Suatu ketika saya ikut sholat jenazah di salah satu mesjid. Selesai salam, terdengarlah suara imam yang memimpin do’a bersambut dengan sahutan aamiin jama’ah yang dibelakangnya. Anehnya, tak satupun do’a yang dibaca oleh imam setelah sholat jenazah tersebut yang berisikan do’a untuk si mayyit, padahal biasanya banyak orang melakukan itu untuk mendo’akan si mayyit. Adapun makmum, entah paham atau tidak do’a yang dibacakan oleh imam, terus saja mengucapkan aamiin dipenghujung setiap do’a yang dibacanya.
Saya jadi teringat kejadian yang saya alami pada tahun 95-an. Ketika itu saya dan seorang teman singgah untuk sholat maghrib di salah satu mesjid di Cianjur.
Ketika bacaan Al Fatihah imam sampai (Waladh Dhoolliin) kami berdua mengucapkan aamiin. Aneh!! Hanya kami berdua yang mengucapkan amin! Ternyata setelah itu itu imam melanjutkan membaca (Robbighfirlii wa liwaalidayya- artinya; Robbi ampunilah aku dan kedua orangtuaku) setelah itu baru mereka serempak mengucapkan aamiin.
Ada beberapa catatan yang ingin saya tuangkan disini :
- Dalam sholat jenazah sejatinya imam dan makmum telah membaca do’a untuk si mayyit, dan itulah inti dari sholat jenazah. Oleh karena itu berdo’a bersama setelah sholat jenazah adalah amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal tersebut ditolak”. (HR. Bukhari dan Muslim)
- Begitu juga tambahan ucapan (Robbighfirlii wa liwaalidayya) oleh imam setelah membaca Al Fatihah dan di aminkan oleh makmum juga adalah bid’ah yang sangat buruk. Menambah-nambah dalam sholat dengan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Selain itu, perbuatan tersebut juga menyelisihi hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama,
وإذا قال : ولا الضالين فقولوا : آمين
“Dan apabila imam mengucapkan (Waladh Dhoolliin) maka ucapkanlah (aamiin)”. (HR. Ahmad, Muslim, Al Baihaqy lihat Ash-Shohihah : 3476).
- Dalam banyak kejadian do’a bersama yang dipimpin, makmum asal amin saja, tanpa tahu apa yang dido’akan imam. Entah apa yang dibaca pemimpin do’a dan entah siapa yang dido’akan yang penting di setiap ujung do’a; aamiin.
Saya jadi teringat kisah seorang sahabat kecil di masa Umar bin Al Khottob yaitu Mu’adz Al Qori’ semoga Allah Ta’ala meridhoi keduanya, dia adalah salah seorang imam yang ditunjuk Umar untuk mengimami sholat tarawih.
Suatu ketika Mu’adz Al Qori’ membaca do’a dalam Qunutnya, “Allahumma Qohhithil Mathor..” (artinya : Ya Allah jangan turunkan hujan). makmum yang dibelakang pun mengucapkan, “Aamiin!”.
Usai sholat, ia (Mu’adz ) berkata kepada makmum, “Tadi saya mengucapkan Allahumma Qohhitil Mathor, lantas kalian mengucapkan aamiin! Tidakkah kalian mendengarkan apa yang aku ucapkan?? Kemudian kalian malah mengucapkan (aamiin)!. (Ikhtishor Al Muqriizy likitaab Al Witri oleh Muhammad bin Nashr, halaman : 326).
Hmm .. kalau itu terjadi di masa mereka, apalagi di masa yang jauh dari ulama dan ilmu seperti sekarang ini. Wallahul Musta’aan …
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.2/10 (6 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +4 (from 4 votes)
Komentar terakhir