AKU MENCINTAINYA

KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA …

Ya, aku memang mencintainya. Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorang kepada kekasihnya. Bahkan manakah cinta orang-orang yang jatuh cinta dibanding cintaku ini?!

Ya, aku mencintainya. Bahkan demi Allah, aku merindukannya. Aku merasakan sentuhannya yang lembut, menyentuh relung hatiku. Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit, lalu hatiku menari-nari dan jiwaku menjadi tentram.

Aku mecintaimu duhai perkataan yang baik

Aku mencintaimu duhai perkataan yang lembut

Aku mencintaimu duhai perkataan yang santun.

Alangkah indahnya ketika seorang anak mencium tangan ibunya seraya berkata, “Semoga Allah menjagamu ibu”.

Alangkah eloknya ketika seorang ayah senantiasa mendo’akan anaknya, “Ya Allah ridhoilah mereka, dan bahagiakan mereka di dunia dan akhirat”.

Alangkah bagusnya ketika seorang istri menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman seraya berkata, “Semoga Allah tidak menjauhkan kami darimu, rumah ini serasa gelap tanpa dirimu”.

Alangkah baiknya ketika istri melepaskan kepergian suami bekerja di pagi hari, ia berkata, “Jangan beri kami makan dari yang haram, kami tidak sanggup memakannya”.

Kalimat dan ungkapan yang indah, bukankah begitu? Bukankah kita berharap kalimat dan ungkapan seperti ini dikatakan kepada kita? Bukankah setiap kita berangan-angan mengatakan kalimat-kalimat seperti ini kepada orang-orang yang dicintainya? Akan tetapi kenapa kita tidak atau jarang mendengarnya?

Penyebabnyanya adalah kebiasaan. Barangsiapa yang membiasakan lisannya mengucapkan kata-kata yang lembut berat baginya untuk meninggalkannya, begitu pula sebaliknya.

Orang yang terbiasa memanggil istrinya dengan kata “kekasihku” sulit baginya memanggil istrinya seperti sebagian orang memanggil istrinya, ‘Hei ..hai ..”. atau “Kau ..” dan lain sebagainya.

Barangsiapa yang terbiasa memulai ucapannya kepada anaknya, “Ananda, Anakku, Putriku” tidak seperti sebagian lain yang mengatakan, “Bongak .. jahat ..setan!” maka ia berat mengucapkan selain itu.

Kenapa kita tidak bisa mengucapkan satu ungkapan cinta saja kepada anak-anak kita, ibu kita, dan keluarga kita? Jika adapun kalimat tersebut keluar dengan malu-malu.

Kenapa lisanmu terkunci di dekat istrimu atau dihadapan ayah dan ibumu, sedangkan dihadapan temanmu, kata-katamu begitu mesra?!

Biasakanlah – misalnya- mengucapkan kepada ibumu, “Ibu, do’akan kami. Apakah ibu ingin titip sesuatu agar ananda beli sebelum ananda berangkat?”

Biasakanlah mengucapkan kepada anakmu kata-kata (sayangku, anakku) dan apabila ia mengambilkan sesuatu untukmu seperti segelas air katakana kepadanya Jazakallah atau ungkapan terima kasih.

Jika putra atau putrimu meminta sesuatu darimu dan engkau sanggup memberikannya serta itu baik untuknya katakanlah kepada mereka dengan tulus, “Dengan sepenuh hati, ayah akan bawakan untukmu”.

Cobalah kata-kata dan kalimat yang lembut dan senyuman yang manis, lalu lihatlah hasilnya!

Lihatlah bagaimana Nabi kita shollallahu ‘alaihi wa sallama berbicara kepada anak istrinya.

Perhatikanlah kelembutan hatinya, serta keindahan tutur katanya.

Beliaulah sebaik-baik suri teladan.

MENDAKWAHI ORANG AWAM …

MENDAKWAHI ORANG AWAM …

  • PERTANYAAN : Bagaimana cara mendakwahi manusia awam kepada salafiyyah; manhaj salafush sholeh, khususnya mereka terikat dengan sebagian da’i-da’I suu’ dan yang buruk?
  • JAWABAN : Allah telah meletakkan manhaj untuk berdakwah kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman kepada NabiNya,

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An Nahl : 125)

Jadi berdakwah kepada Allah dengan hikmah, dan hikmah adalah ilmu dan bayan (penjelasan) serta hujjah. Maka anda berdakwah dengan ilmu, dengan akhlak yang baik, dan dengan lembut, baik terhadap orang awam atau yang bukan awam. Akan tetapi orang awam  lebih mudah menerima, kadang ia menerima kebenaran darimu tanpa membantah, jika anda perlu membantah mungkin karena padanya ada sedikit dalih, sedikit bergantung kepada yang batil, maka bantahlah ia dengan cara yang paling baik.

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ * وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar”.(Fush-shilat : 34-35)

Jadi hikmah ini tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan besar”. (Dijawab oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkholy hafizhohullah sebagaimana disitus beliau)

SYARAH KITAB AL-ADABUL MUFROD IMAM AL BUKHORI (2)

SYARAH KITAB AL-ADABUL MUFROD (2)

Oleh, Abuz Zubair Hawaary


BAB II. [KEWAJIBAN] BERBAKTI KEPADA IBU

Setelah sebelumnya Imam Al Bukhari rahimahullah membawakan ayat dan hadits tentang berbakti kepada kedua orangtua secara umum. Beliau lanjutkan dengan membuat bab tentang bakti kepada ibu sebelum bab berbakti kepada ayah.

Hal ini sesuai tuntunan Al Qur’an dan hadits yang mengutamakan ibu atas bapak. Allah Ta’ala menjelaskan kepada kita, bahwa peran ibu lebih  besar dalam hal perjuangan dan kesabarannya di dalam kehidupan ini dibanding  ayah. Oleh karena itu Allah menyebutkan ibu secara khusus, untuk mengingatkan  bahwa hak ibu lebih besar dibanding hak ayah. Hal ini disebabkan ibu yang mengandung janin di dalam perutnya selama Sembilan bulan; dan dialah yang memberinya segala kebutuhannya berupa makanan dan lain-lain dari darah dan dagingnya.

Continue reading

Akhlak Ahli Ilmu

AKHLAK AHLI ILMU

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Apabila engkau mendapatkan seorang ahli ilmu yang mencari dalil, berhukum kepadanya  dan mengikuti kebenaran kapanpun di manapun dari dari siapapun datangnya. Hilanglah kebencian dan tumbuhlah kasih sayang, orang seperti ini jika menyelisihimu sesungguhnya ia menyelisihimu dan memaklumimu. Sedangkan seorang yang jahil lagi zalim menyelisihimu dengan tanpa hujjah, ia mengkafirkanmu atau membid’ahkanmu dengan tanpa hujjah, kesalahanmu baginya adalah karena engkau tidak suka jalannya yang buruk dan perilakunya yang tercela. Maka janganlah engkau terpedaya dengan banyaknya orang seperti ini,  sesungguhnya ribuan orang seperti mereka tidak akan sebanding  dengan seorang saja dari ahli ilmu, sedangkan seorang ahli ilmu mengalahkan sepenuh bumi orang seperti mereka”.

(Ibnul Qoyyim Al Jauziyah, kitab I’laamul Muwaqqo’iin : 3/396)

Mutiara Nasehat dari Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah

بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اما بعد
يقول الشيخ ابن العثيمين رحمة الله تعالي في شرح حديث “إنما الأعمال بالنيات ” الفائدة السادسة

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu Ta’ala berkata dalam syarah hadits “Innamal A’maalu bin niyaat” pada faedah yang ke enam :

Barangkali suatu negeri mengalami kemerosotan disebabkan sedikitnya ahul ishlah (orang-orang yang mengadakan ishlah – perbaikan) dan banyaknya orang-orang yang rusak serta fasik. Akan tetapi apabila ia (orang yang baik) tetap tinggal di sana dan berdakwah kepada Allah sesuai kemampuannya, maka ia dapat memperbaiki orang lain dan orang lain itu akan memperbaiki yang lain pula, sehingga terbentuklah orang-orang yang baik, di mana mereka akan membawa kebaikan bagi negeri tersebut. Dan apabila mayoritas manusia menjadi baik, galibnya orang-orang yang memegang tampuk kekuasaan juga akan ikut menjadi baik, sekalipun melalui tekanan-tekanan.

Akan tetapi yang merusak ini – sangat disayangkan – adalah orang-orang yang sholeh (baik)  sendiri. engkau dapatkan mereka berkelompok-kelompok, berpecah-belah, kalimat mereka saring berselisih hanya karena khilaf (perbedaan dalam satu permasalahan agama yang dibolehkan perbedaan padanya).

Inilah realitanya, khususnya di negeri-negeri yang islam belum berdiri kokoh di sana. Terkadang mereka saling memusuhi, membenci karena masalah mengangkat kedua tangan dalam sholat. Dan aku ceritakan di sini kisah yang aku alami sendiri di Mina. Suatu hari datang kepadaku kepala lembaga dari dua kelompok di Afrika, salah satu kelompok mengkafirkan kelompok lainnya. Kenapa?? Salah satunya berkata, “Yang sunnah ketika berdiri dalam sholat seseorang hendaklah meletakkan dua tangannya di atas dada”. Kelompok satu lagi mengatakan bahwa sunnahnya adalah meluruskan tangan dan tidak melipatnya di atas dada.

Ini adalah masalah far’iyyah yang mudah, bukan termasuk masalah ushul dan furu’. Mereka mengatakan, “Tidak, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama mengatakan (Barangsiapa yang tidak suka sunnahku tidak termasuk golonganku). Maka orang ini kafir, karena  Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama berlepas diri darinya”.

Maka berdasarkan pemahaman yang rusak ini, salah satu kelompok mengkafirkan kelompok lainnya.

Yang penting; bahwsanya sebagian ahlul ishlah di beberapa negeri yang belum kokoh keislaman di negeri tersebut saling membid’ahkan dan memfasikkan sesama mereka.

Kalaulah mereka bersepakat lalu apabila berselisih pendapat, dada mereka lapang menerimanya selama perselisihan itu dalam perkara yang dibolehkan berbeda pendapat dan mereka menjadi seperti satu tangan, niscaya umat ini akan baik. Akan tetapi apabila umat melihat orang-orang yang berdakwah dan istiqomah di antara mereka ada kedengkian dan perselisihan  dalam masalah-masalah agama ini, maka umat akan berpaling dari mereka dan dari kebaikan serta petunjuk yang ada pada mereka, bahkan mungkin saja akan terjadi kontak fisik dan inilah yang terjadi wal ‘iyadz billah.

Engkau dapatkan seorang pemuda yang mulai menempuh jalan istiqomah karena kebaikan dan petunjuk yang ada dalam agama, dadanya mulai merasakan ketentraman serta hatinya mendapatkan ketenangan, kemudian ia melihat perselisihan, kebencian dan kedengkian di antara  orang-orang yang istiqomah lantas akhirnya ia meninggalkan ke-istiqomahan karena ia tidak mendapatkan apa yang dicarinya.

Wal hasil, hijrah dari negeri kafir bukanlah seperti hijrah dari negeri fasik. Kita katakana kepada seseorang itu, “Bersabarlah, dan harapkan pahala dari Allah, khususnya jika engkau adalah seorang da’I yang mengajak kepada perbaikan”. Bahkan bisa jadi dikatakan kepadanya : hijrah bagimu hukumnya haram.

(diterjemahkan dari kitab Syarah Al Arba’in An Nawawiyyah halaman : 23-24 oleh Syaikh Al ‘Allaamah Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah Ta’ala.)

KEIKHLASAN SEORANG ULAMA

KEIKHLASAN SEORANG ULAMA

Ar-Robi’ bin Sulaiman  berkata, “Aku mendengar Asy Syafi’I berkata, “Aku ingin bahwasanya manusia mempelajari ilmu ini dan tidak dinisbatkan kepadaku sedikitpun darinya”.

Ar Robi’ juga menuturkan, “Aku masuk menemui Asy-Syafi’I ketika ia sakit, lantas ia menanyakan keadaan sahabat-sahabat kami, lalu ia berkata, ‘Hai anakku, sungguh aku sangat ingin, bahwasanya manusia semuanya mempelajari  – maksudnya kitab-kitabnya – dan tidak dinisbatkan kepadaku sedikitpun darinya”.

Dari Harmalah ia berkata, “Aku mendengar Asy Syafi’I berkata, “Aku ingin bahwasanya setiap ilmu yang kuajarkan kepada kepada manusia aku diberi pahala atasnya dan mereka tidak memujiku”. (Hilyatul Awliya’ oleh Abu Nu’aim : 9/118)

Semoga Allah merahmatimu wahai Imam Asy Syafi’I …

Perjuangannya untuk membela dan menyebarkan sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama sehingga ia digelari Naashirus Sunnah (pembela sunnah).

Perjuangannya membukukan sendi-sendi ilmu ushul fiqh untuk pertama kali dalam sejarah .. sehingga terbukalah kunci-kunci ilmu fiqh bagi orang-orang sesudahnya.

Namun ia tidak ingin orang memujinya, tidak ingin manusia menyebut-nyebut jasanya sedikitpun ..

Demikianlah ketulusan para ulama, jauh dari keinginan tenar dan tersohor, jauh dari ‘ujub dan sum’ah.

Adapun penuntut ilmu hari ini ..

Tidak sedikit yang bangga hanya karena menulis satu, dua atau beberapa artikel yang itupun isinya mencomot (copi paste) dari sana dan sini.

Bangga karena gelar kesarjanaan yang telah diraih …

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan kepada kita keikhlasan dalam beramal, dan menjauhkan kita dari penyakit riya’, ‘ujub dan hubbusy syuhroh (cinta ketenaran) , amin.

KESABARAN SEORANG ULAMA

KESABARAN SEORANG ULAMA

Al Mubaarok bin Al Mubaarok Adh Dhoriir seorang ulama ahli nahwu yang digelari Al Wajiih. Beliau dikenal seorang yang elok akhlak dan perilakunya, lapang dada, penyabar dan tidak pemarah. Sehingga ada sebagian orang-orang jahil yang berniat mengujinya dengan memancing kemarahannya.

Maka datanglah orang ini menemui Al Wajiih, kemudian bertanya kepadanya tentang satu masalah dalam ilmu nahwu. Syaikh Al Wajiih menjawab dengan sebaik-baik jawaban dan menunjukan kepadanya jalan yang benar.

Lantas orang itu berkata kepadanya, “Engkau salah’.

Syaikh kembali mengulangi jawabannya dengan bahasa yang lebih halus dan mudah dicerna dari jawaban pertama, serta ia jelaskan hakekatnya.

Orang itu kembali berkata, “Engkau salah hai syaikh, aneh orang-orang yang menganggapmu menguasai ilmu nahwu dan engkau adalah rujukan dalam berbagai ilmu, padahal hanya sebatas ini saja ilmumu!”.

Syaikh berkata dengan lembut kepada orang itu, “Ananda, mungkin engkau belum paham jawabannya, jika engkau mau aku ulangi lagi jawabannya dengan yang lebih jelas lagi dari pada sebelumnya”.

Orang itu menjawab, “Engkau bohong! Aku paham apa yang engkau katakan akan tetapi karena kebodohanmu engkau mengira aku tidak paham”.

Maka syaikh Al Wajiih berkata  seraya tertawa, “Aku mengerti maksudmu, dan aku sudah tahu tujuanmu. Menurutku engkau telah kalah. Engkau bukanlah orang yang bisa membuatku marah selama-lamanya.

Ananda, konon ada seekor burung duduk di atas punggung gajah, ketika dia hendak terbang ia berkata kepada gajah, “Berpeganglah kepadaku, aku akan terbang!”.  Gajah berkata kepadanya, “Demi Allah hai burung, aku tidak merasakanmu ketika bertengger di punggungku, bagamaimana aku berpegang kepadamu saat engkau terbang!”.

Demi Allah hai anakku! Engkau tidak pandai bertanya tidak pula paham jawaban, bagaimana aku akan marah kepadamu?!”.

(Mu’jamul Udaba’ : 5/44).

Menjadi guru, juga seorang da’I memang harus banyak belajar bersabar, lapang dada dan berakhlak mulia .. semoga Allah Ta’ala memudahkan hal itu untuk kita, aamiin.

Syarah Kitab Adabul Mufrod

BAB : KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANGTUA

FIRMAN ALLAH TA’ALA,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya”.

Imam Bukhari memulai kitabnya ini dengan adab dan kewajiban berbakti kepada kedua kedua orangtua, karena adab dan kewajiban berbakti kepada orangtua adalah yang terdepan setelah adab kepada Allah Ta’ala dan kepada  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama[1]. Oleh karena itu penekanan masalah ini banyak kita dapatkan di dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. Bahkan di dalam Al Qur’an perintah berbakti kepada orangtua adalah setelah perintah mentauhidkanNya sebagaimana firman Allah Ta’ala yang dibawakan oleh Imam Bukhari sebagai judul bab pertama kitabnya ini.

Allah Ta’ala berfirman,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا وإن جاهداك لتشرك بي ماليس لك به علم فلا تطعهما إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hambaNya berbuat baik kepada kedua orangtua setelah mendorong mereka untuk berpegang teguh dengan men-tauhid-kanNya. Sesungguhnya kedua orangtua adalah sebab adanya manusia dan kebaikan keduanya kepadanya tidak terhitung; ayah dengan nafkah yang diberikannya dan ibu dengan kasih sayang yang dilimpahkannya”.[3]

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا  وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Robbmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”[4].

Lihatlah di ayat yang mulia ini, betapa Allah Ta’ala menegaskan kewajiban menjaga akhlak terhadap kedua orangtua yang merupakan diantara bentuk bakti kepada keduanya. apalagi kalau orangtua telah menginjak usia senja, kedua orangtua atau salah satunya membutuhkan perhatian, kasih dan sayang sebagaimana dahulu anak membutuhkan hal tersebut  dari orangtuanya ketika dia kecil.

Kadang terjadi perselisihan antara orang tua dan anak. Atau perdebatan atau anak menyanggah dan membantah perkataan orangtua. Di sini sang anak wajib menjaga adab dan tatakrama kepada orangtua. Jangan berkata kasar, mengucapkan ah saja dilarang oleh Allah apalagi yang lebih dari itu. Ini menunjukkan besar dan tingginya kedudukan serta hak orangtua  atas anaknya.

Namun begitu, juga perlu diingat bahwa sekalipun Allah Ta’ala memerintahkan anak berbuat baik kepada kedua orangtua karena budi baik dan kasih sayang mereka selama ini. Jika orangtua mengajak atau memerintahkan maksiat atau sesuatu yang bertentangan dengan agama Allah, maka anak tidak wajib mena’ati perintah atau ajakannya itu. oleh karena itu Allah tegaskan di dalam firmanNya di surat Al Ankabut di atas, (yang artinya) “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Maknanya; jika keduanya memaksamu untuk mengikuti agama keduanya apabila keduanya musyrik maka janganlah kamu mena’ati keduanya dalam hal itu. sesungguhnya dihari kiamat kepadaKulah kamu dikembalikan, maka Aku membalas kebaikanmu kepada keduanya dan kesabaranmu di atas agamamu dan Aku akan mengumpulkanmu bersama orang-orang yang sholeh bukan bersama kedua orangtuamu sekalipun engkau adalah orang yang paling dekat dengan keduanya di dunia, sesungguhnya seseorang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintainya, maksudnya cinta yang sejalan dengan agama”.[5]

Mari kita mulai mengkaji hadits pertama dalam bab ini.

  1. HADITS PERTAMA : AMAL YANG PALING DICINTAI ALLAH ‘AZZA WA JALLA

عَنْ أَبِي عَمْرو الشَّيْباَنِي يَقُوْلُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلىَ داَرِ عَبْدِ الله قاَلَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَي قَالَ ثُمَّ بِرُّ اْلوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيْ قَالَ ثُمَّ اْلجِهَاد فِي سَبِيْلِ الله قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اْستَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

Dari Abu Amru Asy-Syaibaany ia menuturkan, “Pemilik rumah ini menyampaikan kepada kami – ia menunjuk kea rah rumah Abdullah, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama, amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla? Beliau menjawab, ‘Sholat pada waktunya’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Ia berkata, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orangtua’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Beliau menjawab, ‘Kemudian Jihad di jalan Allah. Dan kalau aku meminta tambahan lagi niscaya beliau menambahkannya”.[6]

Syarah hadits :

Hadits yang mulia ini menunjukkan apa yang telah dijelaskan di atas yaitu fadhilah dan kewajiban bakti kepada orangtua. Dimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama menjadikannya  sebagai amalan yang  paling afdhol setelah  sholat.

Kalau sholat adalah ibadah agung yang berkaitan dengan hubungan hamba dengan Sang Penciptanya, maka bakti kepada kedua orangtua adalah ibadah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan orang yang paling berjasa kepadanya yaitu kedua orangtua. Sholat adalah hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh hamba. Dan bakti kepada orangtua adalah hak kedua orangtua yang wajib ditunaikan oleh anak. Seperti di dalam dua ayat di atas, Allah Ta’ala menyebutkan perintah bakti kepada kedua orangtua setelah perintah mentauhidkanNya.

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Berbakti kepada keduanya adalah (dengan) berbuat baik kepada keduanya, mengerjakan yang bagus dan menyenangkan keduanya. termasuk di dalamnya berbuat baik kepada teman keduanya”.[7]

Syaikh  Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “(Berbakti kepada keduanya) adalah berbuat baik kepada keduanya dengan perkataan, perbuatan dan harta sesuai dengan kemampuan”.[8]

Banyak sekali hadits-hadits yang berisikan perintah berbakti kepada ke dua orangtua atau salah satunya. Insya Allah hadits tersebut akan kita kaji satu persatu, di bab-bab selanjutnya.

Kesimpulan hadits :

a)      Hadits ini adalah dalil bahwasanya sholat adalah ibadah badaniyah yang paling afdhol setelah syahadatain.[9]

b)      Hadits ini juga mendorong  untuk mengerjakan sholat pada waktunya. Imam An Nawawi menyebutkan, “Mungkin disimpulkan darinya; disukainya mengerjakan di awal waktu, karena itu lebih berhati-hati dalam menjaganya dan menyegerakannya”[10]. bahkan bagi yang kaum pria yang diwajibkan menghadiri sholat berjama’ah di masjid memang harus mengerjakannya diawal waktu. Karena sholat berjama’ah di masjid dilakukan di awal waktu.

c)       Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua”.[11]

d)      Hadits ini menyebutkan beberapa amalan yang dicintai Allah Ta’ala, ini menandakan bahwa mengerjakan perintah Allah adalah syarat untuk mendapatkan cinta Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadits qudsi,

وَ ماَ تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَ مَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إَلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada apa-apa yang Aku fardhukan atasnya. Dan hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nafilah sehingga Aku mencintaiNya …”[12].

e)      Di dalam hadits ini juga terkandung pengajaran bagi seorang mufti, ahli ilmu dan guru agar bersabar terhadap orang yang bertanya atau muridnya dan berlapang dalam dalam menghadapinya walaupun ia banyak bertanya.

f)       Seorang murid juga hendaknya menimbang dan memperhatikan kondisi dan maslahat gurunya. Ini disimpulkan dari perkataan Ibnu Mas’ud yang tidak ingin menambah (pertanyaan) karena tidak ingin membebaninya dan ia berkata : kalau aku menambahkan lagi beliau pasti menambahkannya.[13]

g)      Bentuk-bentuk bakti kepada orangtua :

-          Melakukan kebaikan untuknya, menjaga hubungan dengannya dan bergaul dengannya dengan akhlak yang baik.

-          Tidak seyogyanya anak merasa kesal dan sakit  hati kepada orangtua.

-          Tidak mengeraskan suara atau memotong pembicaraannya, tidak berdebat dengannya, dan tidak berdusta kepadanya. Tidak menganggu istirahatnya dan merendahkan diri di hadapannya serta mendahulukannya dalam berbicara maupun berjalan sebagai penghormatan dan memuliakan kedudukannya yang tinggi.

-          Berterima kasih kepadanya dan mendo’akannya sesuai firman Allah Ta’ala,

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”[14].

-          Mendahulukan dan melebihkan bakti kepada ibu, karena jasa dia yang tak terhingga kepada anak, mulai dari mengandung, melahirkan menyusui dan mendidiknya hingga besar.

-          Mendahului dan menyegerakan keinginan dan permintaannya.

-          Merawat dan menjaganya khususnya ketika orangtua telah renta.

-          Member nafkah kepadanya jika ia membutuhkan, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِي

“Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat”.[15]

-          Meminta izin kepada keduanya sebelum safar dan meminta restunya kecuali dalam haji yang fardhu. Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Termasuk berbuat baik dan bakti kepada keduanya, apabila jihad tidak fardhu ‘ain tidak boleh berjihad kecuali dengan izin keduanya”.

-          Mendoakannya setelah ia wafat, menunaikan wasiatnya dan berbuat baik kepada teman-temannya.[16]

  1. HADITS KEDUA : JALAN MENUJU RIDHO ALLAH DAN MENJAUH DARI MURKANYA

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَر قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا اْلوَالِدِ وَسخط الرَّبِّ فِي سَخطِ الْوَالِد

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ridho Robb ada pada ridho orangtua dan murka Robb ada pada murka orangtua”.[17]

Syarah hadits :

Hak orangtua adalah sangat besar, bakti kepada keduanya kewajiban setelah tauhid. Berterima kasih kepada keduanya adalah bagian dari bentuk syukur kepada Allah Ta’ala. Berbuat baik kepada keduanya adalah amal yang sangat dicintai Allah. bahkan ridho keduanya adalah ridho Allah Ta’ala dan murka keduanya adalah murka Allah Ta’ala, karena Allah memerintahkan agar orangtua itu dita’ati, maka barangsiapa yang menjalankan perintah Allah, ia telah berbakti kepada Allah Ta’ala  dan Allah ridho kepadanya, sebaliknya jika tidak menjalankan perintah Allah agar berbakti kepada orangtua berarti ia telah menentang Allah maka Allah pun murka kepadanya.[18]

Keridhoan orangtua adalah lebih berharga dari pada harta benda. Dunia ini fana, cepat atau  lambat pasti sirna. Sedangkan ridho kedua orangtua bermanfaat bagi anak di dunia dan akhirat. Maka seorang anak wajib untuk selalu berusaha membuat orangtuanya ridho dengan perkataan dan perbuatan serta jangan sampai melukai hatinya atau membuatnya murka.

Akan tetapi sebagaimana dijelaskan pada syarah hadits pertama, masalah ini juga dengan syarat selama keridhoan orangtua itu tidak bertentangan dengan apa yang disyari’atkan Allah.[19]

KESIMPULAN HADITS :

a)      Ridho orangtua adalah kunci kebaikan dan pintu keselamatan di dunia dan akhirat.

b)      Sebaliknya penyebab kesengsaraan dunia dan akhirat adalah durhaka kepada kedua orangtua. (bersambung)


[1] Lihat Syarah Riyadhush Sholihih oleh Ibnu Utsaimin (1/368).

[2] Al Ankabut : 8.

[3] Tafsir Ibnu Katsir (6/264).

[4] Al Isro’ : 23-24.

[5] Tafsir Ibnu Katsir (6/265).

[6] Diriwayatkan oleh Bukhari di Shohihnya (1/140, 4/17, 8/2), Muslim di Shohihnya (kitab Al Iman bab. 36 no. 139), An Nasa-I di Sunannya (kitab Al Mawaaqiit bab. 49) dan Ahmad di Al Musnad (1/410, 439).

[7] Syarah Shohih Muslim (2/73 bab. Bayaan Kawnul Imaan billah).

[8] Syarah Riyadhush Sholihin (1/368).

[9] Dalil Al Falihin (2/

[10] Syarah Shohih Muslim (2/79).

[11] Syarah Riyadhush Sholihin Ibnu Utsaimin (1/368).

[12] HR. Bukhari dari Abu Huraira(4/231).

[13] Ibid.

[14] Al Isro : 24.

[15] Al Baqoroh : 215.

[16] Point-point ini diringkas dari : www.kalemat.org

[17] HR. Al Bazzar dan At Tirmidzi serta Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru. Dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Adabul Mufrod (1/2).

[18] Lihat Tuhfatul Ahwazy (6/22), Faidhul Qodhir (4/44).

[19] Ibid.

ILMU YANG BERMANFAAT

ILMU YANG BERMANFA’AT

Ilmu yang bermanfaat secara mutlak di dunia dan akhirat  adalah ilmu syar’i. ilmu yang ahlinya dipuji oleh Allah dan Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, ilmu ini adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syatiby di dalam kitab Al Muwafaqot, “Ilmu yang mu’tabar menurut syara’ adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya berlari mengikuti hawa nafsunya bagaimanapun ia, bahkan ia mengikat pengikutnya dengan muqtadhonya, yang membawa pemiliknya mematuhi aturan-aturannya suka atau tidak suka”.

Di dalam mukadimah ke tujuh dari kitabnya tersebut ia menegaskan, “Sesungguhnya setiap ilmu yang tidak membuat pemiliknya beramal maka di dalam syara’ tidak ada dalil dalam syara’ yang menganggapnya baik”.

Oleh karena itu ulama sejati adalah yang mengamalkan ilmunya dan tampak pada dirinya sifat takut kepada Allah Ta’ala.

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء}

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir : 28)

Ilmu tidak akan bermanfaat tanpa disertai pengamalan. Allah Ta’ala berfirman menegur orang-orang yang tidak mengerjakan apa yang ia katakan atau ajarkan,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.(Ash Shof : 2-3)

Allah Ta’ala juga mengingkari perbuatan orang-orang Ahli Kitab yang tidak mengamalkan kebaikan yang mereka perintahkan kepada manusia,

{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (Al Baqoroh : 44)

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu ia berkata,

يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى فى النار فتنتدلق اقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار فى الرحى، فيجتمع إليه أهل النار، فيقولون: يافلان، مالك؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول بلى، كنت أمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وأتيه”

“Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Di hari kiamat didatangkan seseorang lalu dicampakkan ke dalam neraka maka terburailah usus-ususnya, dia berputar-putar dengan ususnya seperti seekor keledai berputar-putar pada ikatannya. Maka penghuni neraka mengerumuninya, mereka berkata, ‘Hai fulan,  ada apa denganmu? Bukankah dulu engkau mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran?’ ia menjawab, ‘Benar, aku mengajak kepada kebaikan tetapi aku tidak mengerjakan dan aku melarang dari kemungkaran tetapi aku melakukannya”. (HR. Bukhari : 6/238 dan Muslim : 2989)

Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berdo’a kepada Allah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat,

“اللهم أنى أعوذ بك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع ، ومن دعاء لا يسمع”

‘Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (HR. Muslim : 1295, At-Tirmidzi dan An Nasai (8/263) dari hadits Zaid bin Arqom)

Sahabat Abu Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang aku takuti di hari kiamat adalah ketika dikatakan kepadaku, ‘Apakah engkau mengetahui atau tidak? Aku menjawab, ‘Aku mengetahui’. Maka tidak ada satupun ayat dari Kitabullah yang memerintahkan atau melarang melainkan mendatangiku menanyakan perintah dan larangannya. Ayat yang memerintahkan bertanya apakah engkau kerjakan? Dan ayat yang melarang bertanya apakah engkau tinggalkan? Maka Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (diriwayatkan oleh Al Baihaqy, Ad Darimy dan Ibnu Abdil Barr dari beberapa jalan dari Abu Darda’).

Ya Allah .. berapa banyak orang yang mengingatkan manusia kepada Allah sementara dia sendiri lupa kepadaNya. Berapa banyak orang yang menakut-nakuti manusia dengan Allah ternyata dia lancing dan berani menentang Allah. Berapa banyak orang yang mengajak manusia mendekatkan diri kepada Allah, dia malah jauh dari Allah. Berapa banyak orang yang menyeru mengajak manusia kepada Allah sedangkan dia sendiri malah lari dari Allah dan berapa banyak orang yang membaca Kitabullah lalu dia melepaskan dirinya dari ayat-ayat Allah …

Sungguh, jika ilmu tidak memotivasi pemiliknya untuk menjalankan ibadah kepada Allah Jalla wa ‘Ala maka tidak ada nilainya. Jika ilmu tidak membuat pemiliknya dekat kepada Allah tidak ada gunanya. Dan jika ilmu tidak mewariskan kepada pemiiknya al khosy-yah (takut) kepada Allah tidak ada kebaikan padanya.

Jadi ilmu yang mu’tabar secara syar’I itu adalah  ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal dengan segala perkara yang dapat mendekatkan dia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, berhenti dibatasan yang ditetapkan Allah.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta menjauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat .. amin.

SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!!

SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!!

Saudaraku, mungkin engkau balik bertanya kepadaku, kenapa hal itu engkau tanyakan?! Tidakkah engkau melihatku memelihara jenggot dan memendekkan ujung celanaku di atas mata kaki? Tidakkah engkau tahu bahwa aku rajin mengaji, duduk di majelis ilmu mendengarkan Kitabullah dan Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama yang disyarahkan oleh ustadz-ustadz salafy?

Sabar saudaraku, tenanglah aku tidak meragukan semua yang engkau katakan. Engkau tidak pernah absen menghadiri majelis ilmu, penampilanmu juga menunjukkan bahwa engkau berusaha untuk meneladani generasi salafus sholeh.

Tapi, tahukah engkau saudaraku .. (Ahlus Sunnah sejati adalah orang yang menjalankan islam dengan sempurna baik akidah maupun akhlak. Tidak tepat, jika ada yang mengira bahwasa seorang sunny atau salafy adalah orang meyakini I’tiqod Ahlus Sunnah tanpa memperhatikan aspek perilaku dan adab-adab islamiyah, serta tidak  menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin.)[1].

Maafkan aku jika kata-kataku ini menyakitkan hatimu, tetapi hatiku tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya, karena aku mencintaimu karena Allah, aku inginkan yang terbaik untukmu semoga Allah Ta’ala memperlihatkan kepada kita kebenaran itu sebagai suatu kebenaran dan membimbing kita untuk mengikutinya. Dan semoga Ia memperlihatkan kepada kita kebatilan itu sebagai suatu kebatilan serta menganugerahkan kepada kita taufik untuk menjauhinya.

Berapa banyak orang yang dibutakan dari kebenaran, dan tidak sedikit pula yang melihat kebenaran tetapi enggan mengikutinya. Berapa banyak pula orang yang mengira kebatilan adalah kebenaran dan tidak sedikit pula orang yang mengetahui kebatilan tapi masih saja mengikutinya.

Ya Allah .. berilah kami petunjuk dan luruskanlah kami …

Saudaraku,

Sikapmu yang kurang menghargai orang yang lebih tua darimu dan angkuh terhadap orang yang lebih muda darimu, dari mana engkau pelajari?!

Lupakah engkau hadits yang pernah kita pelajari bersama,

ليس منا من لم يرحم صغيرنا و يوقر كبيرنا

Artinya, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mengasihi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar”. (HR. At-Tirmidzi dari sahabat Anas rodhiyallahu ‘anhu dan dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Al Jami’ no. 5445)

aku teringat hari itu, walaupun setiap mengingatnya hati ini merasa sedih dan resah. Ketika engkau dan beberapa orang lainnya menghadiri undangan. Turut hadir ketika itu orang-orang awwam yang di antaranya  usia lebih tua dari kita. Ketika engkau masuk ke majelis lalu mengucapkan salam dan menjabat  tangan semua yang duduk kecuali bapak itu, engkau menyalami orang yang duduk di samping dan belakang bapak itu, lalu engkau duduk se-enaknya di depan bapak itu tanpa sedikit senyuman apalagi menjabat tangannya!!

Owh ..jelas benar guratan sedih dan perasaan aneh yang menyemburat dari wajah bapak tersebut. Sampai aku pun malu duduk di situ, kalau  bisa ingin rasanya aku untuk tidak hadir di situ dan saat itu..

Saudaraku, katakanlah kepadaku agar aku tidak berburuksangka kepadamu,

-          Apa yang memberatkan bibirmu untuk memberikannya sedikit senyuman walaupun hambar?! Padahal engkau tahu Nabi kita shollollahu ‘alaihi wa sallama bersabda,

تبسمك في وجه أخيك لك صدقة

“Senyumanmu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu”. (HR. At-Tirmidzi, Bukhari di Adabul Mufrod dan Ibnu Hibban, Ash-Shohihah oleh Al-Albany no. 572)

-          Apa yang membuat lidahmu kelu untuk menyapa walau hanya dengan tiga aksara “Pak”.

-          Apa yang membuat tanganmu lumpuh untuk menjabat tangannya?! Seperti engkau menjabat tangan yang lainnya?! Tidakkah engkau pernah membaca atau mendengar bahwa salafunas sholeh menjabat tangan anak-anak ketika bertemu, lantas bagaimana kalau dia lebih tua darimu?

عن سلمة بن وردان قال: رأيت أنس بن مالك يصافح الناس، فسألني: من أنت؟ فقلت: مولى لبني ليث، فمسح على رأسي ثلاثاً، وقال: “بارك الله فيك”

Dari Salamah bin Wardaan ia menuturkan, “Aku melihat Anas bin Malik menjabat tangan manusia, maka ia bertanya kepadaku, ‘Engkau siapa?’. Aku menjawab, ‘Maulaa Bani Laits’. Lalu ia mengusap kepalaku tiga kali seraya berkata, ‘Semoga Allah memberkahimu”. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, “Shohihul Isnad”)

Dari Al-Barro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Termasuk kesempurnaan tahiyyah (salam) engkau menjabat tangan saudaramu”. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, “Isnadnya shohih mauquf”).

Jawablah saudaraku! Bukankah dia juga seorang muslim? Apakah karena dia tidak berjenggot seperti dirimu dan celananya masih menutupi mata kaki??

Tidak saudaraku .. tidak! sejak kapan  salam dan jabat tangan hanya khusus untuk orang-orang yang penampilan sama sepertimu atau orang-orang yang menghadiri majelis ilmu saja?!

Sikapmu inilah yang barangkali dapat menghambat dakwah salafiyah di terima oleh kaum muslimin. Membuat mereka merasa dijauhi dan dipandang sebelah mata.

Saudaraku .. ketika engkau mengaku seorang salafy tetapi dengan sikap dan akhlakmu yang jauh dari akhlak salafus sholeh engkau telah ikut menghalangi dan menghambat dakwah yang hak ini.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata di  akhir kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah setelah menyebutkan pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Kemudian mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) disamping pokok-pokok ini, mereka mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sesuai dengan apa yang diwajibkan syari’at. Mereka memandang tetap menegakan haji, jihad, sholat jum’at dan hari raya bersama para pemimpin yang baik maupun yang keji. Mereka menjaga (sholat) jama’ah, dan melaksanakan nasehat untuk umat. dan mereka meyakini makna perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama,

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا وشبك بين أصابعه

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang kokok saling menguatkan satu dengan lainnya”. Lalu beliau menjalin di antara jari-jemarinya.(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa rodhiyallahu ‘anhu)

Dan sabdanya,

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur”. (HR. Bukhari dan Muslim dari An Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu)

Mereka mengajak bersabar menghadapi ujian, bersyukur ketika lapang, dan ridho dengan pahitnya qodho’.  Mereka mengajak kepada akhlak-akhlak yang mulia dan perbuatan-perbuatan baik, dan meyakini makna perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama,

أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا

“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlak-akhlaknya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Mereka mendorong untuk menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungannya denganmu, memberi orang yang tidak mau memberimu, mema’afkan orang yang menzalimimu, memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtua, dan begitu juga mereka memerintahkan untuk menyambung silaturrahim, bertetangga dengan baik, melarang sifat angkuh, sombong, zalim dan merasa lebih tinggi dari makhluk dengan hak atau tidak dengan hak. Mereka memerintahkan kepada budi pekerti yang tinggi dan melarang dari akhlak yang tercela.

Dan seluruh apa yang mereka katakan dan kerjakan dari ini dan yang lainnya, sesungguhnya mereka dalam hal itu mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. Jalan mereka adalah Dinul  Islam yang Allah mengutus Muhamad shollallahu ‘alaihi wa sallama dengannya”. (Al Akidah Al Wasithiyyah, hal. 129-131).

Saudaraku, aku yakin engkau adalah seorang yang berjiwa besar dan bisa berlapang dada menerima nasehat, karena itu marilah kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita dalam meneladani akhlak salaf sehingga sempurna pula ittiba’ kita kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk meniti jalan  Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama dan mengikuti jejak-jejak salafush sholeh baik dalam akidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, dan hubungan antara sesama, amin.


[1] An Nashiihah fiima Yajibu Muro’atuhu ‘indal Ikhtilaaf, oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily (13).