Archive for » April, 2010 «

April 21st, 2010 | Author:

BAB : KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANGTUA

FIRMAN ALLAH TA’ALA,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya”.

Imam Bukhari memulai kitabnya ini dengan adab dan kewajiban berbakti kepada kedua kedua orangtua, karena adab dan kewajiban berbakti kepada orangtua adalah yang terdepan setelah adab kepada Allah Ta’ala dan kepada  Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama[1]. Oleh karena itu penekanan masalah ini banyak kita dapatkan di dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. Bahkan di dalam Al Qur’an perintah berbakti kepada orangtua adalah setelah perintah mentauhidkanNya sebagaimana firman Allah Ta’ala yang dibawakan oleh Imam Bukhari sebagai judul bab pertama kitabnya ini.

Allah Ta’ala berfirman,

ووصينا الإنسان بوالديه حسنا وإن جاهداك لتشرك بي ماليس لك به علم فلا تطعهما إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون

“Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hambaNya berbuat baik kepada kedua orangtua setelah mendorong mereka untuk berpegang teguh dengan men-tauhid-kanNya. Sesungguhnya kedua orangtua adalah sebab adanya manusia dan kebaikan keduanya kepadanya tidak terhitung; ayah dengan nafkah yang diberikannya dan ibu dengan kasih sayang yang dilimpahkannya”.[3]

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا  وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Robbmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”[4].

Lihatlah di ayat yang mulia ini, betapa Allah Ta’ala menegaskan kewajiban menjaga akhlak terhadap kedua orangtua yang merupakan diantara bentuk bakti kepada keduanya. apalagi kalau orangtua telah menginjak usia senja, kedua orangtua atau salah satunya membutuhkan perhatian, kasih dan sayang sebagaimana dahulu anak membutuhkan hal tersebut  dari orangtuanya ketika dia kecil.

Kadang terjadi perselisihan antara orang tua dan anak. Atau perdebatan atau anak menyanggah dan membantah perkataan orangtua. Di sini sang anak wajib menjaga adab dan tatakrama kepada orangtua. Jangan berkata kasar, mengucapkan ah saja dilarang oleh Allah apalagi yang lebih dari itu. Ini menunjukkan besar dan tingginya kedudukan serta hak orangtua  atas anaknya.

Namun begitu, juga perlu diingat bahwa sekalipun Allah Ta’ala memerintahkan anak berbuat baik kepada kedua orangtua karena budi baik dan kasih sayang mereka selama ini. Jika orangtua mengajak atau memerintahkan maksiat atau sesuatu yang bertentangan dengan agama Allah, maka anak tidak wajib mena’ati perintah atau ajakannya itu. oleh karena itu Allah tegaskan di dalam firmanNya di surat Al Ankabut di atas, (yang artinya) “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Maknanya; jika keduanya memaksamu untuk mengikuti agama keduanya apabila keduanya musyrik maka janganlah kamu mena’ati keduanya dalam hal itu. sesungguhnya dihari kiamat kepadaKulah kamu dikembalikan, maka Aku membalas kebaikanmu kepada keduanya dan kesabaranmu di atas agamamu dan Aku akan mengumpulkanmu bersama orang-orang yang sholeh bukan bersama kedua orangtuamu sekalipun engkau adalah orang yang paling dekat dengan keduanya di dunia, sesungguhnya seseorang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintainya, maksudnya cinta yang sejalan dengan agama”.[5]

Mari kita mulai mengkaji hadits pertama dalam bab ini.

  1. HADITS PERTAMA : AMAL YANG PALING DICINTAI ALLAH ‘AZZA WA JALLA

عَنْ أَبِي عَمْرو الشَّيْباَنِي يَقُوْلُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلىَ داَرِ عَبْدِ الله قاَلَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَي قَالَ ثُمَّ بِرُّ اْلوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيْ قَالَ ثُمَّ اْلجِهَاد فِي سَبِيْلِ الله قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اْستَزَدْتُهُ لَزَادَنِى

Dari Abu Amru Asy-Syaibaany ia menuturkan, “Pemilik rumah ini menyampaikan kepada kami – ia menunjuk kea rah rumah Abdullah, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallama, amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla? Beliau menjawab, ‘Sholat pada waktunya’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Ia berkata, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orangtua’. Aku berkata, ‘Kemudian apa lagi?’. Beliau menjawab, ‘Kemudian Jihad di jalan Allah. Dan kalau aku meminta tambahan lagi niscaya beliau menambahkannya”.[6]

Syarah hadits :

Hadits yang mulia ini menunjukkan apa yang telah dijelaskan di atas yaitu fadhilah dan kewajiban bakti kepada orangtua. Dimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama menjadikannya  sebagai amalan yang  paling afdhol setelah  sholat.

Kalau sholat adalah ibadah agung yang berkaitan dengan hubungan hamba dengan Sang Penciptanya, maka bakti kepada kedua orangtua adalah ibadah yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan orang yang paling berjasa kepadanya yaitu kedua orangtua. Sholat adalah hak Allah Ta’ala yang wajib ditunaikan oleh hamba. Dan bakti kepada orangtua adalah hak kedua orangtua yang wajib ditunaikan oleh anak. Seperti di dalam dua ayat di atas, Allah Ta’ala menyebutkan perintah bakti kepada kedua orangtua setelah perintah mentauhidkanNya.

Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Berbakti kepada keduanya adalah (dengan) berbuat baik kepada keduanya, mengerjakan yang bagus dan menyenangkan keduanya. termasuk di dalamnya berbuat baik kepada teman keduanya”.[7]

Syaikh  Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “(Berbakti kepada keduanya) adalah berbuat baik kepada keduanya dengan perkataan, perbuatan dan harta sesuai dengan kemampuan”.[8]

Banyak sekali hadits-hadits yang berisikan perintah berbakti kepada ke dua orangtua atau salah satunya. Insya Allah hadits tersebut akan kita kaji satu persatu, di bab-bab selanjutnya.

Kesimpulan hadits :

a)      Hadits ini adalah dalil bahwasanya sholat adalah ibadah badaniyah yang paling afdhol setelah syahadatain.[9]

b)      Hadits ini juga mendorong  untuk mengerjakan sholat pada waktunya. Imam An Nawawi menyebutkan, “Mungkin disimpulkan darinya; disukainya mengerjakan di awal waktu, karena itu lebih berhati-hati dalam menjaganya dan menyegerakannya”[10]. bahkan bagi yang kaum pria yang diwajibkan menghadiri sholat berjama’ah di masjid memang harus mengerjakannya diawal waktu. Karena sholat berjama’ah di masjid dilakukan di awal waktu.

c)       Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orangtua”.[11]

d)      Hadits ini menyebutkan beberapa amalan yang dicintai Allah Ta’ala, ini menandakan bahwa mengerjakan perintah Allah adalah syarat untuk mendapatkan cinta Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadits qudsi,

وَ ماَ تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ وَ مَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إَلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan tidaklah hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada apa-apa yang Aku fardhukan atasnya. Dan hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nafilah sehingga Aku mencintaiNya …”[12].

e)      Di dalam hadits ini juga terkandung pengajaran bagi seorang mufti, ahli ilmu dan guru agar bersabar terhadap orang yang bertanya atau muridnya dan berlapang dalam dalam menghadapinya walaupun ia banyak bertanya.

f)       Seorang murid juga hendaknya menimbang dan memperhatikan kondisi dan maslahat gurunya. Ini disimpulkan dari perkataan Ibnu Mas’ud yang tidak ingin menambah (pertanyaan) karena tidak ingin membebaninya dan ia berkata : kalau aku menambahkan lagi beliau pasti menambahkannya.[13]

g)      Bentuk-bentuk bakti kepada orangtua :

-          Melakukan kebaikan untuknya, menjaga hubungan dengannya dan bergaul dengannya dengan akhlak yang baik.

-          Tidak seyogyanya anak merasa kesal dan sakit  hati kepada orangtua.

-          Tidak mengeraskan suara atau memotong pembicaraannya, tidak berdebat dengannya, dan tidak berdusta kepadanya. Tidak menganggu istirahatnya dan merendahkan diri di hadapannya serta mendahulukannya dalam berbicara maupun berjalan sebagai penghormatan dan memuliakan kedudukannya yang tinggi.

-          Berterima kasih kepadanya dan mendo’akannya sesuai firman Allah Ta’ala,

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”[14].

-          Mendahulukan dan melebihkan bakti kepada ibu, karena jasa dia yang tak terhingga kepada anak, mulai dari mengandung, melahirkan menyusui dan mendidiknya hingga besar.

-          Mendahului dan menyegerakan keinginan dan permintaannya.

-          Merawat dan menjaganya khususnya ketika orangtua telah renta.

-          Member nafkah kepadanya jika ia membutuhkan, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِي

“Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat”.[15]

-          Meminta izin kepada keduanya sebelum safar dan meminta restunya kecuali dalam haji yang fardhu. Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Termasuk berbuat baik dan bakti kepada keduanya, apabila jihad tidak fardhu ‘ain tidak boleh berjihad kecuali dengan izin keduanya”.

-          Mendoakannya setelah ia wafat, menunaikan wasiatnya dan berbuat baik kepada teman-temannya.[16]

  1. HADITS KEDUA : JALAN MENUJU RIDHO ALLAH DAN MENJAUH DARI MURKANYA

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَر قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا اْلوَالِدِ وَسخط الرَّبِّ فِي سَخطِ الْوَالِد

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ridho Robb ada pada ridho orangtua dan murka Robb ada pada murka orangtua”.[17]

Syarah hadits :

Hak orangtua adalah sangat besar, bakti kepada keduanya kewajiban setelah tauhid. Berterima kasih kepada keduanya adalah bagian dari bentuk syukur kepada Allah Ta’ala. Berbuat baik kepada keduanya adalah amal yang sangat dicintai Allah. bahkan ridho keduanya adalah ridho Allah Ta’ala dan murka keduanya adalah murka Allah Ta’ala, karena Allah memerintahkan agar orangtua itu dita’ati, maka barangsiapa yang menjalankan perintah Allah, ia telah berbakti kepada Allah Ta’ala  dan Allah ridho kepadanya, sebaliknya jika tidak menjalankan perintah Allah agar berbakti kepada orangtua berarti ia telah menentang Allah maka Allah pun murka kepadanya.[18]

Keridhoan orangtua adalah lebih berharga dari pada harta benda. Dunia ini fana, cepat atau  lambat pasti sirna. Sedangkan ridho kedua orangtua bermanfaat bagi anak di dunia dan akhirat. Maka seorang anak wajib untuk selalu berusaha membuat orangtuanya ridho dengan perkataan dan perbuatan serta jangan sampai melukai hatinya atau membuatnya murka.

Akan tetapi sebagaimana dijelaskan pada syarah hadits pertama, masalah ini juga dengan syarat selama keridhoan orangtua itu tidak bertentangan dengan apa yang disyari’atkan Allah.[19]

KESIMPULAN HADITS :

a)      Ridho orangtua adalah kunci kebaikan dan pintu keselamatan di dunia dan akhirat.

b)      Sebaliknya penyebab kesengsaraan dunia dan akhirat adalah durhaka kepada kedua orangtua. (bersambung)


[1] Lihat Syarah Riyadhush Sholihih oleh Ibnu Utsaimin (1/368).

[2] Al Ankabut : 8.

[3] Tafsir Ibnu Katsir (6/264).

[4] Al Isro’ : 23-24.

[5] Tafsir Ibnu Katsir (6/265).

[6] Diriwayatkan oleh Bukhari di Shohihnya (1/140, 4/17, 8/2), Muslim di Shohihnya (kitab Al Iman bab. 36 no. 139), An Nasa-I di Sunannya (kitab Al Mawaaqiit bab. 49) dan Ahmad di Al Musnad (1/410, 439).

[7] Syarah Shohih Muslim (2/73 bab. Bayaan Kawnul Imaan billah).

[8] Syarah Riyadhush Sholihin (1/368).

[9] Dalil Al Falihin (2/

[10] Syarah Shohih Muslim (2/79).

[11] Syarah Riyadhush Sholihin Ibnu Utsaimin (1/368).

[12] HR. Bukhari dari Abu Huraira(4/231).

[13] Ibid.

[14] Al Isro : 24.

[15] Al Baqoroh : 215.

[16] Point-point ini diringkas dari : www.kalemat.org

[17] HR. Al Bazzar dan At Tirmidzi serta Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Amru. Dishohihkan oleh Al Albany di Shohih Adabul Mufrod (1/2).

[18] Lihat Tuhfatul Ahwazy (6/22), Faidhul Qodhir (4/44).

[19] Ibid.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.6/10 (8 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +8 (from 8 votes)
April 09th, 2010 | Author:

قال ابن القيم -رحمه الله- مفتاح دار السعادة – (1 /70): الجهاد نوعان:
- جهاد باليد والسنان، وهذا المشارك فيه كثير.
- والثاني: الجهاد بالحجَّة والبيان، وهو جهاد الخاصّة من أتباع الرُّسل، وهو جهاد الأئمة وهو أفضل الجهادين لعظم منفعته وشدّة مؤونته وكثرة أعدائه.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Jihad itu ada dua jenis :

-         Jihad dengan tangan dan senjata, jenis ini banyak yang bisa melakukannya.

-         Jihad dengan hujjah dan bayan, ini adalah jihad orang-orang tertentu dari pengikut-pengikut para rasul. Ia adalah jihad imam-imam dan adalah jihad yang paling afdhol karena manfaatnya yang sangat besar dan tanggungannya yang berat serta musuh-musuhnya yang banyak”. (Mitaah Daar As Sa’adah (1/70).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.7/10 (15 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +11 (from 15 votes)
Category: kata-kata emas  | 2 Comments
April 09th, 2010 | Author:

جاء رجل إلى الحسن البصري -رحمه الله-: فقال: “يا أبا سعيد أشكو إليك قسوة قلبي. قال: أدِّبه بالذكر”. ذم الهوى – ص 69

Seseorang datang menemui Al Hasan Al Bashry rahimahullah lalu bertanya, “Hai Aba Sa’id .. aku hendak mengadukan kepadamu perihal kerasnya hatiku”. Al Hasan berkata, “Didik dia dengan dzikir”. (kitab Dzamm Al Hawa, hal : 69)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.3/10 (30 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +15 (from 17 votes)
April 08th, 2010 | Author:

MENUNTUT ILMU DENGAN BENAR

Imam Asy-Syatibi rahimahullah di Mukadimah ke dua belas dari kitab Al Muwafaqot menyebutkan cara terbaik untuk meraih ilmu syar’I  adalah mengambilnya langsung dari dari ahlinya yang menguasai ilmu tersebut.

Ulama mengatakan, “Sesungguhnya ilmu itu dulunya tersimpan di dada-dada para pengembannya, kemudian berpindah ke kitab-kitab lalu kuncinya ada pada para ahlinya”.

Asy-Syatibi berkata, “Ungkapan ini menunjukkan untuk mendapatkan ilmu harus mengambilnya dari ulama-ulama yang menguasainya, mereka adalah kunci-kuncinya tanpa diragukan lagi”.

Kemudian beliau melanjutkan,  “Apabila telah tetap bahwasanya harus mengambil ilmu dari ahlinya yang menguasainya. Maka untuk menempuhnya ada dua cara :

Pertama : Musyafahah (mengambil langsung dari lisannya, dan ini adalah jalan yang paling bermanfaat).”

Yaitu penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya dengan benar, ikhlas dan fokus kepada ilmu. alangkah besarnya berkah dan rahmah duduk di majelis ilmu seperti ini.

Seringkali seorang penuntut ilmu membaca sebuah kitab, ia menghapalnya, dan mengulang-ulangnya tapi ia tidak mengerti. Apabila disampaikan oleh guru ia tiba-tiba bisa paham dengan mudah, dan ia mendapatkan ilmu itu di hadapan gurunya.

Asy-Syathiby berkata, “Dan pemahaman ini kadang didapat dengan hal yang biasa, seperti penjelasan bagian yang meragukan yang tak terpikirkan oleh seorang penuntut ilmu, dan bisa juga di dapat dengan hal yang tidak biasanya, yaitu Allah menganugerahkan kepada penuntut ilmu pemahaman ketika ia bersimpuh di hadapan gurunya dengan tawadhu dan merasa membutuhkan apa yang diajarkan kepadanya. Ini adalah di antara faedah-faedah duduk di majelis para ulama,  yaitu; ketika dibukakan pemahaman untuk penuntut ilmu di hadapan mereka apa yang tidak dibukakan untuknya ketika dia duduk belajar kepada yang lain”.

Jalan yang ke dua : untuk meraih ilmu, (masih bersama perkataan Abu Ishaq Asy-Syatiby rahimahullah), yaitu menelaah kitab-kitab yang dikarang para ulama. Cara ini juga bermanfaat dengan dua syarat :

Pertama : mampu memahami maksud-maksud ilmu yang sedang dipelajari, mengetahui istilah-istilah ahlinya, yang akan membantunya memahami kitab-kitab yang dipelajari. Dan modal inipun sejatinya di dapat dengan jalan yang pertama yaitu belajar langsung dari ulama atau ahlinya.

Kedua : hendaklah ia memilih kitab-kitab ulama terdahulu, karena mereka lebih mendalam ilmunya dari pada ulama muta-akhirin.

dan ini bukan berarti membaca dan mempelajari buku tidak berfaedah ..tentu sangat besar faedahnya ..namun belajar dari buku saja tidaklah cukup. bahkan tidak sedikit orang yang salah paham hanya karena mengandalkan berguru kepada buku. tetap saja seorang penuntut ilmu membutuhkan guru tempat bertanya tentang isi buku yang dia baca.

Maka barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu syar’i hendaklah mendatangilah ahlinya, yaitu ulama. Duduk dihadapan mereka dengan meluruskan niat dan mengikhlaskan amalan hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Serta bertakwa kepada Allah zhohir dan batin, ketika sendiri maupun bersama orang lain, dalam perkataan dan perbuatan. Dan hendaklah senantiasa beruhasa menjaga keta’aan serta bersungguh-sungguh dalam menjauhi maksiat dan yang haram. Karena maksiat adalah kegelapan yang akan memadamkan cahaya ilmu.

Seperti perkataan Imam Malik kepada muridnya Imam Asy-Syafi’i, “Aku melihat bahwasanya Allah telah memberikan cahaya di hatimu. Jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan maksiat”.

Asy-Syafi’i berkata,

Aku mengadukan kepada waki’ buruknya hapalanku

Ia bimbing aku tinggalkan maksiat

Dan ia wasiatkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya

Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat.

Selamat menuntut ilmu saudaraku! Semoga Allah Ta’ala memudahkan jalanmu ke surge …amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.4/10 (12 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 6 votes)
April 08th, 2010 | Author:

ILMU YANG BERMANFA’AT

Ilmu yang bermanfaat secara mutlak di dunia dan akhirat  adalah ilmu syar’i. ilmu yang ahlinya dipuji oleh Allah dan Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, ilmu ini adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syatiby di dalam kitab Al Muwafaqot, “Ilmu yang mu’tabar menurut syara’ adalah ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya berlari mengikuti hawa nafsunya bagaimanapun ia, bahkan ia mengikat pengikutnya dengan muqtadhonya, yang membawa pemiliknya mematuhi aturan-aturannya suka atau tidak suka”.

Di dalam mukadimah ke tujuh dari kitabnya tersebut ia menegaskan, “Sesungguhnya setiap ilmu yang tidak membuat pemiliknya beramal maka di dalam syara’ tidak ada dalil dalam syara’ yang menganggapnya baik”.

Oleh karena itu ulama sejati adalah yang mengamalkan ilmunya dan tampak pada dirinya sifat takut kepada Allah Ta’ala.

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء}

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir : 28)

Ilmu tidak akan bermanfaat tanpa disertai pengamalan. Allah Ta’ala berfirman menegur orang-orang yang tidak mengerjakan apa yang ia katakan atau ajarkan,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.(Ash Shof : 2-3)

Allah Ta’ala juga mengingkari perbuatan orang-orang Ahli Kitab yang tidak mengamalkan kebaikan yang mereka perintahkan kepada manusia,

{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ}

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (Al Baqoroh : 44)

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu ia berkata,

يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى فى النار فتنتدلق اقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار فى الرحى، فيجتمع إليه أهل النار، فيقولون: يافلان، مالك؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول بلى، كنت أمر بالمعروف ولا آتيه وأنهى عن المنكر وأتيه”

“Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Di hari kiamat didatangkan seseorang lalu dicampakkan ke dalam neraka maka terburailah usus-ususnya, dia berputar-putar dengan ususnya seperti seekor keledai berputar-putar pada ikatannya. Maka penghuni neraka mengerumuninya, mereka berkata, ‘Hai fulan,  ada apa denganmu? Bukankah dulu engkau mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran?’ ia menjawab, ‘Benar, aku mengajak kepada kebaikan tetapi aku tidak mengerjakan dan aku melarang dari kemungkaran tetapi aku melakukannya”. (HR. Bukhari : 6/238 dan Muslim : 2989)

Oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berdo’a kepada Allah memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat,

“اللهم أنى أعوذ بك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع، ومن نفس لا تشبع ، ومن دعاء لا يسمع”

‘Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (HR. Muslim : 1295, At-Tirmidzi dan An Nasai (8/263) dari hadits Zaid bin Arqom)

Sahabat Abu Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Yang aku takuti di hari kiamat adalah ketika dikatakan kepadaku, ‘Apakah engkau mengetahui atau tidak? Aku menjawab, ‘Aku mengetahui’. Maka tidak ada satupun ayat dari Kitabullah yang memerintahkan atau melarang melainkan mendatangiku menanyakan perintah dan larangannya. Ayat yang memerintahkan bertanya apakah engkau kerjakan? Dan ayat yang melarang bertanya apakah engkau tinggalkan? Maka Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak puas, dan dari do’a yang tidak didengar”. (diriwayatkan oleh Al Baihaqy, Ad Darimy dan Ibnu Abdil Barr dari beberapa jalan dari Abu Darda’).

Ya Allah .. berapa banyak orang yang mengingatkan manusia kepada Allah sementara dia sendiri lupa kepadaNya. Berapa banyak orang yang menakut-nakuti manusia dengan Allah ternyata dia lancing dan berani menentang Allah. Berapa banyak orang yang mengajak manusia mendekatkan diri kepada Allah, dia malah jauh dari Allah. Berapa banyak orang yang menyeru mengajak manusia kepada Allah sedangkan dia sendiri malah lari dari Allah dan berapa banyak orang yang membaca Kitabullah lalu dia melepaskan dirinya dari ayat-ayat Allah …

Sungguh, jika ilmu tidak memotivasi pemiliknya untuk menjalankan ibadah kepada Allah Jalla wa ‘Ala maka tidak ada nilainya. Jika ilmu tidak membuat pemiliknya dekat kepada Allah tidak ada gunanya. Dan jika ilmu tidak mewariskan kepada pemiiknya al khosy-yah (takut) kepada Allah tidak ada kebaikan padanya.

Jadi ilmu yang mu’tabar secara syar’I itu adalah  ilmu yang mendorong pemiliknya untuk beramal dengan segala perkara yang dapat mendekatkan dia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, berhenti dibatasan yang ditetapkan Allah.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta menjauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat .. amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.1/10 (7 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 6 votes)
April 06th, 2010 | Author:

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudaraku …

Apa hukumanmu kepada seorang yang engkau amanahkan  sebagian  hartamu agar ia mengelolanya dengan cara yang telah disepakati, lalu ia mengingkari hartamu itu?

Jika engkau berkuasa dan sanggup untuk menghukumnya, apa yang akan engkau lakukan kepadanya?

Apa hukumanmu kepada seorang yang melanggar kehormatan rumahmu, dan merusak harga diri serta hartamu?

Apa yang akan engkau lakukan kepadanya, kalau engkau mempunyai kekuatan dan kemampuan?

Apa hukumanmu kepada seorang yang mengintip-intip aib rumahmu, mengintai keluargamu dari celah pintu?

Kalau urusan ini diangkat kepadamu, dan diserahkan kepadamu untuk memutuskan hukuman atas perbuatannya ini, apa hukuman yang akan engkau berikan kepada orang ini?

Saudaraku, kalau ditanyakan kepadamu kenapa engkau jatuhkan hukuman itu kepadanya?

Mungkin engkau terheran-heran dengan pertanyaan ini, dan engkau jawab, “Dia telah menyakiti diriku, keluarga dan juga hartaku”. Ya,  Apalagi yang engkau tunggu setelah perbuatanya itu? Dia berhak mendapatkan hukuman yang berat. Bahkan kalau ada lagi hukuman yang lebih berat dari itu kita tidak akan ragu untuk menjatuhkannya kepadanya.

Baiklah!

Apa hukumanmu kepada orang yang menyakiti Allah dan RasulNya?

Mungkin engkau akan berkata, siapa yang berani melakukan itu?

Sabar, jangan tergesa-gesa menghukumi saudaraku. Bisa jadi engkau termasuk orang yang menyakiti Allah dan RasulNya! (semoga saja tidak seperti itu)

Dengarkanlah firman Robbmu,

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا الأحزاب : 57

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat serta menyiapkan untuk mereka azab yang hina”.

Tahukah engkau bagaimana itu bisa terjadi?

Dengan mendustai Allah, dengan mencelaNya, dengan mensifatiNya dengan sifat lemah, atau menisbatkan anak kepadaNya, atau sekutu atau menandingi perbuatanNya dalam penciptaan.

Dengarkanlah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama,

(( ما أحد أصبر على أذى سمعه من الله ، يدعون له الولد ، ثم يعافيهم ويرزقهم ))

“Tidak ada yang lebih sabar terhadap gangguan yang didengarnya dari pada Allah, mereka mengangapNya mempunyai anak, kemudian Ia membiarkan mereka dan memberi mereka rizki”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dengarkan juga hadits Nabimu shollallahu ‘alaihi wasallama tentang para pelukis (makhluk yang hidup),

(( أِشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهون بخلق الله ))

“Manusia yang paling keras azabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Allah”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Oleh karena itu Allah mengingatkan kita terhadap siksaNya,

﴿ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ ﴾ [آل عمران : 28]

“Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu)”.

Allah Ta’ala telah memberikan peringatan kepada kita atas kemungkaran-kemungkaran dan kekejian yang apabila seorang hamba mengerjakannya maka ia dengan perbuatannya itu telah menyakiti Robbnya.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,

(( ما من أحد أغير من الله ، من أجل ذلك حرم الفواحش))

“Tidak ada yang lebih cemburu dari pada Allah, oleh karena itu Ia mengharamkan perbuatan keji”. (HR. Muslim)

Wahai saudaraku yang tercinta,

Apa yang engkau lakukan kalau engkau melihat  seseorang menghentikan seorang wanita  di jalan kemudian ia menciumnya?

Jika engkau sanggup mencegahnya apakah engkau akan mencegahnya atau tidak?

Dan bagaimana pula kalau engkau bersama putrimu, apakah engkau rela ia menonton pemandangan ini dengan kedua matanya, ataukah engkau berusaha secepatnya membawanya menjauh dari pemandangan ini. Apakah engkau rela kalau putrimu adalah wanita yang dihentikan oleh laki-laki itu lalu ia melakukan perbuatan tersebut dengannya? Bagaimana kalau pemandangan ini terjadi dirumahmu?

Apa pendapatmu jika engkau mengundang laki-laki dan wanita itu kerumahmu. Apakah engkau akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbuat apa yang mereka inginkan, bahkan engkau kumpulkan keluargamu; istri, putra dan putrimu, ibu dan saudarimu untuk menyaksikan pemandangan ini?

Apa vonismu terhadap laki-laki seperti ini?

Jika itu memang terjadi, apa yang akan engkau katakan dan engkau perbuat?

Mungkin engkau akan mengatakan, “ini tidak sejalan dengan sifat-sifatku sebagai seorang laki-laki”.

Engkau benar, seperti ini tentu tidak diridhoi oleh seorang laki-laki yang memiliki hati dan karakter seorang laki-laki sejati membuat manusia tidak menyetujui hal seperti itu.

Akan tetapi, inilah realita yang terjadi setiap hari di kebanyakan rumah-rumah kaum muslimin. Bahkan mereka menganggap biasa hal tersebut!!

Apa beda antara yang saya gambarkan dengan apa yang ditampilkan di layar televisi di rumahmu? Janganlah berusaha untuk menipu diri sendiri, dan janganlah engkau menghiasi kebatilan!! Kenapa engkau masih saja suka menyaksikan film, sinetron dan acara tv lainnya yang tidak sepi dari kemungkaran??!! Padahal engkau telah mengetahui hukumnya!!

Apa pendapatmu?!

Apakah engkau akan mengatakan, “Ah, itukan hanya film .. sinetron”. Relakah engkau menjadi seorang dayyuts?!

Kalau putrimu atau istrimu melakukan perbuatan itu, lalu ia berkata kepadamu, “Aku hanya memerankan perbuatan itu seperti yang kami saksikan”. Mungkinkah darah mengelegak di dalam nadi-nadimu, atau cukup bagimu dia beralasan ini hanya film atau drama untuk membungkammu, kemudian engkau mengatakan kalau begitu itu bukan yang sebenarnya?!!

Saya yakin, engkau akan merasa tersakiti dengan itu.

Lantas bagaimana menurutmu orang yang menyakiti Allah Ta’ala dan RasulNya shollallahu ‘alaihi wa sallama?

Apa itu mungkin terjadi?!

Engkau dengan rokokmu yang tidak berhenti mengepulkan asap!

Engkau dengan solekan dan hiasanmu yang engkau bawa di hadapan orang-orang yang bukan mahrommu!

Engkau dengan ikhtilat (campur-baur)mu dengan wanita-wanita bukan mahrom!

Engkau dengan ghibah dan namimahmu!

Engkau dengan transaksi ribawimu!

Engkau dengan perbuatan mungkar dan maksiatmu serta mendiamkannya terjadi di depan matamu padahal engkau sanggup mengingkarinya!

Engkau ketika suka tersebarnya perbuatan keji di tengah orang-orang beriman!

Engkau dengan kelalaianmu dalam menjalankan keta’atan!

Engkau dengan penolakanmu terhadap syari’at islam!

Apakah itu tidak termasuk menyakiti Allah dan RasulNya?

Apa prasangkamu terhadap Robbmu hai saudaraku??

﴿ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴾ [ الزمر : 67]

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan.

Apa prasangkamu terhadap Robbmu?!

Apakah engkau mengira bahwasanya Allah lemah dan tidak kuasa?!

Apakah engkau mengira bahwasanya Allah tidak sanggup menurunkan kepada kita hukuman atau hujan batu dari langit?

Apakah engkau mengira bahwa Allah tidak melihat dan tidak mendengar?!

Apakah engkau mengira bahwasanya Allah bukan Aziz (Maha Perkasa) dan Dzu Intiqoom (memiliki pembalasan)?!

Apa yang ada dalam benakmu saudaraku, ketika engkau menentang dan menantang Robbmu serta meremehkan Kalam Robbmu?

Realitamu seolah-olah mengatakan sesungguhnya Allah tidak kuasa atasmu, aku merdeka melakukan apa saja yang kuinginkan dan kumau, tidak pantas bagi Allah untuk ikut campur urusanku!!

Apa prasangkamu hai saudaraku

Ketika engkau bersikukuh melakukan mu’amalahmu tidak sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan Allah untuk kita?

Engkau masih saja melakukan mu’amalah ribawiyah, alasanmu hanyalah bahwasanya dunia semuanya melakukan itu, seolah-olah Robbmu harus meridhoi perbuatan manusia ini. Dan engkau masih saja dengan sikap keras kepalamu, kesombonganmu, seolah-olah engkau tidak ridho kecuali kalau engkau memusuhi dan menantang Robbmu!!

Apa yang engkau pikirkan saudaraku!

Ketika engkau masih saja larut dalam kemungkaran dan perbuatan keji yang dilarang Allah? Seolah-olah dirimu telah menganggap baik perbuatan mungkar, dan hatimu puas dengan perbuatan-perbuatan keji itu?!

Apa yang engkau tunggu dari Robbmu?!.

﴿ هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن تَأْتِيهُمُ الْمَلآئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ ﴾ [الأنعام : 158].

Artinya, “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu Sesungguhnya kamipun menunggu (pula)”.

Terakhir .. seruanku untukmu wahai saudaraku,

﴿ وَيَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ سَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ وَارْتَقِبُواْ إِنِّي مَعَكُمْ رَقِيبٌ ﴾ [ هود : 93].

Artinya, “Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. dan tunggulah azab (Tuhan), Sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.”

﴿ قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُواْ عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدِّارِ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ ﴾ [ الأنعام : 135]

Artinya, “Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.”

Semoga Allah Ta’ala membimbing langkah kita untuk kembali ke jalan yang lurus dan meneguhkan kita di atasnya hingga desah nafas terakhir .. amin.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.9/10 (10 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +6 (from 6 votes)