<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>TELAGA HATI Online &#187; FIKIH</title>
	<atom:link href="http://abuzubair.net/category/fikih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuzubair.net</link>
	<description>... Aku Hidup Untuk Yang Menghidupkanku dan Aku Mati Untuk Yang Mematikanku ...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Feb 2011 04:24:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.4" -->
		<copyright>Copyright &#xA9; 2012 TELAGA HATI Online </copyright>
		<managingEditor>surat@abuzubair.net ()</managingEditor>
		<webMaster>surat@abuzubair.net ()</webMaster>
		<category>posts</category>
		<ttl>1440</ttl>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>... Aku Hidup Untuk Yang Menghidupkanku dan Aku Mati Untuk Yang Mematikanku ...</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>surat@abuzubair.net</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://abuzubair.net/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://abuzubair.net/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>TELAGA HATI Online</title>
			<link>http://abuzubair.net</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>MASALAH-MASALAH KHITBAH DAN MAHAR</title>
		<link>http://abuzubair.net/masalah-masalah-khitbah-dan-mahar/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/masalah-masalah-khitbah-dan-mahar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 07:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH-MASALAH KHITBAH DAN MAHAR 1.       CARA MEMILIH ISTRI Telah shohih dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwasanya beliau menganjurkan menikahi wanita yang memiliki agama, memiliki sifat kasih-sayang dan subur. Ini menunjukkan pentingnya memperhatikan masalah memilih istri yang sholeh, disebabkan maslahat-maslahat kehidupan rumah tangga yang dipetik dari itu, serta pengaruhnya yang besar terhadap kesholehan dan keistiqomahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MASALAH-MASALAH KHITBAH DAN MAHAR</p>
<p>1.       CARA MEMILIH ISTRI</p>
<p>Telah shohih dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwasanya beliau menganjurkan menikahi wanita yang memiliki agama, memiliki sifat kasih-sayang dan subur. Ini menunjukkan pentingnya memperhatikan masalah memilih istri yang sholeh, disebabkan maslahat-maslahat kehidupan rumah tangga yang dipetik dari itu, serta pengaruhnya yang besar terhadap kesholehan dan keistiqomahan anak keturunan kelak.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman (artinya), “sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. (An-Nisa’ : 34)<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>2.       TANGGUNG JAWAB WALI AMRI PEMUDI (GADIS) TERHADAP LAKI-LAKI YANG MAJU UNTUK MEMINANG PUTRINYA</p>
<p>Wali amri seorang pemudi wajib memilihkan untuk putrinya seorang laki-laki yang sepadan dan sholeh, dari orang-orang yang ia ridhoi agama dan amanahnya, berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama,</p>
<p>إذا أتاكم من ترضون خلقه و دينه فزوجوه إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض و فساد عريض</p>
<p>“Apabila datang kepada kalian orang yang kalian ridhoi akhlak dan agamanya maka nikahkanlah ia, jika tidak kalian lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang luas”.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Maka wali pemudi wajib bertakwa kepada Allah dalam masalah itu, dan menjaga maslahat putrinya bukan maslahat dia, sesungguhnya ia dibebani amanah dan kelak diminta pertanggung jawaban terhadap apa yang Allah amanahkan kepadanya. Dan janganlah ia membebani peminang apa yang tidak dia sanggupi, seperti meminta mahar melebihi kebiasaan yang berlaku.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>3.       LANDASAN SEORANG PEMUDI DALAM MEMILIH SUAMINYA</p>
<p>Sifat-sifat yang paling penting yang karenanyalah seharusnya seorang pemudi memilih laki-laki yang datang meminangnya yaitu akhlak dan agama. Adapun harta dan nasab adalah masalah kedua, akan tetapi yang paling penting adalah hendaknya yang datang meminang adalah seorang yang memiliki agama dan akhlak. Karena seorang pria yang memiliki agama dan akhlak, wanita tidak akan kehilangan apa-apa darinya. Jika ia menahannya ia menahannya dengan baik, jika ia melepaskannya ia melepaskannya dengan baik pula. Kemudian laki-laki yang memiliki agama dan akhlak diberkahi Allah begitu juga anak keturunannya. Istrinya bisa belajar darinya akhlak dan agama. Adapun jika tidak memiliki agama dan akhlak, seorang wanita hendaknya menjauh darinya, khususnya sebagian orang-orang yang melalaikan sholat atau orang-orang yang dikenal suka meminum khomar, wal ‘iyadz billah.</p>
<p>Adapun orang-orang yang tidak sholat sama sekali, maka mereka adalah kafir. Wanita mukminah tidak halal bagi mereka sebagaimana mereka juga tidak halal bagi wanita mukminah. yang penting, seorang wanita menitik-beratkan pada akhlak dan agama. Adapun nasab jika di dapat yang memiliki nasab bagus tentu lebih utama. Karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda, “Apabila datang kepada kalian seorang yang kalian ridhoi akhlak dan agamanya maka nikahkanlah ia”<a href="#_ftn4">[4]</a>.<a href="#_ftn5">[5]</a> bersambung)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Al Lajnah Ad Daimah : 18447.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Hadits Hasan dikeluarkan oleh At Tirmidzi (1085) dari hadits Abu Hatim Al Muzani rodhiyallahu ‘anhu, dihasankan oleh Al Albany di Shohih Sunan At Tirmidzi.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Al Lajnah Ad Daimah : 20062.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Lihat takhrij no 2.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Ibnu Utsaimin, Fatawa Al Mar-atul Muslimah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/masalah-masalah-khitbah-dan-mahar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUTIARA ILMU DAN FAEDAH DARI KITAB-KITAB SYAIKH AL MUHADDITS AL ALBANY RAHIMAHULLAHU TA&#8217;ALA</title>
		<link>http://abuzubair.net/395/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/395/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 17:04:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[MUTIARA ILMU DAN FAEDAH DARI KITAB-KITAB SYAIKH AL MUHADDITS AL ALBANY RAHIMAHULLAHU TA&#8217;ALA Disarikan oleh, Syaikh Badr bin Muhamad Ali Badar Al &#8216;Anzy diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian oleh, Abuz Zubair Hawaary بسم الله الرحمن الرحيم إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>MUTIARA ILMU DAN FAEDAH DARI KITAB-KITAB SYAIKH AL MUHADDITS AL ALBANY RAHIMAHULLAHU TA&#8217;ALA</strong></p>
<p style="text-align: center;">Disarikan oleh, Syaikh Badr bin Muhamad Ali Badar Al &#8216;Anzy</p>
<p style="text-align: center;">diterjemahkan dengan beberapa penyesuaian oleh, Abuz Zubair Hawaary</p>
<p style="text-align: center;">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p style="text-align: center;">إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , ومن سيئات أعمالنا.<br />
من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله .<br />
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون)<br />
(يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالاً كثيراً ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا)<br />
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولاً سديداً يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزاً عظيماً)<br />
أما بعد</p>
<p style="text-align: left;">Berikut ini adalah faedah-faedah yang saya ringkas dari sebagian kitab Imam Al Albany rahimahullah, saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikannya bermanfaat.<br />
PERTAMA : DARI KITAB ADAB AZ ZIFAAF FIS SUNNAH AL MUTHOHHAROH</p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-395"></span></p>
<p style="text-align: left;">1.	Disukai (mustahabb) bagi seseorang apabila ia mendatangi istrinya untuk berlemah-lembut dengannya, seperti memberikan minuman atau semisalnya kepadanya.<br />
Berdasarkan hadits  Asma’ binti Yazid bin As Sakan, bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama duduk disamping ‘Aisyah, lalu diberikan kepada beliau segantang susu. Maka beliau meminumnya kemudian Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama mengulurkannya kepada Aisyah lantas ia meminumnya sedikit”. (HR. Ahmad.<br />
2.	Meletakkan tangan di atas kepala istri dan berdo’a untuknya. Tangan diletakkan di ubun-ubun kepalanya lalu membaca bismillah dan berdo’a, berdasarkan hadits,</p>
<p>( إذا تزوج أحدكم امرأة أو اشترى خادمة فليأخذ بناصيتها وليسم الله عز وجل وليدع بالبركة وليقل : اللهم إني أسألك من خيرها وخير ما جبلتها عليه وأعوذ بك من شرها وشر ما جبلتها عليه ) جبلتها : أي خلقتها وطبعتها عليه . أخرجه البخاري وغيره<br />
“Apabila salah seorang kamu menikahi wanita atau membeli budak, hendaklah ia memegang ubun-ubunnya lalu menyebut nama Allah ‘Azza wa Jalla dan hendaklah ia mendo’akan keberkahan, hendaklah ia membaca, ‘Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dari kebaikannya dan kebaikan yang anugerahkan atasnya dan aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan yang engkau ciptakan pada dirinya”. (HR. Bukhari dan lainnya)<br />
Al Albany rahimahullah Ta’ala berkata, “Dan disyari’atkan juga do’a ini ketika membeli kendaraan seperti mobil, karena mengharapkan kebaikannya dan khawatirk keburukannya”.<br />
3.	Disukai (mustahabb) bagi keduanya untuk sholat dua raka’at berjama’ah, karena ini ada dinukilkan dari salaf. Berdasarakan atsar;</p>
<p>عن أبي سعيد مولى أبي أسيد قال: ( تزوجت وأنا مملوك فدعوت نفراً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فيهم ابن مسعود وأبو ذر وحذيفة فقالوا : إذا أدخل عليك أهلك فصل ركعتين ) رواه ابن أبي شيبة وعبد الرزاق .</p>
<p>dari Abu Sa’id Maula Abi Usaid ia berkata, “Aku menikah dan ketika itu aku masih seorang budak. Maka aku mengundang beberapa orang sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama antara lain Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Hudzaifah, maka mereka berkata, ‘Apabila istrimu dipertemukan denganmu maka sholatlah dua raka’at”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrozaq)</p>
<p>dan atsar Ibnu Mas’ud, ia berkata kepada Abu Hariz ketika ia menikah,</p>
<p>فإذا أتتك فأمرها أن تصلي ورائك ركعتين</p>
<p>“Apabila ia telah datang menemuimu, maka perintahkanlah ia sholat di belakangmu dua raka’at”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrozaq)<br />
4.	Dan ketika ia hendak menggauli istrinya hendaknya ia membaca,</p>
<p>( بسم الله , اللهم جنبنا الشيطان , وجنب الشيطان ما رزقتنا ) رواه البخاري وغيره .</p>
<p>“Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah syetan dari kami dan jauhkanlah syetan dari apa yang engkau karuniakan kepada kami”. (HR. Bukhari dan lainnya)</p>
<p>Al Albany rahimahullah Ta’ala berkata, “Boleh baginya menggauli istrinya di qubulnya dari arah (posisi) mana saja yang ia inginkan, dari belakang atau dari depannya”.</p>
<p>عن جابر قال : ( كانت اليهود تقول : إذا أتى الرجل امرأته من دبرها في قبلها كان الولد أحول : فنزلت { نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنا شئتم } أي كيف شئتم فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ( مقبلة أو مدبرة إذا كان ذلك في الفرج ) رواه البخاري ومسلم وغيرهما .</p>
<p>Dari Jabir ia berkata, “Adalah orang-orang yahudi mengatakan, ‘Apabila seorang laki-laki menggauli istrinya di qubulnya dari arah belakang maka kelak anaknya juling’. Maka turunlah firman Allah Ta’ala (artinya), “Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian dari mana saja kalian suka”. Maksudnya dengan cara apapun yang kalian suka. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda, “Istrinya menghadap kepadanya atau membelakanginya apabila itu dilakukan di kemaluan”. (HR. Bukhari dan Muslim serta selain keduanya).</p>
<p>وقال النبي صلى الله عليه وسلم لعمر بن الخطاب – رضي الله عنه – : ( أقبل وأدبر واتق الدبر والحيضة ) رواه النسائي والترمذي بسند حسن</p>
<p>Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda kepada Umar bin Al Khottob rodhiyallahu ‘anhu, “Silahkan dari depan dan belakang dan jauhilah dubur serta haidh”. (HR. An Nasai dan At Tirmidzi dengan sanad hasan)<br />
5.	Berwudhu’ diantara dua kali jima’. Apabila ia menggauli istrinya kemudian hendak mengulangi lagi hendaknya ia berwudhu’. Berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama,</p>
<p>( إذا أتى أحدكم أهله ثم أراد أن يعود فليتوضأ بينهما وضوءاً – وفي رواية وضوءه للصلاة &#8211; فإنه أنشط في العود ) رواه مسلم وغيره</p>
<p>“Apabila salah seorang kamu mendatangi istrinya kemudian ia ingin mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu’ di antara keduanya – dalam satu riwayat seperti wudhu’nya untuk sholat – karena sesungguhnya itu lebih membuatnya bersemangat dalam mengulangi”. (HR. Muslim dan lainnya)</p>
<p>Akan tetapi mandi lebih afdhol dari pada wudhu, karena Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama suatu hari menggilir istri-istrinya, beliau mandi ditempat istrinya yang ini dan yang ini”. (HR. Abu Dawud dan lainnya)</p>
<p>•	Dan dibolehkan bagi pasangan suami istri mandi bersama dalam satu tempat sekalipun suami melihat seluruh tubuhnya dan begitu juga sebaliknya.</p>
<p>عن عائشة رضي الله عنها قالت : (كنت أغتسل أنا ورسول الله صلى الله عليه وسلم من إناء بيني وبينه واحد ) متفق عليه .</p>
<p>Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha ia menuturkan, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama dari satu bejana antara aku dan dia”. (Muttfaqun ‘Alaihi)</p>
<p>Berdasarkan hadits ini Ad Dawudy berdalil atas bolehnya laki-laki melihat aurat istrinya dan begitu pula sebaliknya. Ini dikuatkan oleh apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari jalan Sulaiman Ibnu Musa, bahwasanya ia ditanya tentang seseorang melihat kemaluan istrinya? Maka ia menjawab, “Aku telah menanyakannya kepada ‘Atho’ maka ia berkata, “Aku telah menanyakannya kepada Aisyah, maka ia menyebutkan hadits ini dengan maknanya”.<br />
Al Albany rahimahullah berkata, “Adapun hadits yang berbunyi (apabila salah seorang kamu menggauli istrinya atau budaknya maka janganlah ia melihat kemaluannya, karena itu menyebabkan kebutaan”. Maka ini adalah hadits palsu”.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/395/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Jahar atau Sirr Basmalah</title>
		<link>http://abuzubair.net/masalah-jahar-atau-sirr-basmalah/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/masalah-jahar-atau-sirr-basmalah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 17:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Masalah Jahar atau Sirr Basmalah assalamu&#8217;alaikum, ustz ana pengen diberikan hadits tentang bacaan bismillah yang zahar dan sir dalam shalat, atas petunjuk ustz, jazakallah khairan katsiro. Wassalam wa alaikumus salam warahmatullahi wa barakaatuh. Sebelumnya ana tegaskan! Hanya atas petunjuk Allah Ta&#8217;ala semata!!.. barangsiapa yang diberi Allah petunjuk tidak seorangpun yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, barangsiapa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masalah Jahar atau Sirr Basmalah</p>
<p>assalamu&#8217;alaikum, ustz ana pengen diberikan hadits tentang bacaan bismillah yang zahar dan sir dalam shalat, atas petunjuk ustz, jazakallah khairan katsiro. Wassalam</p>
<p>wa alaikumus salam warahmatullahi wa barakaatuh.</p>
<p>Sebelumnya ana tegaskan! Hanya atas petunjuk Allah Ta&#8217;ala semata!!.. barangsiapa yang diberi Allah petunjuk tidak seorangpun yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan Allah tiada seorangpun yang bisa menunjukinya. Semoga Allah Ta&#8217;ala melimpahkan kepada kita petunjuk-Nya dan meneguhkan kita di atasnya, amin.</p>
<p>Masalah jahar  (bukan zahar) dan sirr ketika membaca basmallah di dalam sholat ada dua pendapat ulama. Yang rajih Insya Allah adalah imam membaca basmalah dengan sir. Karena demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama.</p>
<p>Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik rodhiyallahu &#8216;anhu ia berkata, &#8220;Aku sholat di belakang Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama, di belakang Abu Bakar dan di belakang Umar. Maka aku tidak pernah mendengar seorangpun dari mereka membaca Bismillahir rohmanir rahim&#8221;.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Selain itu karena dia bukanlah termasuk ayat Al-Fatihah<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Akan tetapi jika sesekali imam menjaharkannya tidak mengapa. Karena ada riwayat yang mengisyaratkan demikian sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah di dalam kitab Zaadul Ma&#8217;ad, akan tetapi kata beliau Rasulullah shollallahu &#8216;alahi wa sallama lebih sering men-sirr-kannya.</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan kalau imam menjaharkan dalam rangka menghindari fitnah atau ta&#8217;liif  orang-orang yang mazhabnya jahar, maka itu tidak apa-apa.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Imam Az-Zaila&#8217;I menuturkan, &#8220;Sebagian ulama menjaharkan basmalah guna menghindari hal yang tidak baik (Saddan Lidz-Dari&#8217;ah). Ia melanjutkan, &#8220;Boleh bagi seseorang meninggalkan yang afdhol untuk Ta&#8217;liiful Qulub dan menyatukan, serta menghindari sesuatu yang membuat orang lari. Sebagaimana Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama meninggalkan pemugaran ka&#8217;bah dan membangunnya kembali di atas pondasi Ibrahim, dengan alasan orang-orang qurasiy baru meninggalkan jahiliyyah, beliau shollallahu &#8216;alaihi wa sallama khawatir itu akan membuat mereka lari. Dan beliau memandang mendahulukan maslahah bersatu sekalipun membiarkan ka&#8217;bah seperti itu.</p>
<p>Dan tatkala Ar-Robi&#8217; mengingkari Ibnu Mas&#8217;ud yang menyempurnakan sholat di belakang Ustman<a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[4]</a>, Ibnu Mas&#8217;ud menjawab, &#8220;Perselisihan itu adalah buruk&#8221;.</p>
<p>Ahmad dan lainnya telah menegaskan itu dalam masalah basmalah, menyambung witir dan lainnya. Yang mana seseorang meninggalkan yang afdhol kepada sesuatu yang boleh tetapi  tidak utama. Dalam rangka menjaga kesatuan hati  makmum atau untuk mengenalkan mereka kepada sunnah dan semisalnya, dan ini merupakan landasan besar dalam (masalah) Sadd Adz-Dzari&#8217;ah&#8221;.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Syaikh Masyhur Hasan Salman berkata, &#8220;Yang benar dikatakan, &#8220;Masalah ini adalah masalah yang lapang. Dan pendapat yang membatasi pada satu tidak mungkin. Dan setiap yang berpegang kepada satu riwayat<a name="_ftnref6" href="#_ftn6">[6]</a> dia benar dan berpegang kepada As-Sunnah. Yang sempurna adalah mengikuti Al-Mushthofa shollallahu &#8216;alaihi wa sallama dalam segala keadaan. Maka kadang dijaharkan dan lebih sering di sirr-kan. Kepada Allah kita meminta tolong, dan Dialah yang menunjuki kepada jalan yang lurus&#8221;.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Dikeluarkan oleh Muslim no. (399) kitab Ash-Sholah bab. Hujjah Man Qola Laa Yajhar bil Basmalah.</p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Fatawa Ibnu Utsaimin 13/109.</p>
<p><a name="_ftn3" href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid.</p>
<p><a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[4]</a> Ketika di Mina. Padahal Ibnu Mas&#8217;ud berpendapat sholat dilakukan dengan qoshor sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar rodhiyallahu &#8216;anhum ajma&#8217;in.</p>
<p><a name="_ftn5" href="#_ftnref5">[5]</a> Nasbur Royah (1/328).</p>
<p><a name="_ftn6" href="#_ftnref6">[6]</a> Dalam masalah ini.</p>
<p><a name="_ftn7" href="#_ftnref7">[7]</a> Al-Qowlul Mubin hal. (234).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/masalah-jahar-atau-sirr-basmalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengangkat Tangan Pada Takbir Sholat Jenazah</title>
		<link>http://abuzubair.net/mengangkat-tangan-pada-takbir-sholat-jenazah/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/mengangkat-tangan-pada-takbir-sholat-jenazah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Mar 2009 04:20:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[FIKIH]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[MASALAH MENGANGKAT TANGAN DALAM TAKBIR SHOLAT JENAZAH Berikut ini pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Robi&#8217; Al-Madkholy hafizhohullah seputar masalah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan selamat membaca. Pertanyaan : Apakah anda menshohihkan hadits Ibnu Umar dalam masalah mengangkat tangan pada sholat jenazah secara marfu&#8217;? Jawaban : Insya Allah, hadits yang dimaksud dinyatakan memiliki &#8216;illah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MASALAH MENGANGKAT TANGAN DALAM TAKBIR SHOLAT JENAZAH</p>
<p>Berikut ini pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Robi&#8217; Al-Madkholy hafizhohullah seputar masalah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan selamat membaca.</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong> : Apakah anda menshohihkan hadits Ibnu Umar dalam masalah mengangkat tangan pada sholat jenazah secara marfu&#8217;?</p>
<p><strong>Jawaban</strong> : Insya Allah, hadits yang dimaksud dinyatakan memiliki &#8216;illah oleh Ad-Daaruquthni  dan diikuti oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dihasankan oleh Syeikh Ibnu Baaz. Kami telah melakukan pengkajian atas hadits ini, dan kami mendapatkan bahwasanya derjatnya hasan atau sampai ke derjah shihhah. Karena yang memarfu&#8217;kannya adalah Umar bin Syaibah. Ad-Daaruquthny berkata, &#8220;Dia diselisihi oleh yang lainnya&#8221;. Kami telah mengkaji penyelisihan ini maka kami tidak mendapatkan pengaruhnya terhadap riwayat Umar bin Syaibah.</p>
<p>Pertama : Ad-Daaruquthny tidak menyebutkan nama-nama perawi yang menyelisihi.</p>
<p>Kedua : dia &#8211; yakni Ibnu Syaibah &#8211; adalah perawi  yang tsiqoh atau shoduuq. Yang zhohir dia adalah tsiqoh. Jadi hadits ini Tsabit &#8211; Insya Allah &#8211; juga diperkuat oleh beberapa atsar. Di antaranya atsar Abdullah bin Umar dan Umar bin Abdul Aziz dan sebagian salaf. Ini bisa memperkuat hadits sekalipun dia hadits mursal atau ada sedikit kelemahan padanya, apalagi kalau hadits itu Tsabit.</p>
<p>Syeikh Al-Albany adalah syeikh kami semoga Allah merahmatinya. Akan tetapi manhaj salaf adalahnya bahwasanya kebenaran itu lebih besar dari seorang manusia siapapun dia. Al-Albany ini adalah orang yang kami cintai, syaikh kami dan dia punya jasa-jasa yang besar. Akan tetapi apabila dia keliru kita menolak kesalahannya dan tidak menerimanya, kita membantahnya dengan penuh adab serta menghormati.</p>
<p>Hadits yang dimaksud, dinyatakan memiliki &#8216;illah oleh Ad-Daruquthny dengan waqof (mauquuf). Di sini bertentangan antara  riwayat mawquuf dan marfu&#8217;, apa yang akan engkau lakukan apabila bertentangan antara hadits marfu&#8217; dan mauquf? Kita lihat dalil-dalil yang ada lalu kita rajihkan apa yang rajih menurut dalil-dalil.</p>
<p>Di sini bertentangan antara mawquf dan marfu&#8217;, lalu kita dapatkan bahwasanya rofa&#8217; lebih rojih dari waqof dan didukung oleh atsar-atsar.</p>
<p>Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu &#8216;anhuma  bahwasanya dia mengangkat kedua tangannya apabila menyolatkan jenazah. Kami dapatkan hadits-hadits yang dijadikan pegangan oleh Syaikh Al-Albany dho&#8217;if . hadits-hadits tersebut disebutkan di Sunan Ad-Daaruquthny rahimahullah, antara lain :</p>
<p>Hadits Abu Hurairah di dalamnya  ada  dho&#8217;fun syadiid (kelemahan yang sangat)  dan hadits Abdullah bin Abbas juga padanya ada dho&#8217;fun syadiid, tidak kuat untuk melawan hadits Ibnu Umar rodhiyallahu &#8216;anhu dan atsar-atsar yang menguatkannya.</p>
<p>Dulu saya memegang mazhab syaikh  Al-Albany rahimahullah. Kemudian saya mempelajari hadits itu lalu saya merobah pendapat saya.</p>
<p>Suatu malam beliau (Syaikh Al-Albany rahimahullah) sholat di sampingku di masjid Nabawy di bagian luar masjid. Kami menyolatkan jenazah. Beliau tidak mengangkat tangan sedangkan saya mengangkat tangan, saya berada disampingnya. Setelah sholat saya berkata kepadanya, &#8220;Syaikh kami, dulu saya mengikut pendapatmu kemudian saya menyelisihi pendapatmu&#8221;. Beliau berkata, &#8220;Baiklah&#8221;. Lalu saya mengemukakan kepadanya sebagian hujjah-hujjah dan dalil-dalilku, dan ia menerimanya dengan penuh ada dan menghargai &#8211; semoga Allah merahmatinya -. Sesudah itu ia mengisyaratkan kepadaku di dalam kitabnya Ahkaamul Jana-iz, di situ ia mengatakan, &#8220;Dan sebagian orang yang mulia berpendapat begini dan begini&#8221;. Inilah isyarat kepada pendapat saya.</p>
<p>Kemudian saya melihat syaikh Muhammad Abdul Wahhab Al-Washoby hafizhohullah tidak mengangkat tangan. Saya mendiskusikan masalah itu dengannya. Ia bersikeras mempertahankan pendapatnya. Lantas kami pergi ke Perpustakaan untuk mengkaji hadits tersebut. Sehingga akhirnya ia juga menghukumi keshahihan hadits Umar bin Syaibah<a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Ahli hadits berjalan bersama kebenaran &#8211; Insya Allah &#8211; tanpa mengurangi cinta dan penghormatan sesama  mereka. Perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara mereka bukanlah permusuhan. Apabila mereka di atas satu akidah dan manhaj kemudian ada yang salah tidak keluar dari lingkaran pahala. Seorang mujtahid jika ia benar ia mendapatkan dua pahala dan jika ia keliru ia mendapatkan satu pahala. Oleh karena itu kita melihat ahli hadits semenjak terbitnya fajar sejarah berbeda pendapat dalam masalah-masalah seperti ini. Mengkritisi pendapat-pendapat dan orang-orang yang keliru, akan tetapi dengan ada dan penghormatan tanpa mencela, mencaci dan menghinakan, karena tujuan mereka adalah nasehat dan menyampaikan kebenaran.</p>
<p>Terakhir, kami wasiatkan kepada anda semua agar bertakwa kepada Allah, dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, mendalam dan bersabar. Kemudian mengamalkan apa yang telah kalian ketahui serta menerapkan itu dalam kehidupkan kalian dan menyebar-luaskannya.</p>
<p>Setiap kalian apabila kembali ke kampung halamannya termasuk dalam firman Allah Tabaaroka wa Ta&#8217;ala,</p>
<p dir="rtl">فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدِّين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلَّهم يحذرون</p>
<p>Artinya, &#8220;Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya&#8221;. (At-Taubah : 122)</p>
<p>Ahli bid&#8217;ah bukanlah fuqoha&#8217; dan bukanlah orang-orang yang memberi nasehat akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang berkhianat. Mereka pulang kepada umat mereka malah menambah kerusakan.</p>
<p>Adapun kalian, pulanglah sebagai orang-orang yang mengadakan perbaikan. Terapkan ayat ini dan apa-apa yang terkandung di dalam maknanya.</p>
<p>Tentunya kalian tahu keutamaan penuntut ilmu, bahwasanya malaikat menurunkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu karena ridho terhadap apa yang mereka perbuat.</p>
<p>Hormatilah ilmu .. hormatilah malaikat. Saya yakin malaikat tidak akan menaungi ahli bid&#8217;ah dan hawa sama sekali tidak. Karena ini termasuk tolong-menolong atas dosa dan permusuhan, mereka tidak akan melakukan itu.</p>
<p>Pahamilah ini. Dan jagalah keistimewaan ini. Saya berdo&#8217;a kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla agar Ia meridhoi kalian, dan malaikat mencintai kalian serta semoga Allah meninggikan derjat kalian.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p dir="rtl">يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات</p>
<p>Artinya, &#8220;niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat&#8221;. (Al-Mujaadilah : 11)</p>
<p>Janji ini tidak termasuk di dalamnya ahli bid&#8217;ah. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru dalam agama, sesungguhnya setiap perkara yang baru dalam agama adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah adalah kesesatan.</p>
<p>Dan jangan lupa apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang Ibnu Abi Qotiilah ketika ia mengatakan, &#8220;Ahli hadits adalah kaum yang buruk&#8221;. Ahmad berkata, &#8220;Orang ini zindiq, zindiq&#8221;. Lalu beliau masuk dan mengunci pintunya. Ibnu Taimiyah menjelaskan, &#8220;Karena dia (Imam Ahmad) mengerti maksud perkataan Ibnu Abi Qotiilah&#8221;.</p>
<p>Ia mencela ahli hadits dan ahlus sunnah untuk menjatuhkan hadits. Berapa banyak orang yang mengaku di atas sunnah dia malah mencela ahlus sunnah, ahli hadits dan tauhid. Waspadailah mereka dan berusahalah membuat Allah ridho terhadap amalan kalian, serta berusahalah untuk ikhlas sehingga malaikat akan menghormati kalian dan meletakkan sayapnya untuk kalian. Karena ilmu itu adalah ilmu nabawy yang berasal dari Muhamad shollallahu &#8216;alaihi wa sallama. Barangsiapa yang menuntutnya karena Allah dan mengikhlaskan niatnya dalam itu ia akan mendapatkan kemuliaan ini dari Allah. Sebaliknya barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya, maka ini membuat Allah Tabaaroka wa Ta&#8217;ala murka, kita memohon keselamatan kepada Allah.</p>
<p>Kita bersama kebenaran. Yang keliru sekalipun dari ulama sunnah kita tidak menerima kesalahannya, kita hanya menerima kebenaran. Namun tidak dengan cara yang bodoh dan permusuhan. Akan tetapi dengan menjaga adab, saling menghormati, jujur dan ikhlas.</p>
<p>Semoga Allah melimpahkan taufik kepada kalian dan meluruskan langkah kalian serta meneguhkan kita semua di atas sunnah dan menjauhkan kita semua dari fitnah-fitnah yang zhohir maupun batin.</p>
<p>Sesungguhnya Robb kita benar-benar Maha mendenga do&#8217;a<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]</a>.</p>
<p>Sumber : kaset &#8220;Syariith Liqo&#8217; Manhaji haditsi ma&#8217;a Thullabil &#8216;Ilmi di Makkah&#8221;. (diterjemahkan dari situs : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=362482)</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Ulama-ulama lain yang berpendapat disyari&#8217;atkannya mengangkat tangan dalam setiap takbir sholat jenazah di antaranya : Imam An-Nawawy (Al-Majmu&#8217; : 5/26), Ibnu Qudaamah (Al-Mughni 2/119), Ibnul Qoyyim (Zaadul Ma&#8217;ad 1/443), Ibnu Baaz sebagaimana dalam ta&#8217;liqnya atas Fathul Bari (3/266), Ibnu Utsaimin (Syarhul Mumti&#8217;) dan Al-Fauzaan dalam Al-Mulakh-khosh Al-Fiqhy semoga Allah merahmati semuanya.</p>
<p>Adapun Ulama-ulama yang berpendapat itu tidak disyari&#8217;atkan antara lain : sebagian ulama mazhab malikiyyah, bahkan ini adalah pendapat yang mu&#8217;tamad dalam mazhab maliki (Al-Mudawwanah1/169). Mazhab Azh-Zhohiriyyah sebagaimana disebutkan Ibnu Hazm (Al-Muhalla 5/128), dan Syaikh Al-Albany memilih pendapat ini karena beliau melemahkan riwayat Ibnu Umar (Irwa-ul Gholil 3/122, Ahkamul Janaiz 148, Tamamul Minnah 348) dan pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad ahli hadits Madinah Nabawiyyah (Kutub wa Rosail Abdul Muhsin 5/260) dan Syaikh Yahya Al-Hajury (It-Tihaaful Kiroom fi Ajwibati Ahkaamiz Zakaati wal Hajji wash Shiyam 404). (penerjemah)</p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Subhanallah &#8230;begitulah para ulama ketika berbeda pendapat, penuh adab, akhlak dan saling menghormati. Akhlak yang patut diteladani oleh penuntut ilmu dalam mensikapi perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyyah. Tidak ta&#8217;ash-shub (fanatic) sekalipun kepada gurunya. Saya teringat perkataan Abdullah bin Mas&#8217;ud rodhiyallahu &#8216;anhu, &#8220;Tetaplah bersama Al-Qur&#8217;an dimanapun ia berada. Dan siapa yang datang kepadamu dengan membawa kebenaran maka terimalah darinya sekalipun dia seorang jauh darimu dan engkau benci. Dan siapa yang datang kepadamu dengan membawa kebatilan tolaklah ia sekalipun ia adalah seorang yang dekat denganmu dan sangat engkau cintai&#8221;.(dinukil dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qoyyim). &#8211; penerjemah &#8211; .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/mengangkat-tangan-pada-takbir-sholat-jenazah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

