Archive for the Category » Syarah Hadits «

April 21st, 2010 | Author:

BAB : KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANGTUA

FIRMAN ALLAH TA’ALA,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya”.

Imam Bukhari memulai kitabnya ini dengan adab dan kewajiban berbakti kepada kedua kedua orangtua, karena adab dan kewajiban berbakti kepada orangtua adalah yang terdepan setelah adab kepada Allah Ta’ala dan kepada  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama[1]. Oleh karena itu penekanan masalah ini banyak kita dapatkan di dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. Bahkan di dalam Al Qur’an perintah berbakti kepada orangtua adalah setelah perintah mentauhidkanNya sebagaimana firman Allah Ta’ala yang dibawakan oleh Imam Bukhari sebagai judul bab pertama kitabnya ini.

Allah Ta’ala berfirman,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا وإن جاهداك لتشرك بي ماليس لك به علم فلا تطعهما إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hambaNya berbuat baik kepada kedua orangtua setelah mendorong mereka untuk berpegang teguh dengan men-tauhid-kanNya. Sesungguhnya kedua orangtua adalah sebab adanya manusia dan kebaikan keduanya kepadanya tidak terhitung; ayah dengan nafkah yang diberikannya dan ibu dengan kasih sayang yang dilimpahkannya”.[3]

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا  وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Robbmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”[4].

Lihatlah di ayat yang mulia ini, betapa Allah Ta’ala menegaskan kewajiban menjaga akhlak terhadap kedua orangtua yang merupakan diantara bentuk bakti kepada keduanya. apalagi kalau orangtua telah menginjak usia senja, kedua orangtua atau salah satunya membutuhkan perhatian, kasih dan sayang sebagaimana dahulu anak membutuhkan hal tersebut  dari orangtuanya ketika dia kecil.

Kadang terjadi perselisihan antara orang tua dan anak. Atau perdebatan atau anak menyanggah dan membantah perkataan orangtua. Di sini sang anak wajib menjaga adab dan tatakrama kepada orangtua. Jangan berkata kasar, mengucapkan ah saja dilarang oleh Allah apalagi yang lebih dari itu. Ini menunjukkan besar dan tingginya kedudukan serta hak orangtua  atas anaknya.

Namun begitu, juga perlu diingat bahwa sekalipun Allah Ta’ala memerintahkan anak berbuat baik kepada kedua orangtua karena budi baik dan kasih sayang mereka selama ini. Jika orangtua mengajak atau memerintahkan maksiat atau sesuatu yang bertentangan dengan agama Allah, maka anak tidak wajib mena’ati perintah atau ajakannya itu. oleh karena itu Allah tegaskan di dalam firmanNya di surat Al Ankabut di atas, (yang artinya) “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Maknanya; jika keduanya memaksamu untuk mengikuti agama keduanya apabila keduanya musyrik maka janganlah kamu mena’ati keduanya dalam hal itu. sesungguhnya dihari kiamat kepadaKulah kamu dikembalikan, maka Aku membalas kebaikanmu kepada keduanya dan kesabaranmu di atas agamamu dan Aku akan mengumpulkanmu bersama orang-orang yang sholeh bukan bersama kedua orangtuamu sekalipun engkau adalah orang yang paling dekat dengan keduanya di dunia, sesungguhnya seseorang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintainya, maksudnya cinta yang sejalan dengan agama”.[5]

Mari kita mulai mengkaji hadits pertama dalam bab ini.

  1. HADITS PERTAMA : AMAL YANG PALING DICINTAI ALLAH ‘AZZA WA JALLA

عَنْ أَبِي عَمْرو الشَّيْباَنِي يَقُوْلُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلىَ داَرِ عَبْدِ الله قاَلَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَي قَالَ ثُمَّ بِرُّ اْلوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيْ قَالَ ثُمَّ اْلجِهَاد فِي سَبِيْلِ الله قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اْستَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

Dari Abu Amru Asy-Syaibaany ia menuturkan, “Pemilik rumah ini menyampaikan kepada kami – ia menunjuk kea rah rumah Abdullah, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama, amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla? Beliau menjawab, ‘Sholat pada waktunya’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Ia berkata, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orangtua’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Beliau menjawab, ‘Kemudian Jihad di jalan Allah. Dan kalau aku meminta tambahan lagi niscaya beliau menambahkannya”.[6]

Syarah hadits :

Hadits yang mulia ini menunjukkan apa yang telah dijelaskan di atas yaitu fadhilah dan kewajiban bakti kepada orangtua. Dimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama menjadikannya  sebagai amalan yang  paling afdhol setelah  sholat.

Kalau sholat adalah ibadah agung yang berkaitan dengan hubungan hamba dengan Sang Penciptanya, maka bakti kepada kedua orangtua adalah ibadah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan orang yang paling berjasa kepadanya yaitu kedua orangtua. Sholat adalah hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh hamba. Dan bakti kepada orangtua adalah hak kedua orangtua yang wajib ditunaikan oleh anak. Seperti di dalam dua ayat di atas, Allah Ta’ala menyebutkan perintah bakti kepada kedua orangtua setelah perintah mentauhidkanNya.

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Berbakti kepada keduanya adalah (dengan) berbuat baik kepada keduanya, mengerjakan yang bagus dan menyenangkan keduanya. termasuk di dalamnya berbuat baik kepada teman keduanya”.[7]

Syaikh  Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “(Berbakti kepada keduanya) adalah berbuat baik kepada keduanya dengan perkataan, perbuatan dan harta sesuai dengan kemampuan”.[8]

Banyak sekali hadits-hadits yang berisikan perintah berbakti kepada ke dua orangtua atau salah satunya. Insya Allah hadits tersebut akan kita kaji satu persatu, di bab-bab selanjutnya.

Kesimpulan hadits :

a)      Hadits ini adalah dalil bahwasanya sholat adalah ibadah badaniyah yang paling afdhol setelah syahadatain.[9]

b)      Hadits ini juga mendorong  untuk mengerjakan sholat pada waktunya. Imam An Nawawi menyebutkan, “Mungkin disimpulkan darinya; disukainya mengerjakan di awal waktu, karena itu lebih berhati-hati dalam menjaganya dan menyegerakannya”[10]. bahkan bagi yang kaum pria yang diwajibkan menghadiri sholat berjama’ah di masjid memang harus mengerjakannya diawal waktu. Karena sholat berjama’ah di masjid dilakukan di awal waktu.

c)       Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua”.[11]

d)      Hadits ini menyebutkan beberapa amalan yang dicintai Allah Ta’ala, ini menandakan bahwa mengerjakan perintah Allah adalah syarat untuk mendapatkan cinta Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadits qudsi,

وَ ماَ تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَ مَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إَلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada apa-apa yang Aku fardhukan atasnya. Dan hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nafilah sehingga Aku mencintaiNya …”[12].

e)      Di dalam hadits ini juga terkandung pengajaran bagi seorang mufti, ahli ilmu dan guru agar bersabar terhadap orang yang bertanya atau muridnya dan berlapang dalam dalam menghadapinya walaupun ia banyak bertanya.

f)       Seorang murid juga hendaknya menimbang dan memperhatikan kondisi dan maslahat gurunya. Ini disimpulkan dari perkataan Ibnu Mas’ud yang tidak ingin menambah (pertanyaan) karena tidak ingin membebaninya dan ia berkata : kalau aku menambahkan lagi beliau pasti menambahkannya.[13]

g)      Bentuk-bentuk bakti kepada orangtua :

-          Melakukan kebaikan untuknya, menjaga hubungan dengannya dan bergaul dengannya dengan akhlak yang baik.

-          Tidak seyogyanya anak merasa kesal dan sakit  hati kepada orangtua.

-          Tidak mengeraskan suara atau memotong pembicaraannya, tidak berdebat dengannya, dan tidak berdusta kepadanya. Tidak menganggu istirahatnya dan merendahkan diri di hadapannya serta mendahulukannya dalam berbicara maupun berjalan sebagai penghormatan dan memuliakan kedudukannya yang tinggi.

-          Berterima kasih kepadanya dan mendo’akannya sesuai firman Allah Ta’ala,

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”[14].

-          Mendahulukan dan melebihkan bakti kepada ibu, karena jasa dia yang tak terhingga kepada anak, mulai dari mengandung, melahirkan menyusui dan mendidiknya hingga besar.

-          Mendahului dan menyegerakan keinginan dan permintaannya.

-          Merawat dan menjaganya khususnya ketika orangtua telah renta.

-          Member nafkah kepadanya jika ia membutuhkan, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِي

“Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat”.[15]

-          Meminta izin kepada keduanya sebelum safar dan meminta restunya kecuali dalam haji yang fardhu. Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Termasuk berbuat baik dan bakti kepada keduanya, apabila jihad tidak fardhu ‘ain tidak boleh berjihad kecuali dengan izin keduanya”.

-          Mendoakannya setelah ia wafat, menunaikan wasiatnya dan berbuat baik kepada teman-temannya.[16]

  1. HADITS KEDUA : JALAN MENUJU RIDHO ALLAH DAN MENJAUH DARI MURKANYA

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَر قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا اْلوَالِدِ وَسخط الرَّبِّ فِي سَخطِ الْوَالِد

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ridho Robb ada pada ridho orangtua dan murka Robb ada pada murka orangtua”.[17]

Syarah hadits :

Hak orangtua adalah sangat besar, bakti kepada keduanya kewajiban setelah tauhid. Berterima kasih kepada keduanya adalah bagian dari bentuk syukur kepada Allah Ta’ala. Berbuat baik kepada keduanya adalah amal yang sangat dicintai Allah. bahkan ridho keduanya adalah ridho Allah Ta’ala dan murka keduanya adalah murka Allah Ta’ala, karena Allah memerintahkan agar orangtua itu dita’ati, maka barangsiapa yang menjalankan perintah Allah, ia telah berbakti kepada Allah Ta’ala  dan Allah ridho kepadanya, sebaliknya jika tidak menjalankan perintah Allah agar berbakti kepada orangtua berarti ia telah menentang Allah maka Allah pun murka kepadanya.[18]

Keridhoan orangtua adalah lebih berharga dari pada harta benda. Dunia ini fana, cepat atau  lambat pasti sirna. Sedangkan ridho kedua orangtua bermanfaat bagi anak di dunia dan akhirat. Maka seorang anak wajib untuk selalu berusaha membuat orangtuanya ridho dengan perkataan dan perbuatan serta jangan sampai melukai hatinya atau membuatnya murka.

Akan tetapi sebagaimana dijelaskan pada syarah hadits pertama, masalah ini juga dengan syarat selama keridhoan orangtua itu tidak bertentangan dengan apa yang disyari’atkan Allah.[19]

KESIMPULAN HADITS :

a)      Ridho orangtua adalah kunci kebaikan dan pintu keselamatan di dunia dan akhirat.

b)      Sebaliknya penyebab kesengsaraan dunia dan akhirat adalah durhaka kepada kedua orangtua. (bersambung)


[1] Lihat Syarah Riyadhush Sholihih oleh Ibnu Utsaimin (1/368).

[2] Al Ankabut : 8.

[3] Tafsir Ibnu Katsir (6/264).

[4] Al Isro’ : 23-24.

[5] Tafsir Ibnu Katsir (6/265).

[6] Diriwayatkan oleh Bukhari di Shohihnya (1/140, 4/17, 8/2), Muslim di Shohihnya (kitab Al Iman bab. 36 no. 139), An Nasa-I di Sunannya (kitab Al Mawaaqiit bab. 49) dan Ahmad di Al Musnad (1/410, 439).

[7] Syarah Shohih Muslim (2/73 bab. Bayaan Kawnul Imaan billah).

[8] Syarah Riyadhush Sholihin (1/368).

[9] Dalil Al Falihin (2/

[10] Syarah Shohih Muslim (2/79).

[11] Syarah Riyadhush Sholihin Ibnu Utsaimin (1/368).

[12] HR. Bukhari dari Abu Huraira(4/231).

[13] Ibid.

[14] Al Isro : 24.

[15] Al Baqoroh : 215.

[16] Point-point ini diringkas dari : www.kalemat.org

[17] HR. Al Bazzar dan At Tirmidzi serta Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru. Dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Adabul Mufrod (1/2).

[18] Lihat Tuhfatul Ahwazy (6/22), Faidhul Qodhir (4/44).

[19] Ibid.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.6/10 (8 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +8 (from 8 votes)
May 13th, 2009 | Author:

JADILAH KUNCI KEBAIKAN

عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن من الناس مفاتيح للخير مغاليق للشر و إن من الناس مفاتيح للشر مغاليق للخير ، فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه ، و ويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه “

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya diantara manusai ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di tangannya dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di tangannya”.[1]

Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan , hendaklah ia memenuhi hal berikut ini :

1.       Ikhlas untuk Allah dalam perkataan dan perbuatan. Karena ikhlas adalah asas segala kebaikan dan mata air segala keutamaan.

2.       Senantiasa berdo’a kepada Allah memohon bimbingan untuk menjadi kunci kebaikan. Karena do’a adalah kunci segala kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya serta tidak akan menyia-nyiakan seorang mukmin yang menyeru-Nya.

3.       Bersemangat menuntut dan mendapatkan ilmu. Karena ilmu mengajak kepada keutamaan dan akhlak yang mulia, serta penghalang dari akhlak tercela dan perbuatan keji.

4.       Menjalakan ‘ibadatullah terutama yang fardhu, dan khususnya lagi sholat. Karena ia mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

5.       Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, serta menjauh dari akhlak tercela.

6.       Berteman dengan orang-orang baik dan sholeh. Karena duduk bersama orang-orang yang sholeh dinaungi malaikat dan diliputi rahmat. Serta menjauhkan diri dari duduk di majelis orang-orang yang jahat dan tidak baik, sesungguhnya itu adalah tempat singgah setan.

7.       Menasehati manusia ketika bergaul  dan berbaur dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan memalingkan mereka dari keburukan.

8.       Mengingat hari berbangkit dan sa’at berdiri di hadapan Robbul ‘Alamiin. Ketika Ia membalas orang yang baik dengan kebaikan dan orang yang jahat dengan hukuman. (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[2])

9.       Dan pilar penyanggah semua itu adalah keinginan seorang hamba kepada kebaikan serta memberi manfaat kepada orang lain.  Apabila keinginan seseorang  kuat, niat dan tekad sudah bulat serta memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan itu, lalu melakukannya sesuai jalurnya. Maka dengan izin Allah akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan.[3]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Amiin.


[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (237) dan dihasankan oleh Al-Albany di Shohih Sunan Ibnu Majah (194).

[2] Al-Zalzalah : 7-8.

[3] Al-Fawaid Al-Mantsuroh (161-162) oleh Syaikh Dr. Abdurrozaq bin Abdu Muhsin Al-Badr.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +4 (from 4 votes)
March 07th, 2009 | Author:

MANHAJ DAKWAH KEPADA ALLAH TA’ALA

عن ابن عباس – رضي الله عنهما – أن رسول الله r لما بعث معاذاً  إلى اليمن قال :

« إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب ، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي راوية : إلى أن يوحدوا الله – فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة ، فإن أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم. فإن هم أطاعوك لذلك، فإياك وكرائم أموالهم ، واتق دعوة المظلوم ، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب ».

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama ketika mengutus Mu’adz ke Yaman ia berkata, “Sesungguhnya engkau akan datang kepada suatu kaum dari ahli kitab. Maka hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka syahadat La Ilaaha Illallah – dalam riwayat lain : kepada mentauhidkan Allah – jika mereka menta’atimu untuk itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka lima sholat dalam sehari semalam. Jika mereka menta’atimu untuk itu, beritahukanlah bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menta’atimu untuk itu maka jauhilah olehmu harta-harta mereka yang paling berharga. Dan takutlah kamu kepada do’a orang yang dizalimi. Sesungguhnya tidak ada antara dia dan Allah pembatas”. (Keluarkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Az-Zakah hadits no. 1395, Muslim dalam Kitab Al-Iman hadits no.31, An-Nasai dalam kitab Az-Zakah 5/3, Ibnu Majah Kitab Az-Zakah hadits no. 1783 , 1/568, Ad-Daarimi kitab Az-Zakah hadits no. 1662, 1/318 dan Ahmad 1/223).

Perawi Hadits :

Abdullah bin Abbas bin Abdul Muth-tholib Al-Hasyimi putra paman Rasulullah. Tinta dan lautan karena keluasan ilmunya. Salah seorang sahabat yang banyak meriwayakan hadits, dan salah seorang ‘abadilah dari fuqoha’ sahabat. Wafat pada tahun 68 H.

Makna Hadits :

Hadits ini menjelaskan langkah-langkah yang wajib ditempuh oleh seorang juru dakwah kepada Allah. Kewajiban pertama kali yang harus dia mulai adalah berdakwah kepada At-Tauhid dan meng-esakan Allah semata dengan ibadah dan menjauhkan diri dari syirik yang kecil maupun besar. Dan itu terwujud dengan bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadati dengan hak melainkan Allah dan bahwasasnya Muhamad itu adalah Rasulullah.

Yang dimaksud dengan syahadat (kesaksian) ini, bahwasanya ibadah dengan segala bentuknya adalah hak mutlak Allah semata. Tidak ada sesuatupun selain-Nya yang berhak. Baik malaikat muqorrob, nabi yang diutus, orang sholeh, batu, pohon, maupun matahari dan bulan.

Maka tidak boleh diseru kecuali Allah semata. Tidak boleh ber-istighotsah kecuali dengan-Nya. Tidak boleh meminta pertolongan kecuali kepada-Nya. Tidak boleh bergantung kecuali kepada-Nya dan tidak ditakuti serta di harapkan kecuali Dia.

Maka barangsiapa yang memalingkan salah satu dari ibadah-ibadah ini atau ibadah yang lainnya untuk selain Allah, maka ia benar-benar telah menyekutukan Allah.

] إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار[.

Artinya, “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan orang-orang yang zholim itu tidak akan mendapatkan penolong seorangpun”.

Bukanlah yang dimaksud dengan (kalimat) La Ilaaha Illallah semata mengucapkannya. Akan  tetapi haruslah mengetahui makannya dan mengamalkan isinya. Dan harus sempurna syarat-syaratnya. Syarat-syaratnya ada tujuh :

1. ilmu yang menafikan kebodohan.

2. Yakin yang menafikan keraguan.

3. Qobul (menerima) yang menafikan penolakan.

4. Inqiyad (tunduk) yang menafikan meninggalkan.

5. Ikhlas yang menafikan syirik.

6. Shidqu (juju/benar) yang menafikan dusta.

7. Mahabbah (cinta) yang menafikan benci.

Dan yang dimaksud dengan syahadat Muhamad Rasulullah yaitu, mengetahui maknanya dan mengamalkan kandungannya. Bukanlah maksudnya semata melafazhkannya. Maksudnya adalah membenarkannya pada apa yang diberitakannya dan mentaati perintahnya serta menjauhi larangannya. Dan mengibadati Allah dengan apa yang disyari’atkan melalui lisan Rasul yang mulia ini bukannya dengan  mengikuti hawa nafsu atau berbuat bid’ah.

Wajib atas setiap muslim mengetahui makna dua kalimat syahadat dengan pemahaman yang benar dan bersungguh-sungguh dalam mengamalka kandungan-kandungannya. Yaitu membenarkan, mengimani dan mengamalkan apa yang dibawa oleh Rasulullah di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Mulai dari yang berkaitan dengan akidah, ibadah serta syari’at-syari’at dalam segala aspek kehidupan.

Kesimpulan Hadits :

1. Bahwasanya tauhid adalah azas islam.

2. Rukun islam yang paling penting setelah tauhid adalah menegakkan sholat.

3. Rukun islam yang paling wajib setelah sholat adalah zakat fardhu, dan itu termasuk hak harta.

4. Bahwasanya imam dialah yang berwenang mengumpulkan zakat dan membagikannya. Bisa langsung dilakukannya atau dilakukan oleh wakilnya.

5. Di dalam hadits ini terkandung dalil bahwasanya boleh mengeluarkan zakat pada satu ashnaf saja.

6. Tidak boleh membagikan zakat kepada orang yang kaya.

7. Haram atas amil zakat mengambil harta yang berharga.

8. Peringatan agar menjauhi berbagai bentuk kezaliman.

9. Diterimanya khobar wahid (hadits ahad) dari perawi yang adil dalam akidah dan hal-hal yang mewajibkan amal.

10. Seyogyanya seorang juru dakwah memulai dakwahnya dari paling penting kemudian begitu seterusnya.

(diterjemah dan diringkas dari Mudzakkiroh Al-Hadits An-Nabawy fil Akidah wal It-tiba’ oleh Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholi halaman 6-10).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)