Archive for » March, 2009 «

March 07th, 2009 | Author:

MASALAH MENGANGKAT TANGAN DALAM TAKBIR SHOLAT JENAZAH

Berikut ini pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Robi’ Al-Madkholy hafizhohullah seputar masalah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua dan selamat membaca.

Pertanyaan : Apakah anda menshohihkan hadits Ibnu Umar dalam masalah mengangkat tangan pada sholat jenazah secara marfu’?

Jawaban : Insya Allah, hadits yang dimaksud dinyatakan memiliki ‘illah oleh Ad-Daaruquthni  dan diikuti oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar. Dihasankan oleh Syeikh Ibnu Baaz. Kami telah melakukan pengkajian atas hadits ini, dan kami mendapatkan bahwasanya derjatnya hasan atau sampai ke derjah shihhah. Karena yang memarfu’kannya adalah Umar bin Syaibah. Ad-Daaruquthny berkata, “Dia diselisihi oleh yang lainnya”. Kami telah mengkaji penyelisihan ini maka kami tidak mendapatkan pengaruhnya terhadap riwayat Umar bin Syaibah.

Pertama : Ad-Daaruquthny tidak menyebutkan nama-nama perawi yang menyelisihi.

Kedua : dia – yakni Ibnu Syaibah – adalah perawi  yang tsiqoh atau shoduuq. Yang zhohir dia adalah tsiqoh. Jadi hadits ini Tsabit – Insya Allah – juga diperkuat oleh beberapa atsar. Di antaranya atsar Abdullah bin Umar dan Umar bin Abdul Aziz dan sebagian salaf. Ini bisa memperkuat hadits sekalipun dia hadits mursal atau ada sedikit kelemahan padanya, apalagi kalau hadits itu Tsabit.

Syeikh Al-Albany adalah syeikh kami semoga Allah merahmatinya. Akan tetapi manhaj salaf adalahnya bahwasanya kebenaran itu lebih besar dari seorang manusia siapapun dia. Al-Albany ini adalah orang yang kami cintai, syaikh kami dan dia punya jasa-jasa yang besar. Akan tetapi apabila dia keliru kita menolak kesalahannya dan tidak menerimanya, kita membantahnya dengan penuh adab serta menghormati.

Hadits yang dimaksud, dinyatakan memiliki ‘illah oleh Ad-Daruquthny dengan waqof (mauquuf). Di sini bertentangan antara  riwayat mawquuf dan marfu’, apa yang akan engkau lakukan apabila bertentangan antara hadits marfu’ dan mauquf? Kita lihat dalil-dalil yang ada lalu kita rajihkan apa yang rajih menurut dalil-dalil.

Di sini bertentangan antara mawquf dan marfu’, lalu kita dapatkan bahwasanya rofa’ lebih rojih dari waqof dan didukung oleh atsar-atsar.

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma  bahwasanya dia mengangkat kedua tangannya apabila menyolatkan jenazah. Kami dapatkan hadits-hadits yang dijadikan pegangan oleh Syaikh Al-Albany dho’if . hadits-hadits tersebut disebutkan di Sunan Ad-Daaruquthny rahimahullah, antara lain :

Hadits Abu Hurairah di dalamnya  ada  dho’fun syadiid (kelemahan yang sangat)  dan hadits Abdullah bin Abbas juga padanya ada dho’fun syadiid, tidak kuat untuk melawan hadits Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhu dan atsar-atsar yang menguatkannya.

Dulu saya memegang mazhab syaikh  Al-Albany rahimahullah. Kemudian saya mempelajari hadits itu lalu saya merobah pendapat saya.

Suatu malam beliau (Syaikh Al-Albany rahimahullah) sholat di sampingku di masjid Nabawy di bagian luar masjid. Kami menyolatkan jenazah. Beliau tidak mengangkat tangan sedangkan saya mengangkat tangan, saya berada disampingnya. Setelah sholat saya berkata kepadanya, “Syaikh kami, dulu saya mengikut pendapatmu kemudian saya menyelisihi pendapatmu”. Beliau berkata, “Baiklah”. Lalu saya mengemukakan kepadanya sebagian hujjah-hujjah dan dalil-dalilku, dan ia menerimanya dengan penuh ada dan menghargai – semoga Allah merahmatinya -. Sesudah itu ia mengisyaratkan kepadaku di dalam kitabnya Ahkaamul Jana-iz, di situ ia mengatakan, “Dan sebagian orang yang mulia berpendapat begini dan begini”. Inilah isyarat kepada pendapat saya.

Kemudian saya melihat syaikh Muhammad Abdul Wahhab Al-Washoby hafizhohullah tidak mengangkat tangan. Saya mendiskusikan masalah itu dengannya. Ia bersikeras mempertahankan pendapatnya. Lantas kami pergi ke Perpustakaan untuk mengkaji hadits tersebut. Sehingga akhirnya ia juga menghukumi keshahihan hadits Umar bin Syaibah[1].

Ahli hadits berjalan bersama kebenaran – Insya Allah – tanpa mengurangi cinta dan penghormatan sesama  mereka. Perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara mereka bukanlah permusuhan. Apabila mereka di atas satu akidah dan manhaj kemudian ada yang salah tidak keluar dari lingkaran pahala. Seorang mujtahid jika ia benar ia mendapatkan dua pahala dan jika ia keliru ia mendapatkan satu pahala. Oleh karena itu kita melihat ahli hadits semenjak terbitnya fajar sejarah berbeda pendapat dalam masalah-masalah seperti ini. Mengkritisi pendapat-pendapat dan orang-orang yang keliru, akan tetapi dengan ada dan penghormatan tanpa mencela, mencaci dan menghinakan, karena tujuan mereka adalah nasehat dan menyampaikan kebenaran.

Terakhir, kami wasiatkan kepada anda semua agar bertakwa kepada Allah, dan menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, mendalam dan bersabar. Kemudian mengamalkan apa yang telah kalian ketahui serta menerapkan itu dalam kehidupkan kalian dan menyebar-luaskannya.

Setiap kalian apabila kembali ke kampung halamannya termasuk dalam firman Allah Tabaaroka wa Ta’ala,

فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدِّين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلَّهم يحذرون

Artinya, “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (At-Taubah : 122)

Ahli bid’ah bukanlah fuqoha’ dan bukanlah orang-orang yang memberi nasehat akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang berkhianat. Mereka pulang kepada umat mereka malah menambah kerusakan.

Adapun kalian, pulanglah sebagai orang-orang yang mengadakan perbaikan. Terapkan ayat ini dan apa-apa yang terkandung di dalam maknanya.

Tentunya kalian tahu keutamaan penuntut ilmu, bahwasanya malaikat menurunkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu karena ridho terhadap apa yang mereka perbuat.

Hormatilah ilmu .. hormatilah malaikat. Saya yakin malaikat tidak akan menaungi ahli bid’ah dan hawa sama sekali tidak. Karena ini termasuk tolong-menolong atas dosa dan permusuhan, mereka tidak akan melakukan itu.

Pahamilah ini. Dan jagalah keistimewaan ini. Saya berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar Ia meridhoi kalian, dan malaikat mencintai kalian serta semoga Allah meninggikan derjat kalian.

Allah Ta’ala berfirman,

يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات

Artinya, “niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Al-Mujaadilah : 11)

Janji ini tidak termasuk di dalamnya ahli bid’ah. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru dalam agama, sesungguhnya setiap perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.

Dan jangan lupa apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad tentang Ibnu Abi Qotiilah ketika ia mengatakan, “Ahli hadits adalah kaum yang buruk”. Ahmad berkata, “Orang ini zindiq, zindiq”. Lalu beliau masuk dan mengunci pintunya. Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Karena dia (Imam Ahmad) mengerti maksud perkataan Ibnu Abi Qotiilah”.

Ia mencela ahli hadits dan ahlus sunnah untuk menjatuhkan hadits. Berapa banyak orang yang mengaku di atas sunnah dia malah mencela ahlus sunnah, ahli hadits dan tauhid. Waspadailah mereka dan berusahalah membuat Allah ridho terhadap amalan kalian, serta berusahalah untuk ikhlas sehingga malaikat akan menghormati kalian dan meletakkan sayapnya untuk kalian. Karena ilmu itu adalah ilmu nabawy yang berasal dari Muhamad shollallahu ‘alaihi wa sallama. Barangsiapa yang menuntutnya karena Allah dan mengikhlaskan niatnya dalam itu ia akan mendapatkan kemuliaan ini dari Allah. Sebaliknya barangsiapa yang mengikuti hawa nafsunya, maka ini membuat Allah Tabaaroka wa Ta’ala murka, kita memohon keselamatan kepada Allah.

Kita bersama kebenaran. Yang keliru sekalipun dari ulama sunnah kita tidak menerima kesalahannya, kita hanya menerima kebenaran. Namun tidak dengan cara yang bodoh dan permusuhan. Akan tetapi dengan menjaga adab, saling menghormati, jujur dan ikhlas.

Semoga Allah melimpahkan taufik kepada kalian dan meluruskan langkah kalian serta meneguhkan kita semua di atas sunnah dan menjauhkan kita semua dari fitnah-fitnah yang zhohir maupun batin.

Sesungguhnya Robb kita benar-benar Maha mendenga do’a[2].

Sumber : kaset “Syariith Liqo’ Manhaji haditsi ma’a Thullabil ‘Ilmi di Makkah”. (diterjemahkan dari situs : http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=362482)


[1] Ulama-ulama lain yang berpendapat disyari’atkannya mengangkat tangan dalam setiap takbir sholat jenazah di antaranya : Imam An-Nawawy (Al-Majmu’ : 5/26), Ibnu Qudaamah (Al-Mughni 2/119), Ibnul Qoyyim (Zaadul Ma’ad 1/443), Ibnu Baaz sebagaimana dalam ta’liqnya atas Fathul Bari (3/266), Ibnu Utsaimin (Syarhul Mumti’) dan Al-Fauzaan dalam Al-Mulakh-khosh Al-Fiqhy semoga Allah merahmati semuanya.

Adapun Ulama-ulama yang berpendapat itu tidak disyari’atkan antara lain : sebagian ulama mazhab malikiyyah, bahkan ini adalah pendapat yang mu’tamad dalam mazhab maliki (Al-Mudawwanah1/169). Mazhab Azh-Zhohiriyyah sebagaimana disebutkan Ibnu Hazm (Al-Muhalla 5/128), dan Syaikh Al-Albany memilih pendapat ini karena beliau melemahkan riwayat Ibnu Umar (Irwa-ul Gholil 3/122, Ahkamul Janaiz 148, Tamamul Minnah 348) dan pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad ahli hadits Madinah Nabawiyyah (Kutub wa Rosail Abdul Muhsin 5/260) dan Syaikh Yahya Al-Hajury (It-Tihaaful Kiroom fi Ajwibati Ahkaamiz Zakaati wal Hajji wash Shiyam 404). (penerjemah)

[2] Subhanallah …begitulah para ulama ketika berbeda pendapat, penuh adab, akhlak dan saling menghormati. Akhlak yang patut diteladani oleh penuntut ilmu dalam mensikapi perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyyah. Tidak ta’ash-shub (fanatic) sekalipun kepada gurunya. Saya teringat perkataan Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, “Tetaplah bersama Al-Qur’an dimanapun ia berada. Dan siapa yang datang kepadamu dengan membawa kebenaran maka terimalah darinya sekalipun dia seorang jauh darimu dan engkau benci. Dan siapa yang datang kepadamu dengan membawa kebatilan tolaklah ia sekalipun ia adalah seorang yang dekat denganmu dan sangat engkau cintai”.(dinukil dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qoyyim). – penerjemah – .

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +3 (from 3 votes)
March 07th, 2009 | Author:

MANHAJ DAKWAH KEPADA ALLAH TA’ALA

عن ابن عباس – رضي الله عنهما – أن رسول الله r لما بعث معاذاً  إلى اليمن قال :

« إنك تأتي قوماً من أهل الكتاب ، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي راوية : إلى أن يوحدوا الله – فإن هم أطاعوك لذلك، فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة ، فإن أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم. فإن هم أطاعوك لذلك، فإياك وكرائم أموالهم ، واتق دعوة المظلوم ، فإنه ليس بينها وبين الله حجاب ».

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallama ketika mengutus Mu’adz ke Yaman ia berkata, “Sesungguhnya engkau akan datang kepada suatu kaum dari ahli kitab. Maka hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka syahadat La Ilaaha Illallah – dalam riwayat lain : kepada mentauhidkan Allah – jika mereka menta’atimu untuk itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka lima sholat dalam sehari semalam. Jika mereka menta’atimu untuk itu, beritahukanlah bahwasanya Allah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu diberikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menta’atimu untuk itu maka jauhilah olehmu harta-harta mereka yang paling berharga. Dan takutlah kamu kepada do’a orang yang dizalimi. Sesungguhnya tidak ada antara dia dan Allah pembatas”. (Keluarkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Az-Zakah hadits no. 1395, Muslim dalam Kitab Al-Iman hadits no.31, An-Nasai dalam kitab Az-Zakah 5/3, Ibnu Majah Kitab Az-Zakah hadits no. 1783 , 1/568, Ad-Daarimi kitab Az-Zakah hadits no. 1662, 1/318 dan Ahmad 1/223).

Perawi Hadits :

Abdullah bin Abbas bin Abdul Muth-tholib Al-Hasyimi putra paman Rasulullah. Tinta dan lautan karena keluasan ilmunya. Salah seorang sahabat yang banyak meriwayakan hadits, dan salah seorang ‘abadilah dari fuqoha’ sahabat. Wafat pada tahun 68 H.

Makna Hadits :

Hadits ini menjelaskan langkah-langkah yang wajib ditempuh oleh seorang juru dakwah kepada Allah. Kewajiban pertama kali yang harus dia mulai adalah berdakwah kepada At-Tauhid dan meng-esakan Allah semata dengan ibadah dan menjauhkan diri dari syirik yang kecil maupun besar. Dan itu terwujud dengan bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak diibadati dengan hak melainkan Allah dan bahwasasnya Muhamad itu adalah Rasulullah.

Yang dimaksud dengan syahadat (kesaksian) ini, bahwasanya ibadah dengan segala bentuknya adalah hak mutlak Allah semata. Tidak ada sesuatupun selain-Nya yang berhak. Baik malaikat muqorrob, nabi yang diutus, orang sholeh, batu, pohon, maupun matahari dan bulan.

Maka tidak boleh diseru kecuali Allah semata. Tidak boleh ber-istighotsah kecuali dengan-Nya. Tidak boleh meminta pertolongan kecuali kepada-Nya. Tidak boleh bergantung kecuali kepada-Nya dan tidak ditakuti serta di harapkan kecuali Dia.

Maka barangsiapa yang memalingkan salah satu dari ibadah-ibadah ini atau ibadah yang lainnya untuk selain Allah, maka ia benar-benar telah menyekutukan Allah.

] إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار[.

Artinya, “Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. Dan orang-orang yang zholim itu tidak akan mendapatkan penolong seorangpun”.

Bukanlah yang dimaksud dengan (kalimat) La Ilaaha Illallah semata mengucapkannya. Akan  tetapi haruslah mengetahui makannya dan mengamalkan isinya. Dan harus sempurna syarat-syaratnya. Syarat-syaratnya ada tujuh :

1. ilmu yang menafikan kebodohan.

2. Yakin yang menafikan keraguan.

3. Qobul (menerima) yang menafikan penolakan.

4. Inqiyad (tunduk) yang menafikan meninggalkan.

5. Ikhlas yang menafikan syirik.

6. Shidqu (juju/benar) yang menafikan dusta.

7. Mahabbah (cinta) yang menafikan benci.

Dan yang dimaksud dengan syahadat Muhamad Rasulullah yaitu, mengetahui maknanya dan mengamalkan kandungannya. Bukanlah maksudnya semata melafazhkannya. Maksudnya adalah membenarkannya pada apa yang diberitakannya dan mentaati perintahnya serta menjauhi larangannya. Dan mengibadati Allah dengan apa yang disyari’atkan melalui lisan Rasul yang mulia ini bukannya dengan  mengikuti hawa nafsu atau berbuat bid’ah.

Wajib atas setiap muslim mengetahui makna dua kalimat syahadat dengan pemahaman yang benar dan bersungguh-sungguh dalam mengamalka kandungan-kandungannya. Yaitu membenarkan, mengimani dan mengamalkan apa yang dibawa oleh Rasulullah di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Mulai dari yang berkaitan dengan akidah, ibadah serta syari’at-syari’at dalam segala aspek kehidupan.

Kesimpulan Hadits :

1. Bahwasanya tauhid adalah azas islam.

2. Rukun islam yang paling penting setelah tauhid adalah menegakkan sholat.

3. Rukun islam yang paling wajib setelah sholat adalah zakat fardhu, dan itu termasuk hak harta.

4. Bahwasanya imam dialah yang berwenang mengumpulkan zakat dan membagikannya. Bisa langsung dilakukannya atau dilakukan oleh wakilnya.

5. Di dalam hadits ini terkandung dalil bahwasanya boleh mengeluarkan zakat pada satu ashnaf saja.

6. Tidak boleh membagikan zakat kepada orang yang kaya.

7. Haram atas amil zakat mengambil harta yang berharga.

8. Peringatan agar menjauhi berbagai bentuk kezaliman.

9. Diterimanya khobar wahid (hadits ahad) dari perawi yang adil dalam akidah dan hal-hal yang mewajibkan amal.

10. Seyogyanya seorang juru dakwah memulai dakwahnya dari paling penting kemudian begitu seterusnya.

(diterjemah dan diringkas dari Mudzakkiroh Al-Hadits An-Nabawy fil Akidah wal It-tiba’ oleh Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholi halaman 6-10).

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.0/10 (4 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +2 (from 2 votes)
March 07th, 2009 | Author:

Menanti …

Setiap hari kunanti kedatanganmu

Setiap pagi kusambut senyummu

Aku mencarimu,

Berselimut embun bercampur asap

yang ada hanya kepedihan menusuk mata

napas sesak tersedak asap

kugosok mata seolah tak percaya

kian pedih, semakin sedih

oohh .. kiamatkah hari?!!

Kenapa sudah berapa pagi tidak ada matahari?!!

Akhirnya kau datang walau telah siang

Tapi kenapa, kau datang tanpa senyuman

Wajah pucat tidak bercahaya

Asa hilang dalam angkara

Karena ulah manusia

Matahari menyala

Udara dan Bumi membara

Hai manusia, kau sedang melukis bencana

Di darat dan lautan,

Dengan tangan-tangan jahiliyah

Dan kemudian

Binasa dalam siksa

Pekanbaru, Sya’ban 1425 Hijriyah.

Ditulis ketika Pekanbaru diselimuti kabut asap

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 9.7/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)
March 04th, 2009 | Author:


DAURAH SEHARI  INILAH AQIDAH DAN DAKWAH KITA

BERSAMA USTADZ ABU ZUBAIR HAWAARY   DAN USTADZ ABU SULAIMAN MAUDUDI ABDULLAH, LC

Hari/Tanggal : Senin, 09 Maret 2009

Waktu : Jam 08.00 – Waktu Ashar

Tempat  :  Masjid Al-Madinah

Jl.  Ampi kec. Marpoyan Damai Pekanbaru, Riau

Kontribusi :   Gratis, Makan siang di sediakan Cuma Cuma

Insyaallah Live di http://abuzubair.net/ ato di http://telega-hati.sytes.net:8020/listen.pls


VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +4 (from 4 votes)
March 02nd, 2009 | Author:

Pemutus Kelezatan

Pernahkah terpikir oleh kita, dimana tempat tinggal kita esok hari? Cepat atau lambat saat itu akan datang pada setiap kita. Setiap kita akan meninggalkan rumah kita yang lapang dan terang benderang, ke liang lahat yang gelap gulita.

Setelah kematian seseorang tidak menempati rumah kecuali yang dahulu dia bangun sebelum dia mati. Jika dahulu dia hidup dia membagun rumah dengan baik dengan keimanan, amal shalih, berpegang teguh kepada agama Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka baik pula lah rumahnya kelak setelah dia mati. Sebaliknya jika dia membangunnya dengan amal keburukan, maksiat, melalaikan agama Allah Tabaraka wa Ta’ala, maka penyesalan dan kerugianlah yang akan dia hadapi.

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS Luqman [31] : 33)

Kajian ini mengajak kita untuk membuka hati sebelum membuka mata dan telinga. Mengajak kita untuk melembutkan hati hingga mudah menerima kebenaran dan istiqamah di atasnya, dan bersiap-siap untuk menempati timpat tinggal kita kelak, cepat atau lambat, sesuatu yang pasti terjadi, kehidupan setelah mati!

Durasi : 01.04.44

Ukuran : 14.8 mb

Bitrate : 32 kbps

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 8.2/10 (13 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +12 (from 16 votes)
 
icon for podpress  Eksklusif: Play Now | Play in Popup | Download
Category: Download Kajian  | 3 Comments
March 02nd, 2009 | Author:

AGAR HATI MENJADI LEMBUT

Pertanyaan : Syeikh yang mulia, saya merasakan hati saya keras. sehingga saking kerasnya apabila salah seorang kerabatku wafat saya tidak menangis, saya tidak meneteskan air mata kecuali setelah berusaha keras. apakah kerasnya hatiku seperti ini menyebabkan sholatku tidak diterima? begitu juga dengan puasaku dan amalan-amalan lain. dan apakah ini karena kurangnya keimananku ya syeikh yang mulia. Apakah jika saya bersedekah kepada orang-orang fakir bisa melembutkan hatiku?

Jawaban : Benar, sebagian manusia memiliki hati yang keras tidak ada kelembutan di dalamnya. maka engkau mendapatkannya tidak khusyu’ sekalipun ditimpa musibah yang sangat besar – kita memohon keselamatan kepada Allah – . ya .. hatinya keras bagai membatu atau lebih keras dari batu.

di antara penyebab lembutnya hati membaca Al-Qur’anul Karim. sesungguhnya ia melembutkan hati apabila seseorang membacanya dengan tadaddur dan perenungan berdasarkan firman Allah Ta’ala,

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

artinya, “Kalau kami turunkan Al-Qur’an ini kepada gunung niscaya engkau melihatnya khusyu’ dan terbelah karena takut kepada Allah”.

di antara perkara yang dapat melembutkan hati; membaca siroh nabawiyyah semoga sholawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna senantiasa berlimpah untuk pemiliknya.

membaca siroh nabawiyyah memberikan bekas dan pengaruh yang menakjubkan pada hati. karena seorang itu menjadi ingat dan merasa seolah-olah ia bersama para sahabat sehingga hatinya melembut.

di antara perkara yang dapat melembutkan hati adalah mengasihi anak-anak dan bersikap lembut kepada mereka. sesungguhnya itu melembutkan hati dan memberikan pengaruh yang ajaib pada hati. oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Kasihilah yang ada di bumi, niscaya yang dilangit mengasihimu”.

di antara perkara yang dapat melembutkan hati, mendengarkan mau’izhoh dan bait-bait syair yang menghidupkan hati. oleh karena itu engkau dapatkan seseorang apabila mendengarkan bait-bait syair hatinya tersentuh dan matanya menangis.

dan di antara perkara yang dapat melembutkan hati menghadirkan hati dalam sholat. sesungguhnya itu dapat melembutkan hati. kita memohon kepada Allah supaya Dia melembutkan hati kita untuk mengingat-Nya dan melindungi kita dari kerasnya hati”. ( Fataawaa Nuurun ‘Alad Darbi Syeikh Al-’Allaamah Muhamad bin Sholeh Al-’Utsaimin, kaset no. 373)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 7.3/10 (3 votes cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 0 (from 0 votes)
March 02nd, 2009 | Author:

SOMBONG YANG PALING BURUK

Al-Imam Syamsuddin Adz-Dzahaby rahimahullah Ta’ala berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang sombong kepada manusia dengan ilmunya dan merasa dirinya lebih mulia dengan  kelebihannya. orang seperti ini tidak bermanfaat baginya ilmunya.

sesungguhnya barangsiapa yang menuntut ilmu untuk akhirat, ilmunya akan membuatnya tawadhu’, hatinya menjadi khusyu’ dan jiwanya menjadi tenang. dia akan senantiasa mawas diri tidak pernah melemah dari itu. bahkan ia menghisab diri setiap waktu.

jika ia melalaikan dirinya, ia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan membinasakannya.

barangsiapa yang menuntut ilmu untuk kebanggaan dan memimpin, dan memandang rendah kaum muslimin, serta membodoh-bodohi. maka ini adalah kesombongan yang paling besar dan tidak masuk surga orang yang di hatinya ada sebesar biji dzarroh kesombongan .. Laa Haw Laa wa Laa Quwwata illa Billahi”. (dari Kitab Al-Kabair oleh Imam Adz-Dzahaby halaman 95 cetakan Daar Ibnu Katsir)

VN:F [1.8.5_1061]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.8.5_1061]
Rating: +1 (from 1 vote)