Archive for the Category » Puisi Abuzzubeir Hawaary «

February 04th, 2010 | Author:

Kepada Putriku

aku ingin engkau seperti bintang

jadi impian dan harapan

aku ingin engkau seperti rembulan

cantik menawan

penerang dalam kegelapan

aku ingin engkau seperti batu karang

tak goyah

sekalipun gelombang tiada berhenti menerjang

pekanbaru shafar 1431 H

untuk putriku TSUROYYA

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.6/10 (24 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +12 (from 18 votes)
May 06th, 2009 | Author:

Wahai jiwa, yakinlah …

Sekalipun kematian hari ini melangkahimu menjemput yang lain

Sejatinya ia dalam perjalanan menujumu.

Hidup ini betapapun panjang dan indahnya, pasti berakhir jua.

Tak lebih dari detik ke menit, jam ke hari, minggu ke bulan lalu berganti tahun

Maka engkau akan sendiri tanpa teman, harta dan kekasih.

Ingatlah kematian hari ini untuk hidup kemudian hari

Tangisilah dosa hari ini untuk bahagia disurga nanti.

Bandingkanlah antara kehidupan yang bahagia di jalan Allah dengan kehidupan yang jauh dari Manhaj Allah.

Bandingkanlah antara orang-orang yang sholeh dan istiqomah dengan orang-orang yang bingung lagi tersesat, penuh keraguan, kebimbangan dan keresahan.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.9/10 (10 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +14 (from 16 votes)
April 17th, 2009 | Author:

Dengan segala kerendahan dan kehinaan

Aku datang .. mengetuk pintuk ampunan

Aku hadir dihadapan-Mu dengan segenap jiwa dan raga

Tatkala hati telah gersang tiada lagi tempat meminta

Tatkala jiwa telah ternoda oleh dosa

Aku tersungkur dalam sujud mengharap maghfiroh

Menangisi segala perbuatanku yang salah

Robbi .. aku telah rasakan panasnya siksa dosa didunia

Jauhkanlah aku dari siksa azab neraka.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.8/10 (5 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 2 votes)
March 21st, 2009 | Author:

KESAKSIAN …

Dibawah rintik hujan
Ku saksikan Rahmat-Mu
Bersama gemuruh air jatuh dibebatuan
Ku lihat ke Maha Perkasaan-Mu
Disa’at burung berkicau dipepohonan menyambut pagi
Daku terbuai dalam kesucian dan keagungan-Mu
Ketika kemilau pelangi menghiasi langit
Ku saksikan ke Maha Indahan dan ke Maha sempurnaan-Mu
Semilir angin menerpa wajah membawa kesejukan
Menyusup kedalam pori-pori, mengalir dalam setiap nadi
Hingga sampai ke hati menghantarkan kedamaian
Kutahu kasih-sayang-Mu meliputi segala sesuatu
Dilembah ini .. dalam kesunyian, kesejukan dan kedamaian
Aku bersaksi, aku bertasbih, aku memuja dan memuji-Mu
Robbi .. Engkau tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia
Dakulah yang telah berbuat sia-sia bergelimang dosa
Seluruh makhluk bertasbih mengagungkan-Mu
Dan aku.. ke-akuan membuatku buta tak membaca ayat-ayat-Mu,
Kesombongan membuatku tuli tak mendengar Firman-Mu, keangkuhan membuatku bisu tidak bertasbih memuja dan memuji-Mu.
Namun, Engkau Maha Mengetahui .. hatiku tetap bersaksi
Engkaulah Yang Maha Perkasa dan akulah si lemah, maka kuatkanlah aku
Engkaulah Yang Maha Mulia dan akulah si hina maka muliakanlah aku
Engkaulah Yang Maha Kaya dan akulah si miskin, maka anugerahilah aku
Akulah si pendosa dan Engkaulah Yang Maha Pengampun dosa
Maha Suci Engkau .. maka jagalah daku dari azab neraka
Robbi .. daku terlalu lemah untuk menanggung azab-Mu
Jauhkanlah daku dari orang yang engkau campakkan ke neraka dan Engkau hinakan
Robbi .. aku telah mendengar seruan-Mu
Aku bersaksi Engkaulah Sang Pencipta
Hanya untukmu semata segala bentuk ibadah
Engkaulah pemilik segala nama yang indah dan sifat yang sempurna
Ampunilah dosaku, hapuslah keselahanku, dan wafatkanlah aku bersama orang-orang yang baik
Robbi .. berikanlah yang telah Engkau janjikan melalui Rasul-Mu
Janganlah hinakan daku di yaumil qiyamah
Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji
Amin.
Abuz Zubeir Hawaary

Suatu pagi di Hutan Lembah Aek Martua

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
March 07th, 2009 | Author:

Menanti …

Setiap hari kunanti kedatanganmu

Setiap pagi kusambut senyummu

Aku mencarimu,

Berselimut embun bercampur asap

yang ada hanya kepedihan menusuk mata

napas sesak tersedak asap

kugosok mata seolah tak percaya

kian pedih, semakin sedih

oohh .. kiamatkah hari?!!

Kenapa sudah berapa pagi tidak ada matahari?!!

Akhirnya kau datang walau telah siang

Tapi kenapa, kau datang tanpa senyuman

Wajah pucat tidak bercahaya

Asa hilang dalam angkara

Karena ulah manusia

Matahari menyala

Udara dan Bumi membara

Hai manusia, kau sedang melukis bencana

Di darat dan lautan,

Dengan tangan-tangan jahiliyah

Dan kemudian

Binasa dalam siksa

Pekanbaru, Sya’ban 1425 Hijriyah.

Ditulis ketika Pekanbaru diselimuti kabut asap

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
February 21st, 2009 | Author:

SUNGAI LIMA WAKTU

Setiap kali kemelut hidup menyelimut bagai kabut

Setiap kali dosa kotor melumuri jiwa

Setiap kali hawa membuatku lupa

Setiap kali mata hati buta karena semua

Setiap kali semua membuatku, lengah .. lemah .. goyah  dan terpedaya

Seruan-Mu menyadarkan aku

Panggilan-Mu mengingatkan aku

Sayup terdengar, menyeruak dan menghentak kepongahan dunia

Membawa kepada sungai-sungai suci

Hapus dosamu

Kikis dakimu

Basuh lukamu

Buka belenggu nafsu

Tenggelam dalam sungai lima waktu

Bermandikan cahaya menerangi jiwa

Disini, disungai ini dalam telaga ini

Kuraih kesejukan, kedamaian, ketentraman, ketenangan

Dan kemenangan.


Abuz Zubeir Hawaary

Pekanbaru, 1 Ramadhan 1425 H

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
February 11th, 2009 | Author:

FAJAR DI KOTA NABI

Kelam masih hitam

Selimuti Bulan dan bintang yang mengintip malu

Menyongsong lahirnya fajar baru.

Sayup …kumandang azan seru-menyeru

Mengiringi lahirnya fajar hari ini di kota Nabi.

Syahdu ..

Menghentak kalbu

Bangunlah jiwa yang berselimut mimpi

Mimpimu  t’lah berlalu

Jemputlah asamu

Bangkitlah hai  jiwa yang terlena

Hayya ‘alash sholaah

Hayya ‘alal falaah

Panggilan Allah menggema

Menyeruak dedaunan dan pokok-pokok korma

Hayya ‘alash sholah

Hayya ‘alal falah

Panggilah Allah menggema

Mimpiku menjadi nyata

Menimba ilmu di Madinah Nabawiyyah.

Kota Nabi, penghujung 1997

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +5 (from 5 votes)
February 04th, 2009 | Author:

Puisi Bisu

Karena lidah telah kelu
Pena telah tumpul
Tinta telah kering
Telinga telah tuli
Mata tiada melihat

Akupun terdiam
Bagai si bisu yang berpuisi
Hanya nanar tatapan mata
Kening berkerut purut
Menghiasi dahi
Dan wajah bagai rembulan yang pucat pasi

Kuharap hatimu mengerti.
Kenapa aku begini.

Pekanbaru 8/12/2005

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 5.7/10 (6 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
January 30th, 2009 | Author:

DUKA DAN ASA

Mendung kelabu bergayut diwajah

Langitpun menangis, sirami hati yang duka

Agar asa kembali tumbuh dihati.

Manusia hidup diantara dua waktu

Masa lalu, yang membuat kita takjub

Masa mendatang hanya Allah yang tahu

Hari ini…. Apapun yang terjadi

Harus dihadapi dengan usaha, tawakkal dan sabar.

Tiada seorangpun ingin kehilangan yang dicinta

Jangan cela daku bila menangis, karena Rasulpun menangis

Tak kuasa menahan duka,

Ketika yang dicinta mendahuluinya.

Biarkan air mata menetes, membasuh luka

Selama kata-kata tetap diridhoi Allah.

Siapakah yang ingin bala menimpanya?

Atau adakah orang yang ingin ditimpa musibah?

Semua akan berkata semoga kita dijauhkan darinya.

Akan tetapi tak selamanya angin bertiup sebagaimana yang diinginkan nakhkoda

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat raih

Allah telah menakdirkan,

Kehendak-Nya jua yang terlaksana,

Jika baik, kita bersyukur

Jika sebaliknya, kita bersabar

Begitulah semestinya seorang mukmin

kita adalah milik Allah dan akan kembali kepadanya

waktu, tempat dan cara yang berbeda.

Yang telah dahulu kembali kita do’akan

Yang akan menyusul, teguhkan iman semoga Allah gantikan yang lebih baik dari

Musibah itu, amin.

Pekanbaru, Selasa 6 Juli ‏2004‏‏-‏07‏‏-‏07‏

Abuz Zubeir Hawaary

Untuk sahabatku yang sedang diuji dalam peristiwa tragis, kecelakaan yang merenggut nyawa anak dan istrinya.

Semoga tetap tegar dan Allah pilihkan yang terbaik untuknya didunia

Dan diakhirat, amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +4 (from 4 votes)
January 28th, 2009 | Author:

Ketika kata tak lagi bermakna

Lisan tak lagi berdaya

Pena jua yang berbicara

Atas namakan jiwa.

Diatas kertas .. membisikkan mantera cinta

Tentang rindu yang membara

Membakar jiwa

Ku kan terus menanti asa

Hingga jiwa kembali kepada-Nya.

Pekanbaru 8/12/2006

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 6.4/10 (8 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)