai Allah Ta’ala, ini menandakan bahwa mengerjakan perintah Allah adalah syarat untuk mendapatkan cinta Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadits qudsi,

وَ ماَ تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَ مَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إَلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada apa-apa yang Aku fardhukan atasnya. Dan hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nafilah sehingga Aku mencintaiNya …”[12].

e)      Di dalam hadits ini juga terkandung pengajaran bagi seorang mufti, ahli ilmu dan guru agar bersabar terhadap orang yang bertanya atau muridnya dan berlapang dalam dalam menghadapinya walaupun ia banyak bertanya.

f)       Seorang murid juga hendaknya menimbang dan memperhatikan kondisi dan maslahat gurunya. Ini disimpulkan dari perkataan Ibnu Mas’ud yang tidak ingin menambah (pertanyaan) karena tidak ingin membebaninya dan ia berkata : kalau aku menambahkan lagi beliau pasti menambahkannya.[13]

g)      Bentuk-bentuk bakti kepada orangtua :

-          Melakukan kebaikan untuknya, menjaga hubungan dengannya dan bergaul dengannya dengan akhlak yang baik.

-          Tidak seyogyanya anak merasa kesal dan sakit  hati kepada orangtua.

-          Tidak mengeraskan suara atau memotong pembicaraannya, tidak berdebat dengannya, dan tidak berdusta kepadanya. Tidak menganggu istirahatnya dan merendahkan diri di hadapannya serta mendahulukannya dalam berbicara maupun berjalan sebagai penghormatan dan memuliakan kedudukannya yang tinggi.

-          Berterima kasih kepadanya dan mendo’akannya sesuai firman Allah Ta’ala,

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”[14].

-          Mendahulukan dan melebihkan bakti kepada ibu, karena jasa dia yang tak terhingga kepada anak, mulai dari mengandung, melahirkan menyusui dan mendidiknya hingga besar.

-          Mendahului dan menyegerakan keinginan dan permintaannya.

-          Merawat dan menjaganya khususnya ketika orangtua telah renta.

-          Member nafkah kepadanya jika ia membutuhkan, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِي

“Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat”.[15]

-          Meminta izin kepada keduanya sebelum safar dan meminta restunya kecuali dalam haji yang fardhu. Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Termasuk berbuat baik dan bakti kepada keduanya, apabila jihad tidak fardhu ‘ain tidak boleh berjihad kecuali dengan izin keduanya”.

-          Mendoakannya setelah ia wafat, menunaikan wasiatnya dan berbuat baik kepada teman-temannya.[16]

  1. HADITS KEDUA : JALAN MENUJU RIDHO ALLAH DAN MENJAUH DARI MURKANYA

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَر قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا اْلوَالِدِ وَسخط الرَّبِّ فِي سَخطِ الْوَالِد

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ridho Robb ada pada ridho orangtua dan murka Robb ada pada murka orangtua”.[17]

Syarah hadits :

Hak orangtua adalah sangat besar, bakti kepada keduanya kewajiban setelah tauhid. Berterima kasih kepada keduanya adalah bagian dari bentuk syukur kepada Allah Ta’ala. Berbuat baik kepada keduanya adalah amal yang sangat dicintai Allah. bahkan ridho keduanya adalah ridho Allah Ta’ala dan murka keduanya adalah murka Allah Ta’ala, karena Allah memerintahkan agar orangtua itu dita’ati, maka barangsiapa yang menjalankan perintah Allah, ia telah berbakti kepada Allah Ta’ala  dan Allah ridho kepadanya, sebaliknya jika tidak menjalankan perintah Allah agar berbakti kepada orangtua berarti ia telah menentang Allah maka Allah pun murka kepadanya.[18]

Keridhoan orangtua adalah lebih berharga dari pada harta benda. Dunia ini fana, cepat atau  lambat pasti sirna. Sedangkan ridho kedua orangtua bermanfaat bagi anak di dunia dan akhirat. Maka seorang anak wajib untuk selalu berusaha membuat orangtuanya ridho dengan perkataan dan perbuatan serta jangan sampai melukai hatinya atau membuatnya murka.

Akan tetapi sebagaimana dijelaskan pada syarah hadits pertama, masalah ini juga dengan syarat selama keridhoan orangtua itu tidak bertentangan dengan apa yang disyari’atkan Allah.[19]

KESIMPULAN HADITS :

a)      Ridho orangtua adalah kunci kebaikan dan pintu keselamatan di dunia dan akhirat.

b)      Sebaliknya penyebab kesengsaraan dunia dan akhirat adalah durhaka kepada kedua orangtua. (bersambung)


[1] Lihat Syarah Riyadhush Sholihih oleh Ibnu Utsaimin (1/368).

[2] Al Ankabut : 8.

[3] Tafsir Ibnu Katsir (6/264).

[4] Al Isro’ : 23-24.

[5] Tafsir Ibnu Katsir (6/265).

[6] Diriwayatkan oleh Bukhari di Shohihnya (1/140, 4/17, 8/2), Muslim di Shohihnya (kitab Al Iman bab. 36 no. 139), An Nasa-I di Sunannya (kitab Al Mawaaqiit bab. 49) dan Ahmad di Al Musnad (1/410, 439).

[7] Syarah Shohih Muslim (2/73 bab. Bayaan Kawnul Imaan billah).

[8] Syarah Riyadhush Sholihin (1/368).

[9] Dalil Al Falihin (2/

[10] Syarah Shohih Muslim (2/79).

[11] Syarah Riyadhush Sholihin Ibnu Utsaimin (1/368).

[12] HR. Bukhari dari Abu Huraira(4/231).

[13] Ibid.

[14] Al Isro : 24.

[15] Al Baqoroh : 215.

[16] Point-point ini diringkas dari : www.kalemat.org

[17] HR. Al Bazzar dan At Tirmidzi serta Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru. Dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Adabul Mufrod (1/2).

[18] Lihat Tuhfatul Ahwazy (6/22), Faidhul Qodhir (4/44).

[19] Ibid.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +4 (from 4 votes)
April 09th, 2010 | Author: Abu Zubair Hawaary

قال ابن القيم -رحمه الله- مفتاح دار السعادة – (1 /70): الجهاد نوعان:
- جهاد باليد والسنان، وهذا المشارك فيه كثير.
- والثاني: الجهاد بالحجَّة والبيان، وهو جهاد الخاصّة من أتباع الرُّسل، وهو جهاد الأئمة وهو أفضل الجهادين لعظم منفعته وشدّة مؤونته وكثرة أعدائه.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Jihad itu ada dua jenis :

-         Jihad dengan tangan dan senjata, jenis ini banyak yang bisa melakukannya.

-         Jihad dengan hujjah dan bayan, ini adalah jihad orang-orang tertentu dari pengikut-pengikut para rasul. Ia adalah jihad imam-imam dan adalah jihad yang paling afdhol karena manfaatnya yang sangat besar dan tanggungannya yang berat serta musuh-musuhnya yang banyak”. (Mitaah Daar As Sa’adah (1/70).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.7/10 (15 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +10 (from 12 votes)
Category: kata-kata emas  | One Comment