Archive for » 2010 «

April 09th, 2010 | Author:

جاء رجل إلى الحسن البصري -رحمه الله-: فقال: “يا أبا سعيد أشكو إليك قسوة قلبي. قال: أدِّبه بالذكر”. ذم الهوى – ص 69

Seseorang datang menemui Al Hasan Al Bashry rahimahullah lalu bertanya, “Hai Aba Sa’id .. aku hendak mengadukan kepadamu perihal kerasnya hatiku”. Al Hasan berkata, “Didik dia dengan dzikir”. (kitab Dzamm Al Hawa, hal : 69)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.3/10 (30 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +15 (from 17 votes)
April 08th, 2010 | Author:

MENUNTUT ILMU DENGAN BENAR

Imam Asy-Syatibi rahimahullah di Mukadimah ke dua belas dari kitab Al Muwafaqot menyebutkan cara terbaik untuk meraih ilmu syar’I  adalah mengambilnya langsung dari dari ahlinya yang menguasai ilmu tersebut.

Ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu itu dulunya tersimpan di dada-dada para pengembannya, kemudian berpindah ke kitab-kitab lalu kuncinya ada pada para ahlinya”.

Asy-Syatibi berkata, “Ungkapan ini menunjukkan untuk mendapatkan ilmu harus mengambilnya dari ulama-ulama yang menguasainya, mereka adalah kunci-kuncinya tanpa diragukan lagi”.

Kemudian beliau melanjutkan,  “Apabila telah tetap bahwasanya harus mengambil ilmu dari ahlinya yang menguasainya. Maka untuk menempuhnya ada dua cara :

Pertama : Musyafahah (mengambil langsung dari lisannya, dan ini adalah jalan yang paling bermanfaat).”

Yaitu penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya dengan benar, ikhlas dan fokus kepada ilmu. alangkah besarnya berkah dan rahmah duduk di majelis ilmu seperti ini.

Seringkali seorang penuntut ilmu membaca sebuah kitab, ia menghapalnya, dan mengulang-ulangnya tapi ia tidak mengerti. Apabila disampaikan oleh guru ia tiba-tiba bisa paham dengan mudah, dan ia mendapatkan ilmu itu di hadapan gurunya.

Asy-Syathiby berkata, “Dan pemahaman ini kadang didapat dengan hal yang biasa, seperti penjelasan bagian yang meragukan yang tak terpikirkan oleh seorang penuntut ilmu, dan bisa juga di dapat dengan hal yang tidak biasanya, yaitu Allah menganugerahkan kepada penuntut ilmu pemahaman ketika ia bersimpuh di hadapan gurunya dengan tawadhu dan merasa membutuhkan apa yang diajarkan kepadanya. Ini adalah di antara faedah-faedah duduk di majelis para ulama,  yaitu; ketika dibukakan pemahaman untuk penuntut ilmu di hadapan mereka apa yang tidak dibukakan untuknya ketika dia duduk belajar kepada yang lain”.

Jalan yang ke dua : untuk meraih ilmu, (masih bersama perkataan Abu Ishaq Asy-Syatiby rahimahullah), yaitu menelaah kitab-kitab yang dikarang para ulama. Cara ini juga bermanfaat dengan dua syarat :

Pertama : mampu memahami maksud-maksud ilmu yang sedang dipelajari, mengetahui istilah-istilah ahlinya, yang akan membantunya memahami kitab-kitab yang dipelajari. Dan modal inipun sejatinya di dapat dengan jalan yang pertama yaitu belajar langsung dari ulama atau ahlinya.

Kedua : hendaklah ia memilih kitab-kitab ulama terdahulu, karena mereka lebih mendalam ilmunya dari pada ulama muta-akhirin.

dan ini bukan berarti membaca dan mempelajari buku tidak berfaedah ..tentu sangat besar faedahnya ..namun belajar dari buku saja tidaklah cukup. bahkan tidak sedikit orang yang salah paham hanya karena mengandalkan berguru kepada buku. tetap saja seorang penuntut ilmu membutuhkan guru tempat bertanya tentang isi buku yang dia baca.

Maka barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu syar’i hendaklah mendatangilah ahlinya, yaitu ulama. Duduk dihadapan mereka dengan meluruskan niat dan mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Serta bertakwa kepada Allah zhohir dan batin, ketika sendiri maupun bersama orang lain, dalam perkataan dan perbuatan. Dan hendaklah senantiasa beruhasa menjaga keta’aan serta bersungguh-sungguh dalam menjauhi maksiat dan yang haram. Karena maksiat adalah kegelapan yang akan memadamkan cahaya ilmu.

Seperti perkataan Imam Malik kepada muridnya Imam Asy-Syafi’i, “Aku melihat bahwasanya Allah telah memberikan cahaya di hatimu. Jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat”.

Asy-Syafi’i berkata,

Aku mengadukan kepada waki’ buruknya hapalanku

Ia bimbing aku tinggalkan maksiat

Dan ia wasiatkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya

Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat.

Selamat menuntut ilmu saudaraku! Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalanmu ke surge …amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.4/10 (12 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +7 (from 7 votes)
April 08th, 2010 | Author:

ILMU YANG BERMANFA’AT

Ilmu yang bermanfaat secara mutlak di dunia dan akhirat  adalah ilmu syar’i. ilmu yang ahlinya dipuji oleh Allah dan Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, ilmu ini adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syatiby di dalam kitab Al Muwafaqot, “Ilmu yang mu’tabar menurut syara’ adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya berlari mengikuti hawa nafsunya bagaimanapun ia, bahkan ia mengikat pengikutnya dengan muqtadhonya, yang membawa pemiliknya mematuhi aturan-aturannya suka atau tidak suka”.

Di dalam mukadimah ke tujuh dari kitabnya tersebut ia menegaskan, “Sesungguhnya setiap ilmu yang tidak membuat pemiliknya beramal maka di dalam syara’ tidak ada dalil dalam syara’ yang menganggapnya baik”.

Oleh karena itu ulama sejati adalah yang mengamalkan ilmunya dan tampak pada dirinya sifat takut kepada Allah Ta’ala.

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء}

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir : 28)

Ilmu tidak akan bermanfaat tanpa disertai pengamalan. Allah Ta’ala berfirman menegur orang-orang yang tidak mengerjakan apa yang ia katakan atau ajarkan,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.(Ash Shof : 2-3)

Allah Ta’ala juga mengingkari perbuatan orang-orang Ahli Kitab yang tidak mengamalkan kebaikan yang mereka perintahkan kepada manusia,

{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (Al Baqoroh : 44)

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu ia berkata,

يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى فى النار فتنتدلق اقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار فى الرحى، فيجتمع إليه أهل النار، فيقولون: يافلان، مالك؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول بلى، كنت أمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وأتيه”

“Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Di hari kiamat didatangkan seseorang lalu dicampakkan ke dalam neraka maka terburailah usus-ususnya, dia berputar-putar dengan ususnya seperti seekor keledai berputar-putar pada ikatannya. Maka penghuni neraka mengerumuninya, mereka berkata, ‘Hai fulan,  ada apa denganmu? Bukankah dulu engkau mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran?’ ia menjawab, ‘Benar, aku mengajak kepada kebaikan tetapi aku tidak mengerjakan dan aku melarang dari kemungkaran tetapi aku melakukannya”. (HR. Bukhari : 6/238 dan Muslim : 2989)

Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berdo’a kepada Allah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat,

“اللهم أنى أعوذ بك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع ، ومن دعاء لا يسمع”

‘Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (HR. Muslim : 1295, At-Tirmidzi dan An Nasai (8/263) dari hadits Zaid bin Arqom)

Sahabat Abu Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang aku takuti di hari kiamat adalah ketika dikatakan kepadaku, ‘Apakah engkau mengetahui atau tidak? Aku menjawab, ‘Aku mengetahui’. Maka tidak ada satupun ayat dari Kitabullah yang memerintahkan atau melarang melainkan mendatangiku menanyakan perintah dan larangannya. Ayat yang memerintahkan bertanya apakah engkau kerjakan? Dan ayat yang melarang bertanya apakah engkau tinggalkan? Maka Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (diriwayatkan oleh Al Baihaqy, Ad Darimy dan Ibnu Abdil Barr dari beberapa jalan dari Abu Darda’).

Ya Allah .. berapa banyak orang yang mengingatkan manusia kepada Allah sementara dia sendiri lupa kepadaNya. Berapa banyak orang yang menakut-nakuti manusia dengan Allah ternyata dia lancing dan berani menentang Allah. Berapa banyak orang yang mengajak manusia mendekatkan diri kepada Allah, dia malah jauh dari Allah. Berapa banyak orang yang menyeru mengajak manusia kepada Allah sedangkan dia sendiri malah lari dari Allah dan berapa banyak orang yang membaca Kitabullah lalu dia melepaskan dirinya dari ayat-ayat Allah …

Sungguh, jika ilmu tidak memotivasi pemiliknya untuk menjalankan ibadah kepada Allah Jalla wa ‘Ala maka tidak ada nilainya. Jika ilmu tidak membuat pemiliknya dekat kepada Allah tidak ada gunanya. Dan jika ilmu tidak mewariskan kepada pemiiknya al khosy-yah (takut) kepada Allah tidak ada kebaikan padanya.

Jadi ilmu yang mu’tabar secara syar’I itu adalah  ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal dengan segala perkara yang dapat mendekatkan dia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, berhenti dibatasan yang ditetapkan Allah.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta menjauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat .. amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.5/10 (8 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 6 votes)
April 06th, 2010 | Author:

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudaraku …

Apa hukumanmu kepada seorang yang engkau amanahkan  sebagian  hartamu agar ia mengelolanya dengan cara yang telah disepakati, lalu ia mengingkari hartamu itu?

Jika engkau berkuasa dan sanggup untuk menghukumnya, apa yang akan engkau lakukan kepadanya?

Apa hukumanmu kepada seorang yang melanggar kehormatan rumahmu, dan merusak harga diri serta hartamu?

Apa yang akan engkau lakukan kepadanya, kalau engkau mempunyai kekuatan dan kemampuan?

Apa hukumanmu kepada seorang yang mengintip-intip aib rumahmu, mengintai keluargamu dari celah pintu?

Kalau urusan ini diangkat kepadamu, dan diserahkan kepadamu untuk memutuskan hukuman atas perbuatannya ini, apa hukuman yang akan engkau berikan kepada orang ini?

Saudaraku, kalau ditanyakan kepadamu kenapa engkau jatuhkan hukuman itu kepadanya?

Mungkin engkau terheran-heran dengan pertanyaan ini, dan engkau jawab, “Dia telah menyakiti diriku, keluarga dan juga hartaku”. Ya,  Apalagi yang engkau tunggu setelah perbuatanya itu? Dia berhak mendapatkan hukuman yang berat. Bahkan kalau ada lagi hukuman yang lebih berat dari itu kita tidak akan ragu untuk menjatuhkannya kepadanya.

Baiklah!

Apa hukumanmu kepada orang yang menyakiti Allah dan RasulNya?

Mungkin engkau akan berkata, siapa yang berani melakukan itu?

Sabar, jangan tergesa-gesa menghukumi saudaraku. Bisa jadi engkau termasuk orang yang menyakiti Allah dan RasulNya! (semoga saja tidak seperti itu)

Dengarkanlah firman Robbmu,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا الأحزاب : 57

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat serta menyiapkan untuk mereka azab yang hina”.

Tahukah engkau bagaimana itu bisa terjadi?

Dengan mendustai Allah, dengan mencelaNya, dengan mensifatiNya dengan sifat lemah, atau menisbatkan anak kepadaNya, atau sekutu atau menandingi perbuatanNya dalam penciptaan.

Dengarkanlah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama,

(( ما أحد أصبر على أذى سمعه من الله ، يدعون له الولد ، ثم يعافيهم ويرزقهم ))

“Tidak ada yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya dari pada Allah, mereka mengangapNya mempunyai anak, kemudian Ia membiarkan mereka dan memberi mereka rizki”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dengarkan juga hadits Nabimu shollallahu ‘alaihi wasallama tentang para pelukis (makhluk yang hidup),

(( أِشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهون بخلق الله ))

“Manusia yang paling keras azabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Oleh karena itu Allah mengingatkan kita terhadap siksaNya,

﴿ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ ﴾ [آل عمران : 28]

“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu)”.

Allah Ta’ala telah memberikan peringatan kepada kita atas kemungkaran-kemungkaran dan kekejian yang apabila seorang hamba mengerjakannya maka ia dengan perbuatannya itu telah menyakiti Robbnya.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,

(( ما من أحد أغير من الله ، من أجل ذلك حرم الفواحش))

“Tidak ada yang lebih cemburu dari pada Allah, oleh karena itu Ia mengharamkan perbuatan keji”. (HR. Muslim)

Wahai saudaraku yang tercinta,

Apa yang engkau lakukan kalau engkau melihat  seseorang menghentikan seorang wanita  di jalan kemudian ia menciumnya?

Jika engkau sanggup mencegahnya apakah engkau akan mencegahnya atau tidak?

Dan bagaimana pula kalau engkau bersama putrimu, apakah engkau rela ia menonton pemandangan ini dengan kedua matanya, ataukah engkau berusaha secepatnya membawanya menjauh dari pemandangan ini. Apakah engkau rela kalau putrimu adalah wanita yang dihentikan oleh laki-laki itu lalu ia melakukan perbuatan tersebut dengannya? Bagaimana kalau pemandangan ini terjadi dirumahmu?

Apa pendapatmu jika engkau mengundang laki-laki dan wanita itu kerumahmu. Apakah engkau akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbuat apa yang mereka inginkan, bahkan engkau kumpulkan keluargamu; istri, putra dan putrimu, ibu dan saudarimu untuk menyaksikan pemandangan ini?

Apa vonismu terhadap laki-laki seperti ini?

Jika itu memang terjadi, apa yang akan engkau katakan dan engkau perbuat?

Mungkin engkau akan mengatakan, “ini tidak sejalan dengan sifat-sifatku sebagai seorang laki-laki”.

Engkau benar, seperti ini tentu tidak diridhoi oleh seorang laki-laki yang memiliki hati dan karakter seorang laki-laki sejati membuat manusia tidak menyetujui hal seperti itu.

Akan tetapi, inilah realita yang terjadi setiap hari di kebanyakan rumah-rumah kaum muslimin. Bahkan mereka menganggap biasa hal tersebut!!

Apa beda antara yang saya gambarkan dengan apa yang ditampilkan di layar televisi di rumahmu? Janganlah berusaha untuk menipu diri sendiri, dan janganlah engkau menghiasi kebatilan!! Kenapa engkau masih saja suka menyaksikan film, sinetron dan acara tv lainnya yang tidak sepi dari kemungkaran??!! Padahal engkau telah mengetahui hukumnya!!

Apa pendapatmu?!

Apakah engkau akan mengatakan, “Ah, itukan hanya film .. sinetron”. Relakah engkau menjadi seorang dayyuts?!

Kalau putrimu atau istrimu melakukan perbuatan itu, lalu ia berkata kepadamu, “Aku hanya memerankan perbuatan itu seperti yang kami saksikan”. Mungkinkah darah mengelegak di dalam nadi-nadimu, atau cukup bagimu dia beralasan ini hanya film atau drama untuk membungkammu, kemudian engkau mengatakan kalau begitu itu bukan yang sebenarnya?!!

Saya yakin, engkau akan merasa tersakiti dengan itu.

Lantas bagaimana menurutmu orang yang menyakiti Allah Ta’ala dan RasulNya shollallahu ‘alaihi wa sallama?

Apa itu mungkin terjadi?!

Engkau dengan rokokmu yang tidak berhenti mengepulkan asap!

Engkau dengan solekan dan hiasanmu yang engkau bawa di hadapan orang-orang yang bukan mahrommu!

Engkau dengan ikhtilat (campur-baur)mu dengan wanita-wanita bukan mahrom!

Engkau dengan ghibah dan namimahmu!

Engkau dengan transaksi ribawimu!

Engkau dengan perbuatan mungkar dan maksiatmu serta mendiamkannya terjadi di depan matamu padahal engkau sanggup mengingkarinya!

Engkau ketika suka tersebarnya perbuatan keji di tengah orang-orang beriman!

Engkau dengan kelalaianmu dalam menjalankan keta’atan!

Engkau dengan penolakanmu terhadap syari’at islam!

Apakah itu tidak termasuk menyakiti Allah dan RasulNya?

Apa prasangkamu terhadap Robbmu hai saudaraku??

﴿ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴾ [ الزمر : 67]

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan.

Apa prasangkamu terhadap Robbmu?!

Apakah engkau mengira bahwasanya Allah lemah dan tidak kuasa?!

Apakah engkau mengira bahwasanya Allah tidak sanggup menurunkan kepada kita hukuman atau hujan batu dari langit?

Apakah engkau mengira bahwa Allah tidak melihat dan tidak mendengar?!

Apakah engkau mengira bahwasanya Allah bukan Aziz (Maha Perkasa) dan Dzu Intiqoom (memiliki pembalasan)?!

Apa yang ada dalam benakmu saudaraku, ketika engkau menentang dan menantang Robbmu serta meremehkan Kalam Robbmu?

Realitamu seolah-olah mengatakan sesungguhnya Allah tidak kuasa atasmu, aku merdeka melakukan apa saja yang kuinginkan dan kumau, tidak pantas bagi Allah untuk ikut campur urusanku!!

Apa prasangkamu hai saudaraku

Ketika engkau bersikukuh melakukan mu’amalahmu tidak sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan Allah untuk kita?

Engkau masih saja melakukan mu’amalah ribawiyah, alasanmu hanyalah bahwasanya dunia semuanya melakukan itu, seolah-olah Robbmu harus meridhoi perbuatan manusia ini. Dan engkau masih saja dengan sikap keras kepalamu, kesombonganmu, seolah-olah engkau tidak ridho kecuali kalau engkau memusuhi dan menantang Robbmu!!

Apa yang engkau pikirkan saudaraku!

Ketika engkau masih saja larut dalam kemungkaran dan perbuatan keji yang dilarang Allah? Seolah-olah dirimu telah menganggap baik perbuatan mungkar, dan hatimu puas dengan perbuatan-perbuatan keji itu?!

Apa yang engkau tunggu dari Robbmu?!.

﴿ هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن تَأْتِيهُمُ الْمَلآئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴾ [الأنعام : 158].

Artinya, “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula)”.

Terakhir .. seruanku untukmu wahai saudaraku,

﴿ وَيَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ وَارْتَقِبُواْ إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ ﴾ [ هود : 93].

Artinya, “Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. dan tunggulah azab (Tuhan), Sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.”

﴿ قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدِّارِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [ الأنعام : 135]

Artinya, “Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.”

Semoga Allah Ta’ala membimbing langkah kita untuk kembali ke jalan yang lurus dan meneguhkan kita di atasnya hingga desah nafas terakhir .. amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.9/10 (10 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +7 (from 7 votes)
March 12th, 2010 | Author:

“س: أريد تفسيراً لكلمة السلف ومن هم السلفيون . . . ؟

ج : السلف هم أهل السنة والجماعة المتبعون لمحمد صلى الله عليه وسلم من الصحابة رضي الله عنهم ومن سار على نهجهم إلى يوم القيامة، ولما سئل صلى الله عن الفرقة الناجية قال : “هم من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي… ” .

Pertanyaan : Saya ingin mengetahui tafsir kalimat salaf dan siapa yang dimaksud dengan salafiyyun?

Jawaban : salaf , mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, orang-orang yang mengikuti Nabi Muhamad shollallahu ‘alaihi wa sallama, mulai dari sahabat rodhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka sampai hari kiamat. Ketika Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama ditanya tentang Al Firqoh An Najiyah (golongan yang selamat) beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang berada di atas semisal apa-apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini”. (Fatawa Al-Lajnah Ad Daimah no. 6149, 2/164)

“س: ما هي السلفية وما رأيكم فيها ؟

ج : السلفية نسبة إلى السلف والسلف هم صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم وأئمة الهدى من أهل القرون الثلاثة الأولى {رضي الله عنهم} الذين شهد لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم بالخير في قوله: {خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجئ أقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته} رواه الإمام أحمد في مسنده والبخاري ومسلم، والسلفيون جمع سلفي نسبة إلى السلف، وقد تقدم معناه وهم الذين ساروا على منهاج السلف من اتباع الكتاب والسنة والدعوة إليهما والعمل بهما فكانوا بذلك أهل السنة والجماعة. وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم”.

Pertanyaan : apa yang dimaksud dengan salafiyyah dan apa pandangan anda padanya?

Jawaban : As Salafiyyah adalah penisbatan kepada salaf , dan salaf adalah sahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama serta imam-imam petunjuk dari generasi tiga periode pertama (rodhiyallahu ‘anhum), yang mana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama telah bersaksi untuk kebaikan mereka di dalam sabdanya, “Sebaik-baik manusia adalah masaku, kemudian orang-orang sesudahnya, kemudian orang-orang sesudahnya. Kemudian datanglah kaum-kaum yang kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Munadnya, Bukhari dan Muslim.

Dan As-Salafiyyun adalah bentuk jama’ dari kata As-Salafy yaitu penisbatan kepada salaf. Dan maknanya telah dijelaskan di depan, yaitu mereka adalah orang-orang yang  berjalan di atas minhaj (jalan) dengan mengikuti Al Kitab dan Assunnah serta  berdakwah kepada keduanya dan mengamalkan keduanya. Maka dengan demikian mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Wabillahit Taufik wa shollallahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammadin wa Aalihi wa Shohbihi wa Sallama”. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah no. 1361, 1/165)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.7/10 (11 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 12 votes)
March 12th, 2010 | Author:

قال ابن القيم رحمه الله :
من هداية الحمار -الذي هو ابلد الحيوانات – أن الرجل يسير به ويأتي به الى منزله من البعد في ليلة مظلمة فيعرف المنزل فإذا خلى جاء اليه ، ويفرق بين الصوت الذي يستوقف به والصوت الذي يحث به على السير فمن لم يعرف الطريق الى منزله – وهو الجنـــة – فهو أبلد من الحمار

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Salah satu kelebihan keledai – padahal ia adalah hewan paling pandir -  bahwasanya seseorang berjalan membawanya kerumahnya dari tempat yang jauh dalam kegelapan malam, maka keledai itu bisa mengenal rumah tersebut. Apabila dilepaskan (dalam kegelapan) dia bisa pulang kerumah tersebut, serta mampu membedakan antara suara yang memerintahkannya berhenti dan yang memerintahkan berjalan. Maka barangsiapa yang tidak mengenal jalan kerumahnya – yaitu surga – dia lebih pandir dari pada keledai”. (Syifaul ‘Aliil : 1/74)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.1/10 (22 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +10 (from 10 votes)
Category: kata-kata emas  | 2 Comments
February 24th, 2010 | Author:

SUDAH SALAFYKAH AKHLAKMU??!!

Saudaraku, mungkin engkau balik bertanya kepadaku, kenapa hal itu engkau tanyakan?! Tidakkah engkau melihatku memelihara jenggot dan memendekkan ujung celanaku di atas mata kaki? Tidakkah engkau tahu bahwa aku rajin mengaji, duduk di majelis ilmu mendengarkan Kitabullah dan Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama yang disyarahkan oleh ustadz-ustadz salafy?

Sabar saudaraku, tenanglah aku tidak meragukan semua yang engkau katakan. Engkau tidak pernah absen menghadiri majelis ilmu, penampilanmu juga menunjukkan bahwa engkau berusaha untuk meneladani generasi salafus sholeh.

Tapi, tahukah engkau saudaraku .. (Ahlus Sunnah sejati adalah orang yang menjalankan islam dengan sempurna baik akidah maupun akhlak. Tidak tepat, jika ada yang mengira bahwasa seorang sunny atau salafy adalah orang meyakini I’tiqod Ahlus Sunnah tanpa memperhatikan aspek perilaku dan adab-adab islamiyah, serta tidak  menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin.)[1].

Maafkan aku jika kata-kataku ini menyakitkan hatimu, tetapi hatiku tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya, karena aku mencintaimu karena Allah, aku inginkan yang terbaik untukmu semoga Allah Ta’ala memperlihatkan kepada kita kebenaran itu sebagai suatu kebenaran dan membimbing kita untuk mengikutinya. Dan semoga Ia memperlihatkan kepada kita kebatilan itu sebagai suatu kebatilan serta menganugerahkan kepada kita taufik untuk menjauhinya.

Berapa banyak orang yang dibutakan dari kebenaran, dan tidak sedikit pula yang melihat kebenaran tetapi enggan mengikutinya. Berapa banyak pula orang yang mengira kebatilan adalah kebenaran dan tidak sedikit pula orang yang mengetahui kebatilan tapi masih saja mengikutinya.

Ya Allah .. berilah kami petunjuk dan luruskanlah kami …

Saudaraku,

Sikapmu yang kurang menghargai orang yang lebih tua darimu dan angkuh terhadap orang yang lebih muda darimu, dari mana engkau pelajari?!

Lupakah engkau hadits yang pernah kita pelajari bersama,

ليس منا من لم يرحم صغيرنا و يوقر كبيرنا

Artinya, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak mengasihi yang lebih kecil dan tidak menghormati yang lebih besar”. (HR. At-Tirmidzi dari sahabat Anas rodhiyallahu ‘anhu dan dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Al Jami’ no. 5445)

aku teringat hari itu, walaupun setiap mengingatnya hati ini merasa sedih dan resah. Ketika engkau dan beberapa orang lainnya menghadiri undangan. Turut hadir ketika itu orang-orang awwam yang di antaranya  usia lebih tua dari kita. Ketika engkau masuk ke majelis lalu mengucapkan salam dan menjabat  tangan semua yang duduk kecuali bapak itu, engkau menyalami orang yang duduk di samping dan belakang bapak itu, lalu engkau duduk se-enaknya di depan bapak itu tanpa sedikit senyuman apalagi menjabat tangannya!!

Owh ..jelas benar guratan sedih dan perasaan aneh yang menyemburat dari wajah bapak tersebut. Sampai aku pun malu duduk di situ, kalau  bisa ingin rasanya aku untuk tidak hadir di situ dan saat itu..

Saudaraku, katakanlah kepadaku agar aku tidak berburuksangka kepadamu,

-          Apa yang memberatkan bibirmu untuk memberikannya sedikit senyuman walaupun hambar?! Padahal engkau tahu Nabi kita shollollahu ‘alaihi wa sallama bersabda,

تبسمك في وجه أخيك لك صدقة

“Senyumanmu dihadapan saudaramu adalah sedekah bagimu”. (HR. At-Tirmidzi, Bukhari di Adabul Mufrod dan Ibnu Hibban, Ash-Shohihah oleh Al-Albany no. 572)

-          Apa yang membuat lidahmu kelu untuk menyapa walau hanya dengan tiga aksara “Pak”.

-          Apa yang membuat tanganmu lumpuh untuk menjabat tangannya?! Seperti engkau menjabat tangan yang lainnya?! Tidakkah engkau pernah membaca atau mendengar bahwa salafunas sholeh menjabat tangan anak-anak ketika bertemu, lantas bagaimana kalau dia lebih tua darimu?

عن سلمة بن وردان قال: رأيت أنس بن مالك يصافح الناس، فسألني: من أنت؟ فقلت: مولى لبني ليث، فمسح على رأسي ثلاثاً، وقال: “بارك الله فيك”

Dari Salamah bin Wardaan ia menuturkan, “Aku melihat Anas bin Malik menjabat tangan manusia, maka ia bertanya kepadaku, ‘Engkau siapa?’. Aku menjawab, ‘Maulaa Bani Laits’. Lalu ia mengusap kepalaku tiga kali seraya berkata, ‘Semoga Allah memberkahimu”. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, “Shohihul Isnad”)

Dari Al-Barro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Termasuk kesempurnaan tahiyyah (salam) engkau menjabat tangan saudaramu”. (HR. Bukhari di Adabul Mufrod, Syaikh Al-Albany mengatakan, “Isnadnya shohih mauquf”).

Jawablah saudaraku! Bukankah dia juga seorang muslim? Apakah karena dia tidak berjenggot seperti dirimu dan celananya masih menutupi mata kaki??

Tidak saudaraku .. tidak! sejak kapan  salam dan jabat tangan hanya khusus untuk orang-orang yang penampilan sama sepertimu atau orang-orang yang menghadiri majelis ilmu saja?!

Sikapmu inilah yang barangkali dapat menghambat dakwah salafiyah di terima oleh kaum muslimin. Membuat mereka merasa dijauhi dan dipandang sebelah mata.

Saudaraku .. ketika engkau mengaku seorang salafy tetapi dengan sikap dan akhlakmu yang jauh dari akhlak salafus sholeh engkau telah ikut menghalangi dan menghambat dakwah yang hak ini.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata di  akhir kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah setelah menyebutkan pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, “Kemudian mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) disamping pokok-pokok ini, mereka mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran sesuai dengan apa yang diwajibkan syari’at. Mereka memandang tetap menegakan haji, jihad, sholat jum’at dan hari raya bersama para pemimpin yang baik maupun yang keji. Mereka menjaga (sholat) jama’ah, dan melaksanakan nasehat untuk umat. dan mereka meyakini makna perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama,

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا وشبك بين أصابعه

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah laksana bangunan yang kokok saling menguatkan satu dengan lainnya”. Lalu beliau menjalin di antara jari-jemarinya.(HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa rodhiyallahu ‘anhu)

Dan sabdanya,

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur”. (HR. Bukhari dan Muslim dari An Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu)

Mereka mengajak bersabar menghadapi ujian, bersyukur ketika lapang, dan ridho dengan pahitnya qodho’.  Mereka mengajak kepada akhlak-akhlak yang mulia dan perbuatan-perbuatan baik, dan meyakini makna perkataan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama,

أكمل المؤمنين إيمانًا أحسنهم خلقًا

“Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlak-akhlaknya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Mereka mendorong untuk menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungannya denganmu, memberi orang yang tidak mau memberimu, mema’afkan orang yang menzalimimu, memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtua, dan begitu juga mereka memerintahkan untuk menyambung silaturrahim, bertetangga dengan baik, melarang sifat angkuh, sombong, zalim dan merasa lebih tinggi dari makhluk dengan hak atau tidak dengan hak. Mereka memerintahkan kepada budi pekerti yang tinggi dan melarang dari akhlak yang tercela.

Dan seluruh apa yang mereka katakan dan kerjakan dari ini dan yang lainnya, sesungguhnya mereka dalam hal itu mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. Jalan mereka adalah Dinul  Islam yang Allah mengutus Muhamad shollallahu ‘alaihi wa sallama dengannya”. (Al Akidah Al Wasithiyyah, hal. 129-131).

Saudaraku, aku yakin engkau adalah seorang yang berjiwa besar dan bisa berlapang dada menerima nasehat, karena itu marilah kita perbaiki kekurangan-kekurangan kita dalam meneladani akhlak salaf sehingga sempurna pula ittiba’ kita kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk meniti jalan  Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama dan mengikuti jejak-jejak salafush sholeh baik dalam akidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, dan hubungan antara sesama, amin.


[1] An Nashiihah fiima Yajibu Muro’atuhu ‘indal Ikhtilaaf, oleh Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily (13).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.2/10 (19 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +21 (from 23 votes)
February 22nd, 2010 | Author:

بسم الله الرحمن الرحيم .

SIAPA YANG AKAN MENYOLATKAN JENAZAHMU KELAK?

Saudaraku

Siapa yang akan menyolatkan jenazahmu kelak?

Apakah engkau sudah memilih orang-orang yang akan berdiri mengisi shaf-shaf di belakang jenazahmu, untuk menyolatkanmu?

Pertanyaan yang mungkin terdengar aneh dan membingungkan.

Apa mungkin kita memilih itu? Apakah kita pantas untuk memilih orang yang akan menyolatkan kita?

Jangan gusar saudaraku, sabar .. buka hatimu sebelum membuka mata dan telingamu!

Sudah menjadi kebiasaan, bahwasanya yang akan menyolatkan jenazahmu adalah orang-orang yang engkau cintai dan teman-temanmu, bukankah begitu?

Sekarang cobalah lihat orang-orang di sekelilingmu, lihatlah teman-teman dekatmu, siapa di antara mereka yang pantas untuk menyolatkanmu apakah si A atau si B, apakah dia memang pantas menyolatkanmu?

Saudaraku,

Janganlah menutup mata dari realita yang ada dan jangan sumbat telingamu dari nasehat yang berharga. Bisa jadi kenyataan yang ada memang pahit dan nasehat yang akan engkau dengar menyakitkan. Lapangkanlah dadamu semoga Allah Ta’ala memberkahimu.

Saudaraku, kita harus menelan pahitnya permasalahan ini. Karena itu lebih baik dari kita menelan akibatnya di hari kiamat, di mana tak mungkin lagi mengulangi kehidupan di dunia.

Saudaraku,

-          Siapa yang akan memandikanmu?

-          Siapa yang akan mengafankanmu?

-          Siapa yang akan mengangkat kerandamu?

-          Siapa yang akan menyolatkanmu?

-          Siapa yang akan meletakkanmu di liang lahad?

-          Siapa yang akan mendo’akanmu?

-          Siapa yang akan berdiri di sisi kuburanmu, berdo’a untukmu agar Allah meneguhkanmu ketika malaikat menanyamu?

Jawablah saudaraku!

Siapa yang akan menangisimu?

-          Apakah perokok itu?

-          Ataukah orang yang tidak mau tunduk dan sholat kepada Robbnya ini?

-          Ataukah orang yang meninggalkan puasa dan zakat ini?

-          Ataukah orang yang membiarkan istri dan anak perempuannya bebas berkeliaran di jalanan dan tempat hiburan dengan penampilan yang buruk dan pakaian yang hampir telanjang? Orang yang rela dirinya menjadi seorang Dayyuts?

-          Ataukah orang yang bergelimang maksiat dan dosa besar?

-          Ataukah orang yang tidak memalingkan pandangannya dari wanita bukan mahrom, memandangnya seakan-akan menelanjanginya dengan matanya?

Saudaraku, siapa orang yang engkau inginkan menangisi kematianmu?

-          Apakah temanmu yang mengajakmu ke tempat-tempat minuman keras, ataukah orang yang mengajakmu ke majlis-majlis ilmu?

-          Atau orang yang kalau berbicara, tema pembicaraannya denganmu adalah berita-berita artis, bintang film, penari dan penyanyi, serta menyampaikan kepadamu berita-berita cabul dan keji, ataukah orang yang kalau berbicara kepadamu mengatakan,; Allah berfirman  .. Rasulullah bersabda?

-          Atau orang yang mengajakmu ke tempat hiburan, pantai, sinema dan menghabiskan waktu dengan menonton televisi serta perlombaan-perlombaan ataukah yang mengajakmu ke taman-taman surga?

-          Apakah orang yang mengajak atau  bersamamu main domino, catur dan tenis ataukah orang yang membukakan untukmu lembaran-lembaran Mushaf Al Qur’an?

Saudaraku

Siapa teman dekat dan sahabat akrabmu? Kami bantu engkau untuk memilih sahabat atau teman yang akan menyolatkan jenazahmu esok.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,

(( لاتصحب إلا مؤمناً ولا يأكل طعامك إلا تقي))

“Janganlah bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali seorang yang bertakwa”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim, dihasankan oleh Al Albany, Shohih Al Jami’ no. 7341)

Beliau shollallahu ‘alaihi wasallama juga bersabda,

(( مثل الجليس الصالح والجليس السوء كمثل صاحب المسك وكير الحداد ، لايعدمك من صاحب المسك أن تشتريه أو تجد ريحه ، وكير الحداد يحرق بدنك أو ثوبك أو تجد منه  ريحاً خبيثاً))

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk itu laksana berteman dengan penjual minyak wanig dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi engkau bisa membeli darinya atau setidaknya mendapatkan aromanya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau engkau mendapatkan darinya bau yang tidak sedap”. (HR. Bukhari)

Coba engkau renungkan buah dari persahabatan yang baik dengan orang yang baik di dunia sebelum manfaatnya di akhirat!

Rasul kita shollallahu ‘alaihi wasallama mengisahkan,  ada tiga orang dari umat sebelum kalian yang melakukan perjalanan, sehingga mereka terpaksa bermalam di sebuah go’a, tatkala mereka telah memasukinya bebatuan dari atas gunung berjatuhan sehingga menutupi pintu gua. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada yang akan menyelamatkan kalian dari gua ini kecuali setiap kalian berdo’a kepada Allah dengan amal sholehnya’.

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama menyebutkan di dalam kisah tersebut, bahwasanya orang yang pertama berdo’a dengan amal sholehnya maka terbukalah sedikit pintu gua yang tertutup bebatuan yang longsor itu, akan tetapi mereka belum bisa keluar.

Dan yang kedua berdo’a dengan amal sholehnya, lalu batu yang menutup pintu goa bertambah terbuka namun mereka belum juga bisa keluar darinya.

Dan yang ketiga juga berdo’a dengan amal sholeh maka terbukalah pintu gua tersebut dan merekapun keluar. (kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari)

Perhatikan bagaimana persahabatan ini bermanfaat sehingga Allah Ta’ala mengeluarkan semuanya dengan selamat.

Bayangkan saudaraku,

Kalaulah salah seorang dari mereka tidak memiliki kesalehan, niscaya mereka tidak dapat keluar, bahkan bisa jadi semuanya mati, akibat siapa? Akibat maksiat yang seorang itu.

Rasululllah shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda,

(( مامن رجل مسلم يموت فيقوم على نجازته اربعون رجلاً لايشركون بالله شيئاًإلا شفعهم الله فيه ))

“Tidaklah seorang muslim wafat, lalu berdiri menyolatkan jenazahnya empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun melainkan Allah jadikan mereka sebagai syafa’at baginya”. (HR. Muslim)

Ini mencakup dua perkara :

Pertama : mereka menjadi syafaat baginya maksudnya tulus berdo’a untuknya memohonkan ampuntan untuknya.

Kedua : mereka adalah orang-orang yang beriman; akidah mereka bersih dari syirik kecil apalagi yang besar.

Saudaraku, kesempatan masih terbentang di hadapanmu.

Tidakkah engkau melihat jenazah dan orang-orang yang berjalan mengiringi di belakangnya, keadaan mereka sama seperti keadaan si mayit. Bukan itu kenyataan yang ada?

Bahkan engkau lihat, orang yang mengantar jenazahmu ini bisa jadi tidak ikut menyolatkanmu, akan tetapi ia menunggu di luar mesjid. Apabila orang selesai menyolatkanmu dia ikut mengangkatmu untuk memasukkanmu ke liang lahad. Bukankah ini realita yang memedihkan yang kita saksikan? Bahkan mungkin engkau sendiri tidak menyolatkan jenazah salah seorang temanmu yang engkau antar.

Mungkin engkau akan mengatakan, lantas apa yang harus aku lakukan? Apa jalan yang harus aku tempuh?

Simaklah kisah berikut ini, yang dikisahkan oleh Nabi kita shollallahu ‘alaihi wasallama, “Dahulu pada masa orang-orang sebelum kalian ada seseorang yang telah membunuh Sembilan puluh sembilah jiwa. Lalu ia bertanya siapa orang yang paling berilmu. Maka ditunjukanlah kepadanya seorang rahib. Ia pun pergi mendatanginya. Ia berkata kepada rabib tersebut, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh Sembilan puluh Sembilan jiwa, apakah masih ada taubat untukku? Rahib berkata, ‘Tidak’. Maka ia membunuhnya, genaplah seratus orang dibunuhnya. Kemudian ia menanyakan lagi tentang orang yang paling berilmu (tempatnya bertanya). Ditunjukkanlah kepadanya seorang ‘alim (yang berilmu). Ia mendatanginya dan berkata, ‘Aku telah membunuh seratus orang, apakah masih ada taubat untukku? Ahli ilmu itu menjawab, ‘Ya, siapa yang akan menghalangi antara engkau dengan  taubat?! Pergilah ke negeri ini dan ini, sesungguhnya di sana ada orang-orang yang mengibadati Allah, ibadatilah Allah bersama mereka jangan pulang ke kampungmu, sesungguhnya kampungmu itu tempat yang buruk’.

Berangkatlah ia sehingga di pertengahan jalan, Malaikat Maut mendatanginnya, maka malaikat rahmat dan malaikat azab saling berebut untuk membawa ruhnya. Malaikat rahmat berkata, ‘Ia datang kepada kami dengan bertaubat, menghadap Allah dengan hatinya’. Dan malaikat azab berkata, ‘Dia belum melakukan amal kebaikan sama sekalipun’. Maka Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka. Dan memerintahkan kedua malaikat itu mengukur jarak antara ke dua tempat tersebut. Ketempat mana jaraknya yang terdekat denganya maka orang itu untuknya. Maka mereka mengukurnya, mereka mendapatkannya lebih dekat ke negeri yang ditujunya, maka malaikat rahmat membawanya”.

Dalam riwayat lain, “Maka Allah mewahyukan kepada bumi yang ditinggalkannya untuk menjauh dan bumi yang akan ditujunya untuk mendekat”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Baihaqy dan  Ibnu Majah)

Saudaraku, inilah berkah keta’atan, berkah bersegera bertaubat.

Dari kisah ini kita petik pelajaran berharga, bahwasanya disukai bagi seorang yang bertaubat meninggalkan tempat-tempat dia dulu melakukan perbuatan dosa, dan teman-teman yang dulu membantunya berbuat maksiat, serta memutus persahabatan dengan mereka selama mereka tidak berobah masih bergelimang lumpur maksiat. Dan hendaklah ia menggantikan mereka dengan berteman dengan orang-orang yang baik dan sholeh, serta ahli ilmu dan ibadah, dan orang-orang yang bisa dijadikan teladan serta berteman dengan mereka mendatangkan manfaat dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala memrintahkan kita bertaubat dan kembali kepadaNya,

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأنهار ﴾ [اتحريم:8].

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuhah, mudah-mudahan Robb kamu mengampuni dosa-dosa kamu dan memasukkan kamu ke dalam surge-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”.

Dari sekarang saudaraku, jangan tutup halaman ini kecuali engkau telah menutup lembahan-lembaran masa lalumu. Untuk membuka lembaran-lembaran baru yang putih bersih ..awal jalanmu menuju Allah, jalan menuju ridhoNya, jalan menuju Daarus Salam.

﴿ وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِي مَن يَشَاء إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴾ [يونس : 25]

Artinya, “Dan Allah menyerumu kepada Daarus Salam dan menunjuki orang-orang yang dikehendakiNya kepada jalan yang lurus”.

Ya Allah, tunjukilah kami kepada jalanMu yang lurus, dan kumpulkanlah kami kelak di hari kiamat bersama para nabi, orang-orangh yang shiddiq, orang-orang yang mati syahir dan orang-orang yang sholeh, merekalah sebaik-sebaik teman, Allahumma Aamiin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.1/10 (13 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +13 (from 13 votes)
Category: Jendela Hati  | 32 Comments
February 10th, 2010 | Author:

بسم الله الرحمن الرحيم

BAGAIMANA KALAU NABI SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAMA ADA DI TENGAH-TENGAH KITA?

Saudaraku tercinta,

Bagaimana kalau Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama ada di antara kita?

Kalau pertanyaan ini diajukan kepadamu, apa jawabanmu?

Apakah engkau akan menjadi salah seorang pengikutnya ataukah termasuk kelompok yang menentang dan memeranginya?

Apakah engkau akan menjalankan apa yang ia perintahkan dan meninggalkan apa yang dilarangnya atau bagaimanakah sikapmu terhadap perintah dan larangannya?

Apakah engkau termasuk orang-orang yang menjauh dari majelis-majelisnya ataukah termasuk orang-orang yang senantiasa mengikuti setiap jengkal langkahnya?

Tahukah engkau wahai saudaraku, bahwasanya ada sekelompok orang yang meneriakan yel yel bahwasanya mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan tetapi mereka lebih mencintai diri mereka sendiri dari pada keduanya.

Tahukah engkau wahai saudaraku, bahwasanya orang-orang munafikin dulu memperlihatkan kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama seolah-olah mereka bersamanya. Apabila mereka meninggalkannya, berkumpul sesame mereka, mereka gigit jari saking bencinya kepada beliau.

Saudaraku,

Aku ingin engkau membuka Mushafmu, mari bersama kit abaca ayat-ayat di dalam Kitabullah yang mewajibkan kita mengikuti (ittiba’) Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama. Dan ittiba’ ini wajib semasa beliau hidup maupun setelah wafatnya. Allah tidak mewajibkan kepada kita mengikutinya ketika dia hidup, lalu sepeninggalnya kita bebas-bebas saja memilih mau mengikutinya atau tidak.

Bukalah Mushafmu saudaraku,

-          Bukalah surat Ali Imron ayat 164

{ لقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولا من أنفسهم يتلوا عليهم آياته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمه وإن كانوا من قبل لفى ضلال مبين }

Artinya, “Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

-          Surat An Nisa’ ayat 65

{ فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شـجر بينهم ثـم لايجـدوا فى أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما }

Artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

-          Surat At Taubah ayat 128,

{ لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ماعنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم }

Artinya, “Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

-          Surat Al Ahzab ayat 21

{ لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا }

Artinya, “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

-          Surat Al Ahzab ayat 36,

{ وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا }

Artinya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.”

Apakah makna ayat-ayat ini meresap dalam relung-relung hatimu?

Tidakkah engkau tahu bahwasanya setiap perkara yang kecil ataupun yang besar dalam kehidupan seorang muslim harus berpedoman kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallama?!

Tidakkah engkau mengetahui bahwasanya seluruh kehidupan muslim sepatutnya tunduk kepada Kitab Robbnya dan Sunnah Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallama?!

{ قل إن صلاتى ونسكى ومحياى ومماتى لله رب العالمين . لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين }

Artinya, “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan Aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al An’am : 162-163)

Lantas apa yang membuatmu enggan dan berat mengikuti Rasulmu shollallahu ‘alaihi wasallama. Jika Nabi Muhamad shollallahu ‘alaihi  wa sallama telah wafat sesungguhnya Allah yang kita ibadati Maha Hidup tidak pernah mati.

{ وتوكل على الحى الذى لا يموت وسبح بحمده }  ( الفرقان : 58 )

Artinya, “Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.”

{ وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل إنقلبتم  على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه قلن يضر الله شيئا وسيجزى الله الشاكرين (144) }  ( آل عمران : 144 )

Artinya, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Saudaraku tercinta, bukankah kita dulu tersesat lalu Allah menunjuki kita dengan RasulNya shollallahu ‘alaihi wa sallama?!

Sekarang saya tanyakan kepadamu, dan jawablah dengan lisan, hati dan perbuatanmu!

Kalau Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama ada di tengah-tengah kita, lalu ia memerintahkan kita,

-          Untuk menegakkan sholat lima waktu berjama’ah di masjid, apakah engkau ikuti atau tidak?

-          Ia memerintahkan  wanita menutup aurat dan berhijab apakah engkau patuhi atau tidak?

-          Ia memerintahkan kita beriltizam dalam penampilan kita sesuai dengan sunnahnya shollallahu ‘alaihi wa sallama, apakah engkau ta’ati atau tidak?

-          Ia memerintahkan kita makan dan minum dengan tangan kanan, melarang kita makan dan minum dengan tangan kiri, apakah kita jalankan atau tidak?

-          Ia memerintahkan kita untuk tidak ber-ikhtilaath apakah kita lakukan atau tidak?

-          Kalau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama memilihmu sebagai utusan ke suatu negeri untuk berdakwah, mengajarkan mereka ajaran Din ini, apakah engkau pantas mengemban tugas ini atau tidak?

-          Ia memerintahkan kita berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnahnya, sebagaimana haditsnya,

تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهم ( ما تمسكتم بهما ) كتاب الله وسنتي

Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat setelahnya, selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu; Kitabullah dan Sunnahku’. (HR. Malik dengan mursal dan Al Hakim dan iya menshohihkannya, dishohihkan oleh Al Albany sebagaimana di Al Hadits Hujjatun Binafsihi 32)

Apakah engkau termasuk orang yang berpegang teguh dengan keduanya ataukah orang-orang yang mencampakannya ke belakang?

Saudaraku, kalau Nabi Muhamad shollallahu ‘alaihi wa sallama ada di tengah-tengah kita, apakah engkau termasuk orang yang di dekatkan ke majlisnya ataukah orang yang dijauhkan dari majelisnya?

Duhai saudaraku

Apabila kelak kita bertemu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama di hari kiamat, di telaganya, apakah engkau mengira bahwasanya engkau berhak mendapatkan uluran minuman air telaga dari tangan beliau yang mulia ataukah termasuk orang yang dikatakan kepadanya ketika itu, “Celaka, celaka bagi orang-orang yang merobah (agamaku) setelahku”. (HR. Ahmad dan dishohihkan oleh Al Albany)

Dari sekarang, mulai detik ini saya tidak ingin engkau  menutup lembaran ini melainkan telah engkau siapkan tekadmu untuk beramal, supaya engkau termasuk pengikut Nabi Muhamad shollallahu ‘alaihi wa sallama, mengamalkan firman Allah Ta’ala,

{ إنما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله وإذا كانوا معه على أمر جامع لم يذهبوا حتى يستأذنوه إن الذين يستأذنونك أولئك الذين يؤمنون بالله ورسوله فإذا استأذنوك لبعض شأنهم فأذن لمن شئت واستغفر لهم الله إن الله غفور رحيم }( النور : 62 ) .

Artinya, “Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Maka apabila mereka meminta izin kepadamu Karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dan firman-Nya,

{ ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين . ما كان لأهل المدينة ومن حولهم من الأعراب أن يتخلفوا عن رسول الله ولا يرغبوا بأنفسهم عن نفسه }  ( التوبة : 119 ، 120 ) .

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul”.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua pengikut sejati Nabi Muhamad shollallahu ‘alaihi wasallama, amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (6 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +8 (from 8 votes)
Category: Jendela Hati  | 12 Comments
February 07th, 2010 | Author:

1. Apa yang dimaksud dengan ushul fiqh?

Ushul Fiqh ditinjau dari aspek penamaan sebuah disiplin ilmu adalah; dalil-dalil fiqh ijmaliyyah (global) dan kaifiyah (cara) mengambil faedah darinya serta keadaan orang yang menyimpulkan faedah.

Penjelasan :

- yang dimaksud dengan dalil-dalil fiqh ijmaliyyah yaitu dalil-dalil syar’i yang disepakati dan diperselisihkan.
- cara mengambil faedah darinya, yaitu cara menyimpulkan hukum-hukum syar’iyyah dari dalil-dalil syar’iyyah.
- keadaan orang yang menyimpulkan faedah, maksudnya mujtahid. (disarikan dari Ma’alim Ushul Fiqh (21-22)

2. Apa perbedaan ilmu ushul fiqh dan fiqh?

fiqh adalah buah dari ushul fiqh, karena sejatinya ilmu ushul fiqh adalah cara menyimpulkan fiqh itu sendiri dari dalil-dalil syar’iyyah. jadi ushul fiqh adalah alat atau tangga untuk mencapai fiqh.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 5.9/10 (10 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 5 votes)
Category: USHUL FIQH  | Leave a Comment