<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>TELAGA HATI Online &#187; Akhlak</title>
	<atom:link href="http://abuzubair.net/category/akhlak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuzubair.net</link>
	<description>... Aku Hidup Untuk Yang Menghidupkanku dan Aku Mati Untuk Yang Mematikanku ...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Feb 2011 04:24:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.4" -->
		<copyright>Copyright &#xA9; 2012 TELAGA HATI Online </copyright>
		<managingEditor>surat@abuzubair.net ()</managingEditor>
		<webMaster>surat@abuzubair.net ()</webMaster>
		<category>posts</category>
		<ttl>1440</ttl>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>... Aku Hidup Untuk Yang Menghidupkanku dan Aku Mati Untuk Yang Mematikanku ...</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>surat@abuzubair.net</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://abuzubair.net/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://abuzubair.net/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>TELAGA HATI Online</title>
			<link>http://abuzubair.net</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>AKU MENCINTAINYA</title>
		<link>http://abuzubair.net/aku-mencintainya/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/aku-mencintainya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Jan 2011 16:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA … Ya, aku memang mencintainya. Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorang kepada kekasihnya. Bahkan manakah cinta orang-orang yang jatuh cinta dibanding cintaku ini?! Ya, aku mencintainya. Bahkan demi Allah, aku merindukannya. Aku merasakan sentuhannya yang lembut, menyentuh relung hatiku. Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit, lalu hatiku menari-nari dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA …</p>
<p>Ya, aku memang mencintainya. Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorang kepada kekasihnya. Bahkan manakah cinta orang-orang yang jatuh cinta dibanding cintaku ini?!</p>
<p>Ya, aku mencintainya. Bahkan demi Allah, aku merindukannya. Aku merasakan sentuhannya yang lembut, menyentuh relung hatiku. Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit, lalu hatiku menari-nari dan jiwaku menjadi tentram.</p>
<p>Aku mecintaimu duhai perkataan yang baik</p>
<p>Aku mencintaimu duhai perkataan yang lembut</p>
<p>Aku mencintaimu duhai perkataan yang santun.</p>
<p>Alangkah indahnya ketika seorang anak mencium tangan ibunya seraya berkata, &#8220;Semoga Allah menjagamu ibu&#8221;.</p>
<p>Alangkah eloknya ketika seorang ayah senantiasa mendo&#8217;akan anaknya, &#8220;Ya Allah ridhoilah mereka, dan bahagiakan mereka di dunia dan akhirat&#8221;.</p>
<p>Alangkah bagusnya ketika seorang istri menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman seraya berkata, &#8220;Semoga Allah tidak menjauhkan kami darimu, rumah ini serasa gelap tanpa dirimu&#8221;.</p>
<p>Alangkah baiknya ketika istri melepaskan kepergian suami bekerja di pagi hari, ia berkata, &#8220;Jangan beri kami makan dari yang haram, kami tidak sanggup memakannya&#8221;.</p>
<p>Kalimat dan ungkapan yang indah, bukankah begitu? Bukankah kita berharap kalimat dan ungkapan seperti ini dikatakan kepada kita? Bukankah setiap kita berangan-angan mengatakan kalimat-kalimat seperti ini kepada orang-orang yang dicintainya? Akan tetapi kenapa kita tidak atau jarang mendengarnya?</p>
<p>Penyebabnyanya adalah kebiasaan. Barangsiapa yang membiasakan lisannya mengucapkan kata-kata yang lembut berat baginya untuk meninggalkannya, begitu pula sebaliknya.</p>
<p>Orang yang terbiasa memanggil istrinya dengan kata &#8220;kekasihku&#8221; sulit baginya memanggil istrinya seperti sebagian orang memanggil istrinya, &#8216;Hei ..hai ..&#8221;. atau &#8220;Kau ..&#8221; dan lain sebagainya.</p>
<p>Barangsiapa yang terbiasa memulai ucapannya kepada anaknya, &#8220;Ananda, Anakku, Putriku&#8221; tidak seperti sebagian lain yang mengatakan, &#8220;Bongak .. jahat ..setan!&#8221; maka ia berat mengucapkan selain itu.</p>
<p>Kenapa kita tidak bisa mengucapkan satu ungkapan cinta saja kepada anak-anak kita, ibu kita, dan keluarga kita? Jika adapun kalimat tersebut keluar dengan malu-malu.</p>
<p>Kenapa lisanmu terkunci di dekat istrimu atau dihadapan ayah dan ibumu, sedangkan dihadapan temanmu, kata-katamu begitu mesra?!</p>
<p>Biasakanlah – misalnya- mengucapkan kepada ibumu, &#8220;Ibu, do&#8217;akan kami. Apakah ibu ingin titip sesuatu agar ananda beli sebelum ananda berangkat?&#8221;</p>
<p>Biasakanlah mengucapkan kepada anakmu kata-kata (sayangku, anakku) dan apabila ia mengambilkan sesuatu untukmu seperti segelas air katakana kepadanya Jazakallah atau ungkapan terima kasih.</p>
<p>Jika putra atau putrimu meminta sesuatu darimu dan engkau sanggup memberikannya serta itu baik untuknya katakanlah kepada mereka dengan tulus, &#8220;Dengan sepenuh hati, ayah akan bawakan untukmu&#8221;.</p>
<p>Cobalah kata-kata dan kalimat yang lembut dan senyuman yang manis, lalu lihatlah hasilnya!</p>
<p>Lihatlah bagaimana Nabi kita shollallahu &#8216;alaihi wa sallama berbicara kepada anak istrinya.</p>
<p>Perhatikanlah kelembutan hatinya, serta keindahan tutur katanya.</p>
<p>Beliaulah sebaik-baik suri teladan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/aku-mencintainya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENDAKWAHI ORANG AWAM …</title>
		<link>http://abuzubair.net/mendakwahi-orang-awam-%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/mendakwahi-orang-awam-%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 04:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah/Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=453</guid>
		<description><![CDATA[MENDAKWAHI ORANG AWAM … PERTANYAAN : Bagaimana cara mendakwahi manusia awam kepada salafiyyah; manhaj salafush sholeh, khususnya mereka terikat dengan sebagian da’i-da’I suu’ dan yang buruk? JAWABAN : Allah telah meletakkan manhaj untuk berdakwah kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman kepada NabiNya, ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ “serulah (manusia) kepada jalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>MENDAKWAHI ORANG AWAM …</strong></p>
<ul>
<li>PERTANYAAN : Bagaimana cara mendakwahi manusia awam kepada salafiyyah; manhaj salafush sholeh, khususnya mereka terikat dengan sebagian da’i-da’I suu’ dan yang buruk?</li>
</ul>
<ul>
<li>JAWABAN : Allah telah meletakkan manhaj untuk berdakwah kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman kepada NabiNya,</li>
</ul>
<p dir="rtl"><strong>ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ</strong><strong></strong></p>
<p>“serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl : 125)</p>
<p>Jadi berdakwah kepada Allah dengan hikmah, dan hikmah adalah ilmu dan bayan (penjelasan) serta hujjah. Maka anda berdakwah dengan ilmu, dengan akhlak yang baik, dan dengan lembut, baik terhadap orang awam atau yang bukan awam. Akan tetapi orang awam  lebih mudah menerima, kadang ia menerima kebenaran darimu tanpa membantah, jika anda perlu membantah mungkin karena padanya ada sedikit dalih, sedikit bergantung kepada yang batil, maka bantahlah ia dengan cara yang paling baik.</p>
<p dir="rtl"><strong>وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ * وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ</strong><strong></strong></p>
<p>“dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar”.(Fush-shilat : 34-35)</p>
<p>Jadi hikmah ini tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan besar”. (Dijawab oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholy hafizhohullah sebagaimana disitus beliau)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/mendakwahi-orang-awam-%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SYARAH KITAB AL-ADABUL MUFROD IMAM AL BUKHORI (2)</title>
		<link>http://abuzubair.net/syarah-kitab-al-adabul-mufrod-imam-al-bukhori-2/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/syarah-kitab-al-adabul-mufrod-imam-al-bukhori-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 03:52:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[IBU]]></category>
		<category><![CDATA[Maafkan Anakmu ...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[SYARAH KITAB AL-ADABUL MUFROD (2) Oleh, Abuz Zubair Hawaary BAB II. [KEWAJIBAN] BERBAKTI KEPADA IBU Setelah sebelumnya Imam Al Bukhari rahimahullah membawakan ayat dan hadits tentang berbakti kepada kedua orangtua secara umum. Beliau lanjutkan dengan membuat bab tentang bakti kepada ibu sebelum bab berbakti kepada ayah. Hal ini sesuai tuntunan Al Qur’an dan hadits yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>SYARAH KITAB AL-ADABUL MUFROD (2)</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Oleh, Abuz Zubair Hawaary</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>BAB II. [KEWAJIBAN] BERBAKTI KEPADA IBU</strong></p>
<p>Setelah sebelumnya Imam Al Bukhari rahimahullah membawakan ayat dan hadits tentang berbakti kepada kedua orangtua secara umum. Beliau lanjutkan dengan membuat bab tentang bakti kepada ibu sebelum bab berbakti kepada ayah.</p>
<p>Hal ini sesuai tuntunan Al Qur’an dan hadits yang mengutamakan ibu atas bapak. Allah Ta’ala menjelaskan kepada kita, bahwa peran ibu lebih  besar dalam hal perjuangan dan kesabarannya di dalam kehidupan ini dibanding  ayah. Oleh karena itu Allah menyebutkan ibu secara khusus, untuk mengingatkan  bahwa hak ibu lebih besar dibanding hak ayah. Hal ini disebabkan ibu yang mengandung janin di dalam perutnya selama Sembilan bulan; dan dialah yang memberinya segala kebutuhannya berupa makanan dan lain-lain dari darah dan dagingnya.</p>
<p><span id="more-445"></span></p>
<p>Janin terbentuk di dalam dan dari padanya. Dia makan dan bernapas untuk janinnya dan dirinya sendiri, dia memberikan kesehatan dan kekuatannya kepada janin, sekalipun dia sendiri sangat lemah. Karena itu Allah Ta’ala berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orangtua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu-bapakmu. Hanya kepadaKulah kembalimu’. (Lukman : 14)</p>
<p>Ibu mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan berlipat ganda. Setelah dilahirkan, bayi tidak terpisah dari ibunya, bahkan setelah itu ia senantiasa membutuhkannya, menetek dan makan dari ibunya. Setelah bersalin, sang ibu terus memberinya sebagian kesehatannya, sebagaimana memberinya makan sebelum itu. Jika demikian bagaimana ibu tidak lebih utama dibanding bapak?</p>
<p>Memang bapak merasa payah karena memperhatikan kepentingan anak-anaknya, tetapi dia tidak merasakan penderitaan seperti yang dirasakan oleh ibu.</p>
<p>Ibu tidak suka derita dan siksaan bersalin, tetapi menerimanya karena cintanya pada anak, oleh sebab itu Allah Yang Maha Bijaksana berfirman, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula)”. (Al Ahqoq : 15)</p>
<p>Ibu mencintai anak, tetapi tidak mencintai penderitaan. Adapun bapak tidak benci kepada pekerjaan, malam di dalamnya Ia mendapatkan kesenangan dan keuntungan. Karena manusia memiliki fitrah cinta kepada keuntungan. Lebih dari itu, ibu memelihara anak, baik yang bersifat badaniah maupun adabiah, dan mempunyai andil dalam mendidiknya. Dialah sekolah pertama bagi anak; dialah yang mengarahkan, mendidik, dan mengajari bersopan santun; dialah yang selalu mengawasinya …<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p><strong>JAZAAKILLAH KHOIROL JAZA’ DUHAI IBUKU …</strong></p>
<p>Ibu ..kata pertama yang kuucapkan ketika mulai belajar berbicara.</p>
<p>Kalimat paling indah yang pernah kulang2 …</p>
<p>Ingin rasanya kutuangkan ungkapan terima kasih dan sebuah pengakuan kepada ibuku.</p>
<p>Sebuah pengakuan dan terima kasih kepada ibuku yang kuyakini telah berjasa kepadaku setelah anugerah dan rahmat Allah Ta’ala.</p>
<p>Apapun yang kukatakan, dan apapun yang  kulakukan, takkan bisa aku membalas jasamu duhai ibuku.</p>
<p>aku takkan melupakan haribaanmu yang penuh kasih sayang</p>
<p>Takkan kulupa malam-malam yang engkau lalui tanpa memejamkan mata sepicingpun.</p>
<p>Dan hari-harimu yang penuh dengan keletihan.</p>
<p>aku tidak lupa ketika kita semua berkumpul mengelilingi hidangan makan di atas tikar pandan, lalu engkau mendahulukan kami dari pada dirimu dengan segala macam makanan dan minuman yang lezat dan enak..bahkan setelah kami mulai tumbuh besar engkaupun masih rela menyuapkan makanan ke mulut kami …</p>
<p>Betapa lelahnya engkau wahai ibu, ketika kami terlambat pulang di malam hari karena bermain, seluruh penghuni rumah telah lelap tinggallah engkau menahan kantuk menanti kepulangan kami.</p>
<p>Dulu, engkau takut dan khawatir ketika kami bermain ditepi sungai..aku ingat, engkau pernah marah ketika aku bermain ditepian sungai lalu memukulku, ketika itu aku belum mengerti kenapa engkau begitu marah. Tatkala aku besar dan dewasa, anakmu ini mengerti. Semua itu engkau lakukan karena engkau mengkhawatirkan keselamatan aku anakmu!!</p>
<p>Aku tidak akan lupa, ketika aku beranjak remaja dan pergi merantau untuk menuntut ilmu engkau ikut bersusah payah bekerja, menumbuk tepung membuat kue dan berjualan mengumpulkan uang dari sana dan sini untuk membantu pendidikan kami anak-anakmu.</p>
<p>Ya Allah .. rahmatilah ibuku</p>
<p>Betapa letihnya diriku ketika pulang liburan kemudian datanglah saat untuk kembali ketempat perantauan ..hatiku serasa terputus-putus ketika engkau berkata kepadaku, “Mungkin ketika engkau nanti kembali lagi engkau tidak melihatku lagi …”.</p>
<p>Alangkah sedih hatiku, setelah bertahun-tahun aku tidak pulang, ketika pertama kali aku berdiri di hadapanmu engkau katakan, “Ini bukan anakku”. Karena kondisi dan penampilanku yang tidak seperti engkau bayangkan …</p>
<p>Tak kuasa diriku menahan air mata  mendengarnya, membuatku tersungkur memeluk kakimu dan ketika tanganmu membelai kepalaku serasa tetesan-tetesan embun memadamkan kesedihan dan mengobati kerinduan hati.</p>
<p>Setelah perjalanan panjang yang kulalui jauh darimu, akupun pulang ..engkau telah beranjak tua dan lemah. Sungguh engkau telah berikan untukku dan saudara-saudaraku tahun-tahun terindah dan paling manis dalam hidupmu.</p>
<p>Berapa sering engkau membela kami. Entah berapa banyak pengorbananmu untuk kami. Engkaulah yang telah menanggung keresahan dan kegundahan kami, engkau selalu berusaha mewujudkan keinginan kami sekalipun kami telah besar.</p>
<p>Dulu dipanggil fulan .. dan hari hari ini orang memanggilku ustadz fulan..semua itu demi Allah tidak lain dan tidak bukan karena anugerah Allah semata kemudian karena jasamu ibu. aku ini demi Allah tidak lain dan tidak bukan adalah satu dari sekian banyak buah kebaikanmu ibu. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan sebaik-baik pahala</p>
<p>Wahai pemilik senyuman yang tulus, wahai pemilik hati yang dermawan dan penuh kasih sayang</p>
<p>Untukmu aduhai bunga yang tak pernah layu</p>
<p>Untukmu wahai mata air yang bening</p>
<p>Untukmu yang telah mengusap air mataku</p>
<p>Untukmu yang telah membasuh kotoranku</p>
<p>Yang telah menyuapkan makan dan minum dengan tangannya kemulutku</p>
<p>Untukmu yang telah menjadikan haribaannya sebagai ketenangan bagiku</p>
<p>Matanya yang selalu mengawasiku</p>
<p>kuhadiahkan untai kata dan rangkai kalimat  ini untukmu dan  semoga Allah membalas segala budi baikmu dengan sebaik-baik balasan.</p>
<p>Ya Allah jagalah ibuku dengan penjagaanMu, panjangkanlah umurnya, perbaikilah amalannya, dan tutuplah usianya dengan amal sholeh dijalanMu.</p>
<p>Ibu .. kalaulah umurmu ditanganku ingin menambahkannya sekalipun aku harus binasa karenanya.</p>
<p>Ibu .. kalau aku kuasa, kan  kuangkat engkau setinggi-tingginya hingga ke langit.</p>
<p>Demi Allah tidak akan ada yang bisa memberikan hakmu dengan sempurna kecuali Allah Ta’ala.</p>
<p>IBU .. TAHUKAH ENGKAU SIAPA ITU IBU?</p>
<p>Dia adalah contoh kasih sayang yang hidup di tengah kita, tidak ada yang memandangnya dengan penghormatan dan penghargaan melainkan orang-orang yang dikasihi Allah. Ibu adalah laksana batu karang kesabaran. Gambaran hidup bagi sifat pema’af dan lapang dada.</p>
<p>Seseorang bercerita, “Sekarang aku baru mengetahui arti ungkapan sebagian orang ‘mendengar bukan seperti menyaksikan’. Aku banyak mendengar ragam ungkapan tentang besarnya keutamaan seorang ibu. Sama seperti yang lainnya, aku mendengar semua itu tapi hanya sebatas lewat ditelinga. Terkadang ungkapan yang indah menggetarkan perasaanku. Kadangkala aku mengangguk-angguk kagum mendengar bait-bait syair yang indah kemudian tidak tampak wujudnya dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Akan tetapi Allah mengingikan kebaikan untukku, ketika aku dapatkan diriku mengikuti fase-fase perkembangan kehamilan istriku selangkah demi selangkah.</p>
<p>Dan ketika ia memasuki bulan yang kesembilan lebih sedikit. Aku bayangkan diriku adalah bayi meringkuk di dalam rahim itu. Aku terus mengikuti dan mengawasi .. aku mulai merasakan sebagian makna-makna tersebut yang sering aku dengar ..tentang keutamaan seorang ibu.</p>
<p>Aku telah melihat  dan melihat sesuatu hal yang luar biasa, membuat kepala menggeleng-geleng, hati tersentuh dan mata menangis. Sejak itu aku benar-benar yakin bahwasanya ibu wanita yang agung ini, manusia tidak akan pernah bisa membalas jasa dan budi baiknya sepanjang masa.</p>
<p>Betapapun indahnya untai kata sebuah puisi dan rangkai kalimat nan lembut sebuah sya’ir</p>
<p>Demi Allah  tidak akan ada yang bisa membalas kebaikannya kecuali Allah semata. Diakhir bulan yang kesembilan itu ..apa yang aku saksikan!! Aku memohon rahmatMu ya Allah ..apakah sanggup seorang manusia menanggung semua kepedihan dan rasa sakit itu??!! Aku melihatnya menanggung semua itu dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Aku melihatnya dan mendengarnya dan ia tidak sadar ketika ia mengerang kesakitan aku merasakan panasnya pedih yang dirasanya berpindah langsung ke dalam hatiku. Aku berusaha berjuang melawan diriku agar mataku tidak mempermalukanku. Kemudian tidak beberapa lama, aku dikejutkan lagi oleh dirinya yang tersenyum melupakan kepedihan dan rasa sakit itu, seraya menunjuk ke perutnya ia berkata, “Aku sangat mencintaimu bayiku, aku rindu untuk melihatmu”. Maha suci Allah yang melimpahkan kesabaran kepadanya untuk menanggung kepedihan yang bersambung dengan ruhnya.</p>
<p>Engkau melihatnya apabila bergerak merasa pedih, apabila duduk merintih, apabila berbaring meringis, apabila berjalan letih, apabila berusaha tidur untuk rehat sejenak tidak sanggup. Dia tidak bisa berbolak-balik di tempat tidurnya seenaknya seperti sebelum ia mengandung bayi itu. Namun begitu ia masih saja sibuk dengan mengatur, membersihkan, merapikan dan mengurus urusan rumah. Serta mengasuh anak-anaknya yang masih kecil; memberi makan, memandikan dan menidurkan mereka. Itu semua dilakukannya sendiri bagaikan mengangkat sebuah gunung.</p>
<p>Dan setelah itu  ia masih berujar kepada kesabaran dengan tersenyum, “hai sabar, ambillah pelajaran dariku. Hai sabar, ambillah pelarajan dariku”.</p>
<p>Cobalah dirimu menjadi seorang ibu. Apakah sanggup seorang laki-laki untuk tinggal bersama seorang bayi usia dua atau tiga tahun sepanjang hari kalau tidak dia akan menyumpah serapah atau memaki dirinya sendiri karena kesal atau menyesal.</p>
<p>Demi Allah, hanya seorang ibu saja yang sanggup menanggung itu dengan ridho, rela dan senyuman.</p>
<p>Alangkah indahnya pemandangan ketika seorang ibu duduk dan di sekelilingnya duduk pula anak-anaknya yang masih kecil, tak obahnya anak-anak burung yang membuka paruhnya supaya ibunya menyuapkan makanan …</p>
<p>Sang ibu membujuk ini untuk makan, bercanda dengan yang lainnya sambil menyuapkannya, dan memberi minum anaknya yang lain setelah berulangkali merayunya. Serta tertawa dengan yang paling kecil agar mau menyantap makanannya.</p>
<p>Semua itu ia lakukan  sambil duduk ditengah-tengah mereka dengan posisi yang tidak mengenakkan, hampir-hampir saja seluruh persendiannya menjerit, mengaduh menahan sakit. Namun begitu ia tetap tersenyum dan memberi semangat anak-anaknya agar mau makan.</p>
<p>Kemudian tiba-tiba ia menjerit pelan, ia baru saja menerima tendangan bayi di dalam perutnya maka ia segera memperbaiki posisi duduknya, setelah itu ia kembal itersenyyum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.</p>
<p>Lantas, janinnya kembali memberikan pukulan dan tendangan lagi seolah-olah ia berkata kepada ibunya, “Aku disini ibu”.</p>
<p>Sang ibu gembira dengan pukulan dan tendangan janinnya, sedangkan janinnya tidak membiarkannya beristirahat barang sejenak. Apabila tidak terasa gerakan janinnya ia takut dan cemas, apabila bergerak ia gembira dan senang.</p>
<p>Subhanallah, beragam rasa sakit dan derita yang saya kira kalau ditimpakan kepada seorang laki-laki berotot barangkali ia akan menjerit sampai terdengar oleh tetangga-tetanggannya.</p>
<p>Adapun dia, tetap  sabar mengharapkan ridho Allah, bahkan tersenyum dan tertawa.</p>
<p>Semoga rahmat Allah untuknya, ramat Allah atasnya dan rahmat Allah bersamanya.</p>
<p>Apakah engkau mengira sakit dan pedih itu berakhir sampai disitu saja?!</p>
<p>Alangkah mulianya engkau ibu …</p>
<p>Apabila telah lewat usia kandungan Sembilan bulan, dan telah dekat saat keluarnya janin ke dunia, datanglah musibah itu. Si janin tidak ingin tinggal lagi dirahim ibunya, tapi dia tidak juga keluar dengan sukarela ke dunia fana ini. Ketika itulah rasa sakit yang tidak tertahankan, derita yang tidak ringan. Kemudian sering pula janin tidak keluar kecuali dengan paksaan, sehingga kadang daging harus disayat, perut dibelah atau divakum .. kemudian rasa sakit kian bertambah ketika janin mulai keluar ..darah berpacu dengan janin dan kematian  serasa di ambang mata, terkadang kematian yang lebih dahulu dan si ibupun mati sementara janinnya yang hidup. Apabila sang ibu dikaruniahi usia yang panjang ia sadar setelah menghadapi kondisi yang berat ini, lalu apabila ia melihat bayinya terbaring disisinya, ia pun tersenyum .. hilang rasa sakit, lupa derita yang baru saja dilaluinya.</p>
<p>Ya Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, alangkah menakjubkannya kasih sayang seorang ibu dan kerinduan kepada bayinya. Ia berjuang menghadapi rasa sakit dan kematian kemudian ia berangan-angan rela mati untuk kehidupan bayinya.</p>
<p>Ibu …</p>
<p>Kalaulah bintang gemintang memancarkan sinarnya menerangimu</p>
<p>Kalaulah semua burung-burung bernyanyi menyenandungkan namamu</p>
<p>Kalaulah angin lembut bertiup menaburkan butiran embun nan bening dan wangi dipangkuanmu</p>
<p>Semua itu tidak cukup untuk membalas jasamu ibu.</p>
<p dir="rtl"><strong>عن أنس قال : ارتقى النبي على المنبر درجة فقال آمين</strong><strong> ..</strong><strong>ثم ارتقى الثانية فقال آمين</strong><strong> ..</strong><strong>ثم ارتقى الثالثة فقال آمين</strong><strong> ..<br />
</strong><strong>ثم استوى فجلس فقال أصحابه : علامَ أمنت يا رسول الله ؟</strong><strong>!..</strong><strong>فقال</strong><strong> : (( </strong><strong>أتاني جبريل فقال</strong><strong> : </strong><strong>رغم أنف امرئ ذُكرت عنده فلم يصلِ عليك ، فقلت : آمين </strong><strong> </strong><strong>ثم قال : ورغم أنف امرئ أدرك أبويه ولم يدخل الجنة&#8230;&#8221; </strong></p>
<p>Dari Anas rodhiyallahu ‘anhu ia menuturkan, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama naik ke tangga pertama mimbar maka belia mengucapkan amin, kemudian naik ke anak tangga ke dua seraya lalu mengucapkan amin, kemudian naik ke anak tangga yang ketiga lalu mengucapkan amin. Kemudian duduk di atas mimbar. Maka sahabat-sahabatnya berkata, “Apa yang engkau aminkan hai Rasulullah? Beliau berkata, “Jibril mendatangiku, lalu ia berkata, ‘Celaka orang yang disebutkan namamu dihadapnnya lalu ia tidak bersholawat atasmu, maka aku mengucapkan amin. Kemudian ia berkata, ‘Celaka orang yang mendapatkan kedua orangtuanya dan ia tidak masuk surga …”. (Shohih dengan syawahidnya, Fadhlush Sholah ‘alan Nabi tahqiq Syaikh Al Albany, hal; 30).</p>
<p>Ibu …</p>
<p>karena kemuliaanmu kening tertunduk hina di depanmu</p>
<p>namamu semerbak mewangi, haribaanmu menghangati jiwaku</p>
<p>Allah yang  Maha Tinggi lagi Mulia menjagamu.</p>
<p>Kepadamu ibuku, aku rindu</p>
<p>Ridhomu atasku bagai hembusan angin nan sejuk menghapus dukaku</p>
<p>Kasihmu duhai ibu, penawar luka-lukaku</p>
<p>Peliru lara sepanjang umurku dan tempat bernaungku</p>
<p>Dan setelah kepada Allah, kepadamulah aku mengadu</p>
<p>Kala problema merundungku</p>
<p>Dengan do&#8217;amu duhai ibu sirna segala kesusahanku</p>
<p>Do&#8217;amu laksana jalan bagi hatiku</p>
<p>Wahai ibuku, engkaulah yang membuat indah hidupku</p>
<p>Bunga-bunga nan indah mekar dan mata air yang tak pernah berhenti mengaliriku</p>
<p>Tak dapat kuhitung malam-malam yang kau lalui tanpa memejamkan matamu</p>
<p>Dan hatimu bersedih ketika aku pergi meninggalkanmu</p>
<p>Teruslah ibu menjadi pelita yang bagiku.</p>
<p>Agar aku bisa berbakti kepadamu.</p>
<p>Mari kita mulai mempelajari hadits dalam bab ini<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3. HADITS KETIGA : </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>عن بهر بن حكيم عن أبيه عن جده قلت : يا رسول الله من أبر قال أمك قلت من أبر قال أمك قلت من أبر قال أمك قلت من أبر قال أباك ثم الأقرب فالأقرب </strong><strong> </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>قال الشيخ الألباني : حسن</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya, aku berkata, “Hai Rasulullah, siapa yang lebih berhak untuk saya berbakti kepadanya. Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, “Ibumu”. Aku berkata lagi : setelah itu siapa lagi? Beliau menjawab : ibumu. Aku berkata : siapa lagi? Beliau menjawab : ibumu. Aku berkata : kemudian siapa lagi? Beliau menjawab : ayahmu, kemudian yang paling dekat lalu yang paling dekat”.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>SYARAH HADITS:</p>
<p>Hadits yang mulia ini menunjukkan besarnya hak seorang ibu atas anaknya, yang mana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjadikan baginya tiga hak :</p>
<p>Pertama : karena seorang ibu bersabar atas kesusahan dan kelelahan.</p>
<p>Kedua : merasakan kesusahan dalam mengandung, melahirkan, menyusui, mengayomi.</p>
<p>Ketiga : memberikan didikan secara khusus yang tidak dilakukan oleh seorang ayah.</p>
<p>Lalu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menjadikan untuk ayah satu hak saja sebagai balasan bagi nafkah, didikan, dan pengajarannya, serta apa yang berkaitan dengan itu.</p>
<p>Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berbuat baik kepada kerabat. Dan ibu yang paling berhak mendapatkan perilaku baik itu, lalu ayah, menyusul kerabat yang paling dekat, lalu yang paling dekat. Para ulama berkata, sebab didahulukannya ibu adalah karena ibu bersusah payah, lebih besar kasih sayang dan pelayanannya. Ibu menanggung berbagai kesulitan saat mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik, melayani, mengobati anak ketika sakit dan lain sebagainya.</p>
<p>Al Haris Al Muhasiby menukilkan ijma’ ulama bahwa ibu lebih berhak mendapatkan perlakuan baik dari pada ayah. Dan Al Qodhi ‘Iyadh menuturkan, ada perbedaan pandangan ulama dalam masalah itu. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat ibu lebih diutamakan ..(kemudian lanjut beliau) dan yang benar adalah pendapat pertama (jumhur) karena hadits-hadits ini sangat tegas menunjukkan kepada makna tersebut”.<a href="#_ftn3">[3]</a> Wallahu A’lam.</p>
<p>PELAJARAN HADITS :</p>
<ol>
<li>Kewajiban      berbakti/berbuat baik kepada kedua orangtua dan haramnya kedurhakaan      kepada keduanya.</li>
<li>Ridho      dan hak ibu didahulukan dari ridho dan hak ayah.</li>
<li>Anjuran      berbuat baik kepada karib-kerabat sesuai urutan yang terdekat dengan kita.      Terkadang seseorang bingung ketika hendak berbuat kebaikan kepada karib      kerabatnya, siapa yang harus didahulukan. Maka hadits ini adalah      jawabannya, yaitu didahulukan yang paling dekat hubungannya</li>
</ol>
<p><strong>4. HADITS KEEMPAT :</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>عن بن عباس : أنه أتاه رجل فقال أنى خطبت امرأة فأبت أن تنكحني وخطبها غيرى فأحبت أن تنكحه فغرت عليها فقتلتها فهل لي من توبة قال أمك حية قال لا قال تب إلى الله عز و جل وتقرب إليه ما استطعت فذهبت فسألت بن عباس لم سألته عن حياة أمه فقال أنى لا أعلم عملا أقرب إلى الله عز و جل من بر الوالدة </strong></p>
<p dir="rtl"><strong>قال الشيخ الألباني : صحيح</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata : bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata : apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab : tidak. Ibnu Abbas berkata : bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata : maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata :  aku tidak mengetahui amalan yang paling dekat kepada Allah ‘Azza wa Jalla selain dari  berbakti kepada ibu”.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>SYARAH HADITS :</p>
<p>Berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah Ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasu dosa yang dibenci Allah.</p>
<p>Pernah seseorang mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama lalu ia berkata,</p>
<p dir="rtl"><strong>يا رسول الله أذنبت ذنبا عظيما ذنبا عظيما  ؟ قال هل لك من أم ؟ قال لا . قال وهل لك من خالة ؟ . قال نعم . قال برها</strong><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p>“Hai Rasulullah sesungguhnya aku telah melakukan dosa yang besar apakah aku bisa bertaubat?” Maka beliau menjawab, “Apakah engkau punya dua orangtua”ia menjawab, “Tidak” Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bertanya lagi, “Apakah kamu punya Khoolah (bibi dari jalur ibu)?” Ia berkata, “Ya”. Nabi bersabda, “Maka berbuat baiklah kepadanya”.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Di dalam surat Al Furqon Allah Ta’ala menyebutkan tiga dosa paling besar yaitu; syirik, membunuh dan zina, kemudian Allah sebutkan azab bagi pelakunya yaitu; kehinaan dan azab yang berlipat ganda di akhirat.</p>
<p>Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Kesimpulannya, berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa dan jalan untuk masuk surga.</p>
<p>PELAJARAN HADITS :</p>
<ol>
<li>Bolehnya      laki-laki meminang wanita yang hendak dinikahinya.</li>
<li>Wanita      yang dipinang boleh menolak jika ia tidak suka atau ridho kepada laki-laki      yang meminangnya.</li>
<li>Pelaku      dosa besar seperti pembunuh, dinasehati agar bertaubat dan mendekatkan      diri kepada Allah sekuat kemampuannya.</li>
<li>Dalam      riwayat ini pelaku pembunuhan mengaku kepada Ibnu Abbas bahwa ia telah      membunuh. Lantas kenapa Ibnu Abbas tidak menegakkan hukum had atasnya? Jawabannya      : karena hukum had adalah kewajiban pemerintah untuk menegakkannya.</li>
<li>Bakti      kepada ibu mendekatkan pelaku maksiat kepada Allah Ta’ala melebihi keta’atan      lain.<a href="#_ftn7">[7]</a> (Wallahu A’lam bish Showaab)</li>
</ol>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lebih luas tentang bakti kepada ibu silahkan membaca : Wahai Ibu Ma’afkan Anakmu, oleh Abuz Zubair Hawaary, cet. Daarul Falah Jakarta.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Dikeluarkan oleh Ahmad di Al Musnad (2/5), Abu Dawud di Al Adab Bab Birrul Waalidain (5139), At Tirmidzi di Al Birr wash Shilah Bab. Ma Ja-a fi Birril Waalidain (7981), dinyatakan hasan oleh Al Albany, lihat Al Irwa’ (837, 2170).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Syarah Shohih Muslim (16/102).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshohihkannya, lihat As Shohihah (2799).</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shohihnya (2/177), Al Hakim dan Ibnu Hibban berkata, “Hadits ini shohih menurut syarat Syaikhoini, namun keduanya tidaki mengeluarkannya”. (4/171, no. 7261) Imam Ahmad di Al  Musnad (2/13).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Al Furqon : 70.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Idho-aat min Rosy-syil Barad oleh Suhail Umar Abdullah Suhail Asy Syariif dan Silsilah Al-Adabul Mufrod oleh Hani Hilmy.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/syarah-kitab-al-adabul-mufrod-imam-al-bukhori-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhlak Ahli Ilmu</title>
		<link>http://abuzubair.net/akhlak-ahli-ilmu/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/akhlak-ahli-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 05:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Jadilah Seperti Mereka ...]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[AKHLAK AHLI ILMU Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Apabila engkau mendapatkan seorang ahli ilmu yang mencari dalil, berhukum kepadanya  dan mengikuti kebenaran kapanpun di manapun dari dari siapapun datangnya. Hilanglah kebencian dan tumbuhlah kasih sayang, orang seperti ini jika menyelisihimu sesungguhnya ia menyelisihimu dan memaklumimu. Sedangkan seorang yang jahil lagi zalim menyelisihimu dengan tanpa hujjah, ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="rtl">AKHLAK AHLI ILMU</p>
<p dir="rtl">
<p dir="rtl">Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Apabila engkau mendapatkan seorang ahli ilmu yang mencari dalil, berhukum kepadanya  dan mengikuti kebenaran kapanpun di manapun dari dari siapapun datangnya. Hilanglah kebencian dan tumbuhlah kasih sayang, orang seperti ini jika menyelisihimu sesungguhnya ia menyelisihimu dan memaklumimu. Sedangkan seorang yang jahil lagi zalim menyelisihimu dengan tanpa hujjah, ia mengkafirkanmu atau membid’ahkanmu dengan tanpa hujjah, kesalahanmu baginya adalah karena engkau tidak suka jalannya yang buruk dan perilakunya yang tercela. Maka janganlah engkau terpedaya dengan banyaknya orang seperti ini,  sesungguhnya ribuan orang seperti mereka tidak akan sebanding  dengan seorang saja dari ahli ilmu, sedangkan seorang ahli ilmu mengalahkan sepenuh bumi orang seperti mereka”.</p>
<p dir="rtl">(Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, kitab I’laamul Muwaqqo’iin : 3/396)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/akhlak-ahli-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Nasehat  dari Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah</title>
		<link>http://abuzubair.net/mutiara-nasehat-dari-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullah/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/mutiara-nasehat-dari-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 04:36:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah/Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata emas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اما بعد يقول الشيخ ابن العثيمين رحمة الله تعالي في شرح حديث &#8220;إنما الأعمال بالنيات &#8221; الفائدة السادسة Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta&#8217;ala berkata dalam syarah hadits &#8220;Innamal A&#8217;maalu bin niyaat&#8221; pada faedah yang ke enam : “Barangkali suatu negeri mengalami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" dir="rtl"><strong>بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله</strong><strong><br />
</strong><strong>السلام عليكم ورحمة الله وبركاته</strong><strong><br />
</strong><strong>اما بعد</strong><strong><br />
</strong><strong>يقول الشيخ ابن العثيمين رحمة الله تعالي في شرح حديث &#8220;إنما الأعمال بالنيات &#8221; الفائدة السادسة</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: center;">Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta&#8217;ala berkata dalam syarah hadits &#8220;Innamal A&#8217;maalu bin niyaat&#8221; pada faedah yang ke enam :</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong>“</strong>Barangkali suatu negeri mengalami kemerosotan disebabkan sedikitnya ahul ishlah (orang-orang yang mengadakan ishlah – perbaikan) dan banyaknya orang-orang yang rusak serta fasik. Akan tetapi apabila ia (orang yang baik) tetap tinggal di sana dan berdakwah kepada Allah sesuai kemampuannya, maka ia dapat memperbaiki orang lain dan orang lain itu akan memperbaiki yang lain pula, sehingga terbentuklah orang-orang yang baik, di mana mereka akan membawa kebaikan bagi negeri tersebut. Dan apabila mayoritas manusia menjadi baik, galibnya orang-orang yang memegang tampuk kekuasaan juga akan ikut menjadi baik, sekalipun melalui tekanan-tekanan.</p>
<p>Akan tetapi yang merusak ini – sangat disayangkan – adalah orang-orang yang sholeh (baik)  sendiri. engkau dapatkan mereka berkelompok-kelompok, berpecah-belah, kalimat mereka saring berselisih hanya karena khilaf (perbedaan dalam satu permasalahan agama yang dibolehkan perbedaan padanya).</p>
<p>Inilah realitanya, khususnya di negeri-negeri yang islam belum berdiri kokoh di sana. Terkadang mereka saling memusuhi, membenci karena masalah mengangkat kedua tangan dalam sholat. Dan aku ceritakan di sini kisah yang aku alami sendiri di Mina. Suatu hari datang kepadaku kepala lembaga dari dua kelompok di Afrika, salah satu kelompok mengkafirkan kelompok lainnya. Kenapa?? Salah satunya berkata, “Yang sunnah ketika berdiri dalam sholat seseorang hendaklah meletakkan dua tangannya di atas dada”. Kelompok satu lagi mengatakan bahwa sunnahnya adalah meluruskan tangan dan tidak melipatnya di atas dada.</p>
<p>Ini adalah masalah far’iyyah yang mudah, bukan termasuk masalah ushul dan furu’. Mereka mengatakan, “Tidak, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama mengatakan (Barangsiapa yang tidak suka sunnahku tidak termasuk golonganku). Maka orang ini kafir, karena  Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama berlepas diri darinya”.</p>
<p>Maka berdasarkan pemahaman yang rusak ini, salah satu kelompok mengkafirkan kelompok lainnya.</p>
<p>Yang penting; bahwsanya sebagian ahlul ishlah di beberapa negeri yang belum kokoh keislaman di negeri tersebut saling membid’ahkan dan memfasikkan sesama mereka.</p>
<p>Kalaulah mereka bersepakat lalu apabila berselisih pendapat, dada mereka lapang menerimanya selama perselisihan itu dalam perkara yang dibolehkan berbeda pendapat dan mereka menjadi seperti satu tangan, niscaya umat ini akan baik. Akan tetapi apabila umat melihat orang-orang yang berdakwah dan istiqomah di antara mereka ada kedengkian dan perselisihan  dalam masalah-masalah agama ini, maka umat akan berpaling dari mereka dan dari kebaikan serta petunjuk yang ada pada mereka, bahkan mungkin saja akan terjadi kontak fisik dan inilah yang terjadi wal ‘iyadz billah.</p>
<p><span style="color: #ff0000;">Engkau dapatkan seorang pemuda yang mulai menempuh jalan istiqomah karena kebaikan dan petunjuk yang ada dalam agama, dadanya mulai merasakan ketentraman serta hatinya mendapatkan ketenangan, kemudian ia melihat perselisihan, kebencian dan kedengkian di antara  orang-orang yang istiqomah lantas akhirnya ia meninggalkan ke-istiqomahan karena ia tidak mendapatkan apa yang dicarinya.</span></p>
<p>Wal hasil, hijrah dari negeri kafir bukanlah seperti hijrah dari negeri fasik. Kita katakana kepada seseorang itu, “Bersabarlah, dan harapkan pahala dari Allah, khususnya jika engkau adalah seorang da’I yang mengajak kepada perbaikan”. Bahkan bisa jadi dikatakan kepadanya : hijrah bagimu hukumnya haram.</p>
<p>(diterjemahkan dari kitab Syarah Al Arba’in An Nawawiyyah halaman : 23-24 oleh Syaikh Al ‘Allaamah Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/mutiara-nasehat-dari-syaikh-ibnu-utsaimin-rahimahullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEIKHLASAN SEORANG ULAMA</title>
		<link>http://abuzubair.net/keikhlasan-seorang-ulama/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/keikhlasan-seorang-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 08:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Di Atas Jalan Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Jadilah Seperti Mereka ...]]></category>
		<category><![CDATA[Roqoiq dan Tazkiyatun Nufus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[KEIKHLASAN SEORANG ULAMA Ar-Robi’ bin Sulaiman  berkata, “Aku mendengar Asy Syafi’I berkata, “Aku ingin bahwasanya manusia mempelajari ilmu ini dan tidak dinisbatkan kepadaku sedikitpun darinya”. Ar Robi’ juga menuturkan, “Aku masuk menemui Asy-Syafi’I ketika ia sakit, lantas ia menanyakan keadaan sahabat-sahabat kami, lalu ia berkata, ‘Hai anakku, sungguh aku sangat ingin, bahwasanya manusia semuanya mempelajari  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KEIKHLASAN SEORANG ULAMA</p>
<p>Ar-Robi’ bin Sulaiman  berkata, “Aku mendengar Asy Syafi’I berkata, “Aku ingin bahwasanya manusia mempelajari ilmu ini dan tidak dinisbatkan kepadaku sedikitpun darinya”.</p>
<p>Ar Robi’ juga menuturkan, “Aku masuk menemui Asy-Syafi’I ketika ia sakit, lantas ia menanyakan keadaan sahabat-sahabat kami, lalu ia berkata, ‘Hai anakku, sungguh aku sangat ingin, bahwasanya manusia semuanya mempelajari  &#8211; maksudnya kitab-kitabnya – dan tidak dinisbatkan kepadaku sedikitpun darinya”.</p>
<p>Dari Harmalah ia berkata, “Aku mendengar Asy Syafi’I berkata, “Aku ingin bahwasanya setiap ilmu yang kuajarkan kepada kepada manusia aku diberi pahala atasnya dan mereka tidak memujiku”. (Hilyatul Awliya’ oleh Abu Nu’aim : 9/118)</p>
<p>Semoga Allah merahmatimu wahai Imam Asy Syafi’I …</p>
<p>Perjuangannya untuk membela dan menyebarkan sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama sehingga ia digelari Naashirus Sunnah (pembela sunnah).</p>
<p>Perjuangannya membukukan sendi-sendi ilmu ushul fiqh untuk pertama kali dalam sejarah .. sehingga terbukalah kunci-kunci ilmu fiqh bagi orang-orang sesudahnya.</p>
<p>Namun ia tidak ingin orang memujinya, tidak ingin manusia menyebut-nyebut jasanya sedikitpun ..</p>
<p>Demikianlah ketulusan para ulama, jauh dari keinginan tenar dan tersohor, jauh dari ‘ujub dan sum’ah.</p>
<p>Adapun penuntut ilmu hari ini ..</p>
<p>Tidak sedikit yang bangga hanya karena menulis satu, dua atau beberapa artikel yang itupun isinya mencomot (copi paste) dari sana dan sini.</p>
<p>Bangga karena gelar kesarjanaan yang telah diraih …</p>
<p>Semoga Allah Ta’ala melimpahkan kepada kita keikhlasan dalam beramal, dan menjauhkan kita dari penyakit riya’, ‘ujub dan hubbusy syuhroh (cinta ketenaran) , amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/keikhlasan-seorang-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KESABARAN SEORANG ULAMA</title>
		<link>http://abuzubair.net/kesabaran-seorang-ulama/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/kesabaran-seorang-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 07:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Jadilah Seperti Mereka ...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[KESABARAN SEORANG ULAMA Al Mubaarok bin Al Mubaarok Adh Dhoriir seorang ulama ahli nahwu yang digelari Al Wajiih. Beliau dikenal seorang yang elok akhlak dan perilakunya, lapang dada, penyabar dan tidak pemarah. Sehingga ada sebagian orang-orang jahil yang berniat mengujinya dengan memancing kemarahannya. Maka datanglah orang ini menemui Al Wajiih, kemudian bertanya kepadanya tentang satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>KESABARAN SEORANG ULAMA<br />
</strong></em></p>
<p>Al Mubaarok bin Al Mubaarok Adh Dhoriir seorang ulama ahli nahwu yang digelari Al Wajiih. Beliau dikenal seorang yang elok akhlak dan perilakunya, lapang dada, penyabar dan tidak pemarah. Sehingga ada sebagian orang-orang jahil yang berniat mengujinya dengan memancing kemarahannya.</p>
<p>Maka datanglah orang ini menemui Al Wajiih, kemudian bertanya kepadanya tentang satu masalah dalam ilmu nahwu. Syaikh Al Wajiih menjawab dengan sebaik-baik jawaban dan menunjukan kepadanya jalan yang benar.</p>
<p>Lantas orang itu berkata kepadanya, “Engkau salah’.</p>
<p>Syaikh kembali mengulangi jawabannya dengan bahasa yang lebih halus dan mudah dicerna dari jawaban pertama, serta ia jelaskan hakekatnya.</p>
<p>Orang itu kembali berkata, “Engkau salah hai syaikh, aneh orang-orang yang menganggapmu menguasai ilmu nahwu dan engkau adalah rujukan dalam berbagai ilmu, padahal hanya sebatas ini saja ilmumu!”.</p>
<p>Syaikh berkata dengan lembut kepada orang itu, “Ananda, mungkin engkau belum paham jawabannya, jika engkau mau aku ulangi lagi jawabannya dengan yang lebih jelas lagi dari pada sebelumnya”.</p>
<p>Orang itu menjawab, “Engkau bohong! Aku paham apa yang engkau katakan akan tetapi karena kebodohanmu engkau mengira aku tidak paham”.</p>
<p>Maka syaikh Al Wajiih berkata  seraya tertawa, “Aku mengerti maksudmu, dan aku sudah tahu tujuanmu. Menurutku engkau telah kalah. Engkau bukanlah orang yang bisa membuatku marah selama-lamanya.</p>
<p>Ananda, konon ada seekor burung duduk di atas punggung gajah, ketika dia hendak terbang ia berkata kepada gajah, “Berpeganglah kepadaku, aku akan terbang!”.  Gajah berkata kepadanya, “Demi Allah hai burung, aku tidak merasakanmu ketika bertengger di punggungku, bagamaimana aku berpegang kepadamu saat engkau terbang!”.</p>
<p>Demi Allah hai anakku! Engkau tidak pandai bertanya tidak pula paham jawaban, bagaimana aku akan marah kepadamu?!”.</p>
<p>(Mu’jamul Udaba’ : 5/44).</p>
<p>Menjadi guru, juga seorang da’I memang harus banyak belajar bersabar, lapang dada dan berakhlak mulia .. semoga Allah Ta’ala memudahkan hal itu untuk kita, aamiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/kesabaran-seorang-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarah Kitab Adabul Mufrod</title>
		<link>http://abuzubair.net/syarah-kitab-adabul-mufrod/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/syarah-kitab-adabul-mufrod/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 07:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Maafkan Anakmu ...]]></category>
		<category><![CDATA[Syarah Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[BAB : KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANGTUA FIRMAN ALLAH TA’ALA, ووصينا الإنسان بوالديه حسنا “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya”. Imam Bukhari memulai kitabnya ini dengan adab dan kewajiban berbakti kepada kedua kedua orangtua, karena adab dan kewajiban berbakti kepada orangtua adalah yang terdepan setelah adab kepada Allah Ta’ala dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAB : KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANGTUA</p>
<p>FIRMAN ALLAH TA’ALA,</p>
<p><strong>ووصينا الإنسان بوالديه حسنا</strong></p>
<p>“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya”.</p>
<p>Imam Bukhari memulai kitabnya ini dengan adab dan kewajiban berbakti kepada kedua kedua orangtua, karena adab dan kewajiban berbakti kepada orangtua adalah yang terdepan setelah adab kepada Allah Ta’ala dan kepada  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama<a href="#_ftn1">[1]</a>. Oleh karena itu penekanan masalah ini banyak kita dapatkan di dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. Bahkan di dalam Al Qur’an perintah berbakti kepada orangtua adalah setelah perintah mentauhidkanNya sebagaimana firman Allah Ta’ala yang dibawakan oleh Imam Bukhari sebagai judul bab pertama kitabnya ini.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong> ووصينا الإنسان بوالديه حسنا وإن جاهداك لتشرك بي ماليس لك به علم فلا تطعهما إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون</strong><strong> </strong></p>
<p>“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hambaNya berbuat baik kepada kedua orangtua setelah mendorong mereka untuk berpegang teguh dengan men-tauhid-kanNya. Sesungguhnya kedua orangtua adalah sebab adanya manusia dan kebaikan keduanya kepadanya tidak terhitung; ayah dengan nafkah yang diberikannya dan ibu dengan kasih sayang yang dilimpahkannya”.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا  وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</strong></p>
<p>“Dan Robbmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan &#8220;ah&#8221; dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: &#8220;Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil&#8221;<a href="#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>Lihatlah di ayat yang mulia ini, betapa Allah Ta’ala menegaskan kewajiban menjaga akhlak terhadap kedua orangtua yang merupakan diantara bentuk bakti kepada keduanya. apalagi kalau orangtua telah menginjak usia senja, kedua orangtua atau salah satunya membutuhkan perhatian, kasih dan sayang sebagaimana dahulu anak membutuhkan hal tersebut  dari orangtuanya ketika dia kecil.</p>
<p>Kadang terjadi perselisihan antara orang tua dan anak. Atau perdebatan atau anak menyanggah dan membantah perkataan orangtua. Di sini sang anak wajib menjaga adab dan tatakrama kepada orangtua. Jangan berkata kasar, mengucapkan ah saja dilarang oleh Allah apalagi yang lebih dari itu. Ini menunjukkan besar dan tingginya kedudukan serta hak orangtua  atas anaknya.</p>
<p>Namun begitu, juga perlu diingat bahwa sekalipun Allah Ta’ala memerintahkan anak berbuat baik kepada kedua orangtua karena budi baik dan kasih sayang mereka selama ini. Jika orangtua mengajak atau memerintahkan maksiat atau sesuatu yang bertentangan dengan agama Allah, maka anak tidak wajib mena’ati perintah atau ajakannya itu. oleh karena itu Allah tegaskan di dalam firmanNya di surat Al Ankabut di atas, (yang artinya) “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.</p>
<p>Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Maknanya; jika keduanya memaksamu untuk mengikuti agama keduanya apabila keduanya musyrik maka janganlah kamu mena’ati keduanya dalam hal itu. sesungguhnya dihari kiamat kepadaKulah kamu dikembalikan, maka Aku membalas kebaikanmu kepada keduanya dan kesabaranmu di atas agamamu dan Aku akan mengumpulkanmu bersama orang-orang yang sholeh bukan bersama kedua orangtuamu sekalipun engkau adalah orang yang paling dekat dengan keduanya di dunia, sesungguhnya seseorang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintainya, maksudnya cinta yang sejalan dengan agama”.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Mari kita mulai mengkaji hadits pertama dalam bab ini.</p>
<ol>
<li>HADITS PERTAMA : AMAL YANG PALING DICINTAI ALLAH ‘AZZA WA JALLA</li>
</ol>
<p><strong>عَنْ أَبِي عَمْرو الشَّيْباَنِي يَقُوْلُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلىَ داَرِ عَبْدِ الله قاَلَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَي قَالَ ثُمَّ بِرُّ اْلوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيْ قَالَ ثُمَّ اْلجِهَاد فِي سَبِيْلِ الله قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اْستَزَدْتُهُ لَزَادَنِى </strong></p>
<p>Dari Abu Amru Asy-Syaibaany ia menuturkan, “Pemilik rumah ini menyampaikan kepada kami – ia menunjuk kea rah rumah Abdullah, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama, amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla? Beliau menjawab, ‘Sholat pada waktunya’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Ia berkata, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orangtua’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Beliau menjawab, ‘Kemudian Jihad di jalan Allah. Dan kalau aku meminta tambahan lagi niscaya beliau menambahkannya”.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Syarah hadits :</p>
<p>Hadits yang mulia ini menunjukkan apa yang telah dijelaskan di atas yaitu fadhilah dan kewajiban bakti kepada orangtua. Dimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama menjadikannya  sebagai amalan yang  paling afdhol setelah  sholat.</p>
<p>Kalau sholat adalah ibadah agung yang berkaitan dengan hubungan hamba dengan Sang Penciptanya, maka bakti kepada kedua orangtua adalah ibadah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan orang yang paling berjasa kepadanya yaitu kedua orangtua. Sholat adalah hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh hamba. Dan bakti kepada orangtua adalah hak kedua orangtua yang wajib ditunaikan oleh anak. Seperti di dalam dua ayat di atas, Allah Ta’ala menyebutkan perintah bakti kepada kedua orangtua setelah perintah mentauhidkanNya.</p>
<p>Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Berbakti kepada keduanya adalah (dengan) berbuat baik kepada keduanya, mengerjakan yang bagus dan menyenangkan keduanya. termasuk di dalamnya berbuat baik kepada teman keduanya”.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Syaikh  Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “(Berbakti kepada keduanya) adalah berbuat baik kepada keduanya dengan perkataan, perbuatan dan harta sesuai dengan kemampuan”.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Banyak sekali hadits-hadits yang berisikan perintah berbakti kepada ke dua orangtua atau salah satunya. Insya Allah hadits tersebut akan kita kaji satu persatu, di bab-bab selanjutnya.</p>
<p>Kesimpulan hadits :</p>
<p>a)      Hadits ini adalah dalil bahwasanya sholat adalah ibadah badaniyah yang paling afdhol setelah syahadatain.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>b)      Hadits ini juga mendorong  untuk mengerjakan sholat pada waktunya. Imam An Nawawi menyebutkan, “Mungkin disimpulkan darinya; disukainya mengerjakan di awal waktu, karena itu lebih berhati-hati dalam menjaganya dan menyegerakannya”<a href="#_ftn10">[10]</a>. bahkan bagi yang kaum pria yang diwajibkan menghadiri sholat berjama’ah di masjid memang harus mengerjakannya diawal waktu. Karena sholat berjama’ah di masjid dilakukan di awal waktu.</p>
<p>c)       Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua”.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p>d)      Hadits ini menyebutkan beberapa amalan yang dicintai Allah Ta’ala, ini menandakan bahwa mengerjakan perintah Allah adalah syarat untuk mendapatkan cinta Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadits qudsi,</p>
<p><strong>وَ ماَ تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَ مَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إَلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ</strong></p>
<p>“Dan tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada apa-apa yang Aku fardhukan atasnya. Dan hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nafilah sehingga Aku mencintaiNya …”<a href="#_ftn12">[12]</a>.</p>
<p>e)      Di dalam hadits ini juga terkandung pengajaran bagi seorang mufti, ahli ilmu dan guru agar bersabar terhadap orang yang bertanya atau muridnya dan berlapang dalam dalam menghadapinya walaupun ia banyak bertanya.</p>
<p>f)       Seorang murid juga hendaknya menimbang dan memperhatikan kondisi dan maslahat gurunya. Ini disimpulkan dari perkataan Ibnu Mas’ud yang tidak ingin menambah (pertanyaan) karena tidak ingin membebaninya dan ia berkata : kalau aku menambahkan lagi beliau pasti menambahkannya.<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>g)      Bentuk-bentuk bakti kepada orangtua :</p>
<p>-          Melakukan kebaikan untuknya, menjaga hubungan dengannya dan bergaul dengannya dengan akhlak yang baik.</p>
<p>-          Tidak seyogyanya anak merasa kesal dan sakit  hati kepada orangtua.</p>
<p>-          Tidak mengeraskan suara atau memotong pembicaraannya, tidak berdebat dengannya, dan tidak berdusta kepadanya. Tidak menganggu istirahatnya dan merendahkan diri di hadapannya serta mendahulukannya dalam berbicara maupun berjalan sebagai penghormatan dan memuliakan kedudukannya yang tinggi.</p>
<p>-          Berterima kasih kepadanya dan mendo’akannya sesuai firman Allah Ta’ala,</p>
<p><strong>وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا</strong></p>
<p>“dan ucapkanlah: &#8220;Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil&#8221;<a href="#_ftn14">[14]</a>.</p>
<p>-          Mendahulukan dan melebihkan bakti kepada ibu, karena jasa dia yang tak terhingga kepada anak, mulai dari mengandung, melahirkan menyusui dan mendidiknya hingga besar.</p>
<p>-          Mendahului dan menyegerakan keinginan dan permintaannya.</p>
<p>-          Merawat dan menjaganya khususnya ketika orangtua telah renta.</p>
<p>-          Member nafkah kepadanya jika ia membutuhkan, Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p><strong>قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِي</strong></p>
<p>“Jawablah: &#8220;Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat”.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p>-          Meminta izin kepada keduanya sebelum safar dan meminta restunya kecuali dalam haji yang fardhu. Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Termasuk berbuat baik dan bakti kepada keduanya, apabila jihad tidak fardhu ‘ain tidak boleh berjihad kecuali dengan izin keduanya”.</p>
<p>-          Mendoakannya setelah ia wafat, menunaikan wasiatnya dan berbuat baik kepada teman-temannya.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<ol>
<li>HADITS KEDUA : JALAN MENUJU RIDHO ALLAH DAN MENJAUH DARI MURKANYA</li>
</ol>
<p><strong>عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَر قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا اْلوَالِدِ وَسخط الرَّبِّ فِي سَخطِ الْوَالِد </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ridho Robb ada pada ridho orangtua dan murka Robb ada pada murka orangtua”.<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Syarah hadits :</p>
<p>Hak orangtua adalah sangat besar, bakti kepada keduanya kewajiban setelah tauhid. Berterima kasih kepada keduanya adalah bagian dari bentuk syukur kepada Allah Ta’ala. Berbuat baik kepada keduanya adalah amal yang sangat dicintai Allah. bahkan ridho keduanya adalah ridho Allah Ta’ala dan murka keduanya adalah murka Allah Ta’ala, karena Allah memerintahkan agar orangtua itu dita’ati, maka barangsiapa yang menjalankan perintah Allah, ia telah berbakti kepada Allah Ta’ala  dan Allah ridho kepadanya, sebaliknya jika tidak menjalankan perintah Allah agar berbakti kepada orangtua berarti ia telah menentang Allah maka Allah pun murka kepadanya.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Keridhoan orangtua adalah lebih berharga dari pada harta benda. Dunia ini fana, cepat atau  lambat pasti sirna. Sedangkan ridho kedua orangtua bermanfaat bagi anak di dunia dan akhirat. Maka seorang anak wajib untuk selalu berusaha membuat orangtuanya ridho dengan perkataan dan perbuatan serta jangan sampai melukai hatinya atau membuatnya murka.</p>
<p>Akan tetapi sebagaimana dijelaskan pada syarah hadits pertama, masalah ini juga dengan syarat selama keridhoan orangtua itu tidak bertentangan dengan apa yang disyari’atkan Allah.<a href="#_ftn19">[19]</a></p>
<p>KESIMPULAN HADITS :</p>
<p>a)      Ridho orangtua adalah kunci kebaikan dan pintu keselamatan di dunia dan akhirat.</p>
<p>b)      Sebaliknya penyebab kesengsaraan dunia dan akhirat adalah durhaka kepada kedua orangtua. (bersambung)</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat Syarah Riyadhush Sholihih oleh Ibnu Utsaimin (1/368).</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Al Ankabut : 8.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Tafsir Ibnu Katsir (6/264).</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Al Isro’ : 23-24.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Tafsir Ibnu Katsir (6/265).</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Diriwayatkan oleh Bukhari di Shohihnya (1/140, 4/17, 8/2), Muslim di Shohihnya (kitab Al Iman bab. 36 no. 139), An Nasa-I di Sunannya (kitab Al Mawaaqiit bab. 49) dan Ahmad di Al Musnad (1/410, 439).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Syarah Shohih Muslim (2/73 bab. Bayaan Kawnul Imaan billah).</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Syarah Riyadhush Sholihin (1/368).</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Dalil Al Falihin (2/</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Syarah Shohih Muslim (2/79).</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Syarah Riyadhush Sholihin Ibnu Utsaimin (1/368).</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> HR. Bukhari dari Abu Huraira(4/231).</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Ibid.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Al Isro : 24.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Al Baqoroh : 215.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Point-point ini diringkas dari : www.kalemat.org</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> HR. Al Bazzar dan At Tirmidzi serta Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru. Dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Adabul Mufrod (1/2).</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Lihat Tuhfatul Ahwazy (6/22), Faidhul Qodhir (4/44).</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> Ibid.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/syarah-kitab-adabul-mufrod/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ILMU  YANG BERMANFAAT</title>
		<link>http://abuzubair.net/ilmu-yang-bermanfaat-2/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/ilmu-yang-bermanfaat-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 05:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Roqoiq dan Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[abu zubair]]></category>
		<category><![CDATA[bermanfaat]]></category>
		<category><![CDATA[hawa]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=377</guid>
		<description><![CDATA[ILMU YANG BERMANFA’AT Ilmu yang bermanfaat secara mutlak di dunia dan akhirat  adalah ilmu syar&#8217;i. ilmu yang ahlinya dipuji oleh Allah dan Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, ilmu ini adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syatiby di dalam kitab Al Muwafaqot, “Ilmu yang mu’tabar menurut syara’ adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal, yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ILMU YANG BERMANFA’AT</p>
<p>Ilmu yang bermanfaat secara mutlak di dunia dan akhirat  adalah ilmu syar&#8217;i. ilmu yang ahlinya dipuji oleh Allah dan Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, ilmu ini adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syatiby di dalam kitab Al Muwafaqot, “Ilmu yang mu’tabar menurut syara’ adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya berlari mengikuti hawa nafsunya bagaimanapun ia, bahkan ia mengikat pengikutnya dengan muqtadhonya, yang membawa pemiliknya mematuhi aturan-aturannya suka atau tidak suka”.</p>
<p>Di dalam mukadimah ke tujuh dari kitabnya tersebut ia menegaskan, “Sesungguhnya setiap ilmu yang tidak membuat pemiliknya beramal maka di dalam syara’ tidak ada dalil dalam syara’ yang menganggapnya baik”.</p>
<p>Oleh karena itu ulama sejati adalah yang mengamalkan ilmunya dan tampak pada dirinya sifat takut kepada Allah Ta’ala.</p>
<p><strong>{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء}</strong></p>
<p>“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir : 28)</p>
<p>Ilmu tidak akan bermanfaat tanpa disertai pengamalan. Allah Ta’ala berfirman menegur orang-orang yang tidak mengerjakan apa yang ia katakan atau ajarkan,</p>
<p><strong>{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}</strong></p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.(Ash Shof : 2-3)</p>
<p>Allah Ta’ala juga mengingkari perbuatan orang-orang Ahli Kitab yang tidak mengamalkan kebaikan yang mereka perintahkan kepada manusia,</p>
<p><strong>{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}</strong></p>
<p>“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (Al Baqoroh : 44)</p>
<p>Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu ia berkata,</p>
<p>&#8220;<strong>يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى فى النار فتنتدلق اقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار فى الرحى، فيجتمع إليه أهل النار، فيقولون: يافلان، مالك؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول بلى، كنت أمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وأتيه&#8221;</strong></p>
<p>“Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Di hari kiamat didatangkan seseorang lalu dicampakkan ke dalam neraka maka terburailah usus-ususnya, dia berputar-putar dengan ususnya seperti seekor keledai berputar-putar pada ikatannya. Maka penghuni neraka mengerumuninya, mereka berkata, ‘Hai fulan,  ada apa denganmu? Bukankah dulu engkau mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran?’ ia menjawab, ‘Benar, aku mengajak kepada kebaikan tetapi aku tidak mengerjakan dan aku melarang dari kemungkaran tetapi aku melakukannya”. (HR. Bukhari : 6/238 dan Muslim : 2989)</p>
<p>Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berdo’a kepada Allah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat,</p>
<p><strong>&#8220;اللهم أنى أعوذ بك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع ، ومن دعاء لا يسمع&#8221;</strong></p>
<p>‘Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (HR. Muslim : 1295, At-Tirmidzi dan An Nasai (8/263) dari hadits Zaid bin Arqom)</p>
<p>Sahabat Abu Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang aku takuti di hari kiamat adalah ketika dikatakan kepadaku, ‘Apakah engkau mengetahui atau tidak? Aku menjawab, ‘Aku mengetahui’. Maka tidak ada satupun ayat dari Kitabullah yang memerintahkan atau melarang melainkan mendatangiku menanyakan perintah dan larangannya. Ayat yang memerintahkan bertanya apakah engkau kerjakan? Dan ayat yang melarang bertanya apakah engkau tinggalkan? Maka Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (diriwayatkan oleh Al Baihaqy, Ad Darimy dan Ibnu Abdil Barr dari beberapa jalan dari Abu Darda’).</p>
<p>Ya Allah .. berapa banyak orang yang mengingatkan manusia kepada Allah sementara dia sendiri lupa kepadaNya. Berapa banyak orang yang menakut-nakuti manusia dengan Allah ternyata dia lancing dan berani menentang Allah. Berapa banyak orang yang mengajak manusia mendekatkan diri kepada Allah, dia malah jauh dari Allah. Berapa banyak orang yang menyeru mengajak manusia kepada Allah sedangkan dia sendiri malah lari dari Allah dan berapa banyak orang yang membaca Kitabullah lalu dia melepaskan dirinya dari ayat-ayat Allah …</p>
<p>Sungguh, jika ilmu tidak memotivasi pemiliknya untuk menjalankan ibadah kepada Allah Jalla wa &#8216;Ala maka tidak ada nilainya. Jika ilmu tidak membuat pemiliknya dekat kepada Allah tidak ada gunanya. Dan jika ilmu tidak mewariskan kepada pemiiknya al khosy-yah (takut) kepada Allah tidak ada kebaikan padanya.</p>
<p>Jadi ilmu yang mu&#8217;tabar secara syar&#8217;I itu adalah  ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal dengan segala perkara yang dapat mendekatkan dia kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, berhenti dibatasan yang ditetapkan Allah.</p>
<p>Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta menjauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat .. amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/ilmu-yang-bermanfaat-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!!</title>
		<link>http://abuzubair.net/sudah-salafykah-akhlakmu/</link>
		<comments>http://abuzubair.net/sudah-salafykah-akhlakmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 05:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Zubair Hawaary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Abuz Zubair Hawaary]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[majelis]]></category>
		<category><![CDATA[sejati]]></category>
		<category><![CDATA[taimiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuzubair.net/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!! Saudaraku, mungkin engkau balik bertanya kepadaku, kenapa hal itu engkau tanyakan?! Tidakkah engkau melihatku memelihara jenggot dan memendekkan ujung celanaku di atas mata kaki? Tidakkah engkau tahu bahwa aku rajin mengaji, duduk di majelis ilmu mendengarkan Kitabullah dan Hadits Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama yang disyarahkan oleh ustadz-ustadz salafy? Sabar saudaraku, tenanglah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!!</p>
<p>Saudaraku, mungkin engkau balik bertanya kepadaku, kenapa hal itu engkau tanyakan?! Tidakkah engkau melihatku memelihara jenggot dan memendekkan ujung celanaku di atas mata kaki? Tidakkah engkau tahu bahwa aku rajin mengaji, duduk di majelis ilmu mendengarkan Kitabullah dan Hadits Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama yang disyarahkan oleh ustadz-ustadz salafy?</p>
<p>Sabar saudaraku, tenanglah aku tidak meragukan semua yang engkau katakan. Engkau tidak pernah absen menghadiri majelis ilmu, penampilanmu juga menunjukkan bahwa engkau berusaha untuk meneladani generasi salafus sholeh.</p>
<p>Tapi, tahukah engkau saudaraku .. (Ahlus Sunnah sejati adalah orang yang menjalankan islam dengan sempurna baik akidah maupun akhlak. <span style="color: #ff0000;">Tidak tepat, jika ada yang mengira bahwasa seorang sunny atau salafy adalah orang meyakini I&#8217;tiqod Ahlus Sunnah tanpa memperhatikan aspek perilaku dan adab-adab islamiyah, serta tidak  menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin.</span>)<a href="#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>Maafkan aku jika kata-kataku ini menyakitkan hatimu, tetapi hatiku tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya, karena aku mencintaimu karena Allah, aku inginkan yang terbaik untukmu semoga Allah Ta&#8217;ala memperlihatkan kepada kita kebenaran itu sebagai suatu kebenaran dan membimbing kita untuk mengikutinya. Dan semoga Ia memperlihatkan kepada kita kebatilan itu sebagai suatu kebatilan serta menganugerahkan kepada kita taufik untuk menjauhinya.</p>
<p>Berapa banyak orang yang dibutakan dari kebenaran, dan tidak sedikit pula yang melihat kebenaran tetapi enggan mengikutinya. Berapa banyak pula orang yang mengira kebatilan adalah kebenaran dan tidak sedikit pula orang yang mengetahui kebatilan tapi masih saja mengikutinya.</p>
<p>Ya Allah .. berilah kami petunjuk dan luruskanlah kami …</p>
<p>Saudaraku,</p>
<p>Sikapmu yang kurang menghargai orang yang lebih tua darimu dan angkuh terhadap orang yang lebih muda darimu, dari mana engkau pelajari?!</p>
<p>Lupakah engkau hadits yang pernah kita pelajari bersama,</p>
<p><strong>ليس منا من لم يرحم صغيرنا و </strong><strong>يوقر</strong><strong> كبيرنا </strong></p>
<p>Artinya, &#8220;Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mengasihi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar&#8221;. (HR. At-Tirmidzi dari sahabat Anas rodhiyallahu &#8216;anhu dan dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Al Jami&#8217; no. 5445)</p>
<p>aku teringat hari itu, walaupun setiap mengingatnya hati ini merasa sedih dan resah. Ketika engkau dan beberapa orang lainnya menghadiri undangan. Turut hadir ketika itu orang-orang awwam yang di antaranya  usia lebih tua dari kita. Ketika engkau masuk ke majelis lalu mengucapkan salam dan menjabat  tangan semua yang duduk kecuali bapak itu, engkau menyalami orang yang duduk di samping dan belakang bapak itu, lalu engkau duduk se-enaknya di depan bapak itu tanpa sedikit senyuman apalagi menjabat tangannya!!</p>
<p>Owh ..jelas benar guratan sedih dan perasaan aneh yang menyemburat dari wajah bapak tersebut. Sampai aku pun malu duduk di situ, kalau  bisa ingin rasanya aku untuk tidak hadir di situ dan saat itu..</p>
<p>Saudaraku, katakanlah kepadaku agar aku tidak berburuksangka kepadamu,</p>
<p>-          Apa yang memberatkan bibirmu untuk memberikannya sedikit senyuman walaupun hambar?! Padahal engkau tahu Nabi kita shollollahu &#8216;alaihi wa sallama bersabda,</p>
<p><strong>تبسمك</strong><strong> في وجه أخيك لك صدقة</strong></p>
<p>&#8220;Senyumanmu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu&#8221;. (HR. At-Tirmidzi, Bukhari di Adabul Mufrod dan Ibnu Hibban, Ash-Shohihah oleh Al-Albany no. 572)</p>
<p>-          Apa yang membuat lidahmu kelu untuk menyapa walau hanya dengan tiga aksara &#8220;Pak&#8221;.</p>
<p>-          Apa yang membuat tanganmu lumpuh untuk menjabat tangannya?! Seperti engkau menjabat tangan yang lainnya?! Tidakkah engkau pernah membaca atau mendengar bahwa salafunas sholeh menjabat tangan anak-anak ketika bertemu, lantas bagaimana kalau dia lebih tua darimu?</p>
<p><strong>عن سلمة بن وردان قال: رأيت أنس بن مالك يصافح الناس، فسألني: من أنت؟ فقلت: مولى لبني ليث، فمسح على رأسي ثلاثاً، وقال: &#8220;بارك الله فيك&#8221;</strong></p>
<p>Dari Salamah bin Wardaan ia menuturkan, &#8220;Aku melihat Anas bin Malik menjabat tangan manusia, maka ia bertanya kepadaku, &#8216;Engkau siapa?&#8217;. Aku menjawab, &#8216;Maulaa Bani Laits&#8217;. Lalu ia mengusap kepalaku tiga kali seraya berkata, &#8216;Semoga Allah memberkahimu&#8221;. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, &#8220;Shohihul Isnad&#8221;)</p>
<p>Dari Al-Barro&#8217; bin &#8216;Azib rodhiyallahu &#8216;anhu ia berkata, &#8220;Termasuk kesempurnaan tahiyyah (salam) engkau menjabat tangan saudaramu&#8221;. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, &#8220;Isnadnya shohih mauquf&#8221;).</p>
<p>Jawablah saudaraku! Bukankah dia juga seorang muslim? Apakah karena dia tidak berjenggot seperti dirimu dan celananya masih menutupi mata kaki??</p>
<p>Tidak saudaraku .. tidak! sejak kapan  salam dan jabat tangan hanya khusus untuk orang-orang yang penampilan sama sepertimu atau orang-orang yang menghadiri majelis ilmu saja?!</p>
<p>Sikapmu inilah yang barangkali dapat menghambat dakwah salafiyah di terima oleh kaum muslimin. Membuat mereka merasa dijauhi dan dipandang sebelah mata.</p>
<p>Saudaraku .. ketika engkau mengaku seorang salafy tetapi dengan sikap dan akhlakmu yang jauh dari akhlak salafus sholeh engkau telah ikut menghalangi dan menghambat dakwah yang hak ini.</p>
<p>Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata di  akhir kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah setelah menyebutkan pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, &#8220;Kemudian mereka (Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah) disamping pokok-pokok ini, mereka mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sesuai dengan apa yang diwajibkan syari&#8217;at. Mereka memandang tetap menegakan haji, jihad, sholat jum&#8217;at dan hari raya bersama para pemimpin yang baik maupun yang keji. Mereka menjaga (sholat) jama&#8217;ah, dan melaksanakan nasehat untuk umat. dan mereka meyakini makna perkataan Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama,</p>
<p><strong>المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا وشبك بين أصابعه</strong></p>
<p>&#8220;Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang kokok saling menguatkan satu dengan lainnya&#8221;. Lalu beliau menjalin di antara jari-jemarinya.(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa rodhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Dan sabdanya,</p>
<p><strong>مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر</strong></p>
<p>&#8220;Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur&#8221;. (HR. Bukhari dan Muslim dari An Nu&#8217;man bin Basyir rodhiyallahu &#8216;anhu)</p>
<p>Mereka mengajak bersabar menghadapi ujian, bersyukur ketika lapang, dan ridho dengan pahitnya qodho&#8217;.  <span style="color: #ff0000;">Mereka mengajak kepada akhlak-akhlak yang mulia dan perbuatan-perbuatan baik</span>, dan meyakini makna perkataan Nabi shollallahu &#8216;alaihi wasallama,</p>
<p><strong>أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا</strong></p>
<p>&#8220;Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlak-akhlaknya&#8221;. (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)</p>
<p>Mereka mendorong untuk menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungannya denganmu, memberi orang yang tidak mau memberimu, mema&#8217;afkan orang yang menzalimimu, memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtua, dan <span style="color: #ff0000;">begitu juga mereka memerintahkan untuk menyambung silaturrahim, bertetangga dengan baik, melarang sifat angkuh, sombong, zalim dan merasa lebih tinggi dari makhluk dengan hak atau tidak dengan hak. Mereka memerintahkan kepada budi pekerti yang tinggi dan melarang dari akhlak yang tercela.</span></p>
<p>Dan seluruh apa yang mereka katakan dan kerjakan dari ini dan yang lainnya, sesungguhnya mereka dalam hal itu mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. Jalan mereka adalah Dinul  Islam yang Allah mengutus Muhamad shollallahu &#8216;alaihi wa sallama dengannya&#8221;. (Al Akidah Al Wasithiyyah, hal. 129-131).</p>
<p>Saudaraku, aku yakin engkau adalah seorang yang berjiwa besar dan bisa berlapang dada menerima nasehat, karena itu marilah kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita dalam meneladani akhlak salaf sehingga sempurna pula ittiba&#8217; kita kepada Rasulullah shollallahu &#8216;alaihi wa sallama.</p>
<p>Semoga Allah Ta&#8217;ala membimbing kita untuk meniti jalan  Nabi shollallahu &#8216;alaihi wa sallama dan mengikuti jejak-jejak salafush sholeh baik dalam akidah, ibadah, mu&#8217;amalah, akhlak, dan hubungan antara sesama, amin.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> An Nashiihah fiima Yajibu Muro&#8217;atuhu &#8216;indal Ikhtilaaf, oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily (13).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuzubair.net/sudah-salafykah-akhlakmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

