<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>TELAGA HATI Online &#187; Catatan Abuz Zubair Hawaary</title>
	<atom:link href="http://abuzubair.net/category/catatan-abuz-zubair-hawaary/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuzubair.net</link>
	<description>... Aku Hidup Untuk Yang Menghidupkanku dan Aku Mati Untuk Yang Mematikanku ...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Feb 2011 04:24:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.4" -->
		<copyright>Copyright &#xA9; 2012 TELAGA HATI Online </copyright>
		<managingEditor>surat@abuzubair.net ()</managingEditor>
		<webMaster>surat@abuzubair.net ()</webMaster>
		<category>posts</category>
		<ttl>1440</ttl>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>... Aku Hidup Untuk Yang Menghidupkanku dan Aku Mati Untuk Yang Mematikanku ...</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>surat@abuzubair.net</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://abuzubair.net/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://abuzubair.net/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>TELAGA HATI Online</title>
			<link>http://abuzubair.net</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>SEUNTAI KATA TENTANG CINTA</title>
		<link>http://abuzubair.net/seuntai-kata-tentang-cinta/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/seuntai-kata-tentang-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 04:19:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Roqoiq dan Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[SEUNTAI KATA TENTANG CINTA Cinta bagaikan gema, engkau kirimkan kepada orang-orang disekelilingmu, lalu ia kembali kepadamu. Engkau tebarkan dilingkunganmu, ia kembali kepangkuanmu. Apa yang engkau lihat pada orang lain engkau dapatkan pada dirimu. Mereka pun memberikan kepadamu cinta dan kasih sayang. Engkau yang melukis jalan yang akan dilalui  mereka dalam  bersikap kepadamu. Jika engkau bersikap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><span style="color: #800000;"><strong>SEUNTAI KATA TENTANG CINTA</strong></span></p>
<p style="text-align: right;">Cinta bagaikan gema, engkau kirimkan kepada orang-orang disekelilingmu, lalu ia kembali kepadamu.</p>
<p style="text-align: right;">Engkau tebarkan dilingkunganmu, ia kembali kepangkuanmu.</p>
<p style="text-align: right;">Apa yang engkau lihat pada orang lain engkau dapatkan pada dirimu. Mereka pun memberikan kepadamu cinta dan kasih sayang.</p>
<p style="text-align: right;">Engkau yang melukis jalan yang akan dilalui  mereka dalam  bersikap kepadamu. Jika engkau bersikap baik kepada mereka dan mencintai mereka, niscaya mereka mencintaimu.</p>
<p style="text-align: right;">Kalau engkau memberikan faedah untuk mereka, mereka akan memberimu faedah.</p>
<p style="text-align: right;">Pasti! Saling mencintai dan mengasihi itu karena dan dijalan Allah.</p>
<p style="text-align: right;">Dan orang yang paling pertama mendapatkan cinta dan kelembutan perasaanmu adalah orangtua, istri atau suami dan anak-anakmu.</p>
<p style="text-align: right;">Rasul shollalllahu ‘alaihi wa sallama bersabda,</p>
<p style="text-align: right;">خيركم خيركم لأهله و أنا خيركم لأهلي</p>
<p style="text-align: right;">
<p style="text-align: right;">“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik bagi keluarganya dan aku adalah yang paling baik bagi keluargaku”.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p style="text-align: right;">Tidaklah tersesat banyak manusia dari jalan Robb mereka melainkan karena mereka lebih mengedepankan cinta kepada segala sesuatu melebihi cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align: right;">Demikian juga sebagian orang yang tenggelam dalam lembah permusuhan, dengki dan dendam kesumat adalah karena hilangnya cinta dari hati mereka.</p>
<p style="text-align: right;">Cobalah rasakan hidup – walau sebentar – dengan merasakan cinta manusia kepadamu, sedikit atau pun banyak. Bukankah hari-hari itu akan menjadi hari-hari terindah dalam kehidupanmu?.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align: right;">Dengarkan firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: right;">إن الذين أمنوا وعملوا الصالحات سيجعل لهم الرحمن ودا</p>
<p style="text-align: right;">“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh Allah yang Maha pengasih akan menjadikan untuk mereka kasih-sayang”.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align: right;">Maksudnya cinta di hati manusia untuk mereka!</p>
<p style="text-align: right;">Pernahkah engkau bertanya pada dirimu sendiri, “Bagaimana diriku dengan cinta dilangit ini?”. Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya aku mencintai fulan, maka cintailah ia”. Lalu malaikat menyambutnya dengan penuh cinta dan rindu, kemudian diletakkan untuk penerimaan di muka bumi yaitu dengan cinta manusia kepadanya?!</p>
<p style="text-align: right;">Subhanallah!!</p>
<p style="text-align: right;">Seseorang dicintai Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dicintai Jibril dan para malaikat yang menghuni langit. Kemudian Allah jadikan manusia mencintainya … alangkah indahnya hidup orang tersebut.</p>
<p style="text-align: right;">Salah seorang di antara kita selalu mencari dan mengharapkan cinta makhluk kepadanya. Dadanya akan serasa sesak dan lidahnya bagai kelu jika mereka membencinya. Dan ia akan terbang karena gembira jika mereka mencintainya.</p>
<p style="text-align: right;">Orang ini mencari cinta manusia kepadanya disetiap tempat dan pada setiap insane. Akan tetapi ia lupa – kadang-kadang atau bahkan sering – cinta Robb-nya insan. Ia lupa apakah ia termasuk orang-orang yang dicintai Allah atau sebaliknya?</p>
<p style="text-align: right;">Demi Allah, saudaraku!! Apa guna cinta seluruh makhluk kepada kita jika Robb pencinta seluruh makhluk membenci kita?!</p>
<p style="text-align: right;">Renungkan bagaimana Asiyah mendahulukan tetangga sebelum tempat tinggal dalam do’anya, “Robbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di dalam surga”.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align: right;">Bagaimana menurutmu, kalau dikatakan kepada orang-orang mukminin : pilihlah antara surga tidak ada padanya Robb kalian dan padang tandus kalian bersama Robb kalian. Menurutmu apa yang akan mereka pilih?</p>
<p style="text-align: right;">Oohh .. alangkah meruginya orang yang tidak pernah merasakan yang paling indah dan manis dalam kehidupan ini!</p>
<p style="text-align: right;">Tahukah engkau apa itu? Dicintai Allah dan mencintai-Nya.</p>
<p style="text-align: right;">Cinta Allah kepada hamba adalah puncak cita-cita orang-orang yang sholeh. Karena apabila Allah cinta kepada hamba-Nya, Dia ridho kepadanya, meridhoi amalan, perkataan dan hatinya. Kebahagiaan apalagi yang melebihi itu?</p>
<p style="text-align: right;">Katakana kepadaku sejujurnya: apakah ada seseorang yang tulus dan benar dalam mencintai kekasihnya lalu ia menyiksa kekasihnya? neraka apalagi yang ditakuti seorang hamba apabila ia dicintai Allah? (dan bagi Allah adalah perumpamaan yang lebih tinggi – walillahil Matsalil A’laa).</p>
<p style="text-align: right;">
<hr style="text-align: right;" size="1" />
<p style="text-align: right;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Shohih Al Jami’ (3314).</p>
<p style="text-align: right;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Kholid Al Ahmady, Al Hubb dengan beberapa penyesuaian.</p>
<p style="text-align: right;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Maryam : 96.</p>
<p style="text-align: right;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> At-Tahrim : 11.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/seuntai-kata-tentang-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AKU MENCINTAINYA</title>
		<link>http://abuzubair.net/aku-mencintainya/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/aku-mencintainya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Jan 2011 16:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA … Ya, aku memang mencintainya. Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorang kepada kekasihnya. Bahkan manakah cinta orang-orang yang jatuh cinta dibanding cintaku ini?! Ya, aku mencintainya. Bahkan demi Allah, aku merindukannya. Aku merasakan sentuhannya yang lembut, menyentuh relung hatiku. Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit, lalu hatiku menari-nari dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA …</p>
<p>Ya, aku memang mencintainya. Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorang kepada kekasihnya. Bahkan manakah cinta orang-orang yang jatuh cinta dibanding cintaku ini?!</p>
<p>Ya, aku mencintainya. Bahkan demi Allah, aku merindukannya. Aku merasakan sentuhannya yang lembut, menyentuh relung hatiku. Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit, lalu hatiku menari-nari dan jiwaku menjadi tentram.</p>
<p>Aku mecintaimu duhai perkataan yang baik</p>
<p>Aku mencintaimu duhai perkataan yang lembut</p>
<p>Aku mencintaimu duhai perkataan yang santun.</p>
<p>Alangkah indahnya ketika seorang anak mencium tangan ibunya seraya berkata, &#8220;Semoga Allah menjagamu ibu&#8221;.</p>
<p>Alangkah eloknya ketika seorang ayah senantiasa mendo&#8217;akan anaknya, &#8220;Ya Allah ridhoilah mereka, dan bahagiakan mereka di dunia dan akhirat&#8221;.</p>
<p>Alangkah bagusnya ketika seorang istri menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman seraya berkata, &#8220;Semoga Allah tidak menjauhkan kami darimu, rumah ini serasa gelap tanpa dirimu&#8221;.</p>
<p>Alangkah baiknya ketika istri melepaskan kepergian suami bekerja di pagi hari, ia berkata, &#8220;Jangan beri kami makan dari yang haram, kami tidak sanggup memakannya&#8221;.</p>
<p>Kalimat dan ungkapan yang indah, bukankah begitu? Bukankah kita berharap kalimat dan ungkapan seperti ini dikatakan kepada kita? Bukankah setiap kita berangan-angan mengatakan kalimat-kalimat seperti ini kepada orang-orang yang dicintainya? Akan tetapi kenapa kita tidak atau jarang mendengarnya?</p>
<p>Penyebabnyanya adalah kebiasaan. Barangsiapa yang membiasakan lisannya mengucapkan kata-kata yang lembut berat baginya untuk meninggalkannya, begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Orang yang terbiasa memanggil istrinya dengan kata &#8220;kekasihku&#8221; sulit baginya memanggil istrinya seperti sebagian orang memanggil istrinya, &#8216;Hei ..hai ..&#8221;. atau &#8220;Kau ..&#8221; dan lain sebagainya.</p>
<p>Barangsiapa yang terbiasa memulai ucapannya kepada anaknya, &#8220;Ananda, Anakku, Putriku&#8221; tidak seperti sebagian lain yang mengatakan, &#8220;Bongak .. jahat ..setan!&#8221; maka ia berat mengucapkan selain itu.</p>
<p>Kenapa kita tidak bisa mengucapkan satu ungkapan cinta saja kepada anak-anak kita, ibu kita, dan keluarga kita? Jika adapun kalimat tersebut keluar dengan malu-malu.</p>
<p>Kenapa lisanmu terkunci di dekat istrimu atau dihadapan ayah dan ibumu, sedangkan dihadapan temanmu, kata-katamu begitu mesra?!</p>
<p>Biasakanlah – misalnya- mengucapkan kepada ibumu, &#8220;Ibu, do&#8217;akan kami. Apakah ibu ingin titip sesuatu agar ananda beli sebelum ananda berangkat?&#8221;</p>
<p>Biasakanlah mengucapkan kepada anakmu kata-kata (sayangku, anakku) dan apabila ia mengambilkan sesuatu untukmu seperti segelas air katakana kepadanya Jazakallah atau ungkapan terima kasih.</p>
<p>Jika putra atau putrimu meminta sesuatu darimu dan engkau sanggup memberikannya serta itu baik untuknya katakanlah kepada mereka dengan tulus, &#8220;Dengan sepenuh hati, ayah akan bawakan untukmu&#8221;.</p>
<p>Cobalah kata-kata dan kalimat yang lembut dan senyuman yang manis, lalu lihatlah hasilnya!</p>
<p>Lihatlah bagaimana Nabi kita shollallahu &#8216;alaihi wa sallama berbicara kepada anak istrinya.</p>
<p>Perhatikanlah kelembutan hatinya, serta keindahan tutur katanya.</p>
<p>Beliaulah sebaik-baik suri teladan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/aku-mencintainya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Abuz Zubair Hawaary</title>
		<link>http://abuzubair.net/catatan-abuz-zubair-hawaary/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/catatan-abuz-zubair-hawaary/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 07:46:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika saya ikut sholat jenazah di salah satu mesjid. Selesai salam, terdengarlah suara imam yang memimpin do’a bersambut dengan sahutan aamiin jama’ah yang dibelakangnya. Anehnya, tak satupun do’a yang dibaca oleh imam setelah sholat jenazah tersebut yang berisikan do’a untuk si mayyit, padahal biasanya banyak orang melakukan itu untuk mendo’akan si mayyit. Adapun makmum, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika saya ikut sholat jenazah di salah satu mesjid. Selesai salam, terdengarlah suara imam yang memimpin do’a bersambut dengan sahutan aamiin jama’ah yang dibelakangnya. Anehnya, tak satupun do’a yang dibaca oleh imam setelah sholat jenazah tersebut yang berisikan do’a untuk si mayyit, padahal biasanya banyak orang melakukan itu untuk mendo’akan si mayyit. Adapun makmum, entah paham atau tidak do’a yang dibacakan oleh imam, terus saja mengucapkan aamiin dipenghujung setiap do’a yang dibacanya.</p>
<p>Saya jadi teringat kejadian yang saya alami pada tahun 95-an. Ketika itu saya dan seorang teman singgah untuk sholat maghrib di salah satu mesjid di Cianjur.</p>
<p>Ketika bacaan Al Fatihah imam sampai (Waladh Dhoolliin) kami berdua mengucapkan aamiin. Aneh!! Hanya kami berdua yang mengucapkan amin! Ternyata setelah itu itu imam melanjutkan membaca (Robbighfirlii wa liwaalidayya- artinya; Robbi ampunilah aku dan kedua orangtuaku) setelah itu baru mereka serempak mengucapkan aamiin.</p>
<p>Ada beberapa catatan yang ingin saya tuangkan disini :</p>
<p>-          Dalam sholat jenazah sejatinya imam dan makmum telah membaca do’a untuk si mayyit, dan itulah inti dari sholat jenazah. Oleh karena itu berdo’a bersama setelah sholat jenazah adalah amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,</p>
<p><strong>من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد</strong></p>
<p>“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal tersebut ditolak”. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>-          Begitu juga tambahan ucapan (Robbighfirlii wa liwaalidayya)  oleh imam setelah membaca Al Fatihah dan di aminkan oleh makmum juga adalah bid’ah yang sangat buruk. Menambah-nambah dalam sholat dengan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Selain itu, perbuatan tersebut juga menyelisihi hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama,</p>
<p><strong>وإذا قال : ولا الضالين فقولوا : </strong><strong>آمين</strong></p>
<p>“Dan apabila imam mengucapkan (Waladh Dhoolliin) maka ucapkanlah (aamiin)”. (HR. Ahmad, Muslim, Al Baihaqy  lihat Ash-Shohihah : 3476).</p>
<p>-          Dalam banyak kejadian do’a bersama yang dipimpin, makmum asal amin saja, tanpa tahu apa yang dido’akan imam. Entah apa yang dibaca pemimpin do’a dan entah siapa yang dido’akan yang penting di setiap ujung do’a; aamiin.</p>
<p>Saya jadi teringat kisah seorang sahabat kecil di masa Umar bin Al Khottob yaitu Mu’adz Al Qori’ semoga Allah Ta’ala meridhoi keduanya, dia adalah salah seorang imam yang ditunjuk Umar untuk mengimami sholat tarawih.</p>
<p>Suatu ketika Mu’adz Al Qori’ membaca do’a dalam Qunutnya, “Allahumma Qohhithil Mathor..” (artinya : Ya Allah jangan turunkan hujan). makmum yang dibelakang pun mengucapkan, “Aamiin!”.</p>
<p>Usai sholat, ia (Mu’adz ) berkata kepada makmum, “Tadi saya mengucapkan Allahumma Qohhitil Mathor, lantas kalian mengucapkan aamiin! Tidakkah kalian mendengarkan apa yang aku ucapkan??  Kemudian kalian malah mengucapkan (aamiin)!. (Ikhtishor Al Muqriizy likitaab Al Witri oleh Muhammad bin Nashr, halaman : 326).</p>
<p>Hmm .. kalau itu terjadi di masa mereka, apalagi di masa yang jauh dari ulama dan ilmu seperti sekarang ini. Wallahul Musta’aan …</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/catatan-abuz-zubair-hawaary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!!</title>
		<link>http://abuzubair.net/sudah-salafykah-akhlakmu/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/sudah-salafykah-akhlakmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 05:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[majelis]]></category>
		<category><![CDATA[sejati]]></category>
		<category><![CDATA[taimiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!! Saudaraku, mungkin engkau balik bertanya kepadaku, kenapa hal itu engkau tanyakan?! Tidakkah engkau melihatku memelihara jenggot dan memendekkan ujung celanaku di atas mata kaki? Tidakkah engkau tahu bahwa aku rajin mengaji, duduk di majelis ilmu mendengarkan Kitabullah dan Hadits Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama yang disyarahkan oleh ustadz-ustadz salafy? Sabar saudaraku, tenanglah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!!</p>
<p>Saudaraku, mungkin engkau balik bertanya kepadaku, kenapa hal itu engkau tanyakan?! Tidakkah engkau melihatku memelihara jenggot dan memendekkan ujung celanaku di atas mata kaki? Tidakkah engkau tahu bahwa aku rajin mengaji, duduk di majelis ilmu mendengarkan Kitabullah dan Hadits Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama yang disyarahkan oleh ustadz-ustadz salafy?</p>
<p>Sabar saudaraku, tenanglah aku tidak meragukan semua yang engkau katakan. Engkau tidak pernah absen menghadiri majelis ilmu, penampilanmu juga menunjukkan bahwa engkau berusaha untuk meneladani generasi salafus sholeh.</p>
<p>Tapi, tahukah engkau saudaraku .. (Ahlus Sunnah sejati adalah orang yang menjalankan islam dengan sempurna baik akidah maupun akhlak. <span style="color: #ff0000;">Tidak tepat, jika ada yang mengira bahwasa seorang sunny atau salafy adalah orang meyakini I&#8217;tiqod Ahlus Sunnah tanpa memperhatikan aspek perilaku dan adab-adab islamiyah, serta tidak  menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin.</span>)<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Maafkan aku jika kata-kataku ini menyakitkan hatimu, tetapi hatiku tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya, karena aku mencintaimu karena Allah, aku inginkan yang terbaik untukmu semoga Allah Ta&#8217;ala memperlihatkan kepada kita kebenaran itu sebagai suatu kebenaran dan membimbing kita untuk mengikutinya. Dan semoga Ia memperlihatkan kepada kita kebatilan itu sebagai suatu kebatilan serta menganugerahkan kepada kita taufik untuk menjauhinya.</p>
<p>Berapa banyak orang yang dibutakan dari kebenaran, dan tidak sedikit pula yang melihat kebenaran tetapi enggan mengikutinya. Berapa banyak pula orang yang mengira kebatilan adalah kebenaran dan tidak sedikit pula orang yang mengetahui kebatilan tapi masih saja mengikutinya.</p>
<p>Ya Allah .. berilah kami petunjuk dan luruskanlah kami …</p>
<p>Saudaraku,</p>
<p>Sikapmu yang kurang menghargai orang yang lebih tua darimu dan angkuh terhadap orang yang lebih muda darimu, dari mana engkau pelajari?!</p>
<p>Lupakah engkau hadits yang pernah kita pelajari bersama,</p>
<p><strong>ليس منا من لم يرحم صغيرنا و </strong><strong>يوقر</strong><strong> كبيرنا </strong></p>
<p>Artinya, &#8220;Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mengasihi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar&#8221;. (HR. At-Tirmidzi dari sahabat Anas rodhiyallahu &#8216;anhu dan dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Al Jami&#8217; no. 5445)</p>
<p>aku teringat hari itu, walaupun setiap mengingatnya hati ini merasa sedih dan resah. Ketika engkau dan beberapa orang lainnya menghadiri undangan. Turut hadir ketika itu orang-orang awwam yang di antaranya  usia lebih tua dari kita. Ketika engkau masuk ke majelis lalu mengucapkan salam dan menjabat  tangan semua yang duduk kecuali bapak itu, engkau menyalami orang yang duduk di samping dan belakang bapak itu, lalu engkau duduk se-enaknya di depan bapak itu tanpa sedikit senyuman apalagi menjabat tangannya!!</p>
<p>Owh ..jelas benar guratan sedih dan perasaan aneh yang menyemburat dari wajah bapak tersebut. Sampai aku pun malu duduk di situ, kalau  bisa ingin rasanya aku untuk tidak hadir di situ dan saat itu..</p>
<p>Saudaraku, katakanlah kepadaku agar aku tidak berburuksangka kepadamu,</p>
<p>-          Apa yang memberatkan bibirmu untuk memberikannya sedikit senyuman walaupun hambar?! Padahal engkau tahu Nabi kita shollollahu &#8216;alaihi wa sallama bersabda,</p>
<p><strong>تبسمك</strong><strong> في وجه أخيك لك صدقة</strong></p>
<p>&#8220;Senyumanmu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu&#8221;. (HR. At-Tirmidzi, Bukhari di Adabul Mufrod dan Ibnu Hibban, Ash-Shohihah oleh Al-Albany no. 572)</p>
<p>-          Apa yang membuat lidahmu kelu untuk menyapa walau hanya dengan tiga aksara &#8220;Pak&#8221;.</p>
<p>-          Apa yang membuat tanganmu lumpuh untuk menjabat tangannya?! Seperti engkau menjabat tangan yang lainnya?! Tidakkah engkau pernah membaca atau mendengar bahwa salafunas sholeh menjabat tangan anak-anak ketika bertemu, lantas bagaimana kalau dia lebih tua darimu?</p>
<p><strong>عن سلمة بن وردان قال: رأيت أنس بن مالك يصافح الناس، فسألني: من أنت؟ فقلت: مولى لبني ليث، فمسح على رأسي ثلاثاً، وقال: &#8220;بارك الله فيك&#8221;</strong></p>
<p>Dari Salamah bin Wardaan ia menuturkan, &#8220;Aku melihat Anas bin Malik menjabat tangan manusia, maka ia bertanya kepadaku, &#8216;Engkau siapa?&#8217;. Aku menjawab, &#8216;Maulaa Bani Laits&#8217;. Lalu ia mengusap kepalaku tiga kali seraya berkata, &#8216;Semoga Allah memberkahimu&#8221;. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, &#8220;Shohihul Isnad&#8221;)</p>
<p>Dari Al-Barro&#8217; bin &#8216;Azib rodhiyallahu &#8216;anhu ia berkata, &#8220;Termasuk kesempurnaan tahiyyah (salam) engkau menjabat tangan saudaramu&#8221;. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, &#8220;Isnadnya shohih mauquf&#8221;).</p>
<p>Jawablah saudaraku! Bukankah dia juga seorang muslim? Apakah karena dia tidak berjenggot seperti dirimu dan celananya masih menutupi mata kaki??</p>
<p>Tidak saudaraku .. tidak! sejak kapan  salam dan jabat tangan hanya khusus untuk orang-orang yang penampilan sama sepertimu atau orang-orang yang menghadiri majelis ilmu saja?!</p>
<p>Sikapmu inilah yang barangkali dapat menghambat dakwah salafiyah di terima oleh kaum muslimin. Membuat mereka merasa dijauhi dan dipandang sebelah mata.</p>
<p>Saudaraku .. ketika engkau mengaku seorang salafy tetapi dengan sikap dan akhlakmu yang jauh dari akhlak salafus sholeh engkau telah ikut menghalangi dan menghambat dakwah yang hak ini.</p>
<p>Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata di  akhir kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah setelah menyebutkan pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, &#8220;Kemudian mereka (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah) disamping pokok-pokok ini, mereka mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sesuai dengan apa yang diwajibkan syari&#8217;at. Mereka memandang tetap menegakan haji, jihad, sholat jum&#8217;at dan hari raya bersama para pemimpin yang baik maupun yang keji. Mereka menjaga (sholat) jama&#8217;ah, dan melaksanakan nasehat untuk umat. dan mereka meyakini makna perkataan Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama,</p>
<p><strong>المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا وشبك بين أصابعه</strong></p>
<p>&#8220;Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang kokok saling menguatkan satu dengan lainnya&#8221;. Lalu beliau menjalin di antara jari-jemarinya.(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa rodhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Dan sabdanya,</p>
<p><strong>مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر</strong></p>
<p>&#8220;Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur&#8221;. (HR. Bukhari dan Muslim dari An Nu&#8217;man bin Basyir rodhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Mereka mengajak bersabar menghadapi ujian, bersyukur ketika lapang, dan ridho dengan pahitnya qodho&#8217;.  <span style="color: #ff0000;">Mereka mengajak kepada akhlak-akhlak yang mulia dan perbuatan-perbuatan baik</span>, dan meyakini makna perkataan Nabi shollallahu &#8216;alaihi wasallama,</p>
<p><strong>أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا</strong></p>
<p>&#8220;Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlak-akhlaknya&#8221;. (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)</p>
<p>Mereka mendorong untuk menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungannya denganmu, memberi orang yang tidak mau memberimu, mema&#8217;afkan orang yang menzalimimu, memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtua, dan <span style="color: #ff0000;">begitu juga mereka memerintahkan untuk menyambung silaturrahim, bertetangga dengan baik, melarang sifat angkuh, sombong, zalim dan merasa lebih tinggi dari makhluk dengan hak atau tidak dengan hak. Mereka memerintahkan kepada budi pekerti yang tinggi dan melarang dari akhlak yang tercela.</span></p>
<p>Dan seluruh apa yang mereka katakan dan kerjakan dari ini dan yang lainnya, sesungguhnya mereka dalam hal itu mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. Jalan mereka adalah Dinul  Islam yang Allah mengutus Muhamad shollallahu &#8216;alaihi wa sallama dengannya&#8221;. (Al Akidah Al Wasithiyyah, hal. 129-131).</p>
<p>Saudaraku, aku yakin engkau adalah seorang yang berjiwa besar dan bisa berlapang dada menerima nasehat, karena itu marilah kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita dalam meneladani akhlak salaf sehingga sempurna pula ittiba&#8217; kita kepada Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama.</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala membimbing kita untuk meniti jalan  Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama dan mengikuti jejak-jejak salafush sholeh baik dalam akidah, ibadah, mu&#8217;amalah, akhlak, dan hubungan antara sesama, amin.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> An Nashiihah fiima Yajibu Muro&#8217;atuhu &#8216;indal Ikhtilaaf, oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily (13).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/sudah-salafykah-akhlakmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEPADA ISTRIKU</title>
		<link>http://abuzubair.net/kepada-istriku/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/kepada-istriku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 17:11:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Kepada  Istriku Petang ini aku tidak bisa segera pulang. Banyak tugas-tugas yang belum tuntas harus digegas. Petang menjelang, sms-mu datang, menanyakan kapan pulang? Hmm &#8230;mungkin aku baru bisa pulang malam. Mungkin nanti anak-anak sudah tidur, si kecil yang lucu hari ini tidak bergantung dikakiku ketika pulang. Karena ia telah lelap dalam tidurnya. Istriku &#8230; Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada  Istriku</p>
<p>Petang ini aku tidak bisa segera pulang. Banyak tugas-tugas yang belum tuntas harus digegas. Petang menjelang, sms-mu datang, menanyakan kapan pulang?</p>
<p>Hmm &#8230;mungkin aku baru bisa pulang malam. Mungkin nanti anak-anak sudah tidur, si kecil yang lucu hari ini tidak bergantung dikakiku ketika pulang. Karena ia telah lelap dalam tidurnya.</p>
<p>Istriku &#8230;</p>
<p>Aku tahu, betapa berat  tugas dan tanggung jawabmu dirumah. Pekerjaanmu padat dan berat.</p>
<p>Memasak</p>
<p>Mencuci</p>
<p>Menyapu</p>
<p>Mengurus urusan rumahtangga.</p>
<p>Letih dan lelah demi semua.</p>
<p>Menyusui dan mendidik anak-anak.</p>
<p>Menjaga amanah dan kesetiaan ketika suami tidak ada.</p>
<p>Tidak diperintahkan sholat jum&#8217;at.</p>
<p>Tidak pula diwajibkan sholat jama&#8217;ah ke mesjid.</p>
<p>Tidak wajib atasnya jihad dengan senjata.</p>
<p>Namun begitu istriku, bergembiralah karena engkau tetap mendapatkan pahala seperti kaum pria.</p>
<p>Kok bisa?</p>
<p>Dengarkan jawabannya dari seorang utusan wanita &#8220;Asma&#8217; binti Yazid Al-Anshoriyyah yang mendatangi Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama ketika beliau sedang duduk bersama sahabat-sahabat.</p>
<p>Asma binti Yazid Al-Ashoriyyah, &#8220;Ayah dan ibkuku sebagai tebusanmu, sesungguhnya aku adalah utusan para wanita kepadamu, dan aku tahu &#8211; jiwaku sebagai tebusanmu &#8211; bahwasanya tidak seorangpun dari wanita baik di timur ataupun di barat yang mendengar kepergianku untuk menemui ini ataupun tidak mendengarnya melainkan ia sependapat denganku.</p>
<p>Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada laki-laki dan wanit. Maka kami beriman kepadamu dan kepada Ilah-mu yang telah mengutus.</p>
<p>Dan sesungguhnya kami para wanita terbatas (geraknya); menjadi pengaja rumah-rumah kalian, tempat kalian menunaikan syahwat kalian dan yang mengandung anak-anak kalian.</p>
<p>Sementara kalian para laki-laki dilebihkan atas kami dengan sholat jum&#8217;at, jama&#8217;ah, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih baik dari itu berjihad di jalan Allah. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila ia keluar haji atau umroh atau berjihad, kami yang menjaga harta kalian, menenunkan pakaian kalian, dan kami pula yang mendidik anak-anak kalian. Maka apakah kami mendapatkan pahala seperti kalian hai Rasulullah?</p>
<p>Maka Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama menoleh kepada para sahabatnya, kemudian beliau berkata, &#8220;Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita yang lebih baik dari pertanyaannya dalam urusan agamanya ini? Mereka menjawab, &#8220;Hai Rasulullah, kami tidak mengira bahwa seorang wanita bisa paham seperti ini.</p>
<p>Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama menoleh kepadanya kemudian berkata kepadanya, &#8220;Pulanglah wahai wanita dan beritahukanlah kepada orang-orang wanita-wanita dibelakangmu bahwasanya baiknya pengabdian salah seorang dari kalian kepada suaminya dan mengharapkan ridhonya, serta mengikuti keinginannya menandingi itu semua&#8221;.</p>
<p>Maka wanita itu pulang seraya bertahlil, bertakbir dengan gembira&#8221;.(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu&#8217;abil Iman).</p>
<p>Istriku &#8230;</p>
<p>Jika seorang wanita memahami ibadah dengan sempit, hanya sebatas ruku&#8217; dan sujud saja, ia akan kehilangan pahala yang besar, karena ia akan menganggap pekerjaan dirumah, berkhidmat kepada suami, bergaul dengannya dengan baik, mendidik anak-anak semua itu tidak termasuk ibadah. Ini jelas salah dalam memahami ibadah.</p>
<p>Ibadah sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah suatu penamaan untuk setiap sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari perkataan dan perbuatan yang batin maupun zhohir.</p>
<p>Sholat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orangtua, shilaturrahim, menepati janji, menegakkan amar ma&#8217;ruf nahi munkar, jihad melawan orang kafir dan munafiqin, berbuat baik kepada tetangga anak yatim orang miskin ibnus sabil dan hewan, berdo&#8217;a, berzikir, membaca quran dan semisalnya termasuk ibadah. Begitu juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, bertaubat kepada-Nya dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya semata, bersabar terhadap keputusan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan ridho terhadap qodho-Nya, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya semua itu termasuk ibadah kepada Allah.</p>
<p>Jadi ibadatullah adalah  tujuan yang dicintai dan diridhoi-Nya yang karenanya Ia menciptakan makhluk sebagaimana firman-Nya,</p>
<p>&#8220;Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengibadati-Ku&#8221;.</p>
<p>Engkau istriku .. senantiasa dalam ibadah ketika berkhidmat kepada suamimu dan anak-anakmu selama engkau mengharapkan ridhonya dan berbuat baik dalam bergaul dengannya.</p>
<p>Selamat untukmu istriku!!</p>
<p>Engkau berhak mendapatkan pahala di dalam rumahmu jika :</p>
<p>-          Ikhlas dan mengharapkan pahala dari Allah.</p>
<p>-          Memperbaiki niat.</p>
<p>Terakhir .. semoga Allah senantiasa menjagamu dan menjaga rumah tangga kita dalam naungan ridho dan cinta-Nya, amin.</p>
<p>Kamis 19 Jumadil Ula 1430/15 Mei 2008.</p>
<p dir="rtl">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/kepada-istriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duhai Jiwa &#8230;</title>
		<link>http://abuzubair.net/duhai-jiwa/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/duhai-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 17:22:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Abuzzubeir Hawaary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Wahai jiwa, yakinlah &#8230; Sekalipun kematian hari ini melangkahimu menjemput yang lain Sejatinya ia dalam perjalanan menujumu. Hidup ini betapapun panjang dan indahnya, pasti berakhir jua. Tak lebih dari detik ke menit, jam ke hari, minggu ke bulan lalu berganti tahun Maka engkau akan sendiri tanpa teman, harta dan kekasih. Ingatlah kematian hari ini untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahai jiwa, yakinlah &#8230;</p>
<p>Sekalipun kematian hari ini melangkahimu menjemput yang lain</p>
<p>Sejatinya ia dalam perjalanan menujumu.</p>
<p>Hidup ini betapapun panjang dan indahnya, pasti berakhir jua.</p>
<p>Tak lebih dari detik ke menit, jam ke hari, minggu ke bulan lalu berganti tahun</p>
<p>Maka engkau akan sendiri tanpa teman, harta dan kekasih.</p>
<p>Ingatlah kematian hari ini untuk hidup kemudian hari</p>
<p>Tangisilah dosa hari ini untuk bahagia disurga nanti.</p>
<p>Bandingkanlah antara kehidupan yang bahagia di jalan Allah dengan kehidupan yang jauh dari Manhaj Allah.</p>
<p>Bandingkanlah antara orang-orang yang sholeh dan istiqomah dengan orang-orang yang bingung lagi tersesat, penuh keraguan, kebimbangan dan keresahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/duhai-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUCIKAN MASJID DARI MUSIK DAN NYANYIAN</title>
		<link>http://abuzubair.net/sucikan-masjid-dari-musik-dain-nyanyian/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/sucikan-masjid-dari-musik-dain-nyanyian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 03:12:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[SUCIKAN MASJID DARI MUSIK DAN NYANYIAN Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi dan yang paling dicintai Allah Ta&#8217;ala. Ia adalah benteng iman, madrasah pertama bagi seorang muslim, rumah orang-orang yang bertakwa. Tempat kaum muslimin berkumpul setiap hari lima kali, tempat bermusyawarah dan saling nasehat- menasehati. Dari masjidlah memancar cahaya islam menerangi penjuru dunia. Dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUCIKAN MASJID DARI MUSIK DAN NYANYIAN</p>
<p>Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi dan yang paling dicintai Allah Ta&#8217;ala. Ia adalah benteng iman, madrasah pertama bagi seorang muslim, rumah orang-orang yang bertakwa.</p>
<p>Tempat kaum muslimin berkumpul setiap hari lima kali, tempat bermusyawarah dan saling nasehat- menasehati. Dari masjidlah memancar cahaya islam menerangi penjuru dunia. Dari mesjid pula lahirnya para ulama dan fuqoha&#8217;.</p>
<p>Ketika Rasul shollallahu &#8216;alaihi wa sallama hijrah ke Madinah, yang pertama beliau bangun adalah masjid..</p>
<p>Ini menunjukkan bahwasanya masjid memiliki urgensi yang sangat penting di dalam Din Islam, karena sholat adalah tiang agama, dan mesjid sesuai dengan namanya adalah tempat yang disiapkan untuk sujud. Dan sujud adalah symbol penyerahan diri kepada Allah, karena dalam sujud seorang muslim menempelkan kening dan hidungnya, bagian tubuhnya yang paling mulia untuk menghambakan diri kepada Allah Ta&#8217;ala. Maka mesjid adalah syi&#8217;ar kaum muslimin yang bertauhid dan hanya sujud kepada Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Masjid adalah symbol islam. Dimana jika tidak ada lagi azan, sholat, jama&#8217;ah maka tidak ada pula islam dan kaum muslimin.</p>
<p dir="rtl"><strong>وعن عبد الله بن عمر : « أن النبي &#8211; صلى الله عليه وسلم  قال : خير البقاع المساجد ، وشر البقاع الأسواق »</strong><strong></strong></p>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama berkata, &#8220;Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar&#8221;.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p dir="rtl">
<p>&#8220;Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid itu hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan sholat, membayarkan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang diberi petunjuk&#8221;. (At-Taubah : 18)</p>
<p>&#8220;Dan bahwasanya mesjid-mesjid itu adalah milik Allah, maka janganlah engkau berdo&#8217;a kepada selain Allah disamping berdo&#8217;a kepadaNya&#8221;. (Al-Jin : 18)</p>
<p>Itulah mesjid ..tempat paling mulia dan paling suci dimuka bumi. Rumah orang-orang yang bertakwa.</p>
<p dir="rtl"><strong>وعن أبي الدرداء قال : سمعت </strong><strong> </strong><strong>رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يقول : « المسجد بيت كل تقي ، وتكفل الله لمن كان المسجد بيته بالروح والرحمة والجواز على الصراط إلى رضوان الله ، إلى الجنة »</strong><strong></strong></p>
<p>Dari Abu Darda&#8217; ia berkata, &#8220;Aku mendengar rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama bersabda, &#8220;Masjid adalah rumah setiap orang yang bertakwa, Allah menjamin barangsiapa yang masjid adalah rumahnya akan diberi rahmat dan selamat melewati ash-shiroth menuju ridho Allah dan surge&#8221;.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Tempat turunnya rahmat dan para malaikat menaungi orang-orang yang mempelajari Al-Qur&#8217;an di dalamnya.</p>
<p>Orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid untuk menunaikan jama&#8217;ah dianugerahi cahaya yang benderang di hari kiamat.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Orang yang datang ke masjid baik pagi ataupun petang Allah naikkan satu kedudukan di surga setiap kali ia ke masjid.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Berita gembira untuk orang yang berjalan dalam kegelapan menuju mesjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.</p>
<p dir="rtl"><strong>وعن بريدة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم : « بشر المشائين في الظلم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة » . رواه أبو داود والترمذي</strong><strong></strong></p>
<p dir="rtl"><strong> </strong></p>
<p>Dari Buraidah dari Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama, &#8220;Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat&#8221;.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Beruntunglah hamba yang hatinya terikat dengan mesjid, ia sangat mencintai mesjid dan senantiasa menjaga jama&#8217;ah di dalamnya, ia akan mendapatkan naungan Allah dihari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Orang yang membangun masjid ikhlas karena Allah, Allah bagunkan untuknya rumah di surga.</p>
<p dir="rtl"><strong>من بنى</strong><strong> مسجدا يبتغي به وجه الله بنى الله له مثله في الجنة </strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>Barangsiapa yang membangun masjid mengharapkan wajah Allah semata, Allah bangunkan untuknya yang sama dengan itu di surga&#8221;.<a name="_ftnref7" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Di masjid Allah, izinkan nama-Nya ditinggikan dan diagungkan.</p>
<p>&#8220;Bertasbih<strong><sup> </sup></strong> kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang&#8221;.<a name="_ftnref8" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Masjid dimakmurkan dengan sholat, majelis ilmu, do&#8217;a, zikir, membaca Kalamullah dan ibadah-ibadah lainnya. Masjid bukanlah  mimbar politik untuk mengejar kedudukan duniawi, bukan pula pasar tempat berjualan perhiasan dunia yang fana, bukanlah pentas seni tempat para paduan suara bernasyid ria.</p>
<p>Sangat disayangkan ..kesucian mesjid tersebut telah dinodai oleh kaum muslimin sendiri dengan kesyirikan dan bid&#8217;ah yang mereka lakukan di dalamnya</p>
<p>Sangat disayangkan kemuliaannya telah dihinakan oleh kaum muslimin sendiri dengan maksiat dan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan di dalamnya.</p>
<p>Diantara fenomena yang menyedihkan sekaligus memedihkan adalah suara-suara musik yang melantun dari nada dering Handphone di dalam mesjid. Baik di majelis-majelis ilmu bahkan yang lebih parah ketika sholat yang sedang berlangsung, tanpa ada yang mengingkari kecuali sedikit sekali.</p>
<p>Seringnya ini terjadi suatu tanda bahwa pelakunya meremehkan kemuliaan Allah dan kurangnya pengagungan terhadap kedudukan masjid dan sholat khususnya. Apabila pelaku tersebut sudah diingatkan dan ia masih juga melakukan, maka itu adalah kemungkaran yang besar. Dan jika ia sengaja melalaikannya tidak ada lagi alasan bagi mereka di sisi Allah. Karena mereka telah merendahkan tempat  yang wajib dihormati dan dimuliakan. serta tidak menjaga rumah-rumah Allah dari kesia-siaan yang tidak patut dilakukan di dalamnya.</p>
<p>Aisyah menuturkan sebagaimana di dalam Sunan Abu  Dawud bahwasanya Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama memerintahkan agar mesjid dibersihkan dan diberi wewangian.</p>
<p>Rasul shollallahu &#8216;alaihi wa sallama juga melarang setiap perkataan dan perbuatan yang mengotori mesjid dan mengurangi kemuliaannya serta merusak wibawannya. Seperti beliau melarang mengumumkan benda yang hilang di dalam masjid sebagaimana di dalam shohih Muslim bahwasanya ia bersabda,</p>
<p dir="rtl">(من سمع رجلاً ينشد ضالةً في المسجد فليقل : لا ردها الله عليك فإن المساجد لم تبن لذلك)</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang mendengar seseorang mengumumkan benda yang hilang di dalam masjid maka hendaklah ia mengatakan, &#8216;Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu&#8217;. Sesungguhnya masjid tidak dibangun untuk itu&#8221;.</p>
<p>Dan beliau juga melarang berjual-beli di dalam mesjid sebagaimana sabdanya,</p>
<p dir="rtl">إذا رأيتم من يبيع أو يبتاع في المسجد فقولوا : لا أربح الله تجارتك</p>
<p>&#8220;Apabila kalian melihat orang yang berjualan atau membeli di masjid maka katakanlah, &#8216;Semoga Allah tidak memberi keberuntungan dalam perdaganganmu&#8221;.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Apabila Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama melarang perkara-perkara yang hukum asalnya mubah ini dilakukan di masjid, karena membuka pintu pelecehan keagungan mesjid dan mengalihkannya dari  tujuan serta fungsi pendiriannya. Lantas bagaimana dengan suara musik dan nyanyian dari nada-nada dering di dalam mesjid dan ketika  sholat ditegakkan?! Sungguh itu adalah kemungkaran yang besar tapi dipandang remeh oleh manusia.</p>
<p>Berdiri dihadapan Allah dan bermunajat kepadanya adalah perkara yang agung dan mulia, seyogyanya seorang mukmin merasakan sakralnya kondisi ini serta keagungan Al-Malikul Jabbar yang dia berdiri dihadapannya. Ia berdiri di hadapan-Nya, berbicara dan bermunajat kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.</p>
<p>Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama bersabda,</p>
<p dir="rtl">(إن أحدكم إذا كان في الصلاة كان الله قبل وجهه فلا يتنخمن أحد منكم قبل وجهه في الصلاة)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya salah seorang kamu apabila dalam sholat, Allah ada di hadapannya, maka janganlah ia meludah ke depannya di dalam sholat&#8221;.<a name="_ftnref10" href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Dalam riwayat an-Nasai,</p>
<p dir="rtl">(إن أحدكم إذا قام في صلاته فانه يناجي ربه وإن ربه بينه وبين القبلة)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya salah seorang dari kamu apabila berdiri dalam sholatnya sesungguhnya ia bermunajat kepada Robb-nya dan sesungguhnya Robb-nya di antara dia dan kiblat&#8221;.</p>
<p>Beliau juga bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>&#8220;يا أيها الناس! كلكم </strong><strong>يناجي</strong><strong> ربَّه، فلا يجهر بعضكم على بعض بالقراءة؛ فتؤذوا المؤمنين &#8220;.</strong></p>
<p dir="rtl">
<p>&#8220;Wahai manusia, sesungguhnya setiap kalian bermunajat kepada Robb-nya, maka janganlah salah seorang dari kalian mengeraskan bacaannya atas yang lain, sehingga mengganggu kaum mukminin&#8221;.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Perbuatan sebagian orang hari ini, yang meremehkan keagungan masjid dan sholat adalah fenomena yang sangat menyedihkan. Menunjukkan lemahnya iman, kurangnya ilmu dan dangkalnya  pemahaman. Apalagi jika sikap itu dari seorang yang  sudah mengkaji ilmu syar&#8217;I dan sering menghadiri majelis ta&#8217;lim.</p>
<p>Kalau saja seorang dari mereka berdiri dihadapan presiden atau menghadiri acara resmi pemerintahan, engkau akan melihatnya khusyu&#8217;, tenang dan tidak sibuk dengan urusan lain. Ia akan diam atau berbicara dengan santun, ini suatu yang lumrah dilakukan manusia. Akan tetapi musibahnya adalah ia tidak bersikap seperti itu atau lebih baik di hadapan Robb presiden ini.</p>
<p>Seorang manusia bisa terbebas dari  kebiasaan mungkar ini dengan mematikan Handphonenya agar ia bisa berkosentrasi untuk ibadah. Jika tidak dia bisa mensilentkannya. Apabila suatu saat dia lengah atau lupa kemudian dia menyesali dan beristighfar semoga Allah memaafkannya. Akan tetapi jika itu terus berulang padahal selalu diingatkan dan dinasehati. Dan dia malah menganggap itu hanya masalah sepele tak perlu diingkari ..demi Allah ini adalah kemungkaran yang tdak mungkin didiamkan.</p>
<p>Orang yang membiarkan suara musik berbunyi dari handphonenya di dalam mesjid telah melakukan beberapa kerusakan :</p>
<p>-          Nada dering tersebut mungkar dan menyelisihi syara&#8217;.</p>
<p>-          Ia telah meremehkan  kemuliaan  dan keagungan majid.</p>
<p>-          Ia telah melalaikan pengagungan terhadap syiar-syiar Allah.</p>
<p>-          Ia telah mengganggu sholat orang lain.</p>
<p>-          Ia telah menghilangkan kekhusyukan dari dirinya dan orang lain.</p>
<p>Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama melarang menyakiti orang-orang yang sholat dengan bau-bauan yang tidak sedap sebagaimana sabdanya,</p>
<p dir="rtl">من أكل البصل و الثوم والكراث فلا يقربن مسجدنا فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدم</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang makan bawang meran dan bawang putih janganlah ia mendekati mesjid kami sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa yang membuat anak adam terganggu&#8221;.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Ini adalah gangguan secara indrawi, bagaimana dengan orang yang mengganggu orang-orang yang sedang sholat secara maknawi yang mengganggu mereka memikirkan dan merenungi bacaan dalam sholat mereka, serta memutus kekhusyukan dan ketenangan mereka. Demi Allah, jika saja orang yang lalai ini berpikir dan merenungi kekejian perbuatannya, niscaya dia yakin bahwasanya ia telah melanggar kehormatan masjid, sholat dan hak-hak orang yang sholat. Coba saja dia bayangkan apa yang akan terjadi jika suatu klub musik datang ke halaman mesjid dan memainkan alat musik serta melantunkan lagu di dalam masjid ketika sholat sedang ditegakkan? Dia pasti akan marah dan mengingkarinya. Padahal perbuatannya seperti perbuatan mereka sekalipun lebih ringan kesalahannya. Karena dia hanya menukilkan suara musik di dalam mesjid. Dan inilah sebenarnya inti kemungkarannya yang dilarang oleh syara&#8217;. Dan tidak berbeda hukum pengharamannya dalam dua keadaan ini sekalipun berbeda dalam tingkatan haram<a name="_ftnref13" href="#_ftn13">[13]</a>. Pelaku ini berdosa menurut syara&#8217; dan wajib atasnya bertaubat dan berhenti dari perbuatan itu serta memohon ampunan kepada Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Suatu keniscayaan atas setiap muslim untuk menjaga kehormatan mesjid dan kemuliaan mesjid dari segala noda indrawi dan maknawi. Dan hendaklah ia mengagungkan syiar-syiar Allah, karena pengagungannya terhadap Allah, hukum-hukum dan syara&#8217;Nya. Allahu Ta&#8217;ala berfirman, &#8220;Yang demikian itu adalah barangsiapa yang mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Robbnya&#8221;.</p>
<p>Allah juga berfirman,  &#8220;Yang demikian itu karena barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati&#8221;.</p>
<p>Kita wajib bangkit dan mengingkari  kemungkaran ini yang menodai rumah-rumah Allah dan merusak waktu dan suasana terbaik orang mukmin ketika beribadah di rumah-rumah Allah tersebut.</p>
<p>Imam sholat dan pengurus mesjid mengemban  tanggung jawab yang bes ar dalam menjaga kesucian mesjid, terutama dalam masalah ini, mereka harus berani mengambil tindakan; dengan mengajarkan kepada jama&#8217;ah hukum dan adab menghadiri mesjid serta mengingatkan orang yang melanggar keagungan dan kehormatan mesjid , bahkan jika diperlukan mengambil tindakan yang dipandang baik untuk maslahat mesjd dan kaum muslimin.</p>
<p>Begitu juga para jama&#8217;ah mesjid hendaknya saling nasehat-menasehati dan ingat-mengingatkan dengan hujjah yang nyata  dan akhlakul kariimah.</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala membukakan hati kita untuk menerima kebenaran, meneguhkan kita di atasnya hingga mati, amin.</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="98%">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p dir="rtl">
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di Al-Kabiir sebagaimana di dalam kitab Majma&#8217; Az-Zawaid 2/6 ia berkata, &#8220;Di sanadnya ada Atho&#8217; bin As-Saib, ia adalah tsiqoh akan tetapi berobah di akhir umurnya sedangkan rijal lainnya adalah tsiqoh&#8221;. Hadits yang senada diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah (1/464). Dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohih Al-Jami&#8217; no. 3271.</p>
<p><a name="_ftn2" href="#_ftnref2">[2]</a> Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di dalam Al-Kabir dan Al-Awsath. Dan Al-Bazzar, ia berkata, &#8220;Isnadnya hasan sebagaimana di dalam Majma&#8217; Az-Zawaid 2/22 dan ia berkata, &#8220;Rijal Al-Bazzar seluruhnya adalah rijal Ash-Shohih&#8221;. Dihasankan oleh Al-Albani di Ash-Shohihah (2/215, no. 716).</p>
<p><a name="_ftn3" href="#_ftnref3">[3]</a> Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di dalam Al-Awsath.</p>
<p><a name="_ftn4" href="#_ftnref4">[4]</a> Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.</p>
<p><a name="_ftn5" href="#_ftnref5">[5]</a> Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1/159), At-Tirmidzi (1/435) ia berkata, &#8220;Hadits Ghorib&#8221;. Syaikh Al-Albani berkata, &#8220;Shohih&#8221;. Lihat Shohih Al-Jami&#8217; hadits no. 2823.</p>
<p><a name="_ftn6" href="#_ftnref6">[6]</a> Hadits tentang ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.</p>
<p><a name="_ftn7" href="#_ftnref7">[7]</a> Diriwayatkan oleh Ahmad, Baihaqi, dari Utsman bin Affan. Al-Albani berkata, &#8220;Shohih&#8217;. Lihat Shohih Al_jami&#8217;  no. 6131.</p>
<p><a name="_ftn8" href="#_ftnref8">[8]</a> An-Nur : 36.</p>
<p><a name="_ftn9" href="#_ftnref9">[9]</a> Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah, dishohihkan oleh Al-Albani di Shohih Al-Jami&#8217; Ash-Shohih no. 573.</p>
<p><a name="_ftn10" href="#_ftnref10">[10]</a> Muttafaqun &#8216;alaihi.</p>
<p><a name="_ftn11" href="#_ftnref11">[11]</a> Diriwayatkan oleh Ahmad.</p>
<p><a name="_ftn12" href="#_ftnref12">[12]</a> Diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p><a name="_ftn13" href="#_ftnref13">[13]</a> Semisal dengan ini,  yang terjadi di mesjid-mesjid di kota tempat penulis tinggal, sudah menjadi trend meletakkan sejenis jam besar ala Jerman &#8216;Junghans&#8217;, berbunyi seperti lonceng-lonceng gereja setiap jam. Entah apa yang membuat mereka bangga meletakkan jam tersebut di dalam mesjid sehingga menyerupai lonceng gereja ketika berdentang. Yang lebih parah lagi apa yang terjadi di mesjid agung kota pekanbaru, dimana lantai dasarnya dijadikan tempat pesta pernikahan yang sering kali diiringi alat-alat musik seperti keyboard dan lain-lain, dan dihadiri wanita-wanita yang bertabarruj serta tidak menutup aurat dengan benar. Sementara ketika azan dikumandangkan dan sholat ditegakkan hanya sedikit yang datang, wa ilallahil musytakaa. Begitu juga kebiasaan sebagian mesjid setiap subuh ahad mengadakan &#8216;didikan subuh&#8217; untuk anak-anak, sambil memanggil dan menunggu kehadiran anak-anak diputarkan lagu-lagu haddad alwi atau  lagu-lagu nasyid lainya menggunakan pengeras suara di menara-menara mesjid. Dimana para ulama? Suara para da&#8217;I, khotib dan ustadz yang menjelaskan masalah ini kepada umat? Sungguh suaramu akan didengar jika yang engkau seru adalah orang-orang yang hidup akan tiada kehidupan pada orang-orang yang engkau seru!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/sucikan-masjid-dari-musik-dain-nyanyian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

