Archive for » 2009 «

April 17th, 2009 | Author:

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أكرم خواص عباده بالألفة في الدين، ووفقهم لإكرام عباده المخلصين، وزينهم بالأخلاق الكريمة والشيم الرضية، تأدباً بأفضل البشرية، وسيد الأمة محمد بن عبد الله بن عبد المطلب صلى الله عليه وسلم.

Lidah itu memang lunak tidak bertulang, oleh karena itu orang yang tidak menguasai ilmu beladiri sekalipun bisa bersilat lidah. Lihatlah ..si fulan yang kemarin mengatakan ‘a’ hari ini berbalik mengatakan ‘b’. si fulan yang lain,  dusta ibarat gula-gula di lidahnya …

Lidah itu tajam laksana pedang bahkan ia adalah pedang bermata dua. Jika luka tersayat pedang tidaklah susah untuk diobati ..tetapi hati yang terluka ditikam kata-kata kemana kan dicarikan penawarnya? Entah berapa banyak persaudaraan terputus ditebas lidah dan tidak sedikit pula dua yang bersahabat jadi musuh bebuyutan karena tikaman lidah.

Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika ditanya siapa muslim yang paling afdhol? Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tanganya”.[1]

Lidah itu berbisa bagai lidah ular yang bercabang dua. Bahkan ia bisa lebih berbahaya dari pada bisa ular.

Lidah juga bisa berobah menjadi binatang buas yang bahkan memangsa tuannya sendiri. Makanya mulutmu harimaumu …

عن أبي هريرة ، أنه سمع النبي (صلى الله عليه وسلم) يقول : “إن العبد يتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها إلى النار أبعد مما بين المشرق والمغرب”

Dari ia Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap mukallaf hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya”.[2]

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Termasuk baiknya islamnya seseorang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya”.[3]

Jagalah lidahmu duhai saudara

Jangan sampai ia mematukmu, karena dia adalah ular yang bisa

Tidak sedikit orang yang terkubur dibunuh lidahnya

Padahal para pemberani takut menghadapinya.

Seorang muslim, ketika dia hendak berbicara,  ia menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna dia memilih diam. Jika ternyata berguna dia menimbang lagi ..apakah jika dia diam manfaatnya lebih besar dari pada berbicara?

Imam Asy-Syafi’I berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya ia berbicara dan jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya”.[4]

Beliau juga pernah menasehati sahabat yang juga muridnya, “Hai Robi’, janganlah kamu berbicara dalam perkara yang tidak berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu kata, ia akan menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya”.[5]

Lidah adalah duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa yang biasa dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya, suka atau tidak suka.

Karena lidah itu itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah ketika seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya kepadamu, dengan  beragam rasa, pahit, manis, asam, pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali dengan lidah. Engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak lidahnya ketika bertutur-kata.

Sungguh mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang. Bahkan seseorang yang zohirnya ta’at, berwibawa, sopan tetapi dia membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka.

Suatu malam, di salah satu villa Malibuanai Padang Panjang, saya berkumpul bersama beberapa ikhwan yang sebagian besarnya masih awwam dalam hal agama.

Lalu secara dadakan, mereka meminta kesediaan saya untuk memberikan sepatah dua kata naseha. Dalam rombongan itu ada seorang pria yang baru mulai belajar mendekatkan diri kepada Allah ..sisa-sisa kelalaian masih membekas diraut wajahnya.

Salah seorang yang tampak agak lebih tua, membuka majelis. Entah apa yang ada dalam benaknya ketika itu, dia berbicara menyindir salah seorang yang hadir – mungkin niatnya baik, ingin mengingatkan si fulan – ia berkata, “Nanti di hari kiamat, pak fulan masuk surga. Saya masih mencari-cari. Saya bertanya, ‘Pak  fulan, mana si fulan’[6]. Pak … menjawab di sebelah’. Saya lihat ke sebelah rupanya di neraka”.

Semua yang hadir gelak terbahak-bahak. Rasa sedih, kasihan, marah membuat saya bungkam menghimpun aksara dan petuah yang semoga berguna bagi diri saya dan yang hadir khususnya pembuka acara yang salah kaprah menghunus lidahnya.

Saya jadi teringat hadits Nabi shollallahu ‘alahi wasallama yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jundub rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak mengampuni si fulan’. Maka Allah berkata, “Siapa orang yang lancang mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.

Ya Allah …

Satu kalimat saja yang dianggapnya remeh menghapuskan amal-amalnya.

Hilanglah sholat yang dulu dikerjakannya

Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya

Sirnalah zakat, qiyam dan amal kebajikannya.

Karena kelancangan lidahnya mendahului apa yang menjadi hak Allah.

Bahkan orang yang dipandangnya rendah dan hina, yang dia kira masuk neraka. Malah diampuni Allah Ta’ala.

Dahulu, para salafus sholeh sangat menjaga lidah mereka. Setiap saat mereka meng-hisab kalimat yang mereka ucapkan.

Ibnu Buraidah berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti beruntung. Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar, bahwasanya seorang manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota tubuhnya selain dari pada lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata yang baik atau menukilkan yang baik dengan lidahnya”.

Sahabat Ibnu Mas’ud bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Ilah yang diibadati dengan hak melainkan Dia bahwa tidak ada dimuka bumi ini yang lebih patut untuk dipenjarakan dari pada lidahnya.

Yunus bin ‘Ubaid berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula pada seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku melihatnya tampak pada seluruh amalanya”.

Fudhoil bin ‘Iyadh berpetuah, “Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.

Gerakan anggota tubuh yang paling ringan adalah lidah, namun itu pula yang paling besar bahayanya bagi seorang manusia.

Abu Hatim rahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan mulutnya. Dia harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara bisa jadi dia akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Dan dia akan lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada membantah apa yang telah dia ucapkan”.

Dulu, sebagian ulama tidak menerima hadits dari orang-orang yang berbicara atau mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak patut.

Pernah dikatakan kepada  Al-Hakam bin Utaibah, “Kenapa engkau tidak menulis hadits dari Zaadaan?”. Ia menjawab, “Dia banyak bicara”.

Lidah dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya.

Dua petaka atau bencana itu adalah : petaka berbicara dan petaka diam.

Seorang yang bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah setan yang bisu, bermaksiat kepada Allah, bermuka dua dan menjilat , jika dia tidak mengkhawatirkan bahaya atas dirinya.

Dan orang yang mengucapkan perkataan yang batil adalah setan yang berbicara, bermaksiat kepada Allah dengan kata-kata yang ia ucapkan.

Adapun orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus – semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka – berada di antara dua petaka tersebut. Mereka menahan lidah mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak mendatangkan manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat.

Seorang mukmin sepatutnya memiliki tutur-kata yang santun, bersih dan terjaga.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu suka mencela, melaknat, berkata yang keji dan kotor”.[7]

Seorang hamba, bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu dia dapatkan ternyatalidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.

Ketika seseorang datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama lalu berkata, “Hai Rasulullah nasehatilah aku’”. Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Jika engkau berdiri dalam sholatmu, maka sholatlah seolah-olah itu sholat terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok membuatmu menyesal dan bulatkanlah bersungguh-sungguhlah memutus harapan terhadap apa yang ada ditengan manusia”[8].

Kalau saja setiap kita memegang tiga wasiat ini; sholat dengan khusyu’, menjaga lidah, dan     menggantungkan harapan hanya kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.

Oleh karena itu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan itu?”. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Tahanlah lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu, serta tangisilah kesalahanmu”[9].

Semoga Allah menjaga kita semua dari petaka lidah …

Semoga Allah menguatkan kita untuk menyuarakan kebenaran

Semoga Allah menguatkan kita untuk menahan lidah dari kebatilan, amin.


[1] Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ary.

[2] Al-Adzkar Imam An-Nawawi (1/332).

[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2318) dari Abu Hurairah.

[4] Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/332).

[5] Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335).

[6] Maksudnya menyindir  seseorang yang saya sebutkan sebelumnya.

[7] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari di Adabul Mufrod, At-Tirmidzi, Al-Hakim dan lainnya. Dishohihkan Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani. (Ash-Shohihah 1/319 no. 320).

[8] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani (Shohih Al-Jami’ no. 742)

[9] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Al-Mubaarok dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi (2/65) (Ash-Shohihah 2/581).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.6/10 (11 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +18 (from 18 votes)
April 13th, 2009 | Author:

EMPAT MANUSIA YANG MERUSAK AGAMA

Berkata Muhammad bin Al-Fadhol Az-Zahid : “Rusaknya islam di tangan empat jenis manusia : pertama orang yang tidak mengamalkan ilmunya, kedua orang yang beramal dengan tanpa ilmu, ketiga orang yang tidak berilmu dan tidak beramal, keempat orang yang melarang orang lain mempelajari ilmu”(Miftah Daarus Sa’adah, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah : 1/490) .

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: kata-kata emas  | 5 Comments
April 06th, 2009 | Author:

Assalamu’alaikum…

Afwan ustad, bagaimana dengan tradisi2 orang dijawa? yang melarungkan makanan dan sembelihan serta benda2 lainnya kedalam laut? contohnya laut pantai selatan dan sejenisnya.

satu lagi ustad. bagaimana pendapat ustad mengenai keris dan benda2 sejenisnya?? apakah ada tradisi memandikan benda2 tersebut yang kata orang2 yang punya adalah benda keramat? dan juga saya mau tanya mengenai kalung yang berbentuk tasbih yang di percayai dapat membawa kesehatan? ane sering lihat sebagian orang jemaa’ah tabliq dan lainnya pake kalung yang berbentuk tasbih tersebut.

Jazakallahu khairan kashiran.

Ana Abdullah
Di Pekanbaru, SUkajadi tepatnya di jalan balam..

Assalamu’alaikum

wa ‘alaikumus salam warahmah

na’am .. tradisi-tradisi di sebagian tempat seperi sesajen atau sembelihan yang dilakukan untuk selain Allah adalah perbuatan syirik. dan itu adalah salah satu perbuatan jahiliyyah yang wajib ditinggalkan, dijauhi dan dibersihkan.

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah sesungguhnya sholatku, dan sembilahanku, dan hidupku serta matiku adalah milik Allah Robb semesta alam”. (Al-An’am : 162-163)

Allah Tabaaroka wa Ta’ala memerintahkan kita menyelisihi orang-orang musyrikin yang mengibadati dan menyembelih selain Allah. karena barangsiapa yang mendekatkan diri kepada selain Allah untuk menolak bala (marabahaya) atau mendatangkan manfaat karena mengagungkannya maka dia telah melakukan kekufuran dan kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah dulu.
seseorang datang menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama meminta izin untuk menyembelih nazarnya di tempat yang bernama Bawaanah. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Apakah di sana ada dulu ada berhala?”. ia menjawab, “Tidak”. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama kembali bersabda, “Apakah di sana dahulu pernah di adakan hari raya jahiliyyah?”. ia menjawab, “Tidak”. Nabi bersabda, “Tunaikan nazarmu”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya 3313)

penanya ini adalah seorang sahabat, orang yang bertauhid ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. akan tetapi apabila tempat itu pernah menjadi tempat berhala atau perayaan jahiliyyah bisa menjadi penghalang dilaksanakannya nazarnya. tatkala nabi mengetahui bahwasanya semua itu tidak ada di sana barulah nabi mengizinkan. kalau seandainya salah satu perbuatan jahiliyyah itu pernah dilakukan di sana dulunya, niscaya beliau akan melarang sahabat tadi menyembelih nazarnya di sana demi menjaga kemurnian tauhid dan memutus jalan kepada kesyirikan.

adapun mengkeramatkan benda-benda seperti keris, tombak, kerbau dan lain-lainnya lalu dimandikan dengan ritual tertentu, serta diharapkan berkah darinya. tidak diragukan lagi, bertentangan dengan akidah tauhid yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. antum bisa merujuk tulisan larangan mengharapkan berkah dari makhluk di telaga hati yang diposting pada 31 maret 2009.

dan masalah mengalungkan tasbih dileher ..itu hanyalah perbuatan-perbuatan orang yang tak berilmu, jugatasyabbuh (menyerupai) pendeta-pendeta budha. mendatangkan ‘ujub dan riya’. kalau digunakan dengan keyakinan sebagai obat, menambah kekuatan atau bisa melindungi dari marabahaya  itu seperti tamimah (jimat) yang dilarang oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. semoga Allah meneguhkan kita semua di atas tauhid dan menjauhkan kita dari segala perbuatan syirik. wallahu a’lam.

akhuukum

abuz zubair hawaary

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
April 04th, 2009 | Author:

PENYEBAB SU-UL KHOTIMAH …

Abu Muhamad Abdul Haq Al-Isyabaily rahimahullahu Ta’ala berkata, “Ketahuilah, bahwasanya su-ul khotimah – semoga Allah melindungi kita darinya – tidak akan terjadi kepada orang yang istiqomah zhohirnya dan baik batinnya. Itu hanya terjadi pada orang yang rusak akalnya, atau terus melakukan dosa besar. Bisa jadi dosa itu menjadi kebiasaannya sampai kematian menjemputnya sebelum ia sempat taubat. Kematian datang sebelum ia memperbaik jalan hidupnya, maka ketika itu syetan mendatanginya dan menyambarnya, hanya kepada Allah kita berlindung. Atau dia dulunya seorang yang mustaqim (istiqomah) kemudian keadaan berobah dan keluar dari jalan yang lurus, sehingga itu menjadi penyebab ia mendapatkan su-ul khotimah dan akhir yang sial, semoga Allah melindungi kita dari itu”.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
March 31st, 2009 | Author:

TUJUH KALIMAT LEBIH BERNILAI DARI EMAS DAN PERAK

“عن أنس رضي الله عنه قال: جاء أعرابي إلى النبي – صلى الله عليه وسلم -، فقال: يا رسول الله! علمني خيراً، فأخذ النبي – صلى الله عليه وسلم – بيده فقال  :قل : سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر . فعقد الأعرابي علي يده ومضى فتفكر ثم رجع فتبسم النبي صلى الله عليه وسلم قال : تفكر البائس
فجاء فقال : يا رسول الله سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر هذا لله فمالي ؟ فقال له النبي صلى الله عليه وسلم : يا أعرابي  إذا قلت : سبحان الله قال الله : صدقت وإذا قلت : الحمد لله قال الله : صدقت وإذا قلت : لا إله إلا الله قال الله : صدقت وإذا قلت : الله أكبر قال الله : صدقت وإذا قلت اللهم اغفر لي قال الله : قد فعلت إذا قلت : اللهم ارحمني قال الله :  قد  فعلت إذا قلت : اللهم ارزقني قال الله : قد فعلت . فعقد الأعرابي على سبع في يده ثم ولى”

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Seorang arab baduwi menemui Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, lalu ia berkata, ‘Hai Rasulullah! Ajarkanlah aku suatu kebaikan’. Maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama meraih tangannya seraya berkata, ‘Ucapkanlah Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha Illallah wallahu Akbar (Maha Suci Allah, dan segala puji untuk Allah, dan tidak ada yang diibadati dengan hak melainkan Allah, dan Allah Maha besar)’.

Lantas arab baduwi  itupun menghitung jari-jemarinya, dan pergi sambil berpikir. Kemudian dia kembali lagi. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama tersenyum melihatnya, beliau berkata, ‘Si malang ini berpikir’.

Datanglah arab baduwi tersebut lalu berkata, ‘Hai Rasulullah, Subhaanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu Akbar .. ini untuk Allah, lantas apa untukku?

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, ‘Hai arab baduwi, apabila engkau mengucapkan Subhanallah. Allah berkata, ‘Engkau benar’. Apabila engkau mengucapkan wal Hamdulillah. Allah berkata, ‘Engkau benar’. Apabila engkau mengucapkan La Ilaaha Illallah. Allah berkata, ‘Engkau benar’. Apabila engkau mengucapkan Allahummaghfirlii (Ya Allah ampunilah aku). Allah berkata, ‘Aku telah lakukan’. Apabila engkau mengucapkan Allahummarhamnii (Ya Allah kasihilah aku). Allah berkata, ‘Aku telah lakukan’. Apabila engkau mengucapkan Allahummarzuqnii (Ya Allah berilah aku rizki). Allah berkata, ‘Aku telah lakukan’.

Lalu orang arab baduwi tersebut menghitung tujuh jemarinya kemudian pergi meninggalkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama”.

(As-Silsilah Ash-Shohihah 9/no.3336).

Subhanallah …

Alhamdulillah …

La ilaah Illallah …

Allahu Akbar …

Allahummaghfirlii …

Allahummarhamnii …

Allahummarzuqnii …

Empat kalimat apabila kita ucapkan Allah akan mengatakan ‘Engkau benar’.

Dan tiga permohonan jika kita ucapkan akan dikabulkan.

Jangan sia-siakan wahai saudaraku ..kalimat yang ringan dilisan ini tapi besar dan agung faedahnya. Jangan biarkan satu haripun dalam hidupmu berlalu tanpa mengucapkan kalimat ini dengan lisan dan hatimu …wallahu a’lam bish showab.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.6/10 (29 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +29 (from 31 votes)
March 28th, 2009 | Author:

Nikmatnya Mencintai Allah Oleh Ustadz Abu Zubair Hawaary

Durasi : 01:28:03

Ukuran : 29,3 MB

Bitrate : 32 Kbps

Pekanbaru

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.5/10 (34 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +14 (from 18 votes)
 
icon for podpress  Standard Podcast: Play Now | Play in Popup | Download
Category: Download Kajian  | 4 Comments
March 28th, 2009 | Author:

Menangis Karena Takut Kepada Allah Oleh Ustadz Abu Zubair Hawaary

Durasi : 01:30:54

Ukuran : 29,9 MB

Bitrate : 32 Kbps

Pekanbaru

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 6.7/10 (20 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +11 (from 13 votes)
 
icon for podpress  eksklusif: Play Now | Play in Popup | Download
Category: Download Kajian  | One Comment
March 28th, 2009 | Author:

LARANGAN MENGHARAPKAN/MEMINTA BERKAH DARI POHON, BATU DAN SEJENISNYA.

عن أبي واقد الليثي – رضي الله عنه – قال : خرجنا مع رسول اللهr إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر ، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط ، فمررنا بسدرة ، فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط ، كما لهم ذات أنواط فقال رسول اللهr : « الله أكبر إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده ، كما قالت بنو إسرائيل لموسى : ] اجعل لنا إلهاً كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون [ لتركبن سنن من كان قبلكم »

Artinya : Dari Abu Waqid Al-Laitsi semoga Allah meridhoinya ia berkata, “Kami pergi bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menuju Hunain. Dan ketika itu kami baru meninggalkan kekufuran. Orang-orang musyrikin mempunyai  Sidroh (sejenis pohon) , mereka beri’tikaf di dekatnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzaatu Anwath. Maka kami melewati sebuah pohon sidroh. Kami pun berkata, ‘Ya Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwath seperti yang mereka miliki’. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Allahu Akbar .. sesungguhnya itu adalah jalan-jalan (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya sebagaimana ucapan Banu Israil kepada Musa (jadikanlah untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Ia (Musa) berkata :  sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh).

Sungguh, kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang yang seblum kalian”.

(Dikeluarkan oleh Ahmad 5/228, At-Tirmidzi  4/475 kitab Al-Fitan no.2180, Abdurrozaq 11/369 no. 20763, Ibnu Jarir 9/45-46, Ibnul Mundzir di Ad-Durrul Mantsur 3/533, Abu Hatim 3/275 no. 3290-3294 dan Ath-Thobroni)

MAKNA HADITS

Dalam perang Hunain, ikut serta dalam pasukan Rasulullah shollallahu alaihi wa sallama orang-orang yang baru masuk islam. Kaki mereka belum kokoh di atas islam, dan belum paham dakwah islamiyah serta akidah-akidah dan landasan-landasanya, karena mereka belum lama meninggalkan jahiliyah dan syirik. Ketika mereka melewati orang-orang musyrikin yang sedang I’tikaf di di dekat sebuah pohon mengharapkan berkah dan mengagungkan pohon itu. Tatkala orang-orang yang baru masuk islam itu melihat mereka melakukan itu, mereka meminta Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama membuatkan untuk mereka pohon tempat mereka menggantungkan senjata-senjata mereka dengan tujuan mengharapkan berkah dari pohon itu – bukannya mengibadatinya – mereka mengira bahwa islam mengizinkan tabarruk (mengharapkan berkah) seperti ini, dan bahwasanya dengan itu mereka dapat meraih kemenangan atas musuh-musuh mereka.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama terkejut mendengar permintaan yang aneh ini. Maka beliau mengucapkan kalimat yang agung, yang seharusnya menjadi pelajaran bagi umat sampai hari kiamat, beliau berkata (Allahu Akbar .. sesungguhnya itu adalah jalan-jalan (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya sebagaimana ucapan Banu Israil kepada Musa (jadikanlah untuk kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Ia (Musa) berkata :  sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh).Sungguh, kalian pasti akan mengikuti jejak-jejak orang-orang yang seblum kalian.

Kaum muslimin teramat membutuhkan untuk memahami pelajaran ini. Begitu juga para ulama seyogyanya mereka menyuarakan kalimat yang kuat ini kepada orang-orang yang mengharap berkah dari makhluk yang hidup maupun yang sudah mati, pohon-pohon dan bebatuan. Karena mereka mengira itu dari islam. Dan mereka dibohongi  oleh orang-orang yang tidak takut kepada Allah serta tidak mengharapkan Allah dan hari akhir dari para penyembah harta dan kedudukan. Mereka memanfaatkan emosi orang-orang bodoh dan awam. Sehingga mereka memegang kebatilan dan mendorong mereka untuk memerangi kebenaran dan tauhid.

Kesimpulan Hadits :

1.       Larangan menyerupai orang-orang jahiliyah.

2.       Bahwasanya perbuatan Bani Israil yang dicela, juga tercela bagi umat ini jika melakukannya.

3.       Di dalam hadits ini ada isyarat kepada kaedah (Saddudz Dzari’ah) atau menutup pintu keburukan.

4.       Di dalam hadits ini juga terdapat mu’jizat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, karena apa yang disabdakannya terbukti.

5.       Wajib takut terhadap kesyirikan. Dan bahwasanya seseorangitu bisa jadi menganggap baik sesuatu, dan ia mengiranya itu bisa mendekatkan dia kepada Allah, padahal malah menjauhkannya dari rahmat Allah, dan mendekatkannya kepada kemurkaan-Nya.

(diringkas dari : Mudzakkiroh Al-Hadits An-Nabawy  fil Akidah wal It-Tiba’  karangan Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkholi, halaman 17-19).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: Akidah/Manhaj  | 2 Comments
March 21st, 2009 | Author:

Imam Ibnul Qoyyim rahihamullah berkata, “Akar-akar maksiat itu baik yang besar maupun yang kecil ada tiga : bergantungnya hati kepada selain Allah, mena’ati kekuatan amarah dan kekuatan syahwat. semuanya itu adalah; syirik, zalim dan perbuatan-perbuatan keji. puncak dari bergantung kepada selain Allah adalah syirik. Ujung dari kekuatan amarah adalah membunuh. Dan puncak dari kekuatan syahwat adalah zina. Oleh karena itu Allah mengumpulkan tiga perkara ini dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang tidak berdo’a kepada tuhan yang lain disamping berdo’a kepada Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, dan orang-orang yang tidak berzina”. (Al-Furqon)
dari kitab : Ma’lumat Hadifah Qoyyimah halaman 9)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.0/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
March 21st, 2009 | Author:

KESAKSIAN …

Dibawah rintik hujan
Ku saksikan Rahmat-Mu
Bersama gemuruh air jatuh dibebatuan
Ku lihat ke Maha Perkasaan-Mu
Disa’at burung berkicau dipepohonan menyambut pagi
Daku terbuai dalam kesucian dan keagungan-Mu
Ketika kemilau pelangi menghiasi langit
Ku saksikan ke Maha Indahan dan ke Maha sempurnaan-Mu
Semilir angin menerpa wajah membawa kesejukan
Menyusup kedalam pori-pori, mengalir dalam setiap nadi
Hingga sampai ke hati menghantarkan kedamaian
Kutahu kasih-sayang-Mu meliputi segala sesuatu
Dilembah ini .. dalam kesunyian, kesejukan dan kedamaian
Aku bersaksi, aku bertasbih, aku memuja dan memuji-Mu
Robbi .. Engkau tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia
Dakulah yang telah berbuat sia-sia bergelimang dosa
Seluruh makhluk bertasbih mengagungkan-Mu
Dan aku.. ke-akuan membuatku buta tak membaca ayat-ayat-Mu,
Kesombongan membuatku tuli tak mendengar Firman-Mu, keangkuhan membuatku bisu tidak bertasbih memuja dan memuji-Mu.
Namun, Engkau Maha Mengetahui .. hatiku tetap bersaksi
Engkaulah Yang Maha Perkasa dan akulah si lemah, maka kuatkanlah aku
Engkaulah Yang Maha Mulia dan akulah si hina maka muliakanlah aku
Engkaulah Yang Maha Kaya dan akulah si miskin, maka anugerahilah aku
Akulah si pendosa dan Engkaulah Yang Maha Pengampun dosa
Maha Suci Engkau .. maka jagalah daku dari azab neraka
Robbi .. daku terlalu lemah untuk menanggung azab-Mu
Jauhkanlah daku dari orang yang engkau campakkan ke neraka dan Engkau hinakan
Robbi .. aku telah mendengar seruan-Mu
Aku bersaksi Engkaulah Sang Pencipta
Hanya untukmu semata segala bentuk ibadah
Engkaulah pemilik segala nama yang indah dan sifat yang sempurna
Ampunilah dosaku, hapuslah keselahanku, dan wafatkanlah aku bersama orang-orang yang baik
Robbi .. berikanlah yang telah Engkau janjikan melalui Rasul-Mu
Janganlah hinakan daku di yaumil qiyamah
Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji
Amin.
Abuz Zubeir Hawaary

Suatu pagi di Hutan Lembah Aek Martua

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.8/10 (4 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)