Archive for the Category » Akidah/Manhaj «

June 02nd, 2010 | Author:

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اما بعد
يقول الشيخ ابن العثيمين رحمة الله تعالي في شرح حديث “إنما الأعمال بالنيات ” الفائدة السادسة

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata dalam syarah hadits “Innamal A’maalu bin niyaat” pada faedah yang ke enam :

Barangkali suatu negeri mengalami kemerosotan disebabkan sedikitnya ahul ishlah (orang-orang yang mengadakan ishlah – perbaikan) dan banyaknya orang-orang yang rusak serta fasik. Akan tetapi apabila ia (orang yang baik) tetap tinggal di sana dan berdakwah kepada Allah sesuai kemampuannya, maka ia dapat memperbaiki orang lain dan orang lain itu akan memperbaiki yang lain pula, sehingga terbentuklah orang-orang yang baik, di mana mereka akan membawa kebaikan bagi negeri tersebut. Dan apabila mayoritas manusia menjadi baik, galibnya orang-orang yang memegang tampuk kekuasaan juga akan ikut menjadi baik, sekalipun melalui tekanan-tekanan.

Akan tetapi yang merusak ini – sangat disayangkan – adalah orang-orang yang sholeh (baik)  sendiri. engkau dapatkan mereka berkelompok-kelompok, berpecah-belah, kalimat mereka saring berselisih hanya karena khilaf (perbedaan dalam satu permasalahan agama yang dibolehkan perbedaan padanya).

Inilah realitanya, khususnya di negeri-negeri yang islam belum berdiri kokoh di sana. Terkadang mereka saling memusuhi, membenci karena masalah mengangkat kedua tangan dalam sholat. Dan aku ceritakan di sini kisah yang aku alami sendiri di Mina. Suatu hari datang kepadaku kepala lembaga dari dua kelompok di Afrika, salah satu kelompok mengkafirkan kelompok lainnya. Kenapa?? Salah satunya berkata, “Yang sunnah ketika berdiri dalam sholat seseorang hendaklah meletakkan dua tangannya di atas dada”. Kelompok satu lagi mengatakan bahwa sunnahnya adalah meluruskan tangan dan tidak melipatnya di atas dada.

Ini adalah masalah far’iyyah yang mudah, bukan termasuk masalah ushul dan furu’. Mereka mengatakan, “Tidak, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama mengatakan (Barangsiapa yang tidak suka sunnahku tidak termasuk golonganku). Maka orang ini kafir, karena  Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama berlepas diri darinya”.

Maka berdasarkan pemahaman yang rusak ini, salah satu kelompok mengkafirkan kelompok lainnya.

Yang penting; bahwsanya sebagian ahlul ishlah di beberapa negeri yang belum kokoh keislaman di negeri tersebut saling membid’ahkan dan memfasikkan sesama mereka.

Kalaulah mereka bersepakat lalu apabila berselisih pendapat, dada mereka lapang menerimanya selama perselisihan itu dalam perkara yang dibolehkan berbeda pendapat dan mereka menjadi seperti satu tangan, niscaya umat ini akan baik. Akan tetapi apabila umat melihat orang-orang yang berdakwah dan istiqomah di antara mereka ada kedengkian dan perselisihan  dalam masalah-masalah agama ini, maka umat akan berpaling dari mereka dan dari kebaikan serta petunjuk yang ada pada mereka, bahkan mungkin saja akan terjadi kontak fisik dan inilah yang terjadi wal ‘iyadz billah.

Engkau dapatkan seorang pemuda yang mulai menempuh jalan istiqomah karena kebaikan dan petunjuk yang ada dalam agama, dadanya mulai merasakan ketentraman serta hatinya mendapatkan ketenangan, kemudian ia melihat perselisihan, kebencian dan kedengkian di antara  orang-orang yang istiqomah lantas akhirnya ia meninggalkan ke-istiqomahan karena ia tidak mendapatkan apa yang dicarinya.

Wal hasil, hijrah dari negeri kafir bukanlah seperti hijrah dari negeri fasik. Kita katakana kepada seseorang itu, “Bersabarlah, dan harapkan pahala dari Allah, khususnya jika engkau adalah seorang da’I yang mengajak kepada perbaikan”. Bahkan bisa jadi dikatakan kepadanya : hijrah bagimu hukumnya haram.

(diterjemahkan dari kitab Syarah Al Arba’in An Nawawiyyah halaman : 23-24 oleh Syaikh Al ‘Allaamah Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala.)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.4/10 (8 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +12 (from 12 votes)
May 25th, 2010 | Author:

ORANG-ORANG YANG MENGGENGGAM BARA API

Al Hasan rahimahullah berkata, “Seorang mukmin hidup di dunia seperti orang asing (ghorib), tidak risau karena kehinaan (dunia), tidak berlomba-lomba mengejar kemuliaannya.  Manusia punya keadaan dan ia punya keadaan. Manusia merasa nyaman dengan dunia sedangkan dia letih dan lelah.

Diantara sifat-sifat orang-orang yang asing ini (Al Ghuroba’) yaitu orang-orang yang dipuji oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama adalah,

-          Berpegang teguh dengan sunnah apabila manusia meninggalkannya.

-          Meninggalkan bid’ah-bid’ah  yang  diperbuat manusia sekalipun itu mereka anggap baik.

-          Memurnikan tauhid sekalipun ia diingkari oleh kebanyakan manusia.

-          Tidak menisbatkan diri kepada siapapun selain kepada Allah dan Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallama, tidak kepada syaikh, thoriqoh, mazhab, atau kelompok tertentu. Akan tetapi mereka menisbatkan diri kepada Allah dengan menghambakan diri hanya kepadaNya semata dan hanya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul-Nya.

Mereka inilah orang-orang yang menggenggam bara api sebenarnya dan kebanyakan manusia bahkan seluruhnya mencela mereka”. (Madaari As Salikiin, oleh Ibnul Qoyyim)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.8/10 (23 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +14 (from 18 votes)
May 18th, 2010 | Author:

MENGAKU TAHU KEJADIAN DI MASA DEPAN

Seseorang bercerita, ada orang yang mengaku bahwasa jin muslim mendatanginya di dalam tidurnya, dan jin itu membawanya thowaf di Makkah Al Mukarromah, memberinya minum dari air Zamzam dan membawanya menziarahi kuburan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama. Ia mengatakan bahwa semua itu terjadi dalam satu malam. Orang ini menceritakan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan dan sebagiannya ada terbukti. Sehingga tidak sedikit manusia yang terfitnah oleh oleh seperti ini, sehingga mempercayai apa yang dikatakannya.

baca lebih lanjut…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.4/10 (13 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +10 (from 10 votes)
Category: Akidah/Manhaj  | Tags: , , , , ,  | 2 Comments
May 10th, 2010 | Author:

سئل فضيلة الشيخ ابن عثيمين في كتاب المناهي اللفظية: كثيرا ما نرى على الجدران كتابة لفظ الجلالة (الله) , وبجانبها لفظ محمد صلى الله عليه وسلم أو نجد ذلك على الرقاع, أو على الكتب،أو على بعض المصاحف فهل موضعها هذا صحيح ؟.
فأجاب قائلا : موقعها ليس بصحيح لأن هذا يجعل النبي صلى الله عليه وسلم ، نداً لله مساوياً له ، ولو أن أحدا رأي هذه الكتابة وهو لا يدري المسمى بهما لأيقن يقيناً أنهما متساويان متماثلان ، فيجب إزالة اسم رسول الله صلى الله عليه وسلم ويبقى النظر في كتابة : (الله) وحدها فإنها كلمة يقولها الصوفية ، و يجعلونها بدلا عن الذكر ، يقولون (الله الله الله) ، وعلى هذا  فلا يكتب (الله) ، ولا (محمد) على الجدران ، ولا على الرقاع ولا في غيره

Yang Mulia Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya di dalam kitab Al Manaahi Al Lafzhiyyah (sebagai berikut), “Sering kita melihat di atas dinding terdapat tulisan lafaz Al Jalaalah (Allah), dan di sampingnya ada lafaz Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama, atau kita mendapati itu di kain, atau di buku-buku, atau pada sebagian mushaf, apakah penempatannya benar?

Beliau menjawab, “Penempatannya tidak benar, karena ini menjadikan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama tandingan bagi Allah dan menyamaiNya. Dan kalaulah orang yang tidak paham maksud dua tulisan tersebut melihatnya niscaya dia meyakini bahwa keduanya adalah sama dan semisal.
Maka wajib menghapus nama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, dan cukup melihat kepada tulisan lafaz Al Jalaalah (Allah) saja. Dan lafazh (Allah)  juga adalah kalimat yang sering diucapkan oleh kalangan sufiyah,  sebagai ganti zikir, mereka mengucapkan (Allah .. Allah .. Allah). Berdasarkan ini Maka tidak perlu ditulis (Allah) dan (Muhammad) di atas dinding, kain dan lainnya. (http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=22707)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.0/10 (5 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 6 votes)
April 08th, 2010 | Author:

MENUNTUT ILMU DENGAN BENAR

Imam Asy-Syatibi rahimahullah di Mukadimah ke dua belas dari kitab Al Muwafaqot menyebutkan cara terbaik untuk meraih ilmu syar’I  adalah mengambilnya langsung dari dari ahlinya yang menguasai ilmu tersebut.

Ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu itu dulunya tersimpan di dada-dada para pengembannya, kemudian berpindah ke kitab-kitab lalu kuncinya ada pada para ahlinya”.

Asy-Syatibi berkata, “Ungkapan ini menunjukkan untuk mendapatkan ilmu harus mengambilnya dari ulama-ulama yang menguasainya, mereka adalah kunci-kuncinya tanpa diragukan lagi”.

Kemudian beliau melanjutkan,  “Apabila telah tetap bahwasanya harus mengambil ilmu dari ahlinya yang menguasainya. Maka untuk menempuhnya ada dua cara :

Pertama : Musyafahah (mengambil langsung dari lisannya, dan ini adalah jalan yang paling bermanfaat).”

Yaitu penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya dengan benar, ikhlas dan fokus kepada ilmu. alangkah besarnya berkah dan rahmah duduk di majelis ilmu seperti ini.

Seringkali seorang penuntut ilmu membaca sebuah kitab, ia menghapalnya, dan mengulang-ulangnya tapi ia tidak mengerti. Apabila disampaikan oleh guru ia tiba-tiba bisa paham dengan mudah, dan ia mendapatkan ilmu itu di hadapan gurunya.

Asy-Syathiby berkata, “Dan pemahaman ini kadang didapat dengan hal yang biasa, seperti penjelasan bagian yang meragukan yang tak terpikirkan oleh seorang penuntut ilmu, dan bisa juga di dapat dengan hal yang tidak biasanya, yaitu Allah menganugerahkan kepada penuntut ilmu pemahaman ketika ia bersimpuh di hadapan gurunya dengan tawadhu dan merasa membutuhkan apa yang diajarkan kepadanya. Ini adalah di antara faedah-faedah duduk di majelis para ulama,  yaitu; ketika dibukakan pemahaman untuk penuntut ilmu di hadapan mereka apa yang tidak dibukakan untuknya ketika dia duduk belajar kepada yang lain”.

Jalan yang ke dua : untuk meraih ilmu, (masih bersama perkataan Abu Ishaq Asy-Syatiby rahimahullah), yaitu menelaah kitab-kitab yang dikarang para ulama. Cara ini juga bermanfaat dengan dua syarat :

Pertama : mampu memahami maksud-maksud ilmu yang sedang dipelajari, mengetahui istilah-istilah ahlinya, yang akan membantunya memahami kitab-kitab yang dipelajari. Dan modal inipun sejatinya di dapat dengan jalan yang pertama yaitu belajar langsung dari ulama atau ahlinya.

Kedua : hendaklah ia memilih kitab-kitab ulama terdahulu, karena mereka lebih mendalam ilmunya dari pada ulama muta-akhirin.

dan ini bukan berarti membaca dan mempelajari buku tidak berfaedah ..tentu sangat besar faedahnya ..namun belajar dari buku saja tidaklah cukup. bahkan tidak sedikit orang yang salah paham hanya karena mengandalkan berguru kepada buku. tetap saja seorang penuntut ilmu membutuhkan guru tempat bertanya tentang isi buku yang dia baca.

Maka barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu syar’i hendaklah mendatangilah ahlinya, yaitu ulama. Duduk dihadapan mereka dengan meluruskan niat dan mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Serta bertakwa kepada Allah zhohir dan batin, ketika sendiri maupun bersama orang lain, dalam perkataan dan perbuatan. Dan hendaklah senantiasa beruhasa menjaga keta’aan serta bersungguh-sungguh dalam menjauhi maksiat dan yang haram. Karena maksiat adalah kegelapan yang akan memadamkan cahaya ilmu.

Seperti perkataan Imam Malik kepada muridnya Imam Asy-Syafi’i, “Aku melihat bahwasanya Allah telah memberikan cahaya di hatimu. Jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat”.

Asy-Syafi’i berkata,

Aku mengadukan kepada waki’ buruknya hapalanku

Ia bimbing aku tinggalkan maksiat

Dan ia wasiatkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya

Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat.

Selamat menuntut ilmu saudaraku! Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalanmu ke surge …amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.4/10 (12 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 6 votes)
April 06th, 2009 | Author:

Assalamu’alaikum…

Afwan ustad, bagaimana dengan tradisi2 orang dijawa? yang melarungkan makanan dan sembelihan serta benda2 lainnya kedalam laut? contohnya laut pantai selatan dan sejenisnya.

satu lagi ustad. bagaimana pendapat ustad mengenai keris dan benda2 sejenisnya?? apakah ada tradisi memandikan benda2 tersebut yang kata orang2 yang punya adalah benda keramat? dan juga saya mau tanya mengenai kalung yang berbentuk tasbih yang di percayai dapat membawa kesehatan? ane sering lihat sebagian orang jemaa’ah tabliq dan lainnya pake kalung yang berbentuk tasbih tersebut.

Jazakallahu khairan kashiran.

Ana Abdullah
Di Pekanbaru, SUkajadi tepatnya di jalan balam..

Assalamu’alaikum

wa ‘alaikumus salam warahmah

na’am .. tradisi-tradisi di sebagian tempat seperi sesajen atau sembelihan yang dilakukan untuk selain Allah adalah perbuatan syirik. dan itu adalah salah satu perbuatan jahiliyyah yang wajib ditinggalkan, dijauhi dan dibersihkan.

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah sesungguhnya sholatku, dan sembilahanku, dan hidupku serta matiku adalah milik Allah Robb semesta alam”. (Al-An’am : 162-163)

Allah Tabaaroka wa Ta’ala memerintahkan kita menyelisihi orang-orang musyrikin yang mengibadati dan menyembelih selain Allah. karena barangsiapa yang mendekatkan diri kepada selain Allah untuk menolak bala (marabahaya) atau mendatangkan manfaat karena mengagungkannya maka dia telah melakukan kekufuran dan kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah dulu.
seseorang datang menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama meminta izin untuk menyembelih nazarnya di tempat yang bernama Bawaanah. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Apakah di sana ada dulu ada berhala?”. ia menjawab, “Tidak”. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama kembali bersabda, “Apakah di sana dahulu pernah di adakan hari raya jahiliyyah?”. ia menjawab, “Tidak”. Nabi bersabda, “Tunaikan nazarmu”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya 3313)

penanya ini adalah seorang sahabat, orang yang bertauhid ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. akan tetapi apabila tempat itu pernah menjadi tempat berhala atau perayaan jahiliyyah bisa menjadi penghalang dilaksanakannya nazarnya. tatkala nabi mengetahui bahwasanya semua itu tidak ada di sana barulah nabi mengizinkan. kalau seandainya salah satu perbuatan jahiliyyah itu pernah dilakukan di sana dulunya, niscaya beliau akan melarang sahabat tadi menyembelih nazarnya di sana demi menjaga kemurnian tauhid dan memutus jalan kepada kesyirikan.

adapun mengkeramatkan benda-benda seperti keris, tombak, kerbau dan lain-lainnya lalu dimandikan dengan ritual tertentu, serta diharapkan berkah darinya. tidak diragukan lagi, bertentangan dengan akidah tauhid yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. antum bisa merujuk tulisan larangan mengharapkan berkah dari makhluk di telaga hati yang diposting pada 31 maret 2009.

dan masalah mengalungkan tasbih dileher ..itu hanyalah perbuatan-perbuatan orang yang tak berilmu, jugatasyabbuh (menyerupai) pendeta-pendeta budha. mendatangkan ‘ujub dan riya’. kalau digunakan dengan keyakinan sebagai obat, menambah kekuatan atau bisa melindungi dari marabahaya  itu seperti tamimah (jimat) yang dilarang oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. semoga Allah meneguhkan kita semua di atas tauhid dan menjauhkan kita dari segala perbuatan syirik. wallahu a’lam.

akhuukum

abuz zubair hawaary

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
March 28th, 2009 | Author:

LARANGAN MENGHARAPKAN/MEMINTA BERKAH DARI POHON, BATU DAN SEJENISNYA.

عن أبي واقد الليثي – رضي الله عنه – قال : خرجنا مع رسول اللهr إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر ، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط ، فمررنا بسدرة ، فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط ، كما لهم ذات أنواط فقال رسول اللهr : « الله أكبر إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده ، كما قالت بنو إسرائيل لموسى : ] اجعل لنا إلهاً كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون [ لتركبن سنن من كان قبلكم »

Artinya : Dari Abu Waqid Al-Laitsi semoga Allah meridhoinya ia berkata, “Kami pergi bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menuju Hunain. Dan ketika itu kami baru meninggalkan kekufuran. Orang-orang musyrikin mempunyai  Sidroh (sejenis pohon) , mereka beri’tikaf di dekatnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzaatu Anwath. Maka kami melewati sebuah pohon sidroh. Kami pun berkata, ‘Ya Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwath seperti yang mereka miliki’. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Allahu Akbar .. sesungguhnya itu adalah jalan-jalan (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya sebagaimana ucapan Banu Israil kepada Musa (jadikanlah untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Ia (Musa) berkata :  sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh).

Sungguh, kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang yang seblum kalian”.

(Dikeluarkan oleh Ahmad 5/228, At-Tirmidzi  4/475 kitab Al-Fitan no.2180, Abdurrozaq 11/369 no. 20763, Ibnu Jarir 9/45-46, Ibnul Mundzir di Ad-Durrul Mantsur 3/533, Abu Hatim 3/275 no. 3290-3294 dan Ath-Thobroni)

MAKNA HADITS

Dalam perang Hunain, ikut serta dalam pasukan Rasulullah shollallahu alaihi wa sallama orang-orang yang baru masuk islam. Kaki mereka belum kokoh di atas islam, dan belum paham dakwah islamiyah serta akidah-akidah dan landasan-landasanya, karena mereka belum lama meninggalkan jahiliyah dan syirik. Ketika mereka melewati orang-orang musyrikin yang sedang I’tikaf di di dekat sebuah pohon mengharapkan berkah dan mengagungkan pohon itu. Tatkala orang-orang yang baru masuk islam itu melihat mereka melakukan itu, mereka meminta Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama membuatkan untuk mereka pohon tempat mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dengan tujuan mengharapkan berkah dari pohon itu – bukannya mengibadatinya – mereka mengira bahwa islam mengizinkan tabarruk (mengharapkan berkah) seperti ini, dan bahwasanya dengan itu mereka dapat meraih kemenangan atas musuh-musuh mereka.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama terkejut mendengar permintaan yang aneh ini. Maka beliau mengucapkan kalimat yang agung, yang seharusnya menjadi pelajaran bagi umat sampai hari kiamat, beliau berkata (Allahu Akbar .. sesungguhnya itu adalah jalan-jalan (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya sebagaimana ucapan Banu Israil kepada Musa (jadikanlah untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Ia (Musa) berkata :  sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh).Sungguh, kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang yang seblum kalian.

Kaum muslimin teramat membutuhkan untuk memahami pelajaran ini. Begitu juga para ulama seyogyanya mereka menyuarakan kalimat yang kuat ini kepada orang-orang yang mengharap berkah dari makhluk yang hidup maupun yang sudah mati, pohon-pohon dan bebatuan. Karena mereka mengira itu dari islam. Dan mereka dibohongi  oleh orang-orang yang tidak takut kepada Allah serta tidak mengharapkan Allah dan hari akhir dari para penyembah harta dan kedudukan. Mereka memanfaatkan emosi orang-orang bodoh dan awam. Sehingga mereka memegang kebatilan dan mendorong mereka untuk memerangi kebenaran dan tauhid.

Kesimpulan Hadits :

1.       Larangan menyerupai orang-orang jahiliyah.

2.       Bahwasanya perbuatan Bani Israil yang dicela, juga tercela bagi umat ini jika melakukannya.

3.       Di dalam hadits ini ada isyarat kepada kaedah (Saddudz Dzari’ah) atau menutup pintu keburukan.

4.       Di dalam hadits ini juga terdapat mu’jizat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, karena apa yang disabdakannya terbukti.

5.       Wajib takut terhadap kesyirikan. Dan bahwasanya seseorangitu bisa jadi menganggap baik sesuatu, dan ia mengiranya itu bisa mendekatkan dia kepada Allah, padahal malah menjauhkannya dari rahmat Allah, dan mendekatkannya kepada kemurkaan-Nya.

(diringkas dari : Mudzakkiroh Al-Hadits An-Nabawy  fil Akidah wal It-Tiba’  karangan Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkholi, halaman 17-19).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: Akidah/Manhaj  | 2 Comments
March 16th, 2009 | Author:

KEUTAMAAN AKIDAH TAUHID

عن عبادة بن الصامت – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله r :

« من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأن محمداً عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه، والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل ».

Dari Ubadah bin Ash-Shomit semoga Allah meridhoinya ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Barangsiapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadati dengan hak melainkan Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan bahwasanya Muhamad itu adalah hamba dan Rasul-Nya, bahwasanya Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya dan kalimat-Nya yang ditiupkannya kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga serta neraka adalah hak, Allah akan memasukkan dia ke surga sesuai dengan amalannya”. (diriwayatkan oleh Al-Bukhari kitabul anbiya’ no. 3435, dan Muslim kitabul iman no. 46, 47, dan Ahmad 5/314).

MAKNA HADITS

Hadits ini mencakup lima perkara barangsiapa yang beriman dengan semuanya dan mengamalkan kandungannya zhohir dan batin masuk surga.

Pertama : sabda beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Barangsiapa yang bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadati dengan hak melainkan Allah Ta’ala semata tidak ada sekutu bagi-Nya”.

Maksudnya, ia beriman kepada Allah dengan benar dan meyakini. Mengakui ke esaan Allah Ta’ala dan berlepas diri dari mengibadati selain-Nya dan mengamalkan kandungan-kandungan kesaksiannya tersebut dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya perkataan maupun perbuatan.

Kedua : syahadat bahwasanya Muhamad itu rasul (utusan) Allah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Maksudnya barangsiapa yang meyakini dengan keyakinan yang pasti tidak ada keraguan padanya bahwasanya Muhamad itu Rasulullah yang diutus kepada jin dan manusia dengan risalah yang sempurna. Bahwasanya dia adalah penutup para nabi, dan risalahnya adalah penutup seluruh risalah. Mengimani bahwasanya ia adalah salah seorang hamba-hamba Allah yang dimuliakan Allah dengan mengembang risalah-Nya kepada seluruh alam, membenarkan apa yang yang diberitakannya dan menaati perintah-perintahnya serta menjauihi apa yang dilarangnya.

Ketiga : meyakini bahwasanya Isa ‘alaihi wa sallama salah satu hamba dan rasul Allah. Bahwasanya dia bukan anak zina sebagaimana tuduhan yahudi. Dan ia bukan Allah bukan pula anak Allah bukan pula satu dari yang tiga sebagaimana anggapan nasrani. Akan tetapi dia adalah salah satu hamba Allah yang Allah utus kepada Bani Israil yang mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah semata.

Allah telah menciptakan Isa dengan kalimat (Kun) yang menunjukkan atas takwin, bahwasanya dia adalah salah satu dari ruh yang diciptakan Allah,

خلقها الله ] إن مثل عيسى عند الله  كمثل آدم خلقه من تراب ثم قال له كن فيكون [.

“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, Ia menciptakannya dari tanah kemudian ia berkata kepada-Nya, “Jadilah” maka ia pun jadi”.

Ke empat : bahwasanya surga itu adalah hak. Maksudnya meyakini bahwasanya surga yang telah disiapkan Allah untuk orang-orang yang ta’at dari hamba-hamba-Nya telah ada dan benar wujudnya tidak ada keraguan padanya. Dan bahwasanya ia adalah tempat terakhir yang kekal bagi orang-orang beriman dan mengikuti rasul-rasul-Nya.

Kelima : bahwasanya neraka adala hak. Maksudnya meyakini bahwasanya neraka yang dijanjikan Allah sebagai tempar orang-orang kafir dan munafik benar-benar ada tidak ada keraguan darinya telah disiapkan oleh Allah untuk orang yang kafir kepada-Nya, mengingkari dan menentang-Nya.

Lima perkara ini barangsiapa yang membenarkannya, beriman kepadanya dan mengamalkan tuntutan-tuntutannya, Allah masukkan dia ke surga sekalipun ia lalai dan memiliki dosa. Hal itu disebabkan tauhid dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah semata.

KESIMPULAN HADITS :

1.       Keutamaan mentauhidkan Allah, dan bahwasanya Allah mengampuni dosa-dosa dengannya.

2.       Luasnya anugerah Allah dan Rahmah-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

3.       Kebenaran para Nabi dan apa yang dibawanya, khususnya para Muhamad  shollallahu ‘alaihi wa sallama tanpa mengurangi hak-hak mereka dan tidak pula me lampui batas.

4.       Bahwasanya pelaku-pelaku maksiat dari orang-orang yang bertauhid tidak kekal di dalam neraka.

5.       Ke wajiban beriman kepada surga dan neraka.

(Mudzakkirotul Hadits An-Nabawy fil Akidah wal It-Tiba’ (hal. 10-13 dengan diringkas)  Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholi)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: Akidah/Manhaj  | 3 Comments
March 07th, 2009 | Author:

MANHAJ DAKWAH KEPADA ALLAH TA’ALA

عن ابن عباس – رضي الله عنهما – أن رسول الله r لما بعث معاذاً  إلى اليمن قال :

« إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب ، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي راوية : إلى أن يوحدوا الله – فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة ، فإن أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم. فإن هم أطاعوك لذلك، فإياك وكرائم أموالهم ، واتق دعوة المظلوم ، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب ».

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama ketika mengutus Mu’adz ke Yaman ia berkata, “Sesungguhnya engkau akan datang kepada suatu kaum dari ahli kitab. Maka hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka syahadat La Ilaaha Illallah – dalam riwayat lain : kepada mentauhidkan Allah – jika mereka menta’atimu untuk itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka lima sholat dalam sehari semalam. Jika mereka menta’atimu untuk itu, beritahukanlah bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menta’atimu untuk itu maka jauhilah olehmu harta-harta mereka yang paling berharga. Dan takutlah kamu kepada do’a orang yang dizalimi. Sesungguhnya tidak ada antara dia dan Allah pembatas”. (Keluarkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Az-Zakah hadits no. 1395, Muslim dalam Kitab Al-Iman hadits no.31, An-Nasai dalam kitab Az-Zakah 5/3, Ibnu Majah Kitab Az-Zakah hadits no. 1783 , 1/568, Ad-Daarimi kitab Az-Zakah hadits no. 1662, 1/318 dan Ahmad 1/223).

Perawi Hadits :

Abdullah bin Abbas bin Abdul Muth-tholib Al-Hasyimi putra paman Rasulullah. Tinta dan lautan karena keluasan ilmunya. Salah seorang sahabat yang banyak meriwayakan hadits, dan salah seorang ‘abadilah dari fuqoha’ sahabat. Wafat pada tahun 68 H.

Makna Hadits :

Hadits ini menjelaskan langkah-langkah yang wajib ditempuh oleh seorang juru dakwah kepada Allah. Kewajiban pertama kali yang harus dia mulai adalah berdakwah kepada At-Tauhid dan meng-esakan Allah semata dengan ibadah dan menjauhkan diri dari syirik yang kecil maupun besar. Dan itu terwujud dengan bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadati dengan hak melainkan Allah dan bahwasasnya Muhamad itu adalah Rasulullah.

Yang dimaksud dengan syahadat (kesaksian) ini, bahwasanya ibadah dengan segala bentuknya adalah hak mutlak Allah semata. Tidak ada sesuatupun selain-Nya yang berhak. Baik malaikat muqorrob, nabi yang diutus, orang sholeh, batu, pohon, maupun matahari dan bulan.

Maka tidak boleh diseru kecuali Allah semata. Tidak boleh ber-istighotsah kecuali dengan-Nya. Tidak boleh meminta pertolongan kecuali kepada-Nya. Tidak boleh bergantung kecuali kepada-Nya dan tidak ditakuti serta di harapkan kecuali Dia.

Maka barangsiapa yang memalingkan salah satu dari ibadah-ibadah ini atau ibadah yang lainnya untuk selain Allah, maka ia benar-benar telah menyekutukan Allah.

] إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار[.

Artinya, “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan orang-orang yang zholim itu tidak akan mendapatkan penolong seorangpun”.

Bukanlah yang dimaksud dengan (kalimat) La Ilaaha Illallah semata mengucapkannya. Akan  tetapi haruslah mengetahui makannya dan mengamalkan isinya. Dan harus sempurna syarat-syaratnya. Syarat-syaratnya ada tujuh :

1. ilmu yang menafikan kebodohan.

2. Yakin yang menafikan keraguan.

3. Qobul (menerima) yang menafikan penolakan.

4. Inqiyad (tunduk) yang menafikan meninggalkan.

5. Ikhlas yang menafikan syirik.

6. Shidqu (juju/benar) yang menafikan dusta.

7. Mahabbah (cinta) yang menafikan benci.

Dan yang dimaksud dengan syahadat Muhamad Rasulullah yaitu, mengetahui maknanya dan mengamalkan kandungannya. Bukanlah maksudnya semata melafazhkannya. Maksudnya adalah membenarkannya pada apa yang diberitakannya dan mentaati perintahnya serta menjauhi larangannya. Dan mengibadati Allah dengan apa yang disyari’atkan melalui lisan Rasul yang mulia ini bukannya dengan  mengikuti hawa nafsu atau berbuat bid’ah.

Wajib atas setiap muslim mengetahui makna dua kalimat syahadat dengan pemahaman yang benar dan bersungguh-sungguh dalam mengamalka kandungan-kandungannya. Yaitu membenarkan, mengimani dan mengamalkan apa yang dibawa oleh Rasulullah di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Mulai dari yang berkaitan dengan akidah, ibadah serta syari’at-syari’at dalam segala aspek kehidupan.

Kesimpulan Hadits :

1. Bahwasanya tauhid adalah azas islam.

2. Rukun islam yang paling penting setelah tauhid adalah menegakkan sholat.

3. Rukun islam yang paling wajib setelah sholat adalah zakat fardhu, dan itu termasuk hak harta.

4. Bahwasanya imam dialah yang berwenang mengumpulkan zakat dan membagikannya. Bisa langsung dilakukannya atau dilakukan oleh wakilnya.

5. Di dalam hadits ini terkandung dalil bahwasanya boleh mengeluarkan zakat pada satu ashnaf saja.

6. Tidak boleh membagikan zakat kepada orang yang kaya.

7. Haram atas amil zakat mengambil harta yang berharga.

8. Peringatan agar menjauhi berbagai bentuk kezaliman.

9. Diterimanya khobar wahid (hadits ahad) dari perawi yang adil dalam akidah dan hal-hal yang mewajibkan amal.

10. Seyogyanya seorang juru dakwah memulai dakwahnya dari paling penting kemudian begitu seterusnya.

(diterjemah dan diringkas dari Mudzakkiroh Al-Hadits An-Nabawy fil Akidah wal It-tiba’ oleh Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholi halaman 6-10).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
February 04th, 2009 | Author:

SYARAH KITAB USHUL AL-IMAN KARANGAN IMAM MUMAHAMAD BIN ABDUL WAHHAB.

Disyarah oleh, Abuz Zubair Hawaary.

BAB : MAKRIFATULLAH AZZA WA JALLA WAL IMAN BIHI

(Lanjutan Tulisan Sebelumnya; Syarah Hadits Pertama).

HUKUM IBADAH APABILA DICAMPURI RIYA’ :

Pertama : apabila yang menjadi motivasi beribadah dari awalnya adalah riya, seperti seorang yang sholat untuk memperlihatkan kepada manusia dan tidak meniatkan untuk Allah, ini adalah syirik dan ibadahnya batil (tidak sah).

Kedua : riya’ mencampuri ibadah, misalnya di tengah-tengah ibadah, yaitu pendorong awalnya adalah ikhlas untuk Allah kemudian mucul riya ditengah-tengah ibadah. Jika ibadah tersebut (bagian) akhirnya tidak dibangun diatas awalnya, maka awalnya shohih dan akhirnya batil.

Contohnya : seorang yang telah menyiapkan seribu rupiah untuk bersedekah, lalu ia bersedekah lima ratus ikhlas karena Allah, dan pada lima ratus yang tersisa ia bersedekah karena riya’, maka yang pertama hukumnya shohih dan yang kedua batil.  baca lebih lanjut…

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)