KEUTAMAAN AKIDAH TAUHID

KEUTAMAAN AKIDAH TAUHID

عن عبادة بن الصامت – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله r :

« من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأن محمداً عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ».

Dari Ubadah bin Ash-Shomit semoga Allah meridhoinya ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Barangsiapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadati dengan hak melainkan Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwasanya Muhamad itu adalah hamba dan Rasul-Nya, bahwasanya Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya dan kalimat-Nya yang ditiupkannya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga serta neraka adalah hak, Allah akan memasukkan dia ke surga sesuai dengan amalannya”. (diriwayatkan oleh Al-Bukhari kitabul anbiya’ no. 3435, dan Muslim kitabul iman no. 46, 47, dan Ahmad 5/314).

MAKNA HADITS

Hadits ini mencakup lima perkara barangsiapa yang beriman dengan semuanya dan mengamalkan kandungannya zhohir dan batin masuk surga.

Pertama : sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Barangsiapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadati dengan hak melainkan Allah Ta’ala semata tidak ada sekutu bagi-Nya”.

Maksudnya, ia beriman kepada Allah dengan benar dan meyakini. Mengakui ke esaan Allah Ta’ala dan berlepas diri dari mengibadati selain-Nya dan mengamalkan kandungan-kandungan kesaksiannya tersebut dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya perkataan maupun perbuatan.

Kedua : syahadat bahwasanya Muhamad itu rasul (utusan) Allah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Maksudnya barangsiapa yang meyakini dengan keyakinan yang pasti tidak ada keraguan padanya bahwasanya Muhamad itu Rasulullah yang diutus kepada jin dan manusia dengan risalah yang sempurna. Bahwasanya dia adalah penutup para nabi, dan risalahnya adalah penutup seluruh risalah. Mengimani bahwasanya ia adalah salah seorang hamba-hamba Allah yang dimuliakan Allah dengan mengembang risalah-Nya kepada seluruh alam, membenarkan apa yang yang diberitakannya dan menaati perintah-perintahnya serta menjauihi apa yang dilarangnya.

Ketiga : meyakini bahwasanya Isa ‘alaihi wa sallama salah satu hamba dan rasul Allah. Bahwasanya dia bukan anak zina sebagaimana tuduhan yahudi. Dan ia bukan Allah bukan pula anak Allah bukan pula satu dari yang tiga sebagaimana anggapan nasrani. Akan tetapi dia adalah salah satu hamba Allah yang Allah utus kepada Bani Israil yang mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata.

Allah telah menciptakan Isa dengan kalimat (Kun) yang menunjukkan atas takwin, bahwasanya dia adalah salah satu dari ruh yang diciptakan Allah,

خلقها الله ] إن مثل عيسى عند الله  كمثل آدم خلقه من تراب ثم قال له كن فيكون [.

“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, Ia menciptakannya dari tanah kemudian ia berkata kepada-Nya, “Jadilah” maka ia pun jadi”.

Ke empat : bahwasanya surga itu adalah hak. Maksudnya meyakini bahwasanya surga yang telah disiapkan Allah untuk orang-orang yang ta’at dari hamba-hamba-Nya telah ada dan benar wujudnya tidak ada keraguan padanya. Dan bahwasanya ia adalah tempat terakhir yang kekal bagi orang-orang beriman dan mengikuti rasul-rasul-Nya.

Kelima : bahwasanya neraka adala hak. Maksudnya meyakini bahwasanya neraka yang dijanjikan Allah sebagai tempar orang-orang kafir dan munafik benar-benar ada tidak ada keraguan darinya telah disiapkan oleh Allah untuk orang yang kafir kepada-Nya, mengingkari dan menentang-Nya.

Lima perkara ini barangsiapa yang membenarkannya, beriman kepadanya dan mengamalkan tuntutan-tuntutannya, Allah masukkan dia ke surga sekalipun ia lalai dan memiliki dosa. Hal itu disebabkan tauhid dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah semata.

KESIMPULAN HADITS :

1.       Keutamaan mentauhidkan Allah, dan bahwasanya Allah mengampuni dosa-dosa dengannya.

2.       Luasnya anugerah Allah dan Rahmah-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

3.       Kebenaran para Nabi dan apa yang dibawanya, khususnya para Muhamad  shollallahu ‘alaihi wa sallama tanpa mengurangi hak-hak mereka dan tidak pula me lampui batas.

4.       Bahwasanya pelaku-pelaku maksiat dari orang-orang yang bertauhid tidak kekal di dalam neraka.

5.       Ke wajiban beriman kepada surga dan neraka.

(Mudzakkirotul Hadits An-Nabawy fil Akidah wal It-Tiba’ (hal. 10-13 dengan diringkas)  Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholi)

This entry was posted in Akidah/Manhaj. Bookmark the permalink.

3 Responses to KEUTAMAAN AKIDAH TAUHID

  1. wawansri says:

    Assamu’alikum,
    mohon ijin u mencopy ustad,
    Jazakumullah..

  2. Mohon maaf hanya sedikit koreksi dari saya bagi Respon wawansri says: 09/09/2009 at 1:38 pm di blog ini yang menulis sbb:

    Assamu’alikum,
    mohon ijin u mencopy ustad,
    Jazakumullah..
    UN:F [1.8.5_1061]

    —————————————-
    KOREKTOR:
    ————––
    Maafkan atas kelancangan saya sebagai sesama ummat islam saya hanya melakukan kewajiban saja untuk saling mengingatkan bahwa salam yang anda tulis itu bukanlah salamnya orang islam tapi salamnya non muslim.

    PENDAHULUAN:
    ——————
    BERHATI-HATILAH DALAM MENULIS/MENGUCAPKAN SALAM “tolong perhatikan kalimat salam anda tulis itu..! di situ anda menulis “Assamu’alikum” dan bukan “Assalamu’alaikum” tahukah anda apa artinya ASSAMU’ALAIKUM? itu artinya “SEMOGA KEMATIAN MENIMPA BAGI KAMU/KALIAN” karena makna “ASSAMU” adalah “KEMATIAN” sehingga jika mendapatkan kalimat seperti itu diharuskan bagi kita menjawab Assamu’alaikum itu dengan kalimat “WA’ALAIKUM” saja, yg artinya “DAN SEMOGA JUGA BAGI KAMU/KALIAN”. Jawaban itu juga berlaku bagi salamnya non muslim, baik yg ditulis/diucapkannya itu sesuai maupun tidak sesuai dengan salamnya orang Islam maka jawabannya tetap seperti itu.

    Allah berfirman:
    “Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka jahanam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S.58.8)

    PEMBAHASAN :
    ——————
    ASSAMU’ALAIKUM ADALAH SALAMNYA NON MUSLIM

    A. “HUKUM MENJAWAB SALAMNYA NON MUSLIM
    ——————————————————
    Berkata Hisyam bin Zaid bin Anas bin Malik: Saya pernah mendengar Anas bin Malik berkata: Seorang Yahudi pernah lewat dihadapan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam lalu dia mengucapkan (salam dengan ucapan): ASSAAMU’ ALAIKA. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menjawabnya: “WA’ALAIKA. Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda (kepada para Shahabat): “Tahukah kamu apa yang dia ucapkan? Dia mengucapkan (salam kepadaku dengan ucapan): AS SAAMU’ALAIKA.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bolehkan kami membunuhnya? Beliau menjawb: “Jangan! (Tetapi) apabila Ahlul Kitab memberi salam kepada kamu maka jawablah: “WA’ALAIKUM (saja).”(HR. Bukhari no. 6926).

    Allah berfirman:
    “Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa’ : 86).

    Ayat tersebut sebagai perintah Allah yang bersifat UMUM dan MUTLAK. maka dari itu dapat dikeluarkan suatu hukum juga yang berkaitan dengan SALAM yaitu bahwa menjawab salamnya orang non muslim yang ditujukan kepada kita, baik salam yang diucapkannya itu sesuai maupun tidak sesuai dengan salamnya orang Islam adalah tetap WAJIB hukumnya bagi kita orang islam menjawabnya dengan “WA’ALAIKUM (Dan semoga juga bagi kamu/kalian)” dengan tidak berlaku kasar, krn yg demikian itu ajaran rasulullah kepada para sahabat sebagaimana hadits di atas yaitu menjawabnya dg kalimat serupa dalam maksud yg terkandung didalamnya.

    B. HUKUM MEMULAI SALAM KEPADA NON MUSLIM
    ————————————————————
    ada 2 pendapat dalam memulai ucapan salam kepada non muslim itu, yaitu 1) diperbolehkan 2) tidak diperbolehkan

    1). pendapat yg memperbolehka berdasarkan nash alqur’an, yaitu:

    ”Wahai orang-orang yang telah beriman, janganlah memasuki rumah-rumah selain dari rumah kamu, sehingga kamu meminta izin dahulu dan memberi salam kepada penghuninya; itu lebih baik bagi kamu, mudah-mudahan kamu mengingat.” (Quran 24:27)

    Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata dibutuhkan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan denganmereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu

    Berikut Beberapa Hadits Nabi:

    Apabila engkau menjumpainya engkau berikan salam kepadanya” (HR. Muslim dan Tirmidzi)

    Maukah kamu aku kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu”(HR. Muslim)

    Wahai manusia, sebarkanlah ucapan salam, hubungkanlah tali kekerabatan, berilah makanan, dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tertidur, engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR. Muslim)

    “sesungguhnya seseorang itu akan mendapat balasan sesuai apa yang telah diniatkannya” (HR. Bukhori dan Muslim).

    2). Pendapat yang tidak memperbolehkan berdasarkan hadits Nabi yaitu:

    “Janganlah kalian memulai kaum yahudi dan jangan pula kaum nashrani dengan ucapan salam ” [Hadits Riwayat Muslim dalam As-Salam 2167]

    PENUTUP
    ————
    Setiap anak adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang segera bertaubat/beristighfar” (Hadist Shohih Riwayat Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan ad Darimi)

    KATA HIKMAH : “HIDUP BERBUAT SALAH ADALAH INSANI TAPI HIDUP DALAM KESALAHAN ADALAH SETANI”

    SEKALI LAGI MAAF “WALLAHU A’LAM BISH SHOWAB”

  3. Moemoey says:

    Assamu’alikum wr. wb.,
    Ana minta ijin u mencopy ustad,
    Jazakumullah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>