Menanti II
Kujalani hari-hari dipasung sepi
Kulalui malam-malam dengan sebelah hati
Aku masih menantimu duhai belahan hati.
pekanbaru, penghujung 2006
Menanti II
Kujalani hari-hari dipasung sepi
Kulalui malam-malam dengan sebelah hati
Aku masih menantimu duhai belahan hati.
pekanbaru, penghujung 2006
Anakku yang tercinta, ibu sangat menyayangkan kalau surat ini menjadi sarana komunikasi antara kita, akan tetapi dialah satu-satunya cara yang tersisa padaku, yang memungkinkan bagiku untuk memberitahukanmu tentang hal-hal yang harus kamu dengar dariku sebelum ibu meninggalkan kefanaan ini. Ibu, semenjak kamu menipu dan membuat ibu masuk ketempat (rumah sakit) ini, walaupun ibu tidak menginginkannya .. ibu tidak melihatmu kecuali sedikit sekali, oleh karena itu sekarang ibu ingin berbicara dan kamu akan mendengarkannya tanpa bisa memotong perkataan ibu.
Anakku tercinta … ketika surat ini sampai kepadamu berarti ibu telah meninggalkan kehidupan ini, dan mungkin saja kamu tidak akan membaca suratku ini selama-lamanya, oleh karena itu ibu merasa merasa perlu menyebar-luaskannya sehingga orang selainmu ikut membacanya, dengan demikian setiap anak yang durhaka adalah anakku …
Wahai anakku, sesungguhnya ibu merasa akan mati dalam waktu dekat, dokter telah memberitahukan bahwa kondisi kesehatan ibu kian melemah … dan keengganan ibu untuk mengkonsumsi obat membuat ibu membutuhkan darah tambahan dalam jumlah besar … ketika itu ibu berusaha untuk bersikeras agar tidak makan obat … akan tetapi kehendak dokter memaksaku untuk menyetujuinya karena ibu adalah seorang wanita yang mengimani bahwasanya darah-darah tersebut tidak akan mengembalikan sisa-sisa kehidupan ke-hati dan ruhku … karena pada detik-detik ini ibu melihat sayap-sayap malaikat maut didalam kamarku.
Jalan dunia ini tidak selamanya datar dan mulus. Banyak hal-hal yang tidak pernah kita duga ada dihadapan kita. Suka duka, sedih dan gembira adalah warna-warni kehidupan. Dunia tidak pernah menjanjikan kenikmatannya yang abadi kepada siapapun. Sekalipun zohir sebagian orang-orang kaya tampak bahagia, tentram dan damai dengan kelapangan hidup, harta dan pembantu-pembantu yang dimilikinya, hanya saja hakekat kehidupannya yang tidak diketahui orang lain berbeda sama sekali dengan penampilan zohirnya.
Berapa banyak manusia yang hidup dalam kenikmatan yang membuat ngiler orang-orang yang mendengarnya, hanya saja hari-hari tidak selalu dalam satu kondisi. Terkadang kenikmatannya diambil tiba-tiba ketika ia sedang berada dipuncak kenikmatan hidup, atau datanglah tragedI-tragedi zaman yang merampas darinya ..bukan ..bukan merampas apa yang dimilikinya, tidak. Akan tetapi merampas kelezatan menikmati apa yang dimilikinya, dan ini lebih dahsyat serta menyakitkan dari yang sebelumnya. Tidak merasakan nikmat hidup dari apa yang dimilikinya.
SUNGAI LIMA WAKTU
Setiap kali kemelut hidup menyelimut bagai kabut
Setiap kali dosa kotor melumuri jiwa
Setiap kali hawa membuatku lupa
Setiap kali mata hati buta karena semua
Setiap kali semua membuatku, lengah .. lemah .. goyah dan terpedaya
Seruan-Mu menyadarkan aku
Panggilan-Mu mengingatkan aku
Sayup terdengar, menyeruak dan menghentak kepongahan dunia
Membawa kepada sungai-sungai suci
Hapus dosamu
Kikis dakimu
Basuh lukamu
Buka belenggu nafsu
Tenggelam dalam sungai lima waktu
Bermandikan cahaya menerangi jiwa
Disini, disungai ini dalam telaga ini
Kuraih kesejukan, kedamaian, ketentraman, ketenangan
Dan kemenangan.
Abuz Zubeir Hawaary
Pekanbaru, 1 Ramadhan 1425 H
Wahyu (Al-Quran dan As-Sunnah) bagai hujan yang turun dari langit. Menghidupkan tanah yang mati, mengairi dan mengisi sungai dan telaga yang kering. Sehingga kehidupan kembali bersemi, indah nan serasa nan serasi.
Begitu juga hati, hati laksana telaga dan wahyu adalah hujan yang mengairi serta mengisinya. Hati yang besar dan luas menampung ilmu yang banyak seperti telaga yang besar menampung air yang banyak. Sebaliknya, hati yang kecil dan sempit menampung sesuai dengan ukurannya.
Ketika telaga mulai terisi air yang berlimpah, ia akan menghanyutkan sampah dan kotoran keluar dari telaga tersebut, sehingga tinggallah air yang bening, bersih dan menyejukkan.
Begitulah hati, ketika petujunjuk dan ilmu memenuhinya, maka ia menerpa setiap sampah-sampah syubhat dan syahwat lalu mencerabut akar-akarnya dan menghanyutkannya keluar dari hati.
Alangkah indahnya Al-Qur’an ketika mengungkapkan permisalan ini,
أنزل من السماء ماء فسالت أودية بقدرها فاحتمل السيل زبدا
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang.” (Ar-Ro’du : 17). (Abuz Zubeir Hawaary)
Kebersihan akidah dan kebenarannya membangkitkan kekuatan pada pemiliknya, yang tampak pada seluruh amalnya. Apabila berbicara, ia memiliki rasa percaya diri yang kuat. Apabila beramal ia istiqomah. Apabila berdebat hujjahnya jelas, dan apabila berpikir, ia berpikir dengan tenang. Tidak mengenal bimbang dan tidak goyah diterpa badai. Ilmunya kuat, fisiknya kuat dan sebelum serta sesudah itu semua ia memiliki agama yang kuat. Ia memegang pengajaran-pengajaran agamanya dengan kuat dan kokoh, menjalankan Kalam Robb-nya,
{خُذُواْ مَا ءاتَيْنَـٰكُم بِقُوَّةٍ}
Artinya, “”Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqoroh : 63)
Dan firman-Nya,
{يٰيَحْيَىٰ خُذِ ٱلْكِتَـٰبَ بِقُوَّةٍ}
Artinya, “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” (Maryam : 12)
Seorang mukmin memegang teguh urusannya dengan tekad baja, kuat dan tidak lemah. Tidak bermain-main dan berolok-berolok. Inilah janji Allah pada para nabi dan orang mukmin; serius, bersungguh-sungguh, kebenaran dan ketegasan.
Mukmin yang kuat percaya dengan apa yang diyakininya dan mengetahui dasar perbuatannya. Kemudian ia tidak peduli dengan apa yang dihadapinya berupa olok-olokan, ejekan dan cemoohan orang lain. Suri teladannya dalam hal itu adalah manusia paling kuat yaitu Muhamad shollallahu ‘alaihi wasallama. Rasulul Huda shollallahu ‘alaihi wasallama bersabda,
المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف، وفي كلٍّ خير
Artinya, “Seorang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, dan pada setiap keduanya ada kebaikan”.[1]
Imam An-Nawawi menegaskan di dalam syarah Shohih Muslim, “Yang dimaksud dengan kuat di sini adalah tekad jiwa (yang kuat) dan keseriusan dalam urusan-urusan akhirat. Maka pemilik sifat ini paling pemberani menghadapi musuh di medan jihad, dan paling cepat maju menghadangnya serta keluar untuk mencarinya. Ia juga lebih tegas dalam amar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar atas gangguan dalam hal itu semua, serta dalam menanggung beban di jalan Allah Ta’ala. Ia paling mencintai sholat, puasa, zikir dan seluruh ibada, serta paling giat melakukannya dan menjaganya”. Wallahu A’lam. (Abuz Zubeir Hawaary)
Komentar terakhir