Archive for » April, 2009 «

April 30th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

Masalah Jahar atau Sirr Basmalah

assalamu’alaikum, ustz ana pengen diberikan hadits tentang bacaan bismillah yang zahar dan sir dalam shalat, atas petunjuk ustz, jazakallah khairan katsiro. Wassalam

wa alaikumus salam warahmatullahi wa barakaatuh.

Sebelumnya ana tegaskan! Hanya atas petunjuk Allah Ta’ala semata!!.. barangsiapa yang diberi Allah petunjuk tidak seorangpun yang bisa menyesatkannya. Sebaliknya, barangsiapa yang disesatkan Allah tiada seorangpun yang bisa menunjukinya. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan kepada kita petunjuk-Nya dan meneguhkan kita di atasnya, amin.

Masalah jahar  (bukan zahar) dan sirr ketika membaca basmallah di dalam sholat ada dua pendapat ulama. Yang rajih Insya Allah adalah imam membaca basmalah dengan sir. Karena demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku sholat di belakang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, di belakang Abu Bakar dan di belakang Umar. Maka aku tidak pernah mendengar seorangpun dari mereka membaca Bismillahir rohmanir rahim”.[1]

Selain itu karena dia bukanlah termasuk ayat Al-Fatihah[2].

Akan tetapi jika sesekali imam menjaharkannya tidak mengapa. Karena ada riwayat yang mengisyaratkan demikian sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah di dalam kitab Zaadul Ma’ad, akan tetapi kata beliau Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallama lebih sering men-sirr-kannya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan kalau imam menjaharkan dalam rangka menghindari fitnah atau ta’liif  orang-orang yang mazhabnya jahar, maka itu tidak apa-apa.[3]

Imam Az-Zaila’I menuturkan, “Sebagian ulama menjaharkan basmalah guna menghindari hal yang tidak baik (Saddan Lidz-Dari’ah). Ia melanjutkan, “Boleh bagi seseorang meninggalkan yang afdhol untuk Ta’liiful Qulub dan menyatukan, serta menghindari sesuatu yang membuat orang lari. Sebagaimana Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama meninggalkan pemugaran ka’bah dan membangunnya kembali di atas pondasi Ibrahim, dengan alasan orang-orang qurasiy baru meninggalkan jahiliyyah, beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama khawatir itu akan membuat mereka lari. Dan beliau memandang mendahulukan maslahah bersatu sekalipun membiarkan ka’bah seperti itu.

Dan tatkala Ar-Robi’ mengingkari Ibnu Mas’ud yang menyempurnakan sholat di belakang Ustman[4], Ibnu Mas’ud menjawab, “Perselisihan itu adalah buruk”.

Ahmad dan lainnya telah menegaskan itu dalam masalah basmalah, menyambung witir dan lainnya. Yang mana seseorang meninggalkan yang afdhol kepada sesuatu yang boleh tetapi  tidak utama. Dalam rangka menjaga kesatuan hati  makmum atau untuk mengenalkan mereka kepada sunnah dan semisalnya, dan ini merupakan landasan besar dalam (masalah) Sadd Adz-Dzari’ah”.[5]

Syaikh Masyhur Hasan Salman berkata, “Yang benar dikatakan, “Masalah ini adalah masalah yang lapang. Dan pendapat yang membatasi pada satu tidak mungkin. Dan setiap yang berpegang kepada satu riwayat[6] dia benar dan berpegang kepada As-Sunnah. Yang sempurna adalah mengikuti Al-Mushthofa shollallahu ‘alaihi wa sallama dalam segala keadaan. Maka kadang dijaharkan dan lebih sering di sirr-kan. Kepada Allah kita meminta tolong, dan Dialah yang menunjuki kepada jalan yang lurus”.[7]


[1] Dikeluarkan oleh Muslim no. (399) kitab Ash-Sholah bab. Hujjah Man Qola Laa Yajhar bil Basmalah.

[2] Fatawa Ibnu Utsaimin 13/109.

[3] Ibid.

[4] Ketika di Mina. Padahal Ibnu Mas’ud berpendapat sholat dilakukan dengan qoshor sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar rodhiyallahu ‘anhum ajma’in.

[5] Nasbur Royah (1/328).

[6] Dalam masalah ini.

[7] Al-Qowlul Mubin hal. (234).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
Category: FIKIH, Tanya Jawab  | One Comment
April 29th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

Masalah Talak

Ass.wr.wb.
1. jika seorang suami mengusir isterinya dari rumahnya, apakah hal tersebut membuat jatuh talak?
2. Kemudian jika dalam hitungan jam sang suami menjemput kembali isteri yang diusirnya, apakah yang seharusnya dilakukan oleh isterinya?

jzkmlh khair…Wss

Wa alaikumussalam warahmatullahi wa barakaatuh

1.       Lafazh talak itu ada dua : shorih dan kinayah. Shorih artinya jelas atau tegas. Maksudnya lafazh talak langsung atau pecahan katanya. Ahli ilmu mencontohkan : engkau aku talak, atau engkau muthollaqoh, atau engkau tholiq. Atau dalam bahasa kita lafazh shorih  seperti : engkau aku cerai, dan semisalnya.

Adapun kinayah yaitu; lafazh atau ungkapan yang mengandung kemungkinan beberapa makna. Ahli ilmu memisalkan seperti ungkapan seorang suami kepada istrinya “Pergi kembali ke rumah orangtuamu!”, atau “Tinggalkan saya”  dan lainnya.

Lafazh-lafazh yang shorih atau jelas dan tegas hukumnya jatuh talak sekalipun dia tidak meniatkan talak.

Adapun lafazh kinayah dikembalikan kepada niat suami. Apakah ketika dia mengucapkan itu berniat menceraikan atau tidak. Bersandarkan kepada hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Innamal A’maalu binniyaat”.

2.       Istri yang baik dan bijaksana adalah yang mengedepankan maslahat rumah tangganya dari pada egoisme dan amarah. Berlapang dada dan saling memaafkan adalah kunci kelanggengan rumah tangga. Bukankah Allah juga berfirman, “dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (At-Taghobun : 14)

Bagaimanapun suamimu adalah manusia biasa yang kadang dilanda problema diluar rumah yang tidak engkau ketahui. Sama seperti dirimu yang juga penuh kekurangan.

Oleh karena itu, berpikirlah dengan jernih, memohon kepada Allah dengan tulus, timbanglah antara manfaat dan mudhorrot dengan hati yang bersi dan berserah kepada Allah serta mengharapkan ridho-Nya. dan jangan lupa minta nasehat orang yang dapat dipercaya dan amanah serta takut kepada Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: Tanya Jawab  | 2 Comments
April 29th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

Bekerja atau Menaati Suami?

ass.wr.wb …saya ibu …  anak umur … th, bekerja di perusahaan swasta dari sebelum saya menikah sya sudah bekerja tapi sebenarnya saya ingin keluar dari pekerjaan yg saya jalani diam dirumah menurus anak dan suami.suami juga menyuruh untuk berhenti berkerja,hanya sja hati saya masih takut jika hidup kekurangan karna suami saya penhasilannya tidak tetap/blm punya pekerjajan yg pasti,kadang sy suka menangis dan itu pasti membuat suami tersinggung bahkan sakit hati,bagaimana sikap yg harus sya lakukan? terima kasih wasalm wr.wb

wa ‘alaikis salam warahmatullahi wa barakaatuh

semoga rahmat Allah senantiasa menyertai ibu sekeluarga dan semoga Allah senantiasa membimbing langkah ibu untuk bertakwa kepada-Nya, amin.

Ibu yang semoga senantiasa dirahmati Allah .. kita wajib meyakini bahwa semua yang disyari’atkan Allah Ta’ala adalah baik dan untuk kebaikan kita. Syari’atnya adalah adil dan bijaksana. Dan kebaikan itu adalah dengan menaati syari’at-Nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu maka baginya kehidupan yang sempit dan Kami kumpulkan ia di hari kiamat dalam keadaan buta”.[1]

Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menjelaskan, “Allah menjamin bagi orang yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan kandungannya bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhirat”.[2]

Lihatlah wahai saudariku .. siapa yang telah menciptakanmu?

Siapa yang telah memberikan hidayah islam kepadamu?

Siapa yang telah menganugerahkanmu seorang suami yang engkau sayangi?

Siapa yang telah mengaruniahimu seorang anak yang menjadi belahan jiwamu?

Ya ..ya ..lisanmu mengatakan Allah!!

Benar saudariku. Dialah Allah yang telah menciptakan jin dan manusia bahkan alam semesta. Dan Dia pula yang mengatur rizki seluruh makhluk-Nya. oleh karena itu jangan pernah ragu dan khawatir akan rizki Allah jika engkau berhenti bekerja karena mematuhi Allah Ta’ala yang telah memerintahkanmu tinggal dirumah menjalankan tugas sebagai wanita muslimah, istri sekaligus ibu bagi anakmu.

Janganlah lupa bahwa, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Allah berikan untuknya jalan keluar dari segala permasalaha dan Allah berikan ia rizki dari arah yang tidak dia duga”.

Kepatuhanmu kepada suamimu yang mengingikanmu berhenti bekerja adalah salah satu bentuk ketakwaan kepada Allah. Karena Allah memerintahkanmu tinggal dirumah dan ta’at kepada suamimu.

Dan janganlah lupa bahwa barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan gantikan untuknya dengan yang lebih baik untuknya.

Qona’ah terhadap apa yang diberikan Allah melalui suamimu

Bersabar menjalankan agama Allah

Mematuhi suamimu

Mengurus rumah tangga

Mendidik anak-anak

Jauh lebih baik dari pada hidup berkecukupan tetapi suami merasa terabaikan

Anak-anak kurang kasih sayang

Rumah tangga terbengkalai

Yang berakibat munculnya berbagai percikan dan problema rumah tangga yang penyebab utamanya adalah tidak patuh kepada Allah dan Rasul-nya  dan tidak menaati suami.

Beri dukungan kepada suami untuk giat bekerja. Berikan masukan dan motivasi serta hargai setiap tetes keringatnya ..ketahuilah suamimu itu adalah surga atau nerakamu!!

Semoga Allah meneguhkan ibu dan suami ibu di atas agama Allah dan dilimpahkan rizki yang cukup dan halal, amin.

Akhuukum

Abuzzubair hawaary


[1] Thoha : 123-124.

[2] Ad-Durrul Mantsur (5/607).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
Category: Tanya Jawab  | Leave a Comment
April 24th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

SUCIKAN MASJID DARI MUSIK DAN NYANYIAN

Masjid adalah tempat terbaik di muka bumi dan yang paling dicintai Allah Ta’ala. Ia adalah benteng iman, madrasah pertama bagi seorang muslim, rumah orang-orang yang bertakwa.

Tempat kaum muslimin berkumpul setiap hari lima kali, tempat bermusyawarah dan saling nasehat- menasehati. Dari masjidlah memancar cahaya islam menerangi penjuru dunia. Dari mesjid pula lahirnya para ulama dan fuqoha’.

Ketika Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama hijrah ke Madinah, yang pertama beliau bangun adalah masjid..

Ini menunjukkan bahwasanya masjid memiliki urgensi yang sangat penting di dalam Din Islam, karena sholat adalah tiang agama, dan mesjid sesuai dengan namanya adalah tempat yang disiapkan untuk sujud. Dan sujud adalah symbol penyerahan diri kepada Allah, karena dalam sujud seorang muslim menempelkan kening dan hidungnya, bagian tubuhnya yang paling mulia untuk menghambakan diri kepada Allah Ta’ala. Maka mesjid adalah syi’ar kaum muslimin yang bertauhid dan hanya sujud kepada Allah Ta’ala.

Masjid adalah symbol islam. Dimana jika tidak ada lagi azan, sholat, jama’ah maka tidak ada pula islam dan kaum muslimin.

وعن عبد الله بن عمر : « أن النبي – صلى الله عليه وسلم  قال : خير البقاع المساجد ، وشر البقاع الأسواق »

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, “Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”.[1]

“Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid itu hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan sholat, membayarkan zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah, mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang diberi petunjuk”. (At-Taubah : 18)

“Dan bahwasanya mesjid-mesjid itu adalah milik Allah, maka janganlah engkau berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepadaNya”. (Al-Jin : 18)

Itulah mesjid ..tempat paling mulia dan paling suci dimuka bumi. Rumah orang-orang yang bertakwa.

وعن أبي الدرداء قال : سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : « المسجد بيت كل تقي ، وتكفل الله لمن كان المسجد بيته بالروح والرحمة والجواز على الصراط إلى رضوان الله ، إلى الجنة »

Dari Abu Darda’ ia berkata, “Aku mendengar rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Masjid adalah rumah setiap orang yang bertakwa, Allah menjamin barangsiapa yang masjid adalah rumahnya akan diberi rahmat dan selamat melewati ash-shiroth menuju ridho Allah dan surge”.[2]

Tempat turunnya rahmat dan para malaikat menaungi orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an di dalamnya.

Orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid untuk menunaikan jama’ah dianugerahi cahaya yang benderang di hari kiamat.[3]

Orang yang datang ke masjid baik pagi ataupun petang Allah naikkan satu kedudukan di surga setiap kali ia ke masjid.[4]

Berita gembira untuk orang yang berjalan dalam kegelapan menuju mesjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.

وعن بريدة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم : « بشر المشائين في الظلم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة » . رواه أبو داود والترمذي

Dari Buraidah dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat”.[5]

Beruntunglah hamba yang hatinya terikat dengan mesjid, ia sangat mencintai mesjid dan senantiasa menjaga jama’ah di dalamnya, ia akan mendapatkan naungan Allah dihari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.[6]

Orang yang membangun masjid ikhlas karena Allah, Allah bagunkan untuknya rumah di surga.

من بنى مسجدا يبتغي به وجه الله بنى الله له مثله في الجنة

Barangsiapa yang membangun masjid mengharapkan wajah Allah semata, Allah bangunkan untuknya yang sama dengan itu di surga”.[7]

Di masjid Allah, izinkan nama-Nya ditinggikan dan diagungkan.

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang”.[8]

Masjid dimakmurkan dengan sholat, majelis ilmu, do’a, zikir, membaca Kalamullah dan ibadah-ibadah lainnya. Masjid bukanlah  mimbar politik untuk mengejar kedudukan duniawi, bukan pula pasar tempat berjualan perhiasan dunia yang fana, bukanlah pentas seni tempat para paduan suara bernasyid ria.

Sangat disayangkan ..kesucian mesjid tersebut telah dinodai oleh kaum muslimin sendiri dengan kesyirikan dan bid’ah yang mereka lakukan di dalamnya

Sangat disayangkan kemuliaannya telah dihinakan oleh kaum muslimin sendiri dengan maksiat dan penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan di dalamnya.

Diantara fenomena yang menyedihkan sekaligus memedihkan adalah suara-suara musik yang melantun dari nada dering Handphone di dalam mesjid. Baik di majelis-majelis ilmu bahkan yang lebih parah ketika sholat yang sedang berlangsung, tanpa ada yang mengingkari kecuali sedikit sekali.

Seringnya ini terjadi suatu tanda bahwa pelakunya meremehkan kemuliaan Allah dan kurangnya pengagungan terhadap kedudukan masjid dan sholat khususnya. Apabila pelaku tersebut sudah diingatkan dan ia masih juga melakukan, maka itu adalah kemungkaran yang besar. Dan jika ia sengaja melalaikannya tidak ada lagi alasan bagi mereka di sisi Allah. Karena mereka telah merendahkan tempat  yang wajib dihormati dan dimuliakan. serta tidak menjaga rumah-rumah Allah dari kesia-siaan yang tidak patut dilakukan di dalamnya.

Aisyah menuturkan sebagaimana di dalam Sunan Abu  Dawud bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama memerintahkan agar mesjid dibersihkan dan diberi wewangian.

Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama juga melarang setiap perkataan dan perbuatan yang mengotori mesjid dan mengurangi kemuliaannya serta merusak wibawannya. Seperti beliau melarang mengumumkan benda yang hilang di dalam masjid sebagaimana di dalam shohih Muslim bahwasanya ia bersabda,

(من سمع رجلاً ينشد ضالةً في المسجد فليقل : لا ردها الله عليك فإن المساجد لم تبن لذلك)

“Barangsiapa yang mendengar seseorang mengumumkan benda yang hilang di dalam masjid maka hendaklah ia mengatakan, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu’. Sesungguhnya masjid tidak dibangun untuk itu”.

Dan beliau juga melarang berjual-beli di dalam mesjid sebagaimana sabdanya,

إذا رأيتم من يبيع أو يبتاع في المسجد فقولوا : لا أربح الله تجارتك

“Apabila kalian melihat orang yang berjualan atau membeli di masjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah tidak memberi keberuntungan dalam perdaganganmu”.[9]

Apabila Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama melarang perkara-perkara yang hukum asalnya mubah ini dilakukan di masjid, karena membuka pintu pelecehan keagungan mesjid dan mengalihkannya dari  tujuan serta fungsi pendiriannya. Lantas bagaimana dengan suara musik dan nyanyian dari nada-nada dering di dalam mesjid dan ketika  sholat ditegakkan?! Sungguh itu adalah kemungkaran yang besar tapi dipandang remeh oleh manusia.

Berdiri dihadapan Allah dan bermunajat kepadanya adalah perkara yang agung dan mulia, seyogyanya seorang mukmin merasakan sakralnya kondisi ini serta keagungan Al-Malikul Jabbar yang dia berdiri dihadapannya. Ia berdiri di hadapan-Nya, berbicara dan bermunajat kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda,

(إن أحدكم إذا كان في الصلاة كان الله قبل وجهه فلا يتنخمن أحد منكم قبل وجهه في الصلاة)

“Sesungguhnya salah seorang kamu apabila dalam sholat, Allah ada di hadapannya, maka janganlah ia meludah ke depannya di dalam sholat”.[10]

Dalam riwayat an-Nasai,

(إن أحدكم إذا قام في صلاته فانه يناجي ربه وإن ربه بينه وبين القبلة)

“Sesungguhnya salah seorang dari kamu apabila berdiri dalam sholatnya sesungguhnya ia bermunajat kepada Robb-nya dan sesungguhnya Robb-nya di antara dia dan kiblat”.

Beliau juga bersabda,

“يا أيها الناس! كلكم يناجي ربَّه، فلا يجهر بعضكم على بعض بالقراءة؛ فتؤذوا المؤمنين “.

“Wahai manusia, sesungguhnya setiap kalian bermunajat kepada Robb-nya, maka janganlah salah seorang dari kalian mengeraskan bacaannya atas yang lain, sehingga mengganggu kaum mukminin”.[11]

Perbuatan sebagian orang hari ini, yang meremehkan keagungan masjid dan sholat adalah fenomena yang sangat menyedihkan. Menunjukkan lemahnya iman, kurangnya ilmu dan dangkalnya  pemahaman. Apalagi jika sikap itu dari seorang yang  sudah mengkaji ilmu syar’I dan sering menghadiri majelis ta’lim.

Kalau saja seorang dari mereka berdiri dihadapan presiden atau menghadiri acara resmi pemerintahan, engkau akan melihatnya khusyu’, tenang dan tidak sibuk dengan urusan lain. Ia akan diam atau berbicara dengan santun, ini suatu yang lumrah dilakukan manusia. Akan tetapi musibahnya adalah ia tidak bersikap seperti itu atau lebih baik di hadapan Robb presiden ini.

Seorang manusia bisa terbebas dari  kebiasaan mungkar ini dengan mematikan Handphonenya agar ia bisa berkosentrasi untuk ibadah. Jika tidak dia bisa mensilentkannya. Apabila suatu saat dia lengah atau lupa kemudian dia menyesali dan beristighfar semoga Allah memaafkannya. Akan tetapi jika itu terus berulang padahal selalu diingatkan dan dinasehati. Dan dia malah menganggap itu hanya masalah sepele tak perlu diingkari ..demi Allah ini adalah kemungkaran yang tdak mungkin didiamkan.

Orang yang membiarkan suara musik berbunyi dari handphonenya di dalam mesjid telah melakukan beberapa kerusakan :

-          Nada dering tersebut mungkar dan menyelisihi syara’.

-          Ia telah meremehkan  kemuliaan  dan keagungan majid.

-          Ia telah melalaikan pengagungan terhadap syiar-syiar Allah.

-          Ia telah mengganggu sholat orang lain.

-          Ia telah menghilangkan kekhusyukan dari dirinya dan orang lain.

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama melarang menyakiti orang-orang yang sholat dengan bau-bauan yang tidak sedap sebagaimana sabdanya,

من أكل البصل و الثوم والكراث فلا يقربن مسجدنا فإن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه بنو آدم

“Barangsiapa yang makan bawang meran dan bawang putih janganlah ia mendekati mesjid kami sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa yang membuat anak adam terganggu”.[12]

Ini adalah gangguan secara indrawi, bagaimana dengan orang yang mengganggu orang-orang yang sedang sholat secara maknawi yang mengganggu mereka memikirkan dan merenungi bacaan dalam sholat mereka, serta memutus kekhusyukan dan ketenangan mereka. Demi Allah, jika saja orang yang lalai ini berpikir dan merenungi kekejian perbuatannya, niscaya dia yakin bahwasanya ia telah melanggar kehormatan masjid, sholat dan hak-hak orang yang sholat. Coba saja dia bayangkan apa yang akan terjadi jika suatu klub musik datang ke halaman mesjid dan memainkan alat musik serta melantunkan lagu di dalam masjid ketika sholat sedang ditegakkan? Dia pasti akan marah dan mengingkarinya. Padahal perbuatannya seperti perbuatan mereka sekalipun lebih ringan kesalahannya. Karena dia hanya menukilkan suara musik di dalam mesjid. Dan inilah sebenarnya inti kemungkarannya yang dilarang oleh syara’. Dan tidak berbeda hukum pengharamannya dalam dua keadaan ini sekalipun berbeda dalam tingkatan haram[13]. Pelaku ini berdosa menurut syara’ dan wajib atasnya bertaubat dan berhenti dari perbuatan itu serta memohon ampunan kepada Allah Ta’ala.

Suatu keniscayaan atas setiap muslim untuk menjaga kehormatan mesjid dan kemuliaan mesjid dari segala noda indrawi dan maknawi. Dan hendaklah ia mengagungkan syiar-syiar Allah, karena pengagungannya terhadap Allah, hukum-hukum dan syara’Nya. Allahu Ta’ala berfirman, “Yang demikian itu adalah barangsiapa yang mengagungkan kehormatan-kehormatan Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Robbnya”.

Allah juga berfirman,  “Yang demikian itu karena barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati”.

Kita wajib bangkit dan mengingkari  kemungkaran ini yang menodai rumah-rumah Allah dan merusak waktu dan suasana terbaik orang mukmin ketika beribadah di rumah-rumah Allah tersebut.

Imam sholat dan pengurus mesjid mengemban  tanggung jawab yang bes ar dalam menjaga kesucian mesjid, terutama dalam masalah ini, mereka harus berani mengambil tindakan; dengan mengajarkan kepada jama’ah hukum dan adab menghadiri mesjid serta mengingatkan orang yang melanggar keagungan dan kehormatan mesjid , bahkan jika diperlukan mengambil tindakan yang dipandang baik untuk maslahat mesjd dan kaum muslimin.

Begitu juga para jama’ah mesjid hendaknya saling nasehat-menasehati dan ingat-mengingatkan dengan hujjah yang nyata  dan akhlakul kariimah.

Semoga Allah Ta’ala membukakan hati kita untuk menerima kebenaran, meneguhkan kita di atasnya hingga mati, amin.


[1] Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di Al-Kabiir sebagaimana di dalam kitab Majma’ Az-Zawaid 2/6 ia berkata, “Di sanadnya ada Atho’ bin As-Saib, ia adalah tsiqoh akan tetapi berobah di akhir umurnya sedangkan rijal lainnya adalah tsiqoh”. Hadits yang senada diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah (1/464). Dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohih Al-Jami’ no. 3271.

[2] Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di dalam Al-Kabir dan Al-Awsath. Dan Al-Bazzar, ia berkata, “Isnadnya hasan sebagaimana di dalam Majma’ Az-Zawaid 2/22 dan ia berkata, “Rijal Al-Bazzar seluruhnya adalah rijal Ash-Shohih”. Dihasankan oleh Al-Albani di Ash-Shohihah (2/215, no. 716).

[3] Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di dalam Al-Awsath.

[4] Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

[5] Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1/159), At-Tirmidzi (1/435) ia berkata, “Hadits Ghorib”. Syaikh Al-Albani berkata, “Shohih”. Lihat Shohih Al-Jami’ hadits no. 2823.

[6] Hadits tentang ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

[7] Diriwayatkan oleh Ahmad, Baihaqi, dari Utsman bin Affan. Al-Albani berkata, “Shohih’. Lihat Shohih Al_jami’  no. 6131.

[8] An-Nur : 36.

[9] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah, dishohihkan oleh Al-Albani di Shohih Al-Jami’ Ash-Shohih no. 573.

[10] Muttafaqun ‘alaihi.

[11] Diriwayatkan oleh Ahmad.

[12] Diriwayatkan oleh Muslim.

[13] Semisal dengan ini,  yang terjadi di mesjid-mesjid di kota tempat penulis tinggal, sudah menjadi trend meletakkan sejenis jam besar ala Jerman ‘Junghans’, berbunyi seperti lonceng-lonceng gereja setiap jam. Entah apa yang membuat mereka bangga meletakkan jam tersebut di dalam mesjid sehingga menyerupai lonceng gereja ketika berdentang. Yang lebih parah lagi apa yang terjadi di mesjid agung kota pekanbaru, dimana lantai dasarnya dijadikan tempat pesta pernikahan yang sering kali diiringi alat-alat musik seperti keyboard dan lain-lain, dan dihadiri wanita-wanita yang bertabarruj serta tidak menutup aurat dengan benar. Sementara ketika azan dikumandangkan dan sholat ditegakkan hanya sedikit yang datang, wa ilallahil musytakaa. Begitu juga kebiasaan sebagian mesjid setiap subuh ahad mengadakan ‘didikan subuh’ untuk anak-anak, sambil memanggil dan menunggu kehadiran anak-anak diputarkan lagu-lagu haddad alwi atau  lagu-lagu nasyid lainya menggunakan pengeras suara di menara-menara mesjid. Dimana para ulama? Suara para da’I, khotib dan ustadz yang menjelaskan masalah ini kepada umat? Sungguh suaramu akan didengar jika yang engkau seru adalah orang-orang yang hidup akan tiada kehidupan pada orang-orang yang engkau seru!!

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0.0/10 (0 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
April 17th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

Dengan segala kerendahan dan kehinaan

Aku datang .. mengetuk pintuk ampunan

Aku hadir dihadapan-Mu dengan segenap jiwa dan raga

Tatkala hati telah gersang tiada lagi tempat meminta

Tatkala jiwa telah ternoda oleh dosa

Aku tersungkur dalam sujud mengharap maghfiroh

Menangisi segala perbuatanku yang salah

Robbi .. aku telah rasakan panasnya siksa dosa didunia

Jauhkanlah aku dari siksa azab neraka.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
April 17th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أكرم خواص عباده بالألفة في الدين، ووفقهم لإكرام عباده المخلصين، وزينهم بالأخلاق الكريمة والشيم الرضية، تأدباً بأفضل البشرية، وسيد الأمة محمد بن عبد الله بن عبد المطلب صلى الله عليه وسلم.

Lidah itu memang lunak tidak bertulang, oleh karena itu orang yang tidak menguasai ilmu beladiri sekalipun bisa bersilat lidah. Lihatlah ..si fulan yang kemarin mengatakan ‘a’ hari ini berbalik mengatakan ‘b’. si fulan yang lain,  dusta ibarat gula-gula di lidahnya …

Lidah itu tajam laksana pedang bahkan ia adalah pedang bermata dua. Jika luka tersayat pedang tidaklah susah untuk diobati ..tetapi hati yang terluka ditikam kata-kata kemana kan dicarikan penawarnya? Entah berapa banyak persaudaraan terputus ditebas lidah dan tidak sedikit pula dua yang bersahabat jadi musuh bebuyutan karena tikaman lidah.

Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika ditanya siapa muslim yang paling afdhol? Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tanganya”.[1]

Lidah itu berbisa bagai lidah ular yang bercabang dua. Bahkan ia bisa lebih berbahaya dari pada bisa ular.

Lidah juga bisa berobah menjadi binatang buas yang bahkan memangsa tuannya sendiri. Makanya mulutmu harimaumu …

عن أبي هريرة ، أنه سمع النبي (صلى الله عليه وسلم) يقول : “إن العبد يتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها إلى النار أبعد مما بين المشرق والمغرب”

Dari ia Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap mukallaf hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya”.[2]

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Termasuk baiknya islamnya seseorang meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya”.[3]

Jagalah lidahmu duhai saudara

Jangan sampai ia mematukmu, karena dia adalah ular yang bisa

Tidak sedikit orang yang terkubur dibunuh lidahnya

Padahal para pemberani takut menghadapinya.

Seorang muslim, ketika dia hendak berbicara,  ia menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna dia memilih diam. Jika ternyata berguna dia menimbang lagi ..apakah jika dia diam manfaatnya lebih besar dari pada berbicara?

Imam Asy-Syafi’I berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya ia berbicara dan jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya”.[4]

Beliau juga pernah menasehati sahabat yang juga muridnya, “Hai Robi’, janganlah kamu berbicara dalam perkara yang tidak berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu kata, ia akan menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya”.[5]

Lidah adalah duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa yang biasa dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya, suka atau tidak suka.

Karena lidah itu itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah ketika seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya kepadamu, dengan  beragam rasa, pahit, manis, asam, pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali dengan lidah. Engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak lidahnya ketika bertutur-kata.

Sungguh mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang. Bahkan seseorang yang zohirnya ta’at, berwibawa, sopan tetapi dia membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka.

Suatu malam, di salah satu villa Malibuanai Padang Panjang, saya berkumpul bersama beberapa ikhwan yang sebagian besarnya masih awwam dalam hal agama.

Lalu secara dadakan, mereka meminta kesediaan saya untuk memberikan sepatah dua kata naseha. Dalam rombongan itu ada seorang pria yang baru mulai belajar mendekatkan diri kepada Allah ..sisa-sisa kelalaian masih membekas diraut wajahnya.

Salah seorang yang tampak agak lebih tua, membuka majelis. Entah apa yang ada dalam benaknya ketika itu, dia berbicara menyindir salah seorang yang hadir – mungkin niatnya baik, ingin mengingatkan si fulan – ia berkata, “Nanti di hari kiamat, pak fulan masuk surga. Saya masih mencari-cari. Saya bertanya, ‘Pak  fulan, mana si fulan’[6]. Pak … menjawab di sebelah’. Saya lihat ke sebelah rupanya di neraka”.

Semua yang hadir gelak terbahak-bahak. Rasa sedih, kasihan, marah membuat saya bungkam menghimpun aksara dan petuah yang semoga berguna bagi diri saya dan yang hadir khususnya pembuka acara yang salah kaprah menghunus lidahnya.

Saya jadi teringat hadits Nabi shollallahu ‘alahi wasallama yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jundub rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak mengampuni si fulan’. Maka Allah berkata, “Siapa orang yang lancang mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.

Ya Allah …

Satu kalimat saja yang dianggapnya remeh menghapuskan amal-amalnya.

Hilanglah sholat yang dulu dikerjakannya

Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya

Sirnalah zakat, qiyam dan amal kebajikannya.

Karena kelancangan lidahnya mendahului apa yang menjadi hak Allah.

Bahkan orang yang dipandangnya rendah dan hina, yang dia kira masuk neraka. Malah diampuni Allah Ta’ala.

Dahulu, para salafus sholeh sangat menjaga lidah mereka. Setiap saat mereka meng-hisab kalimat yang mereka ucapkan.

Ibnu Buraidah berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti beruntung. Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar, bahwasanya seorang manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota tubuhnya selain dari pada lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata yang baik atau menukilkan yang baik dengan lidahnya”.

Sahabat Ibnu Mas’ud bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Ilah yang diibadati dengan hak melainkan Dia bahwa tidak ada dimuka bumi ini yang lebih patut untuk dipenjarakan dari pada lidahnya.

Yunus bin ‘Ubaid berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula pada seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku melihatnya tampak pada seluruh amalanya”.

Fudhoil bin ‘Iyadh berpetuah, “Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.

Gerakan anggota tubuh yang paling ringan adalah lidah, namun itu pula yang paling besar bahayanya bagi seorang manusia.

Abu Hatim rahimahullah berkata, “Wajib bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan mulutnya. Dia harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara bisa jadi dia akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Dan dia akan lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada membantah apa yang telah dia ucapkan”.

Dulu, sebagian ulama tidak menerima hadits dari orang-orang yang berbicara atau mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak patut.

Pernah dikatakan kepada  Al-Hakam bin Utaibah, “Kenapa engkau tidak menulis hadits dari Zaadaan?”. Ia menjawab, “Dia banyak bicara”.

Lidah dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya.

Dua petaka atau bencana itu adalah : petaka berbicara dan petaka diam.

Seorang yang bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah setan yang bisu, bermaksiat kepada Allah, bermuka dua dan menjilat , jika dia tidak mengkhawatirkan bahaya atas dirinya.

Dan orang yang mengucapkan perkataan yang batil adalah setan yang berbicara, bermaksiat kepada Allah dengan kata-kata yang ia ucapkan.

Adapun orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus – semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka – berada di antara dua petaka tersebut. Mereka menahan lidah mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak mendatangkan manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat.

Seorang mukmin sepatutnya memiliki tutur-kata yang santun, bersih dan terjaga.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu suka mencela, melaknat, berkata yang keji dan kotor”.[7]

Seorang hamba, bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu dia dapatkan ternyatalidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.

Ketika seseorang datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama lalu berkata, “Hai Rasulullah nasehatilah aku’”. Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Jika engkau berdiri dalam sholatmu, maka sholatlah seolah-olah itu sholat terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok membuatmu menyesal dan bulatkanlah bersungguh-sungguhlah memutus harapan terhadap apa yang ada ditengan manusia”[8].

Kalau saja setiap kita memegang tiga wasiat ini; sholat dengan khusyu’, menjaga lidah, dan     menggantungkan harapan hanya kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.

Oleh karena itu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan itu?”. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Tahanlah lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu, serta tangisilah kesalahanmu”[9].

Semoga Allah menjaga kita semua dari petaka lidah …

Semoga Allah menguatkan kita untuk menyuarakan kebenaran

Semoga Allah menguatkan kita untuk menahan lidah dari kebatilan, amin.


[1] Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ary.

[2] Al-Adzkar Imam An-Nawawi (1/332).

[3] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (2318) dari Abu Hurairah.

[4] Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/332).

[5] Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335).

[6] Maksudnya menyindir  seseorang yang saya sebutkan sebelumnya.

[7] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari di Adabul Mufrod, At-Tirmidzi, Al-Hakim dan lainnya. Dishohihkan Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani. (Ash-Shohihah 1/319 no. 320).

[8] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani (Shohih Al-Jami’ no. 742)

[9] Diriwayatkan oleh Abdullah bin Al-Mubaarok dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi (2/65) (Ash-Shohihah 2/581).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.4/10 (5 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
April 13th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

EMPAT MANUSIA YANG MERUSAK AGAMA

Berkata Muhammad bin Al-Fadhol Az-Zahid : “Rusaknya islam di tangan empat jenis manusia : pertama orang yang tidak mengamalkan ilmunya, kedua orang yang beramal dengan tanpa ilmu, ketiga orang yang tidak berilmu dan tidak beramal, keempat orang yang melarang orang lain mempelajari ilmu”(Miftah Daarus Sa’adah, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah : 1/490) .

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (2 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
Category: kata-kata emas  | 5 Comments
April 06th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

Assalamu’alaikum…

Afwan ustad, bagaimana dengan tradisi2 orang dijawa? yang melarungkan makanan dan sembelihan serta benda2 lainnya kedalam laut? contohnya laut pantai selatan dan sejenisnya.

satu lagi ustad. bagaimana pendapat ustad mengenai keris dan benda2 sejenisnya?? apakah ada tradisi memandikan benda2 tersebut yang kata orang2 yang punya adalah benda keramat? dan juga saya mau tanya mengenai kalung yang berbentuk tasbih yang di percayai dapat membawa kesehatan? ane sering lihat sebagian orang jemaa’ah tabliq dan lainnya pake kalung yang berbentuk tasbih tersebut.

Jazakallahu khairan kashiran.

Ana Abdullah
Di Pekanbaru, SUkajadi tepatnya di jalan balam..

Assalamu’alaikum

wa ‘alaikumus salam warahmah

na’am .. tradisi-tradisi di sebagian tempat seperi sesajen atau sembelihan yang dilakukan untuk selain Allah adalah perbuatan syirik. dan itu adalah salah satu perbuatan jahiliyyah yang wajib ditinggalkan, dijauhi dan dibersihkan.

Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah sesungguhnya sholatku, dan sembilahanku, dan hidupku serta matiku adalah milik Allah Robb semesta alam”. (Al-An’am : 162-163)

Allah Tabaaroka wa Ta’ala memerintahkan kita menyelisihi orang-orang musyrikin yang mengibadati dan menyembelih selain Allah. karena barangsiapa yang mendekatkan diri kepada selain Allah untuk menolak bala (marabahaya) atau mendatangkan manfaat karena mengagungkannya maka dia telah melakukan kekufuran dan kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah dulu.
seseorang datang menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama meminta izin untuk menyembelih nazarnya di tempat yang bernama Bawaanah. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berkata kepadanya, “Apakah di sana ada dulu ada berhala?”. ia menjawab, “Tidak”. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama kembali bersabda, “Apakah di sana dahulu pernah di adakan hari raya jahiliyyah?”. ia menjawab, “Tidak”. Nabi bersabda, “Tunaikan nazarmu”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam sunannya 3313)

penanya ini adalah seorang sahabat, orang yang bertauhid ingin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. akan tetapi apabila tempat itu pernah menjadi tempat berhala atau perayaan jahiliyyah bisa menjadi penghalang dilaksanakannya nazarnya. tatkala nabi mengetahui bahwasanya semua itu tidak ada di sana barulah nabi mengizinkan. kalau seandainya salah satu perbuatan jahiliyyah itu pernah dilakukan di sana dulunya, niscaya beliau akan melarang sahabat tadi menyembelih nazarnya di sana demi menjaga kemurnian tauhid dan memutus jalan kepada kesyirikan.

adapun mengkeramatkan benda-benda seperti keris, tombak, kerbau dan lain-lainnya lalu dimandikan dengan ritual tertentu, serta diharapkan berkah darinya. tidak diragukan lagi, bertentangan dengan akidah tauhid yang dibawa oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama. antum bisa merujuk tulisan larangan mengharapkan berkah dari makhluk di telaga hati yang diposting pada 31 maret 2009.

dan masalah mengalungkan tasbih dileher ..itu hanyalah perbuatan-perbuatan orang yang tak berilmu, jugatasyabbuh (menyerupai) pendeta-pendeta budha. mendatangkan ‘ujub dan riya’. kalau digunakan dengan keyakinan sebagai obat, menambah kekuatan atau bisa melindungi dari marabahaya  itu seperti tamimah (jimat) yang dilarang oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. semoga Allah meneguhkan kita semua di atas tauhid dan menjauhkan kita dari segala perbuatan syirik. wallahu a’lam.

akhuukum

abuz zubair hawaary

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
April 04th, 2009 | Author: Abu Zubair Hawaary

PENYEBAB SU-UL KHOTIMAH …

Abu Muhamad Abdul Haq Al-Isyabaily rahimahullahu Ta’ala berkata, “Ketahuilah, bahwasanya su-ul khotimah – semoga Allah melindungi kita darinya – tidak akan terjadi kepada orang yang istiqomah zhohirnya dan baik batinnya. Itu hanya terjadi pada orang yang rusak akalnya, atau terus melakukan dosa besar. Bisa jadi dosa itu menjadi kebiasaannya sampai kematian menjemputnya sebelum ia sempat taubat. Kematian datang sebelum ia memperbaik jalan hidupnya, maka ketika itu syetan mendatanginya dan menyambarnya, hanya kepada Allah kita berlindung. Atau dia dulunya seorang yang mustaqim (istiqomah) kemudian keadaan berobah dan keluar dari jalan yang lurus, sehingga itu menjadi penyebab ia mendapatkan su-ul khotimah dan akhir yang sial, semoga Allah melindungi kita dari itu”.

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)