Author Archive

February 03rd, 2010 | Author:

ADAB MENGHADIRI MAJELIS ILMU

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Apabila engkau menghadiri majlis ilmu, maka janganlah kehadiranmu melainkan untuk menambah ilmu dan pahala, bukannya hadir dengan kesombongan, mencari kesalahan untuk engkau sebarkan atau sesuatu yang ganjil untuk engkau beberkan. Karena ini adalah perbuatan orang-orang yang rendah dan tidak akan beruntung dalam ilmu selama-selamanya”.

(Al-Akhlak was Sair fi Mudaawaatin Nafus halaman 92)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 5.8/10 (8 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: Akhlak  | Tags: , ,  | 4 Comments
May 15th, 2009 | Author:

Kepada  Istriku

Petang ini aku tidak bisa segera pulang. Banyak tugas-tugas yang belum tuntas harus digegas. Petang menjelang, sms-mu datang, menanyakan kapan pulang?

Hmm …mungkin aku baru bisa pulang malam. Mungkin nanti anak-anak sudah tidur, si kecil yang lucu hari ini tidak bergantung dikakiku ketika pulang. Karena ia telah lelap dalam tidurnya.

Istriku …

Aku tahu, betapa berat  tugas dan tanggung jawabmu dirumah. Pekerjaanmu padat dan berat.

Memasak

Mencuci

Menyapu

Mengurus urusan rumahtangga.

Letih dan lelah demi semua.

Menyusui dan mendidik anak-anak.

Menjaga amanah dan kesetiaan ketika suami tidak ada.

Tidak diperintahkan sholat jum’at.

Tidak pula diwajibkan sholat jama’ah ke mesjid.

Tidak wajib atasnya jihad dengan senjata.

Namun begitu istriku, bergembiralah karena engkau tetap mendapatkan pahala seperti kaum pria.

Kok bisa?

Dengarkan jawabannya dari seorang utusan wanita “Asma’ binti Yazid Al-Anshoriyyah yang mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika beliau sedang duduk bersama sahabat-sahabat.

Asma binti Yazid Al-Ashoriyyah, “Ayah dan ibkuku sebagai tebusanmu, sesungguhnya aku adalah utusan para wanita kepadamu, dan aku tahu – jiwaku sebagai tebusanmu – bahwasanya tidak seorangpun dari wanita baik di timur ataupun di barat yang mendengar kepergianku untuk menemui ini ataupun tidak mendengarnya melainkan ia sependapat denganku.

Sesungguhnya Allah mengutusmu dengan kebenaran kepada laki-laki dan wanit. Maka kami beriman kepadamu dan kepada Ilah-mu yang telah mengutus.

Dan sesungguhnya kami para wanita terbatas (geraknya); menjadi pengaja rumah-rumah kalian, tempat kalian menunaikan syahwat kalian dan yang mengandung anak-anak kalian.

Sementara kalian para laki-laki dilebihkan atas kami dengan sholat jum’at, jama’ah, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, menunaikan haji berkali-kali, dan yang lebih baik dari itu berjihad di jalan Allah. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila ia keluar haji atau umroh atau berjihad, kami yang menjaga harta kalian, menenunkan pakaian kalian, dan kami pula yang mendidik anak-anak kalian. Maka apakah kami mendapatkan pahala seperti kalian hai Rasulullah?

Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menoleh kepada para sahabatnya, kemudian beliau berkata, “Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita yang lebih baik dari pertanyaannya dalam urusan agamanya ini? Mereka menjawab, “Hai Rasulullah, kami tidak mengira bahwa seorang wanita bisa paham seperti ini.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama menoleh kepadanya kemudian berkata kepadanya, “Pulanglah wahai wanita dan beritahukanlah kepada orang-orang wanita-wanita dibelakangmu bahwasanya baiknya pengabdian salah seorang dari kalian kepada suaminya dan mengharapkan ridhonya, serta mengikuti keinginannya menandingi itu semua”.

Maka wanita itu pulang seraya bertahlil, bertakbir dengan gembira”.(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abil Iman).

Istriku …

Jika seorang wanita memahami ibadah dengan sempit, hanya sebatas ruku’ dan sujud saja, ia akan kehilangan pahala yang besar, karena ia akan menganggap pekerjaan dirumah, berkhidmat kepada suami, bergaul dengannya dengan baik, mendidik anak-anak semua itu tidak termasuk ibadah. Ini jelas salah dalam memahami ibadah.

Ibadah sebagaimana dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah suatu penamaan untuk setiap sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari perkataan dan perbuatan yang batin maupun zhohir.

Sholat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orangtua, shilaturrahim, menepati janji, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, jihad melawan orang kafir dan munafiqin, berbuat baik kepada tetangga anak yatim orang miskin ibnus sabil dan hewan, berdo’a, berzikir, membaca quran dan semisalnya termasuk ibadah. Begitu juga mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, bertaubat kepada-Nya dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya semata, bersabar terhadap keputusan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya dan ridho terhadap qodho-Nya, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya semua itu termasuk ibadah kepada Allah.

Jadi ibadatullah adalah  tujuan yang dicintai dan diridhoi-Nya yang karenanya Ia menciptakan makhluk sebagaimana firman-Nya,

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengibadati-Ku”.

Engkau istriku .. senantiasa dalam ibadah ketika berkhidmat kepada suamimu dan anak-anakmu selama engkau mengharapkan ridhonya dan berbuat baik dalam bergaul dengannya.

Selamat untukmu istriku!!

Engkau berhak mendapatkan pahala di dalam rumahmu jika :

-          Ikhlas dan mengharapkan pahala dari Allah.

-          Memperbaiki niat.

Terakhir .. semoga Allah senantiasa menjagamu dan menjaga rumah tangga kita dalam naungan ridho dan cinta-Nya, amin.

Kamis 19 Jumadil Ula 1430/15 Mei 2008.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.1/10 (15 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +14 (from 14 votes)
May 13th, 2009 | Author:

JADILAH KUNCI KEBAIKAN

عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن من الناس مفاتيح للخير مغاليق للشر و إن من الناس مفاتيح للشر مغاليق للخير ، فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه ، و ويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه “

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya diantara manusai ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di tangannya dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di tangannya”.[1]

Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan , hendaklah ia memenuhi hal berikut ini :

1.       Ikhlas untuk Allah dalam perkataan dan perbuatan. Karena ikhlas adalah asas segala kebaikan dan mata air segala keutamaan.

2.       Senantiasa berdo’a kepada Allah memohon bimbingan untuk menjadi kunci kebaikan. Karena do’a adalah kunci segala kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya serta tidak akan menyia-nyiakan seorang mukmin yang menyeru-Nya.

3.       Bersemangat menuntut dan mendapatkan ilmu. Karena ilmu mengajak kepada keutamaan dan akhlak yang mulia, serta penghalang dari akhlak tercela dan perbuatan keji.

4.       Menjalakan ‘ibadatullah terutama yang fardhu, dan khususnya lagi sholat. Karena ia mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

5.       Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, serta menjauh dari akhlak tercela.

6.       Berteman dengan orang-orang baik dan sholeh. Karena duduk bersama orang-orang yang sholeh dinaungi malaikat dan diliputi rahmat. Serta menjauhkan diri dari duduk di majelis orang-orang yang jahat dan tidak baik, sesungguhnya itu adalah tempat singgah setan.

7.       Menasehati manusia ketika bergaul  dan berbaur dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan memalingkan mereka dari keburukan.

8.       Mengingat hari berbangkit dan sa’at berdiri di hadapan Robbul ‘Alamiin. Ketika Ia membalas orang yang baik dengan kebaikan dan orang yang jahat dengan hukuman. (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[2])

9.       Dan pilar penyanggah semua itu adalah keinginan seorang hamba kepada kebaikan serta memberi manfaat kepada orang lain.  Apabila keinginan seseorang  kuat, niat dan tekad sudah bulat serta memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan itu, lalu melakukannya sesuai jalurnya. Maka dengan izin Allah akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan.[3]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Amiin.


[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (237) dan dihasankan oleh Al-Albany di Shohih Sunan Ibnu Majah (194).

[2] Al-Zalzalah : 7-8.

[3] Al-Fawaid Al-Mantsuroh (161-162) oleh Syaikh Dr. Abdurrozaq bin Abdu Muhsin Al-Badr.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.3/10 (4 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +4 (from 4 votes)
May 06th, 2009 | Author:

Apakah Anda Ingin Bahagia?

Semua ingin bahagia

Bahagia di dunia dan akhirat

Tetapi,  bagaimana kan mencapai bahagia bila dayung tak berkayuh

Atau bahtera berlayar di daratan kering.

Saudaraku .. buka hati sebelum membuka mata dan telinga

Bacalah seksama, berikut ini beberapa sebab-sebab yang mendatangkan kebahagian dunia dan akhirat,

1.       Beriman kepada Allah Ta’ala dan beramal sholeh.

2.       Iman kepada Qodho dan Qodhor yang baik maupun buruk.

3.       Ilmu syar’i.

4.       Memperbanyak dzikrullah dan qiroatul quran.

5.       Bersih dan sucikan hati  dari penyakit.

6.       Berbuat baik kepada manusia.

7.       Melihat orang yang dibawahmu dalam urusan dunia dan orang yang di atasmu dalam urusan akhirat.

8.       Pendek angan-angan dan impian di dunia dan tidak menggantungkan hati ke dunia serta bersiap-siap untuk kematian.

9.       Yakini bahwasanya kebahagian seorang mukmin yang hakiki adalah di akhirat bukan di dunia.

10.   Berteman dengan orang yang sholeh.

11.   Ketahuilah, bahwasanya gangguan manusia terhadapmu adalah baik bagimu dan buruk bagi mereka.

12.   Kata-kata yang baik, dan membalak keburukan dengan kebaikan.

13.   Berlindung kepada Allah Azza wa Jalla dan memperbanyak do’a. (Ma’lumaat Jami’ah Qoyyimah hal. (12).

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan kepada kita kebaikan dan kebahagian di dunia dan akhirat, amin.

Muhibbukum

Abuz Zubair Hawaary

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
Category: Jendela Hati  | Leave a Comment
May 06th, 2009 | Author:

Wahai jiwa, yakinlah …

Sekalipun kematian hari ini melangkahimu menjemput yang lain

Sejatinya ia dalam perjalanan menujumu.

Hidup ini betapapun panjang dan indahnya, pasti berakhir jua.

Tak lebih dari detik ke menit, jam ke hari, minggu ke bulan lalu berganti tahun

Maka engkau akan sendiri tanpa teman, harta dan kekasih.

Ingatlah kematian hari ini untuk hidup kemudian hari

Tangisilah dosa hari ini untuk bahagia disurga nanti.

Bandingkanlah antara kehidupan yang bahagia di jalan Allah dengan kehidupan yang jauh dari Manhaj Allah.

Bandingkanlah antara orang-orang yang sholeh dan istiqomah dengan orang-orang yang bingung lagi tersesat, penuh keraguan, kebimbangan dan keresahan.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.9/10 (10 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +14 (from 16 votes)
May 04th, 2009 | Author:

BANTAHAN TERHADAP ORANG YANG ENGGAN MENYEBUT “SAYA SEORANG SALAFY’ KARENA KHAWATIR MENIMBULKAN PERPECAHAN

Pertanyaan :

Sebagian saudara kita para da’I mengatakan, ‘Saya menolak mengatakan ‘Saya seorang salafy’ karena khawatir orang memandangnya seperti sebuah hizbiyyah (kelompok)’. Apakah perkataan ini benar ataukah saya harus menjelaskan kepada orang apa itu salafiyyah?”.

Jawaban : Syaikh Al-Albany berkata,

Pernah terjadi dialog antara saya dan salah seorang penulis islamy yang bersama kita di atas Al-Kitab dan As-Sunnah. Saya berharap dari ikhwan kita para penuntut ilmu untuk menghapal dialog ini; karena manfaatnya sangat  penting sekali. Saya katakana kepadanya, (berikut ini kami susun dialog Syaikh dengan penulis tersebut).

Syaikh Al-Albany : Apabila seseorang bertanya kepadamu, ‘Apa mazhabmu? Apa jawabanmu?”.

Penulis Islamy : Muslim.

Syaikh Al-Albany : Jawaban ini salah.

Penulis Islamy : kenapa?

Syaikh Al-Albany :  kalau seseorang bertanya kepadamu apa agamamu?

Penulis islamy : muslim.

Syaikh Al-Albany : yang pertama tadi saya tidak bertanya apa agamamu, tapi yang saya tanyakan apa mazhabmu? Anda tentunya tahu bahwasanya di dunia islam hari ini ada mazhab-mazhab banyak sekali, dan anda sependapat dengan kami bahwa sebagiannya tidak termsuk ke dalam islam sedikitpun. Seperti mazhab Ad-Duruz, isma’iliyyah, alawiyyah dan lainnya. Namun begitu mereka tetap mengatakan ‘Kami adalah muslim’. Dan ada kelompok-kelompok lain, kita tidak mengatakan bahwa dia keluar dari islam, akan tetapi tidak diragukan lagi bahwasanya ia termasuk kelompoki-kelompok sesat yang dalam banyak masalah keluar dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Seperti Mu’tazilah, Khowarij, Murji’ah, dan Jabariyyah serta yang lainnya. Menurutmu, apakah ini ada atau tidak hari ini?

Penulis islamy : ya.

Syaikh Al-Albany : kalau kita tanyakan kepada salah seorang mereka apa mazhabmu? Ia akan menjawab, “Muslim”. Engkau muslim  sama dengan dia yang juga mengaku muslim. Jadi kita ingin anda menjelaskan dalam jawabanmu apa mazhabmu setelah islam dan agamamu?

Penulis islamy : kalau begitu mazhabku Al-Kitab dan As-Sunnah.

Syaikh Al-Albany : jawaban ini juga tidak cukup.

Penulis islamy : kenapa?

Syaikh Al-Albany : karena semua (firqoh/kelompok) yang kita sebutkan di atas mengaku bahwa mereka muslimun, dan tidak seorangpun dari mereka yang mengatakan, ‘Saya tidak berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah. Misalnya : apakah syi’ah mengatakan bahwa kami melawan Al-Kitab dan As-Sunnah? Bahkan mereka mengatakan : kami di atas Al-Kitab dan As-Sunnah, kalian yang menyimpang dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Jadi ustadz .. tidak cukup anda mengatakan : saya muslim di atas kitab dan sunnah, harus ada satu perkara lagi yang digabungkan. Bagaimana menurut mu, apakah boleh kita memahami Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman baru? Ataukah kita harus komitmen dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah dengan mengikuti  jalan Salafush Sholeh?

Penulis islamy : itu harus.

Syaikh Al-Albany : apakah anda meyakini bahwasanya pengikut-pengikut mazhab-mazhab lain yang kelaur dari islam, namun mengaku islam dan yang masih dalam lingkaran islam akan tetapi menyimpang dalam sebagian hukum-hukumnya. Apakah anda yakin bahwasanya mereka mengatakan seperti yang anda dan saya katakana, “Kami berada di atas kitab dan sunnah dan di atas manhaj salafush sholeh?

Penulis islamy : tidak, mereka tidak sama dengan kita.

Syaikh Al-Albany : jika demikian, tidak cukup anda mengatakan saya di atas kitab dan sunnah, harus ada gabungan lain.

Penulis islamy : ya.

Syaikh Al-Albany : jadi semestinya anda mengatakan  di atas Al-Kitab dan As-Sunnah dan di atas manhaj salafush sholeh. Sekarang kita sampai kepada intinya …

Syaikh Al-Albany [1] : apakah ada satu kata dalam bahasa arab yang menyatukan semua kalimat yang kita sebutkan di atas; muslim, di atas kitab dan sunnah, dan manhaj salafush sholeh, misalnya kalimat “saya seorang salafy”?

Penulis islamy : memang benar demikian.

Syaikh Al-Albany berkata, “Dia pun menyerah. Inilah jawabannya, apabila seseorang mengingkari masalah ini sampaikan kepadanya seperti apa yang kita sebutkan tadi ‘mazhab anda apa? Ia akan menjawab : muslim ..dan teruskan lanjutan dialog bersamanya. Subhanakallahumma wa bihamdika Asyhadu Alla ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa Atuuba Ilaika.

(diterjemahkan dari : http://www.alsalafway.com/cms/news.php?action=news&id=1962)


[1] Disini syaikh Al-Albany berkata, “Saya berkata kepadanya dan dia adalah seorang ahli sastra dan penulis”.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 6.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +4 (from 4 votes)
April 30th, 2009 | Author:

Masalah Jahar atau Sirr Basmalah

assalamu’alaikum, ustz ana pengen diberikan hadits tentang bacaan bismillah yang zahar dan sir dalam shalat, atas petunjuk ustz, jazakallah khairan katsiro. Wassalam

wa alaikumus salam warahmatullahi wa barakaatuh.

Sebelumnya ana tegaskan! Hanya atas petunjuk Allah Ta’ala semata!!.. barangsiapa yang diberi Allah petunjuk tidak seorangpun yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan Allah tiada seorangpun yang bisa menunjukinya. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan kepada kita petunjuk-Nya dan meneguhkan kita di atasnya, amin.

Masalah jahar  (bukan zahar) dan sirr ketika membaca basmallah di dalam sholat ada dua pendapat ulama. Yang rajih Insya Allah adalah imam membaca basmalah dengan sir. Karena demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku sholat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, di belakang Abu Bakar dan di belakang Umar. Maka aku tidak pernah mendengar seorangpun dari mereka membaca Bismillahir rohmanir rahim”.[1]

Selain itu karena dia bukanlah termasuk ayat Al-Fatihah[2].

Akan tetapi jika sesekali imam menjaharkannya tidak mengapa. Karena ada riwayat yang mengisyaratkan demikian sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah di dalam kitab Zaadul Ma’ad, akan tetapi kata beliau Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama lebih sering men-sirr-kannya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan kalau imam menjaharkan dalam rangka menghindari fitnah atau ta’liif  orang-orang yang mazhabnya jahar, maka itu tidak apa-apa.[3]

Imam Az-Zaila’I menuturkan, “Sebagian ulama menjaharkan basmalah guna menghindari hal yang tidak baik (Saddan Lidz-Dari’ah). Ia melanjutkan, “Boleh bagi seseorang meninggalkan yang afdhol untuk Ta’liiful Qulub dan menyatukan, serta menghindari sesuatu yang membuat orang lari. Sebagaimana Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama meninggalkan pemugaran ka’bah dan membangunnya kembali di atas pondasi Ibrahim, dengan alasan orang-orang qurasiy baru meninggalkan jahiliyyah, beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama khawatir itu akan membuat mereka lari. Dan beliau memandang mendahulukan maslahah bersatu sekalipun membiarkan ka’bah seperti itu.

Dan tatkala Ar-Robi’ mengingkari Ibnu Mas’ud yang menyempurnakan sholat di belakang Ustman[4], Ibnu Mas’ud menjawab, “Perselisihan itu adalah buruk”.

Ahmad dan lainnya telah menegaskan itu dalam masalah basmalah, menyambung witir dan lainnya. Yang mana seseorang meninggalkan yang afdhol kepada sesuatu yang boleh tetapi  tidak utama. Dalam rangka menjaga kesatuan hati  makmum atau untuk mengenalkan mereka kepada sunnah dan semisalnya, dan ini merupakan landasan besar dalam (masalah) Sadd Adz-Dzari’ah”.[5]

Syaikh Masyhur Hasan Salman berkata, “Yang benar dikatakan, “Masalah ini adalah masalah yang lapang. Dan pendapat yang membatasi pada satu tidak mungkin. Dan setiap yang berpegang kepada satu riwayat[6] dia benar dan berpegang kepada As-Sunnah. Yang sempurna adalah mengikuti Al-Mushthofa shollallahu ‘alaihi wa sallama dalam segala keadaan. Maka kadang dijaharkan dan lebih sering di sirr-kan. Kepada Allah kita meminta tolong, dan Dialah yang menunjuki kepada jalan yang lurus”.[7]


[1] Dikeluarkan oleh Muslim no. (399) kitab Ash-Sholah bab. Hujjah Man Qola Laa Yajhar bil Basmalah.

[2] Fatawa Ibnu Utsaimin 13/109.

[3] Ibid.

[4] Ketika di Mina. Padahal Ibnu Mas’ud berpendapat sholat dilakukan dengan qoshor sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar rodhiyallahu ‘anhum ajma’in.

[5] Nasbur Royah (1/328).

[6] Dalam masalah ini.

[7] Al-Qowlul Mubin hal. (234).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: FIKIH, Tanya Jawab  | One Comment
April 29th, 2009 | Author:

Masalah Talak

Ass.wr.wb.
1. jika seorang suami mengusir isterinya dari rumahnya, apakah hal tersebut membuat jatuh talak?
2. Kemudian jika dalam hitungan jam sang suami menjemput kembali isteri yang diusirnya, apakah yang seharusnya dilakukan oleh isterinya?

jzkmlh khair…Wss

Wa alaikumussalam warahmatullahi wa barakaatuh

1.       Lafazh talak itu ada dua : shorih dan kinayah. Shorih artinya jelas atau tegas. Maksudnya lafazh talak langsung atau pecahan katanya. Ahli ilmu mencontohkan : engkau aku talak, atau engkau muthollaqoh, atau engkau tholiq. Atau dalam bahasa kita lafazh shorih  seperti : engkau aku cerai, dan semisalnya.

Adapun kinayah yaitu; lafazh atau ungkapan yang mengandung kemungkinan beberapa makna. Ahli ilmu memisalkan seperti ungkapan seorang suami kepada istrinya “Pergi kembali ke rumah orangtuamu!”, atau “Tinggalkan saya”  dan lainnya.

Lafazh-lafazh yang shorih atau jelas dan tegas hukumnya jatuh talak sekalipun dia tidak meniatkan talak.

Adapun lafazh kinayah dikembalikan kepada niat suami. Apakah ketika dia mengucapkan itu berniat menceraikan atau tidak. Bersandarkan kepada hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Innamal A’maalu binniyaat”.

2.       Istri yang baik dan bijaksana adalah yang mengedepankan maslahat rumah tangganya dari pada egoisme dan amarah. Berlapang dada dan saling memaafkan adalah kunci kelanggengan rumah tangga. Bukankah Allah juga berfirman, “dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (At-Taghobun : 14)

Bagaimanapun suamimu adalah manusia biasa yang kadang dilanda problema diluar rumah yang tidak engkau ketahui. Sama seperti dirimu yang juga penuh kekurangan.

Oleh karena itu, berpikirlah dengan jernih, memohon kepada Allah dengan tulus, timbanglah antara manfaat dan mudhorrot dengan hati yang bersi dan berserah kepada Allah serta mengharapkan ridho-Nya. dan jangan lupa minta nasehat orang yang dapat dipercaya dan amanah serta takut kepada Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 1.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +5 (from 5 votes)
Category: Tanya Jawab  | 2 Comments
April 29th, 2009 | Author:

Bekerja atau Menaati Suami?

ass.wr.wb …saya ibu …  anak umur … th, bekerja di perusahaan swasta dari sebelum saya menikah sya sudah bekerja tapi sebenarnya saya ingin keluar dari pekerjaan yg saya jalani diam dirumah menurus anak dan suami.suami juga menyuruh untuk berhenti berkerja,hanya sja hati saya masih takut jika hidup kekurangan karna suami saya penhasilannya tidak tetap/blm punya pekerjajan yg pasti,kadang sy suka menangis dan itu pasti membuat suami tersinggung bahkan sakit hati,bagaimana sikap yg harus sya lakukan? terima kasih wasalm wr.wb

wa ‘alaikis salam warahmatullahi wa barakaatuh

semoga rahmat Allah senantiasa menyertai ibu sekeluarga dan semoga Allah senantiasa membimbing langkah ibu untuk bertakwa kepada-Nya, amin.

Ibu yang semoga senantiasa dirahmati Allah .. kita wajib meyakini bahwa semua yang disyari’atkan Allah Ta’ala adalah baik dan untuk kebaikan kita. Syari’atnya adalah adil dan bijaksana. Dan kebaikan itu adalah dengan menaati syari’at-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu maka baginya kehidupan yang sempit dan Kami kumpulkan ia di hari kiamat dalam keadaan buta”.[1]

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menjelaskan, “Allah menjamin bagi orang yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan kandungannya bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhirat”.[2]

Lihatlah wahai saudariku .. siapa yang telah menciptakanmu?

Siapa yang telah memberikan hidayah islam kepadamu?

Siapa yang telah menganugerahkanmu seorang suami yang engkau sayangi?

Siapa yang telah mengaruniahimu seorang anak yang menjadi belahan jiwamu?

Ya ..ya ..lisanmu mengatakan Allah!!

Benar saudariku. Dialah Allah yang telah menciptakan jin dan manusia bahkan alam semesta. Dan Dia pula yang mengatur rizki seluruh makhluk-Nya. oleh karena itu jangan pernah ragu dan khawatir akan rizki Allah jika engkau berhenti bekerja karena mematuhi Allah Ta’ala yang telah memerintahkanmu tinggal dirumah menjalankan tugas sebagai wanita muslimah, istri sekaligus ibu bagi anakmu.

Janganlah lupa bahwa, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah berikan untuknya jalan keluar dari segala permasalaha dan Allah berikan ia rizki dari arah yang tidak dia duga”.

Kepatuhanmu kepada suamimu yang mengingikanmu berhenti bekerja adalah salah satu bentuk ketakwaan kepada Allah. Karena Allah memerintahkanmu tinggal dirumah dan ta’at kepada suamimu.

Dan janganlah lupa bahwa barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan gantikan untuknya dengan yang lebih baik untuknya.

Qona’ah terhadap apa yang diberikan Allah melalui suamimu

Bersabar menjalankan agama Allah

Mematuhi suamimu

Mengurus rumah tangga

Mendidik anak-anak

Jauh lebih baik dari pada hidup berkecukupan tetapi suami merasa terabaikan

Anak-anak kurang kasih sayang

Rumah tangga terbengkalai

Yang berakibat munculnya berbagai percikan dan problema rumah tangga yang penyebab utamanya adalah tidak patuh kepada Allah dan Rasul-nya  dan tidak menaati suami.

Beri dukungan kepada suami untuk giat bekerja. Berikan masukan dan motivasi serta hargai setiap tetes keringatnya ..ketahuilah suamimu itu adalah surga atau nerakamu!!

Semoga Allah meneguhkan ibu dan suami ibu di atas agama Allah dan dilimpahkan rizki yang cukup dan halal, amin.

Akhuukum

Abuzzubair hawaary


[1] Thoha : 123-124.

[2] Ad-Durrul Mantsur (5/607).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
Category: Tanya Jawab  | 3 Comments
April 24th, 2009 | Author:

SUCIKAN MASJID DARI MUSIK DAN NYANYIAN

Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi dan yang paling dicintai Allah Ta’ala. Ia adalah benteng iman, madrasah pertama bagi seorang muslim, rumah orang-orang yang bertakwa.

Tempat kaum muslimin berkumpul setiap hari lima kali, tempat bermusyawarah dan saling nasehat- menasehati. Dari masjidlah memancar cahaya islam menerangi penjuru dunia. Dari mesjid pula lahirnya para ulama dan fuqoha’.

Ketika Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama hijrah ke Madinah, yang pertama beliau bangun adalah masjid..

Ini menunjukkan bahwasanya masjid memiliki urgensi yang sangat penting di dalam Din Islam, karena sholat adalah tiang agama, dan mesjid sesuai dengan namanya adalah tempat yang disiapkan untuk sujud. Dan sujud adalah symbol penyerahan diri kepada Allah, karena dalam sujud seorang muslim menempelkan kening dan hidungnya, bagian tubuhnya yang paling mulia untuk menghambakan diri kepada Allah Ta’ala. Maka mesjid adalah syi’ar kaum muslimin yang bertauhid dan hanya sujud kepada Allah Ta’ala.

Masjid adalah symbol islam. Dimana jika tidak ada lagi azan, sholat, jama’ah maka tidak ada pula islam dan kaum muslimin.

وعن عبد الله بن عمر : « أن النبي – صلى الله عليه وسلم  قال : خير البقاع المساجد ، وشر البقاع الأسواق »

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, “Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”.[1]

“Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid itu hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan sholat, membayarkan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang diberi petunjuk”. (At-Taubah : 18)

“Dan bahwasanya mesjid-mesjid itu adalah milik Allah, maka janganlah engkau berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepadaNya”. (Al-Jin : 18)

Itulah mesjid ..tempat paling mulia dan paling suci dimuka bumi. Rumah orang-orang yang bertakwa.

وعن أبي الدرداء قال : سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : « المسجد بيت كل تقي ، وتكفل الله لمن كان المسجد بيته بالروح والرحمة والجواز على الصراط إلى رضوان الله ، إلى الجنة »

Dari Abu Darda’ ia berkata, “Aku mendengar rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Masjid adalah rumah setiap orang yang bertakwa, Allah menjamin barangsiapa yang masjid adalah rumahnya akan diberi rahmat dan selamat melewati ash-shiroth menuju ridho Allah dan surge”.[2]

Tempat turunnya rahmat dan para malaikat menaungi orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an di dalamnya.

Orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid untuk menunaikan jama’ah dianugerahi cahaya yang benderang di hari kiamat.[3]

Orang yang datang ke masjid baik pagi ataupun petang Allah naikkan satu kedudukan di surga setiap kali ia ke masjid.[4]

Berita gembira untuk orang yang berjalan dalam kegelapan menuju mesjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.

وعن بريدة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم : « بشر المشائين في الظلم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة » . رواه أبو داود والترمذي

Dari Buraidah dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat”.[5]

Beruntunglah hamba yang hatinya terikat dengan mesjid, ia sangat mencintai mesjid dan senantiasa menjaga jama’ah di dalamnya, ia akan mendapatkan naungan Allah dihari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.[6]

Orang yang membangun masjid ikhlas karena Allah, Allah bagunkan untuknya rumah di surga.

من بنى مسجدا يبتغي به وجه الله بنى الله له مثله في الجنة

Barangsiapa yang membangun masjid mengharapkan wajah Allah semata, Allah bangunkan untuknya yang sama dengan itu di surga”.[7]

Di masjid Allah, izinkan nama-Nya ditinggikan dan diagungkan.

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”.[8]

Masjid dimakmurkan dengan sholat, majelis ilmu, do’a, zikir, membaca Kalamullah dan ibadah-ibadah lainnya. Masjid bukanlah  mimbar politik untuk mengejar kedudukan duniawi, bukan pula pasar tempat berjualan perhiasan dunia yang fana, bukanlah pentas seni tempat para paduan suara bernasyid ria.

Sangat disayangkan ..kesucian mesjid tersebut telah dinodai oleh kaum muslimin sendiri dengan kesyirikan dan bid’ah yang mereka lakukan di dalamnya

Sangat disayangkan kemuliaannya telah dihinakan oleh kaum muslimin sendiri dengan maksiat dan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan di dalamnya.

Diantara fenomena yang menyedihkan sekaligus memedihkan adalah suara-suara musik yang melantun dari nada dering Handphone di dalam mesjid. Baik di majelis-majelis ilmu bahkan yang lebih parah ketika sholat yang sedang berlangsung, tanpa ada yang mengingkari kecuali sedikit sekali.

Seringnya ini terjadi suatu tanda bahwa pelakunya meremehkan kemuliaan Allah dan kurangnya pengagungan terhadap kedudukan masjid dan sholat khususnya. Apabila pelaku tersebut sudah diingatkan dan ia masih juga melakukan, maka itu adalah kemungkaran yang besar. Dan jika ia sengaja melalaikannya tidak ada lagi alasan bagi mereka di sisi Allah. Karena mereka telah merendahkan tempat  yang wajib dihormati dan dimuliakan. serta tidak menjaga rumah-rumah Allah dari kesia-siaan yang tidak patut dilakukan di dalamnya.

Aisyah menuturkan sebagaimana di dalam Sunan Abu  Dawud bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama memerintahkan agar mesjid dibersihkan dan diberi wewangian.

Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama juga melarang setiap perkataan dan perbuatan yang mengotori mesjid dan mengurangi kemuliaannya serta merusak wibawannya. Seperti beliau melarang mengumumkan benda yang hilang di dalam masjid sebagaimana di dalam shohih Muslim bahwasanya ia bersabda,

(من سمع رجلاً ينشد ضالةً في المسجد فليقل : لا ردها الله عليك فإن المساجد لم تبن لذلك)

“Barangsiapa yang mendengar seseorang mengumumkan benda yang hilang di dalam masjid maka hendaklah ia mengatakan, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu’. Sesungguhnya masjid tidak dibangun untuk itu”.

Dan beliau juga melarang berjual-beli di dalam mesjid sebagaimana sabdanya,

إذا رأيتم من يبيع أو يبتاع في المسجد فقولوا : لا أربح الله تجارتك

“Apabila kalian melihat orang yang berjualan atau membeli di masjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberi keberuntungan dalam perdaganganmu”.[9]

Apabila Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama melarang perkara-perkara yang hukum asalnya mubah ini dilakukan di masjid, karena membuka pintu pelecehan keagungan mesjid dan mengalihkannya dari  tujuan serta fungsi pendiriannya. Lantas bagaimana dengan suara musik dan nyanyian dari nada-nada dering di dalam mesjid dan ketika  sholat ditegakkan?! Sungguh itu adalah kemungkaran yang besar tapi dipandang remeh oleh manusia.

Berdiri dihadapan Allah dan bermunajat kepadanya adalah perkara yang agung dan mulia, seyogyanya seorang mukmin merasakan sakralnya kondisi ini serta keagungan Al-Malikul Jabbar yang dia berdiri dihadapannya. Ia berdiri di hadapan-Nya, berbicara dan bermunajat kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,

(إن أحدكم إذا كان في الصلاة كان الله قبل وجهه فلا يتنخمن أحد منكم قبل وجهه في الصلاة)

“Sesungguhnya salah seorang kamu apabila dalam sholat, Allah ada di hadapannya, maka janganlah ia meludah ke depannya di dalam sholat”.[10]

Dalam riwayat an-Nasai,

(إن أحدكم إذا قام في صلاته فانه يناجي ربه وإن ربه بينه وبين القبلة)

“Sesungguhnya salah seorang dari kamu apabila berdiri dalam sholatnya sesungguhnya ia bermunajat kepada Robb-nya dan sesungguhnya Robb-nya di antara dia dan kiblat”.

Beliau juga bersabda,

“يا أيها الناس! كلكم يناجي ربَّه، فلا يجهر بعضكم على بعض بالقراءة؛ فتؤذوا المؤمنين “.

“Wahai manusia, sesungguhnya setiap kalian bermunajat kepada Robb-nya, maka janganlah salah seorang dari kalian mengeraskan bacaannya atas yang lain, sehingga mengganggu kaum mukminin”.[11]

Perbuatan sebagian orang hari ini, yang meremehkan keagungan masjid dan sholat adalah fenomena yang sangat menyedihkan. Menunjukkan lemahnya iman, kurangnya ilmu dan dangkalnya  pemahaman. Apalagi jika sikap itu dari seorang yang  sudah mengkaji ilmu syar’I dan sering menghadiri majelis ta’lim.

Kalau saja seorang dari mereka berdiri dihadapan presiden atau menghadiri acara resmi pemerintahan, engkau akan melihatnya khusyu’, tenang dan tidak sibuk dengan urusan lain. Ia akan diam atau berbicara dengan santun, ini suatu yang lumrah dilakukan manusia. Akan tetapi musibahnya adalah ia tidak bersikap seperti itu atau lebih baik di hadapan Robb presiden ini.

Seorang manusia bisa terbebas dari  kebiasaan mungkar ini dengan mematikan Handphonenya agar ia bisa berkosentrasi untuk ibadah. Jika tidak dia bisa mensilentkannya. Apabila suatu saat dia lengah atau lupa kemudian dia menyesali dan beristighfar semoga Allah memaafkannya. Akan tetapi jika itu terus berulang padahal selalu diingatkan dan dinasehati. Dan dia malah menganggap itu hanya masalah sepele tak perlu diingkari ..demi Allah ini adalah kemungkaran yang tdak mungkin didiamkan.

Orang yang membiarkan suara musik berbunyi dari handphonenya di dalam mesjid telah melakukan beberapa kerusakan :

-          Nada dering tersebut mungkar dan menyelisihi syara’.

-          Ia telah meremehkan  kemuliaan  dan keagungan majid.

-          Ia telah melalaikan pengagungan terhadap syiar-syiar Allah.

-          Ia telah mengganggu sholat orang lain.

-          Ia telah menghilangkan kekhusyukan dari dirinya dan orang lain.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama melarang menyakiti orang-orang yang sholat dengan bau-bauan yang tidak sedap sebagaimana sabdanya,

من أكل البصل و الثوم والكراث فلا يقربن مسجدنا فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدم

“Barangsiapa yang makan bawang meran dan bawang putih janganlah ia mendekati mesjid kami sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa yang membuat anak adam terganggu”.[12]

Ini adalah gangguan secara indrawi, bagaimana dengan orang yang mengganggu orang-orang yang sedang sholat secara maknawi yang mengganggu mereka memikirkan dan merenungi bacaan dalam sholat mereka, serta memutus kekhusyukan dan ketenangan mereka. Demi Allah, jika saja orang yang lalai ini berpikir dan merenungi kekejian perbuatannya, niscaya dia yakin bahwasanya ia telah melanggar kehormatan masjid, sholat dan hak-hak orang yang sholat. Coba saja dia bayangkan apa yang akan terjadi jika suatu klub musik datang ke halaman mesjid dan memainkan alat musik serta melantunkan lagu di dalam masjid ketika sholat sedang ditegakkan? Dia pasti akan marah dan mengingkarinya. Padahal perbuatannya seperti perbuatan mereka sekalipun lebih ringan kesalahannya. Karena dia hanya menukilkan suara musik di dalam mesjid. Dan inilah sebenarnya inti kemungkarannya yang dilarang oleh syara’. Dan tidak berbeda hukum pengharamannya dalam dua keadaan ini sekalipun berbeda dalam tingkatan haram[13]. Pelaku ini berdosa menurut syara’ dan wajib atasnya bertaubat dan berhenti dari perbuatan itu serta memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.

Suatu keniscayaan atas setiap muslim untuk menjaga kehormatan mesjid dan kemuliaan mesjid dari segala noda indrawi dan maknawi. Dan hendaklah ia mengagungkan syiar-syiar Allah, karena pengagungannya terhadap Allah, hukum-hukum dan syara’Nya. Allahu Ta’ala berfirman, “Yang demikian itu adalah barangsiapa yang mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Robbnya”.

Allah juga berfirman,  “Yang demikian itu karena barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati”.

Kita wajib bangkit dan mengingkari  kemungkaran ini yang menodai rumah-rumah Allah dan merusak waktu dan suasana terbaik orang mukmin ketika beribadah di rumah-rumah Allah tersebut.

Imam sholat dan pengurus mesjid mengemban  tanggung jawab yang bes ar dalam menjaga kesucian mesjid, terutama dalam masalah ini, mereka harus berani mengambil tindakan; dengan mengajarkan kepada jama’ah hukum dan adab menghadiri mesjid serta mengingatkan orang yang melanggar keagungan dan kehormatan mesjid , bahkan jika diperlukan mengambil tindakan yang dipandang baik untuk maslahat mesjd dan kaum muslimin.

Begitu juga para jama’ah mesjid hendaknya saling nasehat-menasehati dan ingat-mengingatkan dengan hujjah yang nyata  dan akhlakul kariimah.

Semoga Allah Ta’ala membukakan hati kita untuk menerima kebenaran, meneguhkan kita di atasnya hingga mati, amin.


[1] Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di Al-Kabiir sebagaimana di dalam kitab Majma’ Az-Zawaid 2/6 ia berkata, “Di sanadnya ada Atho’ bin As-Saib, ia adalah tsiqoh akan tetapi berobah di akhir umurnya sedangkan rijal lainnya adalah tsiqoh”. Hadits yang senada diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah (1/464). Dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohih Al-Jami’ no. 3271.

[2] Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di dalam Al-Kabir dan Al-Awsath. Dan Al-Bazzar, ia berkata, “Isnadnya hasan sebagaimana di dalam Majma’ Az-Zawaid 2/22 dan ia berkata, “Rijal Al-Bazzar seluruhnya adalah rijal Ash-Shohih”. Dihasankan oleh Al-Albani di Ash-Shohihah (2/215, no. 716).

[3] Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di dalam Al-Awsath.

[4] Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1/159), At-Tirmidzi (1/435) ia berkata, “Hadits Ghorib”. Syaikh Al-Albani berkata, “Shohih”. Lihat Shohih Al-Jami’ hadits no. 2823.

[6] Hadits tentang ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

[7] Diriwayatkan oleh Ahmad, Baihaqi, dari Utsman bin Affan. Al-Albani berkata, “Shohih’. Lihat Shohih Al_jami’  no. 6131.

[8] An-Nur : 36.

[9] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah, dishohihkan oleh Al-Albani di Shohih Al-Jami’ Ash-Shohih no. 573.

[10] Muttafaqun ‘alaihi.

[11] Diriwayatkan oleh Ahmad.

[12] Diriwayatkan oleh Muslim.

[13] Semisal dengan ini,  yang terjadi di mesjid-mesjid di kota tempat penulis tinggal, sudah menjadi trend meletakkan sejenis jam besar ala Jerman ‘Junghans’, berbunyi seperti lonceng-lonceng gereja setiap jam. Entah apa yang membuat mereka bangga meletakkan jam tersebut di dalam mesjid sehingga menyerupai lonceng gereja ketika berdentang. Yang lebih parah lagi apa yang terjadi di mesjid agung kota pekanbaru, dimana lantai dasarnya dijadikan tempat pesta pernikahan yang sering kali diiringi alat-alat musik seperti keyboard dan lain-lain, dan dihadiri wanita-wanita yang bertabarruj serta tidak menutup aurat dengan benar. Sementara ketika azan dikumandangkan dan sholat ditegakkan hanya sedikit yang datang, wa ilallahil musytakaa. Begitu juga kebiasaan sebagian mesjid setiap subuh ahad mengadakan ‘didikan subuh’ untuk anak-anak, sambil memanggil dan menunggu kehadiran anak-anak diputarkan lagu-lagu haddad alwi atau  lagu-lagu nasyid lainya menggunakan pengeras suara di menara-menara mesjid. Dimana para ulama? Suara para da’I, khotib dan ustadz yang menjelaskan masalah ini kepada umat? Sungguh suaramu akan didengar jika yang engkau seru adalah orang-orang yang hidup akan tiada kehidupan pada orang-orang yang engkau seru!!

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 6.5/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +7 (from 7 votes)