Nikmatnya Mencintai Allah Oleh Ustadz Abu Zubair Hawaary
Durasi : 01:28:03
Ukuran : 29,3 MB
Bitrate : 32 Kbps
Pekanbaru
Nikmatnya Mencintai Allah Oleh Ustadz Abu Zubair Hawaary
Durasi : 01:28:03
Ukuran : 29,3 MB
Bitrate : 32 Kbps
Pekanbaru
Menangis Karena Takut Kepada Allah Oleh Ustadz Abu Zubair Hawaary
Durasi : 01:30:54
Ukuran : 29,9 MB
Bitrate : 32 Kbps
Pekanbaru
DAURAH SEHARI INILAH AQIDAH DAN DAKWAH KITA
BERSAMA USTADZ ABU ZUBAIR HAWAARY DAN USTADZ ABU SULAIMAN MAUDUDI ABDULLAH, LC
Hari/Tanggal : Senin, 09 Maret 2009
Waktu : Jam 08.00 – Waktu Ashar
Tempat : Masjid Al-Madinah
Jl. Ampi kec. Marpoyan Damai Pekanbaru, Riau
Kontribusi : Gratis, Makan siang di sediakan Cuma Cuma
Insyaallah Live di http://abuzubair.net/ ato di http://telega-hati.sytes.net:8020/listen.pls
Pemutus Kelezatan
Pernahkah terpikir oleh kita, dimana tempat tinggal kita esok hari? Cepat atau lambat saat itu akan datang pada setiap kita. Setiap kita akan meninggalkan rumah kita yang lapang dan terang benderang, ke liang lahat yang gelap gulita.
Setelah kematian seseorang tidak menempati rumah kecuali yang dahulu dia bangun sebelum dia mati. Jika dahulu dia hidup dia membagun rumah dengan baik dengan keimanan, amal shalih, berpegang teguh kepada agama Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka baik pula lah rumahnya kelak setelah dia mati. Sebaliknya jika dia membangunnya dengan amal keburukan, maksiat, melalaikan agama Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka penyesalan dan kerugianlah yang akan dia hadapi.
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS Luqman [31] : 33)
Kajian ini mengajak kita untuk membuka hati sebelum membuka mata dan telinga. Mengajak kita untuk melembutkan hati hingga mudah menerima kebenaran dan istiqamah di atasnya, dan bersiap-siap untuk menempati timpat tinggal kita kelak, cepat atau lambat, sesuatu yang pasti terjadi, kehidupan setelah mati!
Durasi : 01.04.44
Ukuran : 14.8 mb
Bitrate : 32 kbps
WASIAT SANG KEKASIH
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Wahai sekalian manusia! Siapa saja dari manusia atau kaum mukminin yang tertimpa musibah maka hendaklah dia menghibur diri dengan musibahku dari musibah selainku. Sesungguhnya salah seorang dari umatku tidak akan ditimpa suatu musibah yang lebih berat dari musibahku.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 1300 dari Aisyah radhiallahu anha).
Musibah apa lagi yang lebih besar dari wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam? Musibah apa yang lebih besar bagi manusia dibanding dengan terputusnya wahyu dari langit yang merupakan pertanda mulai munculnya fitnah seperti penggalan-penggalan malam yang gelap, yang terakhir mengikuti yang pertama, yang terakhir lebih buruk daripada yang pertama? Musibah apa yang lebih besar dari musibah yang dengannya kemudian terbuka pintu-pintu fitnah yang membawa kepada keburukan hingga akhir zaman?
Merenungkan bagian akhir kisah kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan pelajaran yang sangat berharga. Sungguh beliau tidak kembali kepada Rabb-Nya melainkan telah meninggalkan dua perkara yang malamnya bagaikan siang, dan barangsiapa yang berpegang kepada keduanya tidak akan sesat selamanya, yakni Al-Qur’an dan Sunnahnya. Betapa sering di akhir-akhir hidupnya beliau mewasiatkan untuk berpegang teguh terhadap ajaran yang ditinggalkannya. Lalu dimana posisi kita? Dimana kita pada hari ini, yang mengaku sangat mencintai Nabi yang mulia – shallallahu alaihi wasallam – namun pada saat yang bersamaan meninggalkan sebagian ajarannya, mengabaikan sunnahnya, bahkan tidak jarang sebagian yang lain mencemoohnya? Apakah bukti cinta itu dengan bentuk perayaan-perayaan atas nama beliau, bait-bait syair, nyanyian yang menjadi pilihan, sementara sunnah beliau yang merupakan jalan menuju keselamatan untuk bertemu dengannya di telaga Haud ditinggalkan?
Kajian Wasiat Sang Kekasih ini menitikberatkan kepada masa-masa terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penjabaran mengenai wasiat beliau serta hikmah yang seharusnya diambil dari musibah besar wafatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Durasi : 02:39:29
Ukuran : 36,4 MB
Bitrate : 32 Kbps
Pekanbaru
Durasi : 00:60:59
Ukuran : 14 Mb
Yogyakarta, 25 Januari 2009
SUNGAI LIMA WAKTU
Setiap kali kemelut hidup menyelimut bagai kabut
Setiap kali dosa kotor melumuri jiwa
Setiap kali hawa membuatku lupa
Setiap kali mata hati buta karena semua
Setiap kali semua membuatku, lengah .. lemah .. goyah dan terpedaya
Seruan-Mu menyadarkan aku
Panggilan-Mu mengingatkan aku
Sayup terdengar, menyeruak dan menghentak kepongahan dunia
Membawa kepada sungai-sungai suci
Hapus dosamu
Kikis dakimu
Basuh lukamu
Buka belenggu nafsu
Tenggelam dalam sungai lima waktu
Bermandikan cahaya menerangi jiwa
Disini, disungai ini dalam telaga ini
Kuraih kesejukan, kedamaian, ketentraman, ketenangan
Dan kemenangan.
Abuz Zubeir Hawaary
Pekanbaru, 1 Ramadhan 1425 H
Durasi : 00:44:29
Ukuran : 10 MB
Solo, 25 Oktober 2008
HUKUM SHOLAT DI MESJID AHLI BID’AH
Apa hukum sholat di mesjid ahli bid’ah dan bagaimana saya sholat apabila kami tidak mendapatkan mesjid Ahlus Sunnah di kampung ini. Apakah boleh saya sholat bersama istriku di rumah?”.
Syeikh Robi’ hafizhohullah menjawab, “Tidak (boleh)[1] . Apabila ada mesjid sholatlah di situ, sekalipun bersama ahli bid’ah. Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma sholat di belakang Najdah Al-Khorijy[2], dan Imam Bukhari memakai riwayat ini sebagai penguat[3].
Sholah Jama’ah adalah perkara yang besar tidak boleh ditinggalkan hanya karena alasan seperti ini. Disamping itu, ahli bid’ah ada yang mastur (tersembunyi kondisinya). Jika dia mastur maka sholat kamu dibelakangnya . jika ternyata terbukti bagimu bahwa dia seorang mubtadi’ (pembuat dan pelaku bid’ah) jelaskan kepadanya al-hak. Apabila bid’ahnya adalah bid’ah kufriyah[4] dan ia bersikeras di atas bid’ahnya jangan sholat di belakangnya. Karena setelah tegaknya hujjah ia menjadi kufur. Maksudnya ia melakukan bid’ah kufriyah seperti berdo’a kepada selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, beristighotsah kepada selain Allah, menolak sifat-sifat Allah. Jika ia mempunyai salah bid’ah mukaffiroh dan engkau telah berdialog dengannya serta engkau telah menjelaskan kebenaran kepadanya dari Kalamullah dan Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama serta perkataan salaf lalu dia masih keras kepala. Ketika itu jangan sholat dibelakangnya. Adapun apabila kondisi dia tersembunyi dan tidak ada padanya bid’ah-bid’ah mukaffiroh dan sesat ini maka sholatlah di belakangnya”. (diterjemahkan dari : http://www.rabee.net/show_fatwa.aspx?id=214)
MANA YANG LEBIH UTAMA MENIKAH ATAUKAH MENUNTUT ILMU?
Syeikh Robi’ bin Hadi Al-Madhkholi Hafizhohullah Ta’ala ditanya, “Mana yang lebih utama apakah saya mendahulukan menuntut ilmu atau menikah? Padahal saya tidak sanggup menahan diri untuk tidak menikah?”.
Beliau menjawab, “Jika engkau sanggup bersabar dan menuntut ilmu, maka tuntutlah ilmu. Maksudnya, belajarlah sebelum memimpin sebagaimana dikatakan Umar rodhiyallahu ‘anhu. Sebagian orang, menikah menghalanginya dari menuntut ilmu, apabila ia menikah ia meninggalkan ilmu dan mulai sibuk bekerja untuk dirinya.
Apabila dia sanggup menggabungkan di antara kedua mashlahah (menikah dan menuntut ilmu) itu adalah baik. Adapun ia berpikir untuk pergi berbuat keji dan berzina – demi Allah – menikah dan menjaga kesucian dirinya adalah lebih utama. (diterjemahkan dari : http://www.rabee.net/show_fatwa.aspx?id=213)